
Willy kembali kerumahnya dan menemui Zihan di kamarnya.
"Zihan, tunjukkan foto ibumu!" kata Willy.
"tapi, semua itu ada di rumah ku, apa kita bisa kesana sekarang?" tanya Zihan.
"tidak, biarkan Rey yang kesana, tunjukkan saja ada di mana foto itu" kata Willy.
"ada di kamarku, di meja rias, disana ada foto-foto keluarga ku yang di bingkai" kata Zihan.
Willy segera menemui Rey dan memerintahkannya untuk pergi kerumah Zihan dan mengambil foto-foto.
*****
Rey yang sampai di rumah Zihan, berpapasan dengan Ghina, sahabat Zihan yang sedang kebingungan karena sudah empat hari Zihan menghilang tanpa kabar, bahkan ponselnya saja tertinggal di kamarnya.
"bukannya, anda adalah personal asistennya pak Willy?" tanya Ghina yang bertemu beberapa kali dengan Rey di rumah sakit.
"benar" jawab Rey.
"lalu untuk apa kamu kemari? Zihan tidak ada!" kata Ghina.
"ada sesuatu yang harus aku ambil" kata Rey.
"tunggu! apa kamu tau di mana zihan sekarang? aku khawatir dan aku sudah mencarinya selama satu hari tapi tidak menemukannya!" kata Ghina yang sedikit curcol dengan Rey.
"bagaimana bisa ketemu! dia kan ada di rumah pak Willy" kata Rey dalam hatinya.
"maaf, aku tidak tau di mana Bu Zihan, aku hanya di minta mengambil salah satu barangnya saja, pak Willy yang memerintahkan" kata Rey.
"jadi benar! mereka ada hubungan?" ilham tiba-tiba ada di rumah Zihan dan bertanya kepada Rey tanpa basa basi lagi.
"tidak! mereka tidak punya hubungan apapun! aku hanya di minta mengambil salah satu barang milik Bu zihan" kata Rey.
"milik zihan? apa dia sekarang sedang bersama Willy di suatu tempat?" tanya Ilham.
Rey memukul-mukul bibirnya yang kembali salah bicara karena reflek, seharusnya dia tidak mengatakan apa-apa.
Rey masuk kedalam rumah dan kekamar Zihan, dia mengambil bingkai foto yang berada di meja rias sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Willy tadi.
setelah menemukannya, Rey langsung pergi dan tak ingin menghiraukannya.
"apa itu?" tanya Ilham
"ini hanya bingkai foto, pak Willy ingin memastikan sesuatu!" kata Rey yang lalu pergi.
ilham kini hanya bersama Ghina saja, ilham lalu menatap ke arah Ghina penuh tanda tanya.
"di mana Zihan?" tanya Ilham
__ADS_1
"itu yang aku tidak ketahui sampai sekarang, empat hari lalu aku pulang rumah ini sudah kosong dengan pintu terbuka, bahkan Zihan tidak membawa ponsel dan tasnya, itu sangat aneh, seperti orang di culik" kata Ghina yang berspekulasi.
"culik?" ilham terdiam dan berfikir.
"Iyah, padahal Zihan tidak pernah meninggalkan dua benda itu jika berpergian meski dalam kondisi terburu-buru" jelas Ghina.
ilham kembali mengingat-ingat kejadian saat Zihan sedang terburu-buru waktu dia pertama kali menjadi sekertaris pribadinya dan kejadian saat Syamil berlari dari klinik psikolog.
"dia benar, Zihan tidak pernah melakukan hal buruk itu, dia selalu membawa kedua benda itu, tapi kenapa sekarang dia meninggalkannya? apa benar dia diculik? tapi siapa? apa Willy? tapi untuk apa Willy menculiknya?!" ilham semakin bingung, belum masalah tentang video dan rekaman suara selesai, ini sekarang sudah ada masalah baru lagi.
"apa aku harus lapor polisi?" tanya Ghina.
"tidak perlu, tunggu dua hari lagi, jika dia tidak pulang dan jika ada yang mencurigakan, aku akan melapor ke pihak kepolisian" kata Ilham.
"jadi suami kok enggak ada perdulinya!"umpat Ghina yang kesal kepada Ilham .
ilham kembali kerumahnya setelah berbincang dengan Ghina, selama perjalanan pulang kerumah, Ilham terus berfikir tentang sesuatu.
"kenapa tadi personal asistennya Willy datang? dan dia mengambil foto untuk memastikan? apa benar Zihan diculik sehingga dia ingin memastikan sesuatu dengan foto itu?" ilham terus bergelut dengan pemikirannya sendiri selama menyetir mobil.
*****
"permisi pak, ini adalah foto yang bapak perintahkan untuk mengambilnya" Rey memberikan bingkai foto kepada Willy.
"apa ada yang melihat kau kesana?" tanya Willy.
"disana ada sahabat Bu Zihan, dan saat aku ingin masuk ke rumah, pak Ilham juga datang ke sana, kamu sempat berpapasan dan sedikit berdebat, tapi akhirnya saya tidak meladeninya lagi" kata Rey.
"sepertinya tidak pak, dia hanya diam saja ketika saya pergi" kata Rey.
"baiklah, kamu boleh pergi" kata Willy.
setelah Rey pergi, Willy melihat foto yang ada di dalam bingkai, dan betapa terkejutnya dia melihat wajah ibunya yang benar-benar mirip dengan ibu Zihan yang ada di foto.
"bagaimana mungkin?"
"tidak mungkin jika ibu operasi, tidak mungkin wajahnya bisa semirip ini dengan wajah ibunya Zihan!" kata Willy sambil tangannya sedikit bergetar.
Willy hampir saja menjatuhkan bingkai foto itu tapi sempat tertahan, Willy meletakkan foto itu di meja kerjanya dan membandingkan dengan foto yang dia miliki.
"benar-benar sangat persis, bahkan gaya berpakaian merekapun sama, ibu selalu memakai pakaian tertutup setelah tujuh tahun lalu dan ayah bilang karena ada bekas luka yang tidak ingin ibu perlihatkan"
"apa semua itu sebuah kebohongan? apa dia benar-benar ibunya Zihan? lalu di mana ibuku?" Willy mulai mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan yang muncul di otaknya kini.
Willy menjadi pusing dengan semua ini, pamannya edrik juga meyakinkannya, bahwa ibunya ini adalah ibu kandungnya.
"Bu, jika kamu bukalah ibu kandungku?! apa aku sanggup menerima kenyataan yang sangat pahit ini?!" kata Willy sambil menangis.
*****
__ADS_1
Zihan yang sejak tadi menunggu Willy namun yang di tunggu-tunggu tidak kunjung keluar dari ruangan pribadinya.
Zihan lantas langsung mendekati ruang pribadi Willy, Zihan mengetuk pintu pelan dan mendapatkan persetujuan dari Willy untuk masuk keruangannya.
ketika Zihan masuk ke dalam, dilihatnya wajah dan rambut Willy yang sangat kusut.
"pak Willy!" panggil Zihan.
"apa bapak sudah melihatnya?" tanya Zihan dengan ragu-ragu.
"sudah, aku sudah melihatnya, mereka benar-benar persis dan gaya pakaian merekapun persis" ujar Willy sambil terus mondar-mandir.
"pak, sebenarnya ada yang ingin aku katakan tentang ibumu" kata Zihan.
"apa?" tanya Willy yang kemudian langsung menatap Zihan.
"mengenai obat yang ibu minum" Zihan takut mengatakan yang sebenarnya, dia takut Willy akan murka.
"ada apa? apa ada yang salah dengan obatnya?" tanya Willy.
"obat itu bukan penghilang rasa nyeri! tapi...", Zihan berhenti sejenak untuk meyakinkan dirinya agar bisa bicara yang sebenarnya kepada Willy.
"kenapa Zihan? katakan!" Willy penasaran, dia sangat menyayangi ibunya meski hubungannya tak pernah terlalu dekat karena ibu Willy selalu di luar negeri.
"obat itu, untuk mencegah munculnya ingatan atau melemahkan ingatan, jadi kebanyakan orang akan lupa sesuatu ketika terus mengkonsumsi obat itu, rasa nyeri juga hilang setelah ingatan itu hilang" kata Zihan menjelaskan.
Willy terkejut sekali mendengar apa yang Zihan jelaskan, Zihan adalah seorang perawat, tentu dia akan tau jenis-jenis obat serta kegunaannya.
"tapi, untuk apa dokter dan ayah terus memberikannya kepada ibu? bukannya ayah bilang ibu menderita sakit kepala jadi harus terus diberi obat itu? jika apa yang dikatakan Zihan benar, berarti saat ibu kehilangan ingatannya, ayah berusaha melemahkan ingatannya agar tidak mengingat keluarga aslinya dan aku akan kehilangan seorang ibu!" Willy mencoba mencerna apa yang Zihan katakan dan menyatukannya dengan potongan kejadian di masalalu
.
.
.
.maaf ini bab baru, tapi gak tau NT taro di bawah bab yang up tgl 30.
urutan.
rahasia
ibu
kebenaran
__ADS_1
terimakasih