PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Disappointed


__ADS_3

"Aku sudah bertemu dengan putraku, Tuan Jake." Ia adalah Smith, ayah dari Alexander yang bertemu kembali dengan Jake malam ini.


"Lalu, bagaimana?" Jake segera duduk dan menanyakannya.


Smith menghela napasnya. "Anak itu tidak bisa lagi menerima masukan. Dia sudah tergila-gila pada kucing Anda. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Sebuah kabar Jake terima malam ini.


Jake baru saja ingin menghidupkan puntung rokoknya. Namun, tidak jadi saat mendengar kabar itu. Ia batalkan niatannya untuk merokok di depan Smith. Ia kemudian menatap serius ke arah ayah dari Alexander itu.


Saat menerima kabar, saat itu juga Jake merasa kecewa. Namun, ia tetap memosisikan diri sebagai Jake yang orang lain kenal. Ia mengambil napas dalam karena kabar yang didengarnya tidak sesuai dengan harapan.


"Harusnya Anda bisa mendominasi pikiran putra Anda sendiri, Tuan." Jake kecewa. Ia mengalihkan rasa kecewanya dengan menuangkan wine yang telah disediakan.


Smith menoleh ke arah Jake yang duduk beberapa meter darinya. Sofa sudut di ruangan itu menjadi saksi betapa Smith menahan kesabarannya akan perkataan Jake.


"Anda belum merasakan bagaimana menjadi orang tua, Tuan Jake. Jadi Anda tidak bisa tahu betapa sulitnya menjadi orang tua." Smith menuturkan.

__ADS_1


Orang tua ...?


Saat itu juga Jake teringat dengan janin yang dilihatnya sudah tidak bernyawa. Hati Jake merasa sakit seketika. Ia merasa bersalah kepada calon anaknya.


"Menjadi orang tua itu sulit. Mereka harus menempatkan diri sebagai pelindung dan pengayom anak-anaknya. Jika beruntung, mereka akan mendapatkan anak-anak yang penurut. Jika tidak, mereka juga tidak bisa memaksakan kehendak dengan kekerasan. Karena hal itu akan teringat sampai mereka dewasa. Anak itu bagai nyawa, Tuan Jake." Smith berusaha menjelaskan.


Jake menelan ludahnya. Ia teringat kembali dengan kejadian di rumah sakit itu. Di mana ia tidak bisa menerima kabar keguguran Lilia. Ia pun teringat bagaimana amarahnya memenuhi gedung Sky Grup. Di mana ia menodongkan pistolnya ke Aurelia. Jiwa Jake tak terima saat kehilangan calon anaknya. Jake marah membabi buta.


"Aku harap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Tentunya tidak menggunakan kekerasan. Karena kalau hal itu sampai terjadi, aku sebagai orang tua juga tidak akan tinggal diam. Alexander putraku satu-satunya. Dia harapanku. Maka aku berharap Anda mengerti." Smith menuturkan kembali.


Jake menelan ludahnya dengan raut penuh wajah kecewa. Ia merasa pertemuan malam ini tidak berarti apa-apa baginya. Namun, ia juga mengerti peringatan yang diberikan oleh Smith. Smith tidak akan tinggal diam saat Alexander terluka. Jake memahami dengan baik perkataan itu.


Smith mencoba menenangkan hati pelanggannya. Ia tahu jika Jake mengerti perkataannya. Tak lama dari itu pun ponsel Jake berdering. Pria berwajah muram itu kemudian mengangkat teleponnya di depan Smith. Sedang Smith harap-harap cemas menantikan apa isi teleponnya. Ia khawatir Jake membuat keputusan yang mengorbankan banyak orang.


"Baik, aku ke sana."

__ADS_1


Namun, ternyata bukan apa yang dipikirkan olehnya. Smith akhirnya bisa bernapas lega. Jake pun mengakhiri sambungan teleponnya.


"Tuan, aku tidak bisa berlama. Istriku menelepon." Jake pun berpamitan seraya tersenyum palsu kepada Smith.


Smith mengangguk. Ia tidak bisa berkata banyak malam ini. Hatinya diliputi kecemasan terhadap tanggapan Jake dari ucapannya. Ia harap-harap cemas terhadap keselamatan putranya.


Aku harap dia bisa mengerti posisiku.


Lantas Smith mengantarkan Jake sampai ke depan pintu. Ia melepaskan kepergian pria berwajah muram itu. Ia pandang Jake dari kejauhan. Saat itu juga rasa khawatir menyelimutinya. Ia menyayangi Alexander dan tidak ingin terjadi apa-apa terhadap putranya. Sedang ia tahu bagaimana Jake yang sesungguhnya.


.........


...Jake...


__ADS_1


...Smith...



__ADS_2