
Ilham menemui Roy sahabatnya di rumah sakit tempat Roy bekerja.
"apa kau menikahi Zihan?" Roy terkejut mendengar cerita sahabatnya itu.
"gila kau ham, masih punya istri tapi berani memperistri wanita lain" kata Roy
"aku juga tidak bermaksud menikahinya tapi ibu mendesak ku karena ternyata Zihan adalah anak dari sahabat ibu yang selama ini dicarinya" Ilham menjelaskan.
"maksudmu?" tanya Roy yang kembali duduk di kursinya sambil menatap Ilham.
"kau ingat cerita ku beberatahun lalu yang mau dijodohkan dengan putri dari sahabat bapak dan ibu?" tanya Ilham pada Roy
Roy berusaha mengingat ingat cerita masa lampau itu, karena sudah sangat lama Roy hanya mendapat sedikit ingatannya tentang cerita Ilham dulu.
"ys aku ingat kau cerita bahwa di jodohkan dengan seorang wanita tapi ibumu tidak menemukannya mskanya ibunya menyetujui hububgan mu dengan Joanna" kata Roy yang mengingat sedikit cerita cinta Ilham dengan Joanna sebelum menikah.
"ya wanita itu Zihan, ibu memang sebenarnya tertarik dengan Zihan dan menyelidiki asal usulnya tak disangka ia adalah wanita yang dicari oleh ibu" jelas Ilham.
"lalu apa kamu menerima Zihan sebagai istri mu?" tanya Roy
"itu lah Roy masalahnya makanya aku mengunjungi mu kesini, aku bingung bagaimana bersikap kepada Zihan, aku juga kasihan karena selalu mengabaikannya" Ilham menunjukkan wajah frustasinya
"ham kamu sudah memutuskan menikahinya maka kau harus memberikan kebahagiaan untuk Zihan" kata Roy pada sahabatnya itu
"Oia selain itu aku ingin Zihan tidak bertugas sebagai perawat lagi, dan Carikan perawat baru buat Joanna aku tidak mau Zihan melayani joanna lagi" jelas Ilham.
"apa kau berencana membuat Zihan kehilangan pekerjaannya?" tanya Roy.
Roy tahu bagaimana Zihan mati-matian kuliah dan menjadi perawat dirumah sakit besar ini.
"aku tidak mau istriku bekerja" ujar Ilham
"baiklah aku akan membuat surat surat pengunduran diri Zihan dan menyetujuinya" Roy menghela nafas panjang.
Ilham berpamitan dan kembali kekantornya untuk bekerja
"selamat pagi pak Ilham" sapa Riska sambil berdiri menyambut kedatangan Ilham.
"pagi" kata Ilham tanpa melihat kearah Riska.
Ilham terus berjalan tanpa menoleh ke kanan kirinya.
banyak yang harus Ilham fikirkan dan banyak hal yang harus ia mulai tata dari awal terutama hatinya yang sudah beku selama dua tahun.
Ilham yang sibuk mengerjakan semua tugas ya sampai tak melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya makan siang.
tok tok tok
"masuk"
seseorang masuk kedalam ruang kerja Ilham.
"Riska" Ilham melihat kearah pintu karena tidak ada suara saat pintu tertutup, terkejutnya ia melihat sosok yang berdiri didepan pintu.
"Zihan" Ilham menyebut nama istri keduanya tersebut.
"kenapa kamu kekantor ku?" tanya Ilham dan memalingkan wajahnya yang semula melihat ke arah Zihan.
"ibu memintaku membawakan makan siang untuk mas Ilham" kata Zihan sambil meletakkan kotak makan siang yang ia bawa dimeja.
"simpan saja disana dan kamu bisa langsung pulang" usir Ilham pada Zihan
Zihan sedikit sedih melihat perlakuan Ilham padanya, sejak awal memang Ilham tidak mengindahkan Zihan.
__ADS_1
Zihan tersenyum dan berusaha kuat menghadapi mahkluk yang sekarang sudah menjadi suaminya
"ibu memintaku memastikan mas Ilham menghabiskan makan siang ini dan aku diminta ibu untuk pulang bersama mas Ilham ketika pekerjaan mu selesai" Zihan berjalan menuju arah sofa dan duduk disana.
Ilham melihat kearah Zihan yang memakai celana jeans, kemeja panjang dengan rambut yang diikat bagaikan buntut kuda, terlihat leher Zihan yang putih dan jenjang membuat Ilham sedikit terpana.
"jika kamu menungguku disini akan mengganggumu bekerja, pergilsh jika sudah waktu pulang kerja kabari aku kamu ada dimana, aku akan menjemput mu nanti" Ilham berusaha menghindari Zihan dengan sekuat tenaganya.
"baiklah aku akan pergi kerumah sakit dimana aku bekerja" ucap Zihan dan langsung pergi dari hadapan Ilham.
tak lama Zihan pergi Ilham baru teringat sesuatu bahwa ia meminta Roy membuat Zihan berhenti bekerja, Ilham langsung mendapat ke arah pintu ruangannya
"kalau dia tau aku membuatnya kehilangan pekerjaan pasti dia akan mengamuk pada ku" Ilham yang semula duduk manis dikursinya langsung bangun dan berlari keluar ruangannya.
Ilham mencari sosok wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
"cepat sekali langkahnya" bisik Ilham.
"pak Ilham cari siapa?" tanya Riska yang heran melihat bosnya seperti orang bingung
"wanita yang barusan keluar dari ruangan saya kemana dia pergi?" tanya Ilham pada Riska
"oh tadi pergi kearah sana pak" Riska menunjuk arah dimana itu menuju lobby bawah
Ilham langsung berjalan dengan cepat agar bisa menyusul Zihan.
"Zihan" panggil Ilham ketika menemukan Zihan
Zihan memutar tubuhnya dan melihat kearah suara, Ilham yang melihat Zihan berputar terpesona dengan rambut yang melayang diudara.
"kenapa?" tanya Zihan yang membuyarkan lamunan Ilham.
"hmm kamu temani saja aku makan siang hari ini dan temani aku bekerja" Ilham berkata dengan ragu-ragu.
"yakin aku tidak akan mengganggumu bekerja?" tanya Zihan dengan menatap Ilham
"tidak tidak menganggu" Ilham sedikit tertawa dengan terpaksa.
Ilham melakukan semua ini terpaksa karena saat ini Roy sedang mengurus surat-surat untuk resign Zihan jika Zihan kesana pasti Roy akan mengabaikan dan menbatalkan semua permintaanya.
Ilham dan Zihan berjalan beriringan menuju ruang kerja Ilham, Riska yang terkejut melihat boss nya membawa wanita muda bersamanya masuk keruangan yang selama ini tidak ada pemandangan seperti itu karena Ilham selalu menjaga reputasinya.
Zihan membuka kotak makan yang ia bawa dan menatanya di meja makan.
"makan lah" kata Ilham pada Zihan dan Zihan mengangguk.
di sendoknya beberapa lauk dan nasi lalu Zihan mulai memakan masakan itu.
Ilham terlihat sangat menikmati masakan yang dibawa oleh Zihan tanpa menghiraukan Zihan yang ada dihadapannya.
setelah makan siang Zihan merapihkan semuanya dan memasukkannya kembali kedalam kantong yang ia gunakan untuk membawa kotak makan.
waktu terasa sangat lama bagi Zihan yang menunggu Ilham bekerja, sesekali ia menguap dan memejamkan matanya, Ilham yang sesekali melihat ke arah Zihan sedikit membentuk senyuman di bibirnya.
Zihan sosok wanita mudah yang usianya berbeda depan tahun dibawahnya mungkin bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
"Zihan maafkan aku yang membuatmu harus menikah dengan pria yang memiliki masalalu buruk dengan istrinya dan memiliki seorang putra, harusnya kamu bisa dapatkan laki-laki yang lebih baik dari ku" ilham mulai merasa iba dengan nasib Zihan.
Zihan terbangun dan melihat kearah Ilham yang masih sibuk bekerja, Zihan merentangkan tangannya untuk membuat tubuhnya segar kembali.
"aku kekantin dulu, dimana kantinnya?" tanya Zihan.
"mau apa kamu ke kantin?" tanya Ilham
__ADS_1
"mungkin segelas kopi"Zihan melayangkan tangannya seperti orang yang sedang meneguk segelas kopi
"aku akan minta OB untuk membuatkan mu kopi" Ilham mulai memencet nomor panggilan ke pantry.
"tidak perlu aku tidak hanya butuh kopi tapi butuh udara segar, disini terasa sesak" ujar Zihan sehingga menghentikan Ilham memencet tombol yang ada di telepon.
"hmm sesak tapi bisa tertidur pulas" sindir Ilham sambil menertawakan Zihan.
Zihan yang mendengar itu semua jadi malu dan segera keluar dari ruangan Ilham.
"mba dimana kantinnya", tanya Zihan pada Riska
"belok kiri lalu belok kanan disana ada tangga turun dan disitu lah kantin nya", Riska menunjukan arah jalan
"terimakasih"Zihan langsung berjalan kearah yang ditunjukkan oleh Riska.
Zihan meneguk kopi yang ia pesan sambil melamun, satu gelas kopi sudah habis ia teguk, tak lama Zihan memesan eskrim cup dan langsung memakannya dengan lahap, Zihan yang sejak berada dikantin terus memikirkan kata-kata Ilham yang membuatnya malu karena kepergok ketiduran.
"aaah kenapa sih pake ketiduran segala, ini mata emang enggak bisa diajak kompromi banget deh, *****" kesal Zihan pada dirinya sendiri.
melihat Zihan yang sedang asik merutuki dirinya sendiri sambil menikmati es krim yang digenggamnya Ilham menghampiri Zihan
"ayo pulang pekerjaan ku sudah selesai" ajah Ilham.
Zihan melihat kearah jam tangannya.
"ini belum waktunya pulang kerja kan masih jam 15.00" kata Zihan
"aku boss disini jadi bisa pulang kapan saja" Ilham langsung menarik tangan Zihan dan membawanya keluar dari kantin menuju tempat parkir.
ditempat parkir Ilham langsung membukakan pintu untuk Zihan dan Zihan pun masuk kedalam mobil, mereka berdua kini sudah didalam perjalanan pulang.
"Zihan dengar kan aku baik-baik, status kita memang suami istri tapi aku tidak akan menyentuh mu, kita mulai malam ini akan tidur didalam kamar yang sama tapi jangan terlalu berharap banyak dari ku" Ilham tiba-tiba mulai berbicara dengan intonasi yang cukup tegas.
Zihan mengangguk mengerti dan menyetujui semua perkataan Ilham kepadanya.
Zihan juga sadar bahwa ia mungkin takkan pernah bisa masuk kedalam hati Ilham.
Ilham menghentikan mobilnya yang sudah berada di garasi mobil.
"turunlah" kata Ilham sambil mematikan mesin mobilnya
Zihan turun dari mobil Ilham dan masuk kedalam rumah.
"ibu Zihan" panggil Syamil yang sertinya sudah sangat rindu dengan sosok Zihan.
"Syamil kok enggak bobo siang?" tanya Zihan.
"Syamil baru bangun tidur Bu pas denger suara mobil pak Ilham" kata suster Dina.
Zihan memperhatikan wajah anak sambungnya itu, benar terlihat wajah orang yang baru bangun tidur.
"Syamil tadi udah makan puding buatan ibu belum?" Zihan menggendong Syamil.
"udah" jawab Syamil sambil mengecup pipi Zihan
"enak enggak puding buatan ibu?" tanya Zihan lagi.
"enak dong kan buatan ibu Zihan" Syamil memeluk Zihan erat.
Syamil dan Zihan terlihat seperti anak dan ibu kandung sungguhan, tak pernah Ilham melihat momen manis seperti ini pada Syamil dan Joanna.
Zihan masuk kekamar Syamil dan mulai memandikan Syamil karena hari sudah menunjukkan jam 16.00 sore.
__ADS_1
terdengar suara Syamil berteriak dengan girang saat dimandikan oleh Zihan, Ilham hanya bisa mendengar semua itu dari balik pintu tanpa melihatnya langsung.