
Joanna akhirnya mendapat kesempatan untuk menghubungi Carlos, dia menekan nomor telepon sambil memegang kertas kecil ditangannya.
"Carlos ... angkat teleponnya!" bisik Joanna lirih.
Joanna sesekali menyisir rambut depannya dengan jari-jarinya, kegelisahan mulai muncul dihatinya, rasanya dia ingin berteriak kencang, namun sayang dia kini berada di kantor polisi.
Joanna kembali mengulang memencet tombol nomor dan berusaha terus menghubungi Carlos meski tidak kunjung ada jawaban.
Joanna akhirnya menyerah, dia meletakkan gagang telepon dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tak bisa lagi menahan air mata yang sudah mengembang, dia menangis dan menyembunyikan tangisannya agar tidak ada satu orangpun yang mendengar suara Isak tangisnya, dia tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun, selama ini dia sudah berusaha menjadi seseorang yang arogan, merasa paling berkuasa, merasa paling dibutuhkan dan merasa semua orang tak bisa berdiri tegak tanpa dirinya, namun semua pemikirannya salah, Joanna ternyata hanya wanita yang ditunggu jika dibutuhkan, dia hanya wanita yang dicintai saat diinginkan, dia tak pernah menyadari akan hal itu, dia hanya ingin percaya, mendengar dan melihat apa yang dia inginkan dan butuhkan saja selama ini.
"tega kamu Carlos! aku fikir, kamu akan mencariku! aku fikir kamu akan berusaha mengeluarkanku dari penjara ini! tapi aku salah! kamu tak sebegitunya menyukaiku, semua perkataannya palsu!" Joanna meringkuk sambil memeluk kedua kakinya, tidur di atas lantai tanpa beralaskan apapun.
roda kehidupan selalu berputar, tidak bisa kita selalu berada diatas, kita pasti akan merasakan bagaimana kehidupan manis saat di atas dan bisa merasakan kehidupan pahit saat di bawah, semua tetap bisa baik-baik saja jika tetap bersyukur dan mawas diri.
*****
"Pak, ada telepon tidak dikenal, sejak tadi terus menghubungi ponsel bapak" kata sekertaris Carlos sambil menunjukkan layar ponsel.
"Tidak perlu diangkat, itu pasti dari kantor polisi! lain kali hiraukan saja seperti hari ini!" Carlos menolak melihat ponselnya yang kini di pegang oleh sekertarisnya.
Carlos beranjak dari kursinya dan berjalan mendekat kearah sekertarisnya yang masih berdiri di depan meja kerjanya, Carlos menyentuh lembut rambut wanita itu, dia kemudian menghembuskan sedikit nafasnya di tengkuk wanita yang usianya berbeda sepuluh tahun darinya, wanita itu kemudian menggeliat membuat Carlos semakin terpancing gairah.
Carlos menempelkan tubuhnya, membuat pergerakan lambat tapi membuat sensasi yang hebat bagi tubuh wanita pengganti Joanna dalam hidupnya.
"sekarang, hanya kamu wanitaku! jangan berbuat sesuatu yang membuatku harus mendepakmu dari sisiku! jadikan wanita itu sebagai bahan pelajaran untukmu!"
__ADS_1
Carlos sudah memiliki wanita pengganti sejak Joanna mengalami kecelakaan, dia tetap menerima Joanna kemarin hanya untuk bisa menikmati kembali sentuhannya, dulu dia memang sangat menyukai bahkan menggilai Joanna, sekarang perasaan itu lenyap ketika Joanna terlalu sering mengabaikannya dan melakukan tindakan yang diluar kemanusiaan, Carlos memang pria yang bisa melakukan hal apapun tapi dia tetap memiliki hati nurani.
*****
hari-hari terus berganti, kehidupan terus berjalan, matahari terus bersinar cerah meski kita mengeluh tentang kehidupan.
"sayang, hari ini kayaknya, badan aku agak lemes terus pusing, aku kayaknya enggak enak badan deh" kata Zihan yang mengeluh tentang tubuhnya.
"kamu sakit? kita ke dokter ajah ya" ajah Ilham yang cemas.
"enggak perlu! kamu kan tau aku perawat yang sebentar lagi akan menjadi dokter, aku resepin kamu obat, nanti kamu beli di apotek ya mas" kata Zihan.
Zihan menulis beberapa nama obat yang harus di beli oleh suaminya, dia terbiasa seperti itu jika sakit.
"siap ratuku, aku akan membelinya untukmu" hormat Ilham.
Zihan merasa suaminya semakin perhatian, dia sangat senang mendapatkan perlakuan yang begitu manis.
"kenapa kepalaku sangat pusing" Zihan memegang pelipisnya dia begitu kesakitan.
"Uuueeek ... ueeek ..." Zihan kini merasakan mual yang hebat diperutnya, tubuhnya semakin lemas dan saat dia ingin bangun, tubuhnya tak bisa lagi bertahan, Zihan ambruk seketika dan tergeletak dilantai kamarnya.
*****
Bruuuk
__ADS_1
terdengar suara benda terjatuh dari kamar Zihan, Mbok Min yang mendengarnya langsung mendekat ke arah tangga.
"apa aku harus naik? tadi tuan bilang Bu Zihan sedang sakit, aku takut terjadi sesuatu" kata Mbok Min.
Asisten rumah tangga Ilham menaiki tangga dan menuju ke kamar Zihan, dia membuka pintu dan terkejut melihat Zihan sudah tergeletak.
"Bu, Bu, bangun Bu" teriaknya sambil mengguncang tubuh Zihan.
Zihan tidak merespon semua tindakan dari Mbok Min, membuat wanita Paruh baya itu ketakutan.
*****
Ilham baru keluar dari gang komplek rumahnya, namun ternyata dia harus terjebak macet, Ilham terus mengklakson agar mobil yang ada di depannya bergerak maju meski hanya sedikit.
"kenapa harus mecet ini" keluar Ilham.
kriiing Kriiiing ponsel Ilham berdering, dan dia langsung mengangkatnya.
"hallo" sapanya.
"tuan! Bu Zihan tuan, Bu Zihan pingsan di kamar"
mendengar perkataan asisten rumah tangganya, dia langsung menutup teleponnya dan memutar stir mobilnya, untung saja tidak ada mobil lain di belakang mobilnya, sehingga dia bisa dengan leluasa memutar balik mobilnya segera.
"bertahanlah sayang" kata Ilham sambil memutar balik arah mobilnya.
__ADS_1