
"Lilia." Alexander pun beralih ke Lilia. "Aku temui ayah dulu. Kau tunggu di sini, ya." Alexander mengusap wajah Lilia.
Lilia mengangguk, menahan rasa takut. Alexander pun mengecup kening Lilia untuk menenangkannya.
Alexander meminta izin untuk menemui ayahnya. Yang mana sebenarnya hal itu sangat berat untuk diiyakan Lilia. Bagaimanapun lingkungan keluarga Alexander masih baru baginya. Ia belum beradaptasi banyak. Terlebih dengan ayah Alexander yang belum pernah ditemuinya. Lilia pun harus menanggung kecemasannya.
Alexander keluar dari mobil. Ia melihat seorang pria sedang menyeruput kelapa muda di pondokan ujung sana. Alexander pun menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakinya. Ia akan segera menemui ayahnya.
Beberapa menit kemudian...
Deburan ombak menjadi saksi seorang ayah dan putranya yang sedang duduk berhadapan di sebuah pondokan pantai. Dua buah kelapa muda pun ikut menemani perbincangan mereka. Tampak Alexander yang menunggu ayahnya bicara.
"Kau pergi bersama seorang wanita tanpa mengenalkannya kepada ayah, Lex." Smith akhirnya memulai pembicaraan.
Alexander hanya diam.
__ADS_1
Smith menoleh ke arah putranya. "Kau merasa sudah bisa menghadapi semuanya sendiri?" tanya Smith ke Alexander.
Alexander menghela napasnya. "Aku sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan." Alexander menjawab pertanyaan ayahnya.
Smith menunduk kecewa. Ia menggerak-gerakkan jemari tangannya di atas meja pondokan. Ia melihat ke arah putranya kembali. Ia tatap paras sang putra yang sudah dewasa. Saat itu juga ia tersadar jika sudah lanjut usia.
"Kau mengambil risiko besar dengan membawa lari peliharaan orang, Lex." Smith mulai masuk ke inti pembicaraan.
"Apa maksud Ayah?" Alexander menegakkan tubuhnya.
Alexander mengerti pembicaraan ini. "Apakah dia mendatangi Ayah dan meminta pembelaan?" Alexander langsung menuju ke inti.
Smith menatap putranya. "Kau bukan tandingannya, Lex. Orang-orangnya banyak. Kau dalam bahaya besar jika melawannya sendirian. Tidak inginkah kau menggunakan kekuasaan ayah?" Smith menawarkan jasa kepada putranya.
Alexander tampak kesal. "Jika fasilitas yang ayah berikan itu gratis, tentunya sudah kuambil sejak dulu. Tapi ayah terlalu pamrih sebagai orang tua. Terima kasih atas tawarannya." Alexander mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
__ADS_1
"Hahahaha." Smith tertawa. "Aku kadang tak habis pikir dengan anak kandungku sendiri. Kau putraku, darah dagingku. Tapi mengapa mengambil jalan yang berbeda dariku?" Smith terheran-heran.
Alexander merasa pembicaraan ini tidak terlalu penting baginya. "Aku masih banyak urusan. Aku ingin ke rumah ibu." Alexander beranjak pergi.
"Tunggu!" Saat itu juga Smith menahannya. "Kau sudah memperkenalkan wanita itu pada ibumu?" tanya Smith lagi.
"Ya. Tentu," jawab Alexander yakin.
Smith beranjak berdiri. "Apa kau pikir ibumu akan setuju dengan wanita itu?" tanya Smith lagi yang seketika membuat Alexander terkejut.
"Apa maksud Ayah?!" Alexander segera bertanya.
Smith berjalan mendekati putranya. "Anakku, aku bercerai dengan ibumu karena wanita-wanita cantik berada di sekelilingku. Lalu apa kau pikir ibumu akan diam saja saat tahu dengan siapa dirimu menjalin hubungan? Apa kau akan melawan ibumu?" tanya Smith kepada putranya.
Saat itu juga Alexander menelan ludahnya. Ia merasa sang ayah sudah mengetahui siapa Lilia sebenarnya. Rasa khawatir pun mulai muncul di dalam hatinya. Namun, sebisa mungkin ia tenang di hadapan ayahnya.
__ADS_1
"Aku yakin dengan pilihanku. Ibu pasti menerimanya. Permisi." Alexander memutuskan untuk segera pergi dari pondokan itu.