
zihan kini di rawat di rumah willy, willy tidak mau ada yang tau tentang keberadaan zihan saat ini, dia tidak mau joanna kembali mengancam nyawa wanita yang begitu dia sukai.
Willy memandang zihan dengan sangat dalam, hatinya merasa sangat sakit ketika wanita itu diperlakukan sangat tidak adil oleh wanita jahat seperti joanna.
"ingin rasanya saat ini aku mencekik wanita ****** itu, ingin rasanya saat ini aku merobek-robek mulutnya yang tidak berpendidikan itu!" gumam willy dengan terus menatap zihan.
"pak, besok kita harus sudah berangkat, beberapa buyer sudah menunggu kehadiran anda dalam rapat besok" kata rey.
"batalkan penerbanganku! Aku harus tetap disini memastikan kondisi zihan dan juga keadaan ibuku yang tidak cukup stabil" kata willy.
Willy tidak bisa meninggalkan dua wanita yang berharga dalam kehidupannya, dia tidak mau hal buruk terjadi kepada ibunya dan mengacaukan semuanya.
"baik, pak saya akan sampaikan kepada mereka semua" kata rey.
Dalam keadaan seperti ini, rey tidak akan pernah memaksa willy untuk hadir dalam pertemuan rapat, sudah sejak lama jika ibunya merasa kepalanya pusing, willy akan berada di sisinya seharian, dia akan membatalkan semua jadwalnya dan menemani ibunya dengan rasa cemas.
Rey pergi dari kamar tamu yang di tempati oleh zihan.
"aku harap, bu zihan dan ibu rubby segera siuman, aku tidak mau terlalu lama menunda meeting ini." kata rey sambil teru berjalan.
*****
"pasti kini dia sudah tidak bernyawa lagi, aku akan membuat dirimu menghilang karena pergi dengan willy, aku akan terus membuat ilham marah dan semakin membenci dirimu zihan." kata joanna sambil terus memutar gelas yang sedang dipegangnya.
Joanna akan menjalankan rencananya lagi, kali ini dia akan melakukan hal yang membuat hati ilham semakin panas, dia mendengar ilham sudah berada di rumah, dia langsung keluar kamar dan menghampiri ilham.
"mas kamu sudah pulang?" tanya joanna ketika berpapasan dengan ilham.
"hmm" jawab ilham dengan rasa malas.
"aku siapkan makan malam untukmu, besok-besok pulanglah lebih awal agar kita bisa makan malam bersama seperti biasa" joanna mulai bicara dengan nada lemah lembut.
"kau senang?" tanya ilham.
"apa maksudmu mas?" tanya joanna yang pura-pura tidak tau maksud arah perkataan ilham.
"senang karena kahirnya zihan tidak ada di rumah ini, kini hanya kamu satu-satunya istriku di rumah ini dan satu-satunya ibu syamil saat ini!" ilham bicara dengan nada yang seperti tau ekspresi bahagia joanna.
"mas, aku tidak seperti itu, lagi pula aku tidak terlalu mengerti apa maksudmu?" kata joanna sambil menyiapkan minuman untu ilham.
"aku bersamamu bukan sehari dua hari, seminggu dua minggu atau, sebulan dua bulan, kita bersama lebih dari delapan tahun joanna, aku tau raut wajahmu dan apa yang akan kau lakukan jika sedang senang" kata ilham.
__ADS_1
"jadi, kamu masih sangat mengenalku mas? Masih bisakah rasa yang tersisa hanya sedikit itu berubah kembali menjadi cinta?" tanya joanna yang berharap disambut dengan baik oleh ilham.
"joanna! Hentikan playing fictimmu itu, aku tidak tertarik dengan mu, apalagi mencintaimu lagi, cukup aku sekali merasakan dikhianati oleh mu" ilham pergi meninggalkan joanna.
Joanna melihat kearah ilham dengan sangat kesal, dia benci saat ilham sudah mulai menghakiminya lagi.
"kali ini, kamu boleh menolakku mas, tapi lain kali tidak akan!" kata joanna sambil meminum sendiri minuman yang tadinya dia siapkan untuk ilham.
*****
"joanna, jangan kamu anggap aku tidak tau maksud dari kamu kembali melayaniku sebagai seorang suami, aku tidak akan pernah kembali kepadamu!" kata ilham sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang kini hanya diisi olehnya saja.
Ilham merasa kamarnya sangat sepi tanpa kehadiran zihan, rasanya malam sangat dingin seperti ketika dia belum bersama zihan, ilham yang kesepian mulai memejamkan matanya dan tertidur lelap.
*****
Zihan yang sudah siuman sejak kemarin, kini sudah tidak mau lagi terus berdiam diri di kamar. zihan sudah membantu para pelayan di rumah willy, Zihan membuat memasakkan sarapan pagi.
"nona, sudah biarkan kami saja yang memasak, nanti tuan willy akan marah jika tau semua ini" kata sala satu asisten rumah tangga yang bertugas memasak.
"sekali ini saja, izinkan aku memasak, jika dia tidak suka dengan masakanku, aku tidak akan kembali ke dapur ini" kata zihan sambil terus membuat menu sarapan pagi.
Willy melihat semua itu dan mendengar semua percakapan zihandan asisten rumah tangganya.
"okeh setuju!" kata zihan.
Zihan meneruskan memasak, dia dengan senang hati menyajikan masakan buatannya untuk willy dan juga untuk beberapa asisten rumah tangga.
"sudah siap, bisa bantu aku untuk menghidangkannya?" kata zihan meminta bantuan.
"tentu nona, kami akan membantu" kata asisten rumah tangga itu.
Zihan yang dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga, selesai menghidangkan makanan di atas meja makan.
"silahkan dimakan" kata zihan.
"hmmm, bukan kah ada mamanya pak willy?" tanya zihan
"hmmm, benar, tapi ibu sedang tidak enak badan jadi dia masih di dalam kamarnya"
"pas, sekali, nasi Hainan ini sangat bagus, boleh aku bawakan makanan ini ke kamar ibumu?"
__ADS_1
"silahkan, kamarnya ada di sana" willy menunjuk kamar yang sedikit terbuka.
Zihan membawa seporsi nasi Hainan untuk sarapan pagi, dia membawakannya ke kamar ibu willy, saat dia masuk ke dalam kamar.
Praaaang
Zihan melepaskan piring yang ada di tangannya dan menangis melihat wanita yang terbangun karena suara piring yang pecah. Ihan berlari ke kasur wanita tersebut dan dia memeluk wanita itu.
"ibu" kata zihan sambil melinangkan air matanya.
"nak, kamu kenapa?" tanya rubby yang terkejut karena zihan memanggilnya ibu.
"ini... Aku zihan bu"kata zihan sambil menatap wajah rubby.
"apa maksudmu?" tanya rubby.
Willy yang mendengar keributan dan pecahan piring langsung masuk kedalam kamar, willy terkejut melihat zihan yang sudah memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu.
"zihan ada apa?" tanya willy.
"pak, ini adalah ibuku, aku sangat ingat wajah ibuku, aku tidak akan salah" kata zihan penuh keyakinan.
"maaf zihan tapi aku ibu willy dan willy tidak memiliki adik" kata rubby.
"zihan bisa kita bicara sebentar?: kata willy.
Zihan bangun dan mengangguk sambil menyeka air matanya, zihan mengikuti langkah willy yang keluar kamar dan kini mereka berdua berada di ruangan pribadi willy.
"zihan, maaf sebelumnya, apa kamu merasa dia adalah ibumu? Apa semua itu karena kamu sedang tertekan?" tanya willy.
"tidak pak, aku sangat yakin, aku bisa membuktikannya jika kau izinkan aku pulang kerumah dan membawakan foto-foto keluargaku" kata zihan untuk meyakinkan willy.
*
.
.
.
.maaf jika ada typo dalam penulisan, terima kasih sudah membaca karyaku.
__ADS_1
Love u all