PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Trust Me


__ADS_3

...Taman Bunga Kota Dubai...






.........


...Alexander...



.........


Hari ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama di taman bunga Kota Dubai. Bergandengan tangan mengelilingi taman layaknya pasutri baru yang mesra. Alexander pun tidak keberatan dengan sikap Lilia yang manja. Lilia juga tidak malu-malu lagi padanya.

__ADS_1


Menjelang siang ini awan-awan mendung terlihat berarak menghiasi langit Kota Dubai. Tidak seperti tadi pagi cuaca panas menyambut kedatangan mereka. Sepertinya peralihan musim akan segera berganti tak lama lagi. Cuaca pun ikut jadi tidak stabil karenanya.


"Dear, lihat foto kita tadi."


Keduanya baru saja duduk di kursi peristirahatan taman. Mereka duduk berdekatan di kursi kayu panjang bercat putih. Alexander pun menunjukkan hasil foto-fotonya kepada Lilia. Dan ternyata, ada beberapa foto yang membuat Lilia malu.


"Dear, kau memotretku tanpa izin!"


Lilia pun memukul lengan Alexander dengan gemas. Pria itu ternyata diam-diam memotret dirinya saat Lilia sedang berjongkok di depan bunga berbentuk boneka. Tentu saja hal itu membuat Lilia malu. Posenya tidak enak dipandang mata.


"Aku sengaja mencurinya, Honey. Tak apa, ya?" Alexander mengakuinya.


Alexander merangkul Lilia, berusaha merayu kekasihnya. "Sudah jangan ngambek. Kita mau makan apa? Di sekitar sini ada kedai kopi. Di sana juga menjual makanan Eropa. Mau mencobanya?" tanya Alexander kepada Lilia.


"Aduh, aku capek kalau harus berjalan kaki." Lilia pun berkata manja pada prianya.


Alexander tersenyum. "Hei, tidak jalan. Kita sekalian melanjutkan perjalanan," katanya yang membuat Lilia terkejut.


"Eh?! Mau ke mana lagi?" tanya Lilia penasaran.

__ADS_1


"Ke gedung Palm Jumeirah. Di sana ada kawasan wisata jembatan retak. Kita bisa ke sana untuk mencobanya," terang Alexander.


"Kawasan wisata jembatan retak?" Sejenak Lilia memikirkannya. Namun, saat itu juga ia menolaknya. "Tidak! Tidak mau! Aku takut ketinggian!" Lilia segera menolaknya. Bayangan akan jembatan retak itu sudah menakutkannya.


Alexander tertawa melihat respon Lilia. Ia merasa kekasihnya itu sangat menggemaskan sekali. Alexander pun menarik tubuh Lilia. Ia meminta Lilia agar merebahkan kepala di bahunya.


"Ada aku. Jangan takut." Empat kata yang Alexander ucapkan mampu menepiskan kekhawatiran hatinya.


Entah mengapa Lilia merasa tenang sekarang. Ia menyadari jika cinta itu ternyata tidak selalu harus berakhir di ranjang. Ia membuktikannya sendiri. Karena sampai saat ini ia belum pernah berhubungan intim dengan Alexander. Alexander benar-benar menjaga Lilia. Walau nyatanya hasrat itu selalu ada.


Sebagai seorang pria, naluri kelakian pasti ada saat berada di dekat wanitanya. Tapi Alexander mencoba menepiskannya karena masih fokus terhadap pekerjaan. Ia memasang target pekerjaannya dapat selesai dalam waktu satu bulan. Sehingga karena hal itulah ia tidak memikirkannya. Alexander ingin membahagiakan Lilia secepatnya.


"Dear, aku takut. Sungguh!" Lilia meyakinkan Alexander jika ia benar-benar takut ketinggian.


"Honey, ada aku. Percaya padaku." Alexander meyakinkan Lilia lagi.


Alexander kembali meyakinkan Lilia jika ia akan baik-baik saja saat menikmati kawasan wisata jembatan retak. Lilia pun terdorong untuk mencoba kawasan wisata tersebut. Walaupun pada kenyataannya ia sangat takut sekali. Tapi demi Alexander, ia akan mencobanya.


"Baiklah." Lilia pun akhirnya pasrah.

__ADS_1


Alexander tersenyum. Ia mengecup tangan kekasihnya. "Terima kasih telah percaya padaku, Honey." Mereka pun beranjak meninggalkan kursi taman lalu menuju kawasan wisata berikutnya.


__ADS_2