PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
When?


__ADS_3

Alexander menyisir rambutnya, mengenakan pakaian dan juga parfumnya. Aroma dari parfum itu pun bisa menjadi alasan untuk Lilia bangun.


"Dear ...." Lilia pun menyebut nama Alexander.


Alexander tersadarkan. Ia segera mendekati Lilia dengan wajah yang tampan dan segar. "Honey?" Ia menyapa Lilia.


Lilia mengulet di atas kasur. Ia mengeluarkan suara yang begitu menggoda Alexander. Alexander pun menelan ludahnya. Ia tak menyangka pagi-pagi sudah diberi kejutan berupa desah indah dari wanitanya.


"Lilia, bergegas lah bangun." Ia mengguncang pelan tubuh Lilia agar tidak mengulet lagi di atas kasur.


Lilia sengaja melakukannya untuk membuat Alexander merona malu. Ia tahu benar jika Alexander masih murni dan ialah wanita pertama yang berhasil mendapatkannya. Lilia merasa senang mempermainkan hasrat prianya.


"Honey, sudah jam delapan. Kita mau liburan." Alexander mengatakannya lagi.

__ADS_1


Sontak Lilia terkejut. Ia pun segera bangun begitu Alexander mengajaknya liburan. Ia duduk di atas kasur dengan malas-malasan. Meminta Alexander memanjakannya.


"Dear, jam berapa?" Lilia pun mengucek matanya.


Alexander tersenyum. "Jam delapan. Mandilah. Kita jalan-jalan hari ini." Alexander meminta Lilia untuk bergegas mandi.


Lilia mengangguk. Ia pun menjulurkan tangannya agar Alexander menariknya dari tempat tidur. Alhasil Alexander menurutinya. Ia menarik Lilia dari atas kasur. Hingga akhirnya Lilia menyandarkan diri di badan Alexander. Saat itu juga Lilia berharap lebih kepada prianya.


"Liliaku ini manja." Alexander berkata seperti itu saat Lilia bersandar di tubuhnya.


Alexander mengusap kepala Lilia tanpa risih dengan aroma tubuh yang baru saja terbangun itu. "Tidur satu atau dua jam itu cukup bagi seorang arsitektur. Lekaslah bergegas, kita berlibur hari ini." Alexander berkata lagi.


Lilia mengangkat kepala. Ia menatap paras tampan yang sudah rapi dan siap pergi berlibur. "Nanti aku yang menyetir mobil saja, bagaimana?" tanya Lilia polos.

__ADS_1


Alexander tertawa. "Memangnya sudah tahu jalan kota ini?" Alexander bertanya kepada Lilia.


Lilia menggelengkan kepala.


"Hahahaha. Dasar. Sudah mandi. Aku tunggu di teras ya. Aku ingin menghubungi timku lebih dulu," kata Alexander yang meminta Lilia untuk lekas bergegas.


Lilia pun mengangguk. Ia kemudian menuju kamar mandi untuk segera menyegarkan diri. Alexander menjanjikan liburan untuknya hari ini. Lilia pun dengan senang hati menerimanya. Namun, di dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal.


Dear, sampai detik ini kau belum juga mencium bibirku. Lalu haruskah aku yang memulainya?


Selama seminggu terakhir Alexander memang sibuk sekali. Ia amat serius menyelesaikan pekerjaannya sampai-sampai tidak pernah memberikan kecupan mesra kepada Lilia. Sedang Lilia menantikannya. Ia ingin sekali dicium prianya. Karena bagaimanapun Lilia membutuhkannya. Kontak fisik itu begitu berarti baginya.


Lilia bersikap manja kepada Alexander, berharap pria yang melamarnya itu mengerti akan keinginannya. Tapi ternyata, pria berambut pirang itu tidak sampai kepikiran ke sana. Rasa sayangnya cukup hanya sebatas pelukan dan cium kening saja. Yang mana terkadang membuat Lilia sebal terhadapnya.

__ADS_1


Lilia adalah seorang wanita yang membutuhkan belai lembut kekasihnya. Terlebih pekerjaannya dulu berkecimpung di dunia seperti itu. Namun, Alexander belum bisa memberikannya. Alexander masih fokus dengan pekerjaannya sampai ia lupa dengan hal yang sepele, namun sangat berarti bagi Lilia. Alexander ingin pekerjaannya cepat selesai.


__ADS_2