Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Joanna


__ADS_3

"pergi semua... pergi!" teriak Joanna histeris.


hari ini adalah jadwal Joanna melakukan therapy bersama perawat dan Roy.


"Joanna tolong kamu bersabarlah, kita semua melakukan hal ini untuk membuatmu segera bisa berjalan" kata Roy yang sudah kehabisan kesabaran terhadap Joanna.


"apa? sabar kata mu? setiap kali aku melakukan therapy, tapi apa ada perubahan? kalian hanya makan gaji buta tapi kerjanya tidak ada hasil!" teriak Joanna.


Roy hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan Joanna yang begitu kasar.


"Joanna cukup kamu terus-terusan bicara kasar kepada mereka, mereka sudah melakukan sebaik mungkin" Ilham yang mendengar perkataan Joanna sudah tidak bisa lagi hanya berdiam diri.


Joanna yang mendengar suara Ilham langsung tersenyum dan mencari keberadaan suaminya itu.


"mas, mas kamu dikamar kita? mas aku kangen sama kamu, aku akan berusaha pulih agar bisa mengurus mu" kata Joanna sambil tangannya mencari-cari keberadaan Ilham.


Ilham yang melihat Joanna mengingatkannya kepada kejadian dua tahun lalu yang merobek hatinya.


Ilham selama menjadi seorang suami selalu bersikap baik bahkan selalu berusaha menjadi suami yang sempurna, namun naas semua itu tidak berarti Dimata Joanna, Joanna kerap kali pulang malam, mengabaikan tugasnya sebagai istri dan sebagai seorang ibu, Joanna lebih mementingkan pekerjaan. dan juga teman-temannya.


"sabar ham, kita berdoa semoga setelah therapy alat besok ada sedikit kemajuan di saraf-saraf kaki Joanna" kata Roy menenangkan sahabatnya.


Roy yang seorang dokter saja tak pernah luput dari makian Joanna, entah apa yang membuat Joanna selalu marah sepanjang hari, semua orang yang mengurusnya tidak pernah ada yang bertahan lama.


"mas, dokter Roy, diminum dulu tehnya, biar aku yang menenangkan mba Joanna" Zihan meletakkan teh manis untuk Ilham dan Roy dimeja ruang tamu.


"Zihan, jangan pergi" Ilham menghentikan langkah Zihan yang hendak pergi kekamar Joanna.


"biarkan perawat yang mengurusnya, aku tidak mau dia tergantung dengan mu" kata Ilham demi mencegah Zihan pergi.

__ADS_1


"mas, mau bagaimana pun dia istri mu, aku tidak mau menyakiti hatinya" kata Zihan.


"Zihan kamu disini juga istriku dan kamu tidak tau apa-apa tentang pernikahanku dengan Joanna" kata Ilham dengan tegas dan sedikit menggenggam kuat tangan Zihan.


"aduh mas sakit" Zihan sedikit meringis karena cengkraman Ilham yang cukup kuat.


"maaf...maaf" kata Ilham saat sadar ia sudah menyakiti Zihan.


"duduklah Zihan, biarkan Joanna diurus oleh perawat" Roy meminta Zihan untuk duduk.


"tenangkan hati kalian berdua, terutama kamu Ilham, jaga emosi mu" kata Roy sambil meneguk teh nya.


"mas ilhaaaaam" terdengar suara teriakan joanna dari dalam kamarnya.


Joanna selalu saja seperti itu jika mendengar suara Ilham, karena itu lah Ilham tidak mau masuk dan berbicara dengan joaana kecuali ia sudah sangat kesal.


"mas" Zihan menatap Ilham


"biar aku saja yang kekamar Joanna" Roy langsung menuju kamar Joanna.


"siapkan obat penenang" perintah Roy kepada perawat.


"baik dokter"


Roy menyuntikkan obat penenang untuk Joanna.


"kamu chek detak jantungnya dan denyut nadinya" kaya Roy kepada merawat.


Zihan dan Ilham yang masih menunggu Irlan di ruang tamu, penasaran apa yang dilakukan oleh Roy sehingga Joanna berhenti berteriak.

__ADS_1


"sudah tenang saja, aku sudah memberika. obat penenang untuk Joanna" Roy memberitahukan kondisi joanna karena ia melihat Zihan cukup khawatir.


.


.


.baca novel ku yang lainnya juga yaaa


"pak...pak" Alesya mencoba membangunkan pria yang bercucuran darah didahinya.


Alesya memeriksa denyut nadi pria itu dan ia menemukan masih ada hanya sedikit lemah.


Alesya melihat sekitar dan tampak tak ada orang yang lewat.


"tolong...tolong...tolong" teriak Alesya agar ada orang yang datang


"tolong...tolong...tolong" teriakan Alesya tak membuahkan hasil, akhirnya alesya mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Pai...Pai cepat kemari, ada orang yang kecelakaan, saya kirim lokasi ke Pai" Alesya menutup teleponnya dan mengirim pesan kepada ayahnya.


Alesya menarik tubuh pria yang dua kali lebih besar dari nya agar tidak terbawa ombak.


"hah hah hah" Alesya mengatur nafasnya yang lelah setelah menari tubuh pria itu.


"sya" panggil ayahnya


"Pai disini Pai" panggil Alesya yang masih lemas


"sya siapa ini?" tanya ayahnya panik.

__ADS_1



__ADS_2