
Zihan begitu senang ibunya bisa mengingat wajahnya dan juga namanya, tapi itu hanya terjadi beberapa detik lalu menghilang lagi ingatan itu.
Zihan tidak mengerti kenapa bisa terjadi seperti itu, dia mencoba menghubungi Roy, pria yang selalu ada untuknya saat menjadi perawat.
Roy menjelaskan semua keadaan dan penyebabnya, Zihan mengerti maksud Roy, dia menguatkan diri dan berusaha menerimanya, meski ingatan itu tidak bisa kembali pulih, setidaknya dia masih bisa melihat wajah ibunya yang cantik dan begitu dia rindukan.
"apa kata Roy?!" tanya Ilham sambil menyentuh pipi chubby istrinya.
"ibu, kemungkinan tidak bisa mengingat kembali secara permanen, karena efek dari obat-obatan yang diminumnya dulu, obat penghilang rasa sakit dan obat mencegah ingatan kembali, membuat kerusakan pada memorinya!" Zihan menangis dan Ilham menenangkannya.
"jangan bersedih, ini semua sudah kehendak Tuhan, kita tinggal menjalaninya, istriku harus kuat! ingat! kamu sedang mengandung, jangan terlalu banyak fikiran!" Ilham mulai memeluk Zihan, dia tak ingin istrinya stres memikirkan semua ini.
di depan pintu kamar Zihan dan Ilham ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka, tak sengaja pria itu lewat dan melihat pintu yang tak tertutup rapat, niatnya dia ingin menutup pintu itu, tapi ternyata dia malah mendengarkan pembicaraan sepasang suami istri.
__ADS_1
pria itu kemudian terenyuh dengan apa yang dibicarakan oleh zihan, hatinya ikut hancur, rasa bersalahnya semakin besar, dia benar-benar tidak menyangka, efek dari obat itu bisa menghancurkan kepingan memori.
"Maafkan aku!" Willy menutup pintu perlahan dan dia pergi minggalkan kamar Zihan dan Ilham.
saat Willy pergi dengan kesedihannya, Retno melihat kejadian itu, Retno merasa kasihan kepada Zihan dan Willy yang menjadi korban dari keputusan ayah Willy, dia juga masih tidak menyangka sahabatnya ada di hadapannya, Retno bahagia tapi sekaligus juga bersedih karena harus melihat keadaan yang buruk ini.
"aku harap pelangi segera datang setelah hujan!" ujar Retno sambil menitikkan air matanya.
*****
"Kita ke kamar ibumu, kita lihat keadaannya, tadi ibu juga bilang akan pergi kesana!" ajah Ilham kepada Zihan yang sudah lebih tenang sekarang.
Ilham menuntun Zihan untuk menuju kamar ibunya, Ilham tidak mau Zihan merasa sedih lagi, tugas Ilham kini berat, dia harus menjaga Zihan dan calon bayinya, Ilham tidak bisa mengabaikan perasaan Zihan dan bersikap tenang.
__ADS_1
saat Ilham dan Zihan masuk ke dalam kamar Retno, Ilham dan Zihan di kejutkan dengan cerita Retno.
mereka berdua tidak menyangka jika Willy ternyata ada di luar kamar dan mendengar percakapan mereka.
"Maaf, sepertinya tadi aku kurang menutup rapat pintu kamar, sehingga dia bisa mendengar percakapan kita." Ilham merasa bersalah.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, kalian sebaiknya menemui Willy, sepertinya dia merasa bersalah dengan semua yang terjadi kepadamu dan ibumu Zihan!" ujar Retno dengan penilaiannya.
Ilham dan Zihan lalu saling berpandangan, mereka kemudian berpikir apa yang akan mereka katakan nanti jika berhadapan dengan Willy.
"Zihan, jika memang kamu tidak menyalahkan Willy dan papanya, bicaralah, agar dia bisa mengurangi rasa bersalahnya terhadap kalian, kasihan dia, Willy juga termasuk dalam korban kebohongan keluarganya sendiri!" jelas Retno.
apa yang di ucapkan oleh Retno benar, Willy juga korban.
__ADS_1