
Ilham mulai kembali kerja dan pulang larut malam, setiap Ilham pulang kerja pasti Zihan sudah tertidur dan saat bangun hanya bisa saling bertemu saat sarapan pagi selalu seperti itu setiap harinya.
"mas hari ini aku mau ada keperluan diluar" kata Zihan meminta izin.
"Iyah silahkan tapi jangan pulang terlalu sore" pesan Ilham dan Zihan mengangguk.
Zihan bersiap untuk pergi ketempat yang akan ia tuju.
Zihan berjalan menuju ruangan yang biasa ia datangi
"Zihan" panggil jesie sahabat baik Zihan.
"Jessie" Zihan langsung memeluk jessie.
"apa kabar?" tanya jessie dengan mata berkaca-kaca.
Zihan dan Jessie duduk bersama dikantin, Jessie menceritakan tentang surat pengunduran diri yang Roy berikan kepada pimpinan rumah sakit
"surat pengunduran diri?" kaget Zihan
"emang bukan Lo yang kirim surat itu?" tanya jessie
Zihan menggelengkan kepalanya karena memang bukan dia yang membuat dan mengirim surat pengunduran diri itu.
Zihan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan seseorang yang membuat surat pengunduran dirinya.
tok tok tok Zihan mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam.
"zi" Roy kaget dengan kedatangan Zihan.
"okter saya mau bertanya apa benar dokter memberikan surat resign atas nama saya kepada pimpinan rumah sakit?" Zihan bertanya tanpa basa basi lagi
"itu .. masalah itu..." Roy menjadi gugup
"dokter jawab pertanyaan saya" desak Zihan.
"itu atas permintaan suami mu" jawab Roy
Zihan menitikkan air matanya saat tahu laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya sangat kejam karena sudah merusak karirnya.
"dokter tahunkan bagaimana perjuangan saya untuk bisa bekerja dirumah sakit ini?" Zihan mulai marah.
"dokter tahukan saya siang bekerja dan malam kuliah agar diakui sebagai perawat senior disini? dokter juga tahu kan walau saya sakit saya tetap bekerja kecuali saya tak bisa bangkit dari tempat tidur?" teriak Zihan sambil menangis.
Zihan langsung keluar dari ruangan Roy dan tidak mendengarkan alasan kenapa Roy dan Ilham melakukan semua ini.
"ham cepet ke rumah sakit tadi Zihan kesini dan dia marah-marah" Roy menutuk teleponnya
Ilham yang sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit sudah punya felling bahwa Zihan akan pergi kerumah sakit dan akan mengetahui semuanya, Ilham menancap gas mobilnya agar melaju lebih cepat.
Ilham memarkir mobil miliknya dan langsung mencari Zihan, Ilham mengelilingi sekitar rumah sakit namun belum menemui Zihan.
Ilham berjalan kearah taman rumah sakit dan mencarinya, ia dapati sosok wanita dengan tubuh yang sudah ia hafal, ia hampiri wanita tersebut.
"Zihan" Ilham menyentuk pundak Zihan perlahan.
Zihan menoleh kearah suara yang memanggilnya dan menyentuh pundaknya, dilihat nya Ilham berdiri dibelakangnya, Zihan semakin menangis kencang
"Zihan tolong dengarkan alasan ku" Ilham duduk disamping Zihan yang masih terus menangis.
"Zihan" Ilham kembali memanggil Zihan.
"mas kenapa kamu buat aku kehilangan pekerjaan ku?" teriak Zihan sambil berdiri ???dan menghadap kearah Ilham.
"duduklah akan aku jelaskan dan berhentilah menangis" bujuk Ilham.
Ilham menceritakan semua kejadian saat ia dan Joanna menikah dan pada akhirnya bisa memiliki Syamil saat ini
"Joanna sering kali tidak pulang karena harus meeting ke luar kota dan aku pun begitu sampai pada akhirnya aku meminta Joanna untuk berhenti bekerja, tak mudah membuat Joanna meninggalkan pekerjaannya sebagai sekertaris pribadi yang sejak dulu ia jalani sebelum bertemu dengan ku, satu tahun kami menikah dan tak juga kunjung memiliki anak, ibu akhirnya angkat bicara dan saat itu Joanna baru mau memutuskan meninggalkan pekerjaannya setelah satu bulan beristirahat Joanna akhirnya mengandung Syamil" Ilham menceritakan kisah sedih yang ia alami
"tapi aku bukan Joanna wanita yang kamu cintai, aku hanya wanita yang diminta menikah dengan mu bukan pilihanmu" kata-kata Zihan bagaikan petir untuk Ilham dan membuatnya semakin merasa bersalah
__ADS_1
"kamu tahu satu bulan lagi aku memasuki tahap akhir kuliah kedokteran ku apa dokter Roy tidak cerita?" tanya Zihan
"aku sudah memikirkan semua itu Zihan kau istriku pastilah aku akan membiayai kehidupanmu termasuk uang kuliahmu" kata Ilham.
"hmm mudah sekali kamu bicara seakan-akan kita sepasang suami istri yang harmonis, apa kamu fikir aku menikahinya karena kamu memiliki segalanya? tidak mas aku tidak ingin hidup bergantung dengan orang lain" Zihan berlari meninggalkan Ilham.
hujan turun membasahi bumi dan kedua insan yang sedang berseteru itu, langit seakan menangis melihat takdir yang dijalani oleh Ilham dan Zihan.
Ilham mengejar Zihan dan menghentikan langkah Zihan, Ilham menggenggam tangan Zihan dan mulai memeluknya.
"maafkan aku Zihan, maafkan aku, tolong bantu aku untuk untuk bisa mencintai mu, kamu wanita yang baik hati aku tidak mau menyia-nyiakan dirimu" ilahm semakin memeluk erat Zihan dibawah guyuran hujan yang lebat.
dari kejauhan seseorang melihat semua adengan mengharukan itu, Roy memperhatikan Zihan dan Ilham dari balik jendela ruang kerjanya.
"berbahagialah Zihan, aku tau Ilham laki-laki yang pantas untukmu" kata Roy tanpa sedikitpun melepas pandangannya kearah Zihan.
Zihan dan Ilham kembali kerumah dengan keadaan basah kuyup.
"ya ampun Zihan, Ilham kenapa kalian basah kuyup kaya begini?" tanya Retno panik
"tidak apa Bu, kami naik dulu keatas" ilahm merangkul Zihan untuk naik keatas membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka.
Ilham mengambilkan handuk untuk Zihan dan Zihan masuk kedalam kamar mandi sedangkan Ilham mandi dikamar mandi sebelah.
"hatchim" Zihan bersin
"kamu sakit?" tanya Ilham dan langsung memedang kening Zihan.
dirasakannya kening Zihan yang bersuhu normal dan Ilham langsung memberikan air teh hangat untuk Zihan yang sudah disediakan oleh mbok min.
"minum dulu" kata Ilham
Zihan meraih gelas yang diberikan oleh Ilham kepadanya, diminumnya teh tawar hangat kesukaan Zihan.
"istirahatlah, nanti aku bawakan makanan sepertinya kamu belum makan siang" kata Ilham.
Ilham berjalan menuruni tangga dan disana ia dengar Joanna yang kembali berteriak-teriak.
"aku mau perawat yang kemarin merawatku dimana dia?" teriak Joanna.
"kenapa dia berhenti aku tidak pernah menyuruhnya berhenti mengurusku" kata Joanna lagi
"zihan Zihan" saat Mila akan memberi alasan lainnya Ilham berada di depan pintu kamar memanggil Mila agar keluar dari kamar Joanna.
Ilham melangkah masuk kekamar Joanna dengan ragu namun ia tetap melakukannya selama ini ia tak pernah mau masuk kekamar ini lagi karena kenangannya bersama Joanna namun ia sudah memutuskan untuk membuat kenangan Manis bersama Zihan di kamar yang kini mereka tempati bersama.
"Joanna" panggil Ilham
Joanna yang mengenali suara Ilham langsung tersenyum
"mas Ilham kamu disini? kamu kembali kekamar ini?" tanya Joanna
"Joanna berhentilah memakai, memarahi dan menghina orang-orang yang berusaha membantu mu untuk bersih dan sehat, aku membiarkan mu tetap tinggal disini dan menunda perceraian kita bukan karena ingin kembali tapi aku menunggu kamu normal kembali baru kita lanjutkan proses perceraian kita" ujar Ilham.
"mas mas aku mohon maafkan aku mas", Joanna memanggil Ilham namun Ilham tak menghiraukannya.
Joanna menangis meratapi nasib nya yang buruk karena ulahnya sendiri sampai pada akhirnya ia mendapat balasan setimpal menjadi buta dan lumpuh tak berdaya akibat kecelakaan dihari itu.
Ilham kembali kekamar dan menemui Zihan, dipeluknya Zihan erat dan ia lepaskan kembali.
"maaf" ujar Ilham
Zihan terkejut Ilham kembali memeluknya tanpa alasan dan langsung melepasnya.
"makan lah dulu selagi hangat" kata Ilham
Zihan menyendok sup hangat yang dibuat mbok min untuknya dan Ilham.
tok tok tok
"masuk" kata Ilham
__ADS_1
"Ilham ibu mau bicara sebentar" Retno memanggil Ilham dari balik pintu.
Ilham keluar kamar dan menghampiri ibunya.
"kenapa kalian bisa pulang dengan kondisi basah kuyup?" tanya Retno
"sebenarnya aku membuat Zihan berhenti menjadi perawat Bu, aku mau dia dirumah dan merawat Syamil saja"kata Ilham
"apa kamu sudah memberitahukan rencanamu sebelum kamu melakukan semua ini?" tanya Retno
Ilham menggeleng dan tertunduk merasa bersalah lagi
"itu sebabnya tadi dirumah sakit kami sedikit bertengkar dan hujan turun kami kehujanan saat akan ke parkiran mobil" cerita Ilham.
" Ilham sebaiknya saat ini kamu harus berdiskusi dulu dengan Zihan jika ingin melakukan hal apapun yang berkaitan dengannya" nasehat Retno pada putranya.
"ya sudah temani lagi Zihan dan jangan lupa berikan mama satu cucu lagi" Retno tersenyum sambil menggoda putranya
Ilham kembali kekamarnya dan menemani Zihan.
waktu bergulir dengan cepat malam ini Zihan dan Ilham tidur disatu kasur yang sama dan menjaga Zihan yang sejak tadi sore terus bersin-bersin.
"tidur lah" kata Ilham
kukuruyuuuuuk ayam berkokok begitu indahnya.
Zihan yang sudah rapih dan sudah bersiap seperti orang yang akan pergi
"mau kemana?" tanya Ilham sambil merapihkan dasinya.
"mau mengantar Syamil kesekolah" jawab Zihan.
"mengantar Syamil?" tanya Ilham lagi.
"Iyah, apa tidak boleh?" tanya Zihan
"boleh tapi apa kamu yakin ingin mengantar Syamil kesekolah? kamu tidak malu?" tanya Ilham.
"kenapa tidak yakin dan kenapa harus malu? karena ibu-ibu disana akan mengejekku sebagai ibu sambung Syamil?" tanya Zihan
"bukan Bukan itu,Joanna selalu tidak mau mengantar Syamil kesekolah karena memiliki banyak alasan, jadi aku sedikit terkejut karena kamu mau mengantar Syamil kesekolah ya" ujar Ilham.
"kalo begitu apa Joanna belum pernah ke sekolahan Syamil sama sekali?" tanya Zihan penasaran.
"Iyah benar bahkan saat mendaftar kan Syamil kesekolah hanya aku sendiri, Joanna sibuk bekerja" cerita Ilham lagi
Zihan berfikir berarti ia tak akan di cap sebagai pelakor Karena mereka belum pernah melihat Joanna ibu Syamil.
"ibu Zihan" panggil Syamil
Zihan menghampiri Syamil dan menggandeng tangan mungil itu.
"hari ini ibu jadi kan anter Syamil kesekolah?" tanya Syamil.
"tentu sayang" Zihan menyentuk lembut pipi Syamil yang chubie.
mereka berdua berpamitan kepada Retno
"tunggu" kata Ilham
"Daddy juga akan mengantar Syamil kesekolah" ilahm mengandeng tangan Syamil yang satunya.
Retno yang melihat momen ini terharu dan menitikkan air matanya, rasanya momen ini baru pertama kali ia melihatnya selama lima tahun Joanna menjadi menantu dan ibu dari cucunya itu.
Ilham, Zihan dan Syamil masuk kedalam mobil dan Ilham melajukan mobilnya menuju kesekolah Syamil.
"Daddy apa nanti aku akan punya adik?" tanya Syamil tiba-tiba.
Zihan dan Ilham saling berpandangan dan menatap Syamil.
"emangnya Syamil mau punya Ade?" tanya Ilham
__ADS_1
"mau dong dad, jadi aku bisa punya temen di rumah" kata Syamil laku menatap wajah Zihan.
Ilham tersenyum kearah Zihan penuh dengan makna dan Zihan yang melihatnya merasa takut.