
Zihan masih harus menunggu, sedangkan hatinya sudah sangat tidak sabar untuk mendekap putranya, bagi Zihan Syamil adalah putranya meski dia tidak terlahir dari rahimnya.
wanita yang dulu menjadi seorang perawat ini, adalah wanita yang begitu tulus mencintai dan menyayangi.
"sampai kapan aku harus menahan semua rinduku? aku bahkan sudah hampir sesak nafas menahannya" kata Zihan sambil menangis sendirian di dalam kamarnya.
"Tuhan, aku mohon, bantu aku kali ini, bantu aku bertemu dengan anakku" dia Zihan.
Rubby mengintip dari celah pintu kamar yang di tempati Zihan.
"kasihan dia, harus terpisah dengan putranya, aku saja yang kehilangan memori tentang masa kecil anakku rasanya sangat sedih, apalagi dia yang tidak bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama anaknya yang masih kecil, pasti hatinya tersiksa" Rubby semakin iba dengan keadaan Zihan.
*****
"aku sudah memenjarakan Joanna, ibu dan Syamil bisa kembali ke rumah" kata Ilham kepada ibunya dan juga Syamil.
"aku mau pulang, tapi aku mau dijemput sama Mhiu, Phiu jahat! Phiu enggak sayang sama Mhiu dan Syamil! Phiu jahat! Syamil benci Phiu!" Syamil berteriak dan dia langsung berlari ke dalam kamarnya.
Ilham hanya bisa melihat dan mendengar semua caci maki dari putranya sendiri.
"jangan di ambil hati, dia masih kecil" kata Retno.
"Syamil tidak salah Bu, aku yang salah, aku terlalu mudah terhasut oleh Joanna, aku mudah di bodohi oleh dirinya, aku pantas mendapatkan cacian itu darinya, dia terpisahkan dengan Zihan karena kebodohanmu!" Ilham menjepit pangkal hidungnya dan mulai menyesali semuanya.
Retno melihat anaknya sungguh kesulitan kali ini. semua karena ulah Joanna, tapi untungnya Willy mengambil keputusan yang bijak dan bekerja sama kembali dengan Ilham untuk menuntaskan semua ini.
******
"bang Wil" panggil Zihan kepada Willy.
"ada apa zi?" tanya Willy.
"kapan aku bisa bertemu dengan Syamil?" tanya Zihan dengan wajah memelas.
melihat wajah Zihan yang sudah putus asa, semakin membuat dirinya kesal, dia sebenarnya bukan hanya kesal dengan Joanna, tapi juga kepada Ilham yang terlalu mudah terhasut dengan rekaman murahan itu.
"aku sedang menyelesaikannya, semoga lusa kamu sudah bisa bertemu dengan Syamil" jawab Willy sambil mengusap rambut Zihan yang lurus.
"lusa? tidak bisa hari ini?"
"bersabarlah, aku akan mengupayakan yang terbaik untukmu." janji Willy
Zihan lagi-lagi hanya bisa mengikuti semua perkataan Willy, dia tidak mungkin membantah perkataan orang yang sudah menyelamatkannya dari maut dan juga menyelamatkan ibunya.
Rubby melihat pertemuan Willy dan Zihan, dia kemudian menyusul masuk ke kamar Willy.
"boleh ibu masuk?" tanya Rubby setelah membuka pintu kamar Willy.
"silahkan Bu, masuklah"
"boleh ibu bicara nak?" tanya Rubby.
"ada apa Bu?"
"ibu rasanya begitu mengenal wanita itu, melihat wajahnya yang termenung dan bersedih, membuat hati ibu begitu sakit, ibu tidak mengerti mengapa seperti ini" jelas Rubby.
"itu hanya perasaan ibu saja, jangan terlalu difikirkan, masalah Zihan sudah aku handle dengan sangat baik" Willy memeluk ibunya.
setelah Willy menerima semua kenyataan pahit itu, kini dia merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan merasakan kasih sayang seorang ibu meski bukan dari ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"istirahatlah, aku tidak mau ibu jatuh sakit lagi, ingatlah masa-masa indah dulu, aku ingin mendengar masa kecilnya" kata Willy.
"masa kecilmu, bukan masa kecilnya" kata Rubby.
Willy tersenyum mendengar perkataan Rubby.
"*andai kau adalah ibu kandungku, aku sangat ingin mendengar masa kecilku yang ada diingatanmu" batin Willy.
*****
"sebaiknya, aku menghubungi dia dulu*" ujar Ilham dalam hatinya.
dia menatap pintu kamar ibunya yang masih terkunci, dia sedang berfikir bagaimana cara membujuk anaknya.
"hallo, aku ingin bicarakan sesuatu denganmu, aku harap kau mengizinkannya" kata Ilham.
"baiklah, aku akan kesana, tunggu aku" kata Ilham dan menyudahi teleponnya.
"Syamil, kemarilah, Phiu punya kabar gembira untukmu" kata Ilham yang berteriak.
Syamil masih juga belum mau membuka pintu kamar neneknya, dia masih mengurung diri selama kurang lebih tiga jam.
"Bu, apa ada kunci cadangannya?" tanya Ilham.
"ibu cari dulu" Retno langsung menuju arah laci lemari di ruang tengah.
Ilham menunggu ibunya, dia bukan tidak mau mencarinya tapi ibunya yang tidak suka dibantu mencari barang.
"ini kuncinya" kata Retno begitu menemukan kunci cadangannya.
Ilham langsung meraih kunci cadangan dan membuka pintunya, untung dia selalu ingat, jika Syamil ngambek akan mengunci pintu dan mencabut kuncinya, dia sengaja melakukan itu agar orang di luar bisa membukanya.
"Syamil" Ilham memanggil nama putranya sambil menyingkap bantal yang menutupi wajah Syamil.
"aku tidak mau bicara dengan Phiu!" ujarnya sambil menutupi wajahnya lagi.
"kau yakin? padahal Phiu punya sesuatu yang ingin di tunjukkan, tapi sepertinya Syamil sudah tidak ingin melihatnya" kata Ilham.
Syamil menyingkirkan bantal dari wajahnya dan melihat ke arah Ilham.
"apa?" tanya Syamil.
Ilham membisikkan sesuatu di telinga putranya, mendengar apa yang dibisikkan oleh Ilham, Syamil menyeka air matanya dan langsung menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.
"semoga dia bisa kembali ceria dengan cara ini" kata Retno.
"pasti Bu, pasti dia akan bahagia dan ceria kembali seperti semula" yakin Ilham.
selesai bersiap, Ilham, Retno dan Syamil masuk ke dalam mobil dan menuju suatu tempat.
Ilham mempercepat laju mobilnya, sehingga dia sampai lebih cepat di tempat tujuan mereka.
"kita sampai!" kata Ilham.
"ini di mana?" tanya Syamil.
"nanti Syamil akan tau" kata Ilham yang masih menyimpan rahasia.
"ini istana?" tanya Syamil ketika melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga.
__ADS_1
"ini rumah, pemiliknya mengundang kita untuk datang" kata Ilham.
"Phiu bohong, Phiu membohongiku!" teriak Syamil sambil memukul-mukul kecil Ilham.
Ilham langsung menangkap kedua tangan putranya dan memintanya untuk berhenti merengek.
"diam, kita sudah kesini, jadi hormati pemilik rumah, jangan sampai dia kecewa kepada kita" bujuk Ilham.
Retno menjadi bingung dengan rumah yang dia kunjungi untuk pertama kalinya.
"tenanglah Bu, ini rumah teman ku" ujar Ilham.
"silahkan masuk, pak, semua sudah menunggu di dalam" seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk, mereka membukakan pintu untuk masuk.
Ilham, Retno dan Syamil sangat takjub melihat rumah yang begitu indah itu.
"mohon di tunggu dulu, saya panggilkan pak Willy dan juga ..."
Ilham mengangkat tangannya, tanda si pelayan untuk berhenti bicara, dia tidak ingin ada kekacauan di hari ini.
"panggil saja, bilang kami sudah datang" kata Ilham.
pelayan itu pergi meninggalkan Ilham dan masuk kedalam sebuah ruangan.
"pak, tamunya sudah sampai dan menunggu di ruang tengah" kata pelajar itu.
"baik, panggil yang lain dan minta dagang ke ruang tengah" jawab Willy.
*****
"Syamil!" Zihan yang dipanggil untuk bergabung di ruang tengah terkejut melihat putranya ada di rumah Willy.
"Mhiu"
Syamil dan Zihan saling berlari satu sama lain, mereka saling berpelukan untuk melepas rindu.
.
.
.
.
teman-teman semua
aku mau ada giveaway untuk kalian.
bagi pembaca setia.
ada pulsa, dan hadiah lainnya.
setiap minggu akan ada laporannya dan setiap awal bulan akan dikirimkan hadiahnya.
seperti ini laporannya.
terimakasih
__ADS_1