
...Lilia...
...Alexander...
.........
Lilia mengenakan dres putih berbahan karet yang cantik. Namun, di bagian bahunya terbuka. Dres itu juga merupakan dres terpisah dengan roknya. Yang mana roknya juga pendek sepertengahan paha. Sehingga bisa dikatakan Lilia mengenakan pakaian yang terbuka hari ini. Alexander pun menelan ludahnya karena terpesona.
Lilia memiliki tubuh indah dan paras yang cantik. Ia tidak kurus dan juga tidak gemuk. Tubuhnya berisi dengan ukuran dada di atas rata-rata. Hal itulah yang menjadi nilai lebih dari dirinya. Terlebih Lilia pintar menggoda.
Alexander berdehem. "Em, tidak apa. Hanya saja aku merasa ada yang aneh pada tubuhku," jawab Alexander ragu.
"Ada yang aneh?" Lilia pun merasa heran dengan prianya.
__ADS_1
Alexander menoleh ke arah Lilia. "Em, ya. Kurasa begitu," jawabnya lalu kembali fokus menyetir mobil.
Lilia merasa bingung dengan kata-kata Alexander. Lantas ia memerhatikan dres yang dikenakannya. Ia pun menyadari sesuatu saat melihat bagian dadanya. Dres itu ternyata menampakkan sebagian indah dadanya.
"Em, maaf. Aku pakai jaket saja." Lilia pun lekas mengenakan jaketnya.
Alexander diam. Ia bingung harus bicara apa. Lilia begitu memesona di pandangan matanya. Ia merasa tidak salah dalam memilih calon istri. Lilia begitu sempurna.
Alexander adalah pria normal yang mana saat melihat wanitanya berpakaian terbuka, pasti getaran-getaran aneh itu muncul pada tubuhnya. Hal itulah yang terjadi padanya saat ini. Namun, ia menikmati pemandangan indah itu dari wanitanya. Alexander jadi ingin cepat-cepat menikahi. Sedangkan Lilia diam-diam merasa senang karena melihat respon Alexander terhadap pakaian yang dikenakannya.
Lantas perjalanan ini pun mereka teruskan. Sesi pemotretan prawedding akan segera dilaksanakan. Karena besok malam mereka akan segera kembali ke dalam negeri. Meminta restu agar dapat menggelar pesta pernikahan.
Sesampainya di pantai...
Langit cerah, awan putih berarak mengiringi kedatangan keduanya ke sebuah pantai luas nan indah. Airnya berwarna biru jernih dengan pemandangan pasir yang begitu putih. Pantai ini begitu terjaga keindahannya. Sehingga para turis maupun penduduk setempat bisa menikmatinya. Tak terkecuali Lilia dan Alexander yang baru saja datang.
"Hei, sudah lama menunggu?"
__ADS_1
Keduanya turun dari mobil lalu segera menghampiri seorang pria berpakaian pantai yang sedang mempersiapkan alat pemotretan. Ia tampak berusia sebaya dengan Alexander. Ia juga memakai topi hitam sebagai pelindung dari panasnya sinar matahari. Alexander pun mendekatinya dan menyapa pria tersebut.
"Hah, lumayan. Mana calon istrimu?" Pria itu menanyakan Lilia.
Lilia yang mengekor pada Alexander pun segera menampakkan dirinya. Ia tersenyum kepada pria itu. "Aku Lilia. Salam kenal." Lilia memperkenalkan dirinya.
"Oh ... Lilia. Cantik sekali." Pria itupun memuji Lilia.
"Terima kasih." Lilia pun berterima kasih padanya.
"Baiklah. Apa bisa kita mulai sesi pemotretannya?" Alexander memotong pembicaraan keduanya.
"Hahaha." Pria itupun tertawa. "Tentu, Kawan. Mari kita mulai sesi pemotretannya. Tapi ...," Ia berbisik kepada Alexander.
"Hah! Kau ini!" Alexander pun menyikut perut pria itu.
Lilia tidak tahu siapa gerangan pria bertopi tersebut. Tapi ia menyangka memang teman Alexander di Dubai. Alexander juga seperti tidak ingin mengenalkannya. Jadi Lilia tampak canggung bicara. Namun walaupun begitu, sesi pemotretan akan tetap dijalankan keduanya.
__ADS_1