Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
keluarga bahagia


__ADS_3

rubby kembali mengingat namanya, Zihan, dan juga Retno yang merupakan sahabat baiknya.


Rubi menyapa Retno bahkan memeluknya, tapi semua hanya berjalan selama tiga puluh menit saja.


Willy sangat khawatir, semenjak dia tidak lagi memberikan obat pusing yang biasa di konsumsi rubby dari ayahnya, membuat kondisi Ruby berubah-ubah, dan mendengar penjelasan Roy, dokter yang merupakan teman dari Ilham dan Zihan, membuat dirinya semakin merasa bersalah, dia tidak tahu harus melakukan apa, begitu banyak kesalahan dimasa lalu yang membuat dampak buruh di masa depan.


"Andai aku bisa mengulang waktu, ingin rasanya aku mengulang semuanya" Willy yang sedang bersantai di balkon ruangan hotel, menangis menyesal.


"Tidak perlu merasa bersalah! semua sudah takdir tuhan Will!" rubby menepuk pundak putranya.


"Ibu! maafkan aku!" Willy bersimpuh di kaki ibunya sambil memeluk.


"Will, semua yang ayah dan keluargamu lakukan, adalah untuk kebahagiaanmu, lagi pula, semua itu bukan kesalahan, jika ibu tidak ikut dengan kalian, mungkin, ibu tidak akan pernah bertemu dengan Zihan lagi!" Ruby menatap Willy dan mengelus rambutnya penuh kasih sayang.


putra yang selama ini dia anggap adalah anak kandungnya, ternyata bukan anaknya, tapi Ruby selalu bersyukur.


"Jangan lagi menyalahkan dirimu, Will! aku bangga memiliki putra seperti dirimu, yang bisa tumbuh dengan baik, meski kamu tidak di dampingi oleh ibu yang mengingat semua tentang dirimu!" kata rubby kembali melanjutkan perkataannya.


*******


Ilham mempersiapkan makan malam keluarga di private room, dia ingin meluruskan suasana, agar tidak ada lagi kesedihan diantara mereka semua.


"Duduklah! pelayan akan menghidangkan makanannya!" kata Ilham membantu Zihan duduk di kursi makan.


"bagaimana dengan Willy dan ibu?" tanya Zihan cemas.


"Ibu dan Willy akan segera kemari, tadi aku sudah menghubungi mereka dan katanya, mereka akan segera turun!" kata Ilham menghilangkan kecemasan di hati istrinya.


tidak lama, perkataan Ilham terjadi, ibunya dan juga Willy datang bersama Retno dan Syamil.


"Paman Will! duduk di sampingku ya! aku mau disuapi oleh paman!" pinta Syamil dengan gaya manja khasnya.


Willy dan Ilham tertawa, mendengar permintaan Syamil dengan wajahnya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Silahkan duduk pangeran kecil!" kata Willy sambil menarik bangku untuk Syamil.


"Tunggu paman Will, kamu keliru!" kata Syamil yang membuat Ilham dan Willy saling berpandangan.


"Apa yang keliru?!" tanya Willy


"Aku pangeran besar, karena aku, akan punya adik kecil!" jelasnya.


penjelasan Syamil membuat suasana mencair, suasana bahagian kembali tercipta, Willy pun terlihat seperti beban pikirannya hilang.


"ibu, benar katamu, mungkin jika kita tidak bertemu, aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti ini, kini aku mengerti mengapa Tuhan mengirimkan ibu kedalam hidupku!" batin Willy sambil terus tersenyum lebar.


*****


setelah makan malam usai, Zihan menemui Willy yang sedang bersantai di teras belakang cafe.


"Sudah lebih baik?" kata Zihan yang bertanya tiba-tiba.


"Aku tau, kamu tadi sore mendengar percakapanku lengan mas Ilham di kamar hotel!" kata Zihan.


"Kamu tahu?" tanya Willy terkejut.


"ya, ibu mas Ilham melihatmu! dia juga melihat raut wajah karena kamu merasa bersalah!"


"Bang Will, aku senang kamu menjadi kakak ku, meski bukan kakak kandung, aku tidak menyalahkan mu atau keluargamu, aku sudah berkali-kali bilang, kalau aku bahagia karena ibuku bersama denganmu!" kata Zihan.


"tapi ayahku, memberikan obat yang membuat pikiran ibumu kacau sekarang!" kata Willy menatap mata Zihan.


"tidak apa-apa, sesekali dia mengingatku, dan sesekali dia mengingatmu! disaat itu, kita bisa merasakan kasih sayang dari ibu kita, dia ibuku saat mengingatku, dia ibumu saat melihatmu!" kata Zihan dengan senyuman ikhlas nya.


"maafkan aku Zihan!" kata Willy dengan menundukkan wajahnya.


"Siapa bilang, aku menjadi ibu kalian saat aku mengingat salah satu dari kalian!?" suara Ruby mengejutkan Willy dan Zihan.

__ADS_1


"Kalian adalah anakku, dalam keadaan apapun, kalian anakku! meski aku tidak mengingatnya, tapi hatiku bisa merasakannya! kalian tidak perlu khawatir!" Ruby menyentuh tangan anak-anaknya, dengan tangan lembutnya.


Zihan dan Willy memeluk Ruby, mereka begitu bersyukur memiliki seorang ibu yang menyayangi mereka tanpa batas.


Ilham, syamil dan Retno menghampiri mereka, dan ikut berpelukan.


mereka menjadi keluarga yang utuh dan bahagia, dengan melepaskan kesedihan dan menggapai kebahagiaan bersama.


.Tamat


.


.


hai semuanya... novel ini sudah selesi, tapi ada karya lain yang sedang ongoing.



suami kedua


Doctor Ghost


keindahan di balik kacamata Violin



semua tentang romansa. tapi mungkin aku kemas dengan berbeda, semoga kalian suka.


terimakasih atas semua yang sudah membaca novel ku.


untuk reward aku belum menemukan pembaca setia yang selalu membaca karyaku.


aku harap kamu yang akan menjadi pemenang reward di bulan Desember!

__ADS_1


__ADS_2