PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
I Wanna


__ADS_3

"Lilia ...." Alexander pun memanggil nama Lilia kembali.


"Iya, Dear. Aku di sini." Lilia memegang wajah prianya.


"Lilia, kepalaku pusing." Alexander memegangi kepalanya.


"Aku pijit ya, Dear?" Lilia segera menggeser tempat duduknya lalu duduk di dekat kepala Alexander.


"Lilia." Saat itu juga Alexander memegang tangan Lilia.


"Dear?"


Bola mata biru itu mulai bersinar terang. Sinar beningnya seolah menenggelamkan ego yang Lilia miliki. Alexander pun menarik lengan Lilia agar lebih dekat dengan wajahnya. Ia seperti menginginkan sebuah kecupan mesra dari kekasihnya. Kecupan dengan arah yang berlawanan.


"Dear, susah kalau begini." Kata-kata polos itupun keluar dari mulut Lilia.


Alexander tertawa. Ia kemudian beranjak bangun lalu duduk di sofa. Ia terlihat sudah mencapai kesadarannya penuh, tidak seperti orang yang mabuk. Saat itu juga Lilia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada prianya.


"Dear?" Lilia terheran sendiri.

__ADS_1


"Honey ...." Alexander duduk dengan kancing kemeja yang sudah dibuka.


Lilia merasa heran. "Dear, bukannya kau—"


"Aku hanya pura-pura mabuk, Lilia," kata Alexander yang membuat Lilia terkejut.


"Pura-pura?" Lilia jadi semakin bingung.


"Kemarilah." Alexander meminta Lilia untuk lebih dekat dengannya.


Lilia pun bergegas duduk di dekat Alexander. Mereka duduk berdekatan dengan jarak hanya satu jengkal saja. Sinar bening bola mata biru Alexander pun menatap wajah wanitanya. Seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Lilia. Dan sesuatu itu adalah aku sayang kamu.


"Terima kasih. Terima kasih telah setia menemaniku." Alexander berkata seperti itu.


"Dear ...." Lilia pun jadi bingung kata apa yang harus diucapkannya kepada Alexander.


Alexander memegang tangan Lilia sambil menatap bola matanya. "Maaf, bisa dibilang aku hanya pura-pura mabuk. Kami kedatangan investor asing dan mengajak ku minum. Karena ingin menghargainya, aku pun minum beberapa gelas. Tapi tidak sampai tertelan semuanya." Alexander menceritakan pada Lilia.


Lilia merasa bingung.

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirkan. Aku memang sedikit pusing, tapi tidak seberapa." Alexander menenangkan Lilia agar tidak khawatir.


"Dear." Lilia tidak ingin prianya kenapa-kenapa. "Aku sudah cemas kau mabuk." Lilia amat prihatin.


Alexander tersenyum, lalu kemudian...


"Dear?" Saat itu juga Lilia terkejut karena Alexander mendorongnya ke sofa.


Alexander mendorong pelan Lilia ke sofa yang didudukinya. Alhasil kini Alexander berada di atas tubuh Lilia dengan bagian dada dan perut yang terlihat jelas di mata wanitanya. Lilia pun menelan ludah berulang kali sambil menatap wajah prianya. Ia harap-harap cemas terhadap hal yang akan terjadi.


"Lilia, bolehkah ...?"


Alexander seperti menginginkan Lilia malam ini. Walaupun ia mengaku tidak menelan semua minuman yang memabukkan itu, tetapi tetap saja sari-sarinya tertelan di tenggorokannya. Dan mungkin karena hal itulah gairah di dalam tubuhnya bangkit saat ini.


"Bolehkah aku ...." Ia seperti ingin meminta sesuatu sambil berusaha keras mengendalikan dirinya.


"Dear, kau mau apa?" Lilia pun menantikannya.


Kedua pasang bola mata itu saling bertatapan. Detak jantung keduanya pun berdegup kencang. Mereka sama-sama menantikan hal apa yang akan terjadi. Namun, tidak ada yang ingin memulainya lebih dulu. Membuat Lilia jadi sebal sendiri. Ia merasa gemas dengan prianya.

__ADS_1


"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Alexander kemudian yang membuat degup jantung Lilia melaju kencang seketika.


__ADS_2