
Sesi pemotretan...
Sesi pemotretan akhirnya dimulai tanpa menunggu lebih lama. Kini kedua insan itu diminta untuk duduk di atas tikar yang telah disediakan. Di mana di atas tikar tersebut terdapat aksesoris pemotretan. Seperti keranjang dan buah-buahan palsu. Tentu saja foto mereka seperti orang yang sedang bertamasya di pantai.
Satu, dua, tiga, foto-foto mereka berhasil diabadikan. Namun, semakin lama sang potografer meminta foto yang lebih berani kepada mereka. Tentu saja hal in membuat Lilia merasa heran. Sesi foto kali ini tampak berbeda dari biasanya.
Lilia diminta duduk di atas pangkuan Alexander dengan wajah yang mendongak ke atas. Sedang Alexander diminta untuk memegang pinggul Lilia dan mencium lehernya. Lilia merasa risih tapi ia juga menikmati. Ia berusaha meluweskan diri saat sesi pemotretan ini.
"Oke. Dua pose lagi." Pada akhirnya sesi pemotretan kali ini memasuki akhir.
Alexander dan Lilia diminta berdiri sambil berpegangan tangan. Mereka juga diminta untuk menempelkan kening dan mendekatkan bibirnya. Alhasil mereka seperti ingin berciuman saja. Hangat napas itupun saling mereka rasakan di tegah angin pantai yang berembus kencang.
Dear, kau sengaja meminta temanmu untuk mengarahkan kita seperti ini?
Tentu saja Lilia berpikir jika ini hanya akal-akalan Alexander untuk mengabadikan momen mereka. Lilia pun tersenyum-senyum sendiri karenanya.
"Lex, gendong calon pengantinmu!"
Pada akhirnya Alexander diminta untuk menggendong Lilia. Pose ini tentunya membuat mereka terlihat seperti pasangan bahagia. Alexander menggendong mesra Lilia bak anak kecil yang bermanja padanya. Hingga akhirnya pose itu selesai dilakukan mereka.
__ADS_1
"Oke, cukup!"
Akhirnya sesi pemotretan ini selesai. Tanpa terasa hari sudah menanjak siang. Alexander pun melihat jam di tangannya.
"Jam sebelas, Lilia. Kita minum dulu." Alexander mengajak Lilia ke kedai yang ada di tepi pantai.
Lilia mengangguk, Alexander pun memegang tangan wanitanya lalu menemui teman potografernya itu.
"Jangan sampai ada satu salinan pun padamu. Atau kau akan berurusan dengan jeruji besi." Alexander berbicara kepada temannya.
Saat itu juga Lilia kaget mendengarnya. Ia tak menyangka jika Alexander akan mengancam temannya agar tidak aneh-aneh terhadap foto mereka.
Pria itu kemudian memberikan kamera beserta micro sd kepada Alexander. Tak tanggung-tanggung, ia juga memeriksa seluruh tubuhnya untuk memastikan tidak ada salinan foto prewedding Alexander.
"Baguslah kalau begitu. Bayarannya sudah kutransfer. Kau mau minum dulu?" tanya Alexander kepada temannya.
"Em ...," Teman Alexander tampak berpikir. "Aku ingin pulang saja. Istriku sudah menunggu di rumah. Lagipula kalau berada di sini hanya akan mengganggu calon pengantin. Bukan begitu?" Ia meledek Alexander.
"Hahahaha. Dasar kau ini." Alexander pun tertawa karenanya.
__ADS_1
"Lilia, pamit ya. Alexander memang terkadang menyebalkan, tapi dia cukup bisa diandalkan. Selamat berbahagia." Pria bertopi itupun segera merapikan peralatan pemotretannya.
Lilia mengangguk.
"Jangan dengarkan dia, Honey. Dia berdusta " Alexander pun berbisik kepada wanitanya.
Lilia tersenyum. Mereka akhirnya mengantarkan kepergian pria bertopi itu. Yang mana datang ke pantai dengan mengendarai mobil Lexus putih.
"Hati-hati!" Alexander pun melepas kepergian temannya dengan tetap memegang erat tangan Lilia.
Pria bertopi itupun mengangguk lalu segera melajukan mobilnya. Ia melambaikan tangan seraya pergi. Ia telah melaksanakan tugasnya sebagai seorang potografer handal. Alexander pun merasa puas karena kinerjanya.
"Honey, kita ke kedai ya?" Alexander mengajak Lilia ke kedai pantai.
"Dear, aku ingin minum di mobil saja. Aku ingin melihat pemandangan dari mobil." Lilia menolaknya dengan manja.
Alexander tersenyum. "Baiklah. Tunggu di mobil ya. Aku akan membawakan makanan dan minuman untukmu." Ia meminta wanitanya menunggu.
Lilia pun mengangguk. Ia kemudian segera masuk ke mobil. Lilia ingin beristirahat sambil melihat pemandangan pantai menjelang siang ini. Ia ingin merelaksasikan pikirannya.
__ADS_1