Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Pelukan hangat


__ADS_3

Zihan yang melihat kedatangan Syamil langsung menyambutnya dengan pelukan penuh kerinduan. Zihan menangis ketika memeluk putranya yang sudah terpisah darinya beberapa Minggu belakangan.


"Mhiu sangat rindu sama Syamil"


pertemuan ibu dan anak ini, membuat hati yang melihatnya terenyuh, mereka berkaca-kaca.


"Syamil juga kangen sama Mhiu, kenapa, Mhiu enggak pernah menemui aku, padahal aku selalu berharap Mhiu datang" kata Syamil disela tangisannya.


"maafkan Mhiu, maafkan karena tidak bisa berada di sisi Syamil, tapi Syamil sehat kan?" tanya Zihan yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya.


"kalau ibu terlambat membawanya kepadamu, mungkin kesehatannya akan terganggu," jelas Retno ketika menghampiri Zihan.


"Bu," kini mereka berdua yang berpelukan.


"maafkan Zihan" kata Zihan sambil menyalami tangan ibu mertuanya.


"kamu tidak perlu minta maaf, ibu percaya, kamu adalah wanita yang bermartabat, tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu!" kata Retno sambil menepuk pundak menantunya.


ketika mereka sedang asyik bercincang dan melepas rindu, Rubby datang menemui mereka.


"ternyata ada tamu" kata Rubby.


Retno melihat ke arah asal suara, ketika melihat sebuah kursi roda dengan wanita yang seumuran dengannya tengah duduk, membuat dirinya sangat terkejut, dia tidak percaya, sahabatnya masih hidup.


"kintan" panggil Retno, namun sayang ketika Retno akan menghampiri, tubuhnya di hadang oleh Willy.


" bawa ibu masuk ke kamar, aku sedang rapat perusahaan" kata Willy kepada suster ibunya.


Retno merasa Willy telah menghalanginya dan diapun marah.


"kenapa kamu tidak membiarkan ku bertemu dengan sahabatku!" teriaknya.


"Bu, tunggulah, aku dan bang Wil akan menceritakan semuanya, kamu juga, duduklah" kata Zihan


"cerita apa? dan kenapa kamu panggil dia dengan sebutan Abang?" heran Retno.


"kita duduk dulu ya" ajak Zihan.


"Din, bawa Syamil ke kamarku, kamarnya ada di pojok sana" Zihan menunjuk sebuah kamar tamu dan Dina membawa Syamil kesana.


"ada apa ini!?" tanya Ilham.

__ADS_1


Zihan dan Willy menceritakan kisah mereka berdua dari awal hingga akhir, mereka bahkan terkadang meneteskan air mata.


"jadi ibu kalian tertukar!" Retno tak percaya tapi dia sangat bersyukur.


"aku berhutang banyak kepada Zihan, jadi aku memutuskan untuk tetap merawat ibu dan menganggapnya ibuku sendiri, aku juga akan menganggap Zihan sebagai adikku" papar willy.


Retno mendengarnya begitu bahagia, dia juga akhirnya bisa menemui, wanita yang dulu menjadi sahabat baiknya.


"semoga, rasa persaudaraan kalian murni sehingga tidak ada yang bisa menghancurkannya" kata Retno.


Ilham yang sejak tadi hanya memperhatikan Zihan tanpa bersuara sedikitpun, zihan juga masih enggan bicara dengan ilham saat ini, dia kini benar-benar hanya ingin memeluk putranya.


"Mhiu, ikut pulang, kan?" tanya Syamil.


"Tentu saja" jawab Retno secepat mungkin sebelum Zihan yang menjawabnya.


Retno tau, saat ini zihan masih merasa engganbicara dan menatap putranya, jadi lebih baik kalau sia yang menjawab pertanyaan syamil.


Zihan menatap Willy dan seakan bertanya tentang jawaban yang diberikan oleh ibu mertuanya. Willy menutup matanya lalu membukanya lagi, seakan memberi jawaban bahwa dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibu Ilham.


"Bersiaplah Zi, ambil pakaianmu, kamu tidak perlu memikirkan ibu, mengenai rencana awal kita, nanti kita bicarakan lagi," kata Willy.


"Kamu mau pulang?" tanya Rubby yang datang ke kamar Zihan di temani oleh perawatnya.


"Iyah, Bu, nanti aku akan sering main kemari" jawab Zihan.


"Ibu pikir, kamu akan menjalin hubungan dengan Willy, tapi ternyata kamu tetap kembali kepada suamimu dan keluargamu, aku berharap kamu bisa bahagia dan Willy juga bisa menemukan jodohnya." harapan Rubby.


"Aku akan bahagia, bahkan aku sangat bahagia karena bisa menemui Ibu" kata Zihan sambil mengecup punggung tangan Rubby.


Zihan keluar dari kamarnya sambil mendorong kursi roda Rubby, ketika sampai di ruang tabu, ibu mertuanya langsung menghampiri Rubby.


"Hallo, lama tidak berjumpa" kata Retno.


"Oh ya? Apa kamu mengenalku?" tanya Rubby dengan tatapan penasaran.


"Aku mengenalmu, nanti jika ingatanmu kembali, banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang anakmu" Retno bicara sambil menahan tangis.


"Tentang willy?" tanya Rubby dan ibu mertia zihan hanya bisa mengangguk terpaksa.


"Anakmu bukan willy, tapi dia adalah menantuku" batinnya sambil memggenggam tangan Rubby erat.

__ADS_1


Retno melepaskan genggaman tangannya dan kembali berdiri.


"Sudah siap?" tanya ilham.


"Ayo kita pulang" ajak retno kepada Zihan.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil Ilham dan mobil melaju keluar dari ruah besar Willy.


Rubby merasa sedih seakan dia telah ditinggal pergi oleh seseorang yang sangat berharga di dalam hidupnya.


"Baru kali ini, Ibu merasa ditinggal tamu tapi seperti ditinggal oleh belahan jiwa Ibu" kata Rubby yang kursi rodanya didorong olwh willy.


"Ibu memang sedang ditinggal oleh belahan jiwa ibu, karena dia anakmu , bu" batin willy sambil terus mendorong kursi roda ibunya dan masuk ke dalam kamar ibunya.


"istirahatlah, dua hari lagi, kita akan ketempat yang mungkin ibu sukai" kata willy sambil menggndok ibunya dari atas kursi rodan dan menaruhnya diatas tempat tidur.


"kita mau kemana?" tanya Rubby penasaran.


"Nanti ibu juga akan mengetahuinya" willy menyelimuli ibunya dan keluar dari kamar.


*****


"Ham, ibu dan Syamil pulang ke ruamh ibu dulu, ada beberapa yang harus ibu kerjakan disana bersana Syamil" retno kemudian berbisik ditelinga Syamil.


"Benar Phiu" kataya segera.


"baiklah, besok aku akan kembali menjemput kalian berdua"


"Iyah, kalian selesaikanlah dulu persoalan ini, ibu tidak mau melihat kaliah terjebak dalam situasi seperti ini lagi" kata Retno sambil memeluk Syamil gemas.


Ilham dan Zihan tidak ada satupun yang membalas kata-kata ibunya.


Tidak lama, mereka semua sampai di pekarangan depan rumah retno, denagncepat retno dan syamil turun dari dalam mobil ilham.


"Dadah Phiu, dadah Mhiu, jangan lupa adik kecil untuk aku" senyum syamil sambil melambaikan tangannya.


Zihan dan Ilham masih terus membisu bahkan sampai mereka kembali ke rumah, baik Zihan maupun Ilham, tidak ada yang mau membuka suara terlebih dahulu.


Zihan masuk ke dalam rumah dan di rumah ternyata hanya ada mereka berdua, Zihan menjadi kikuk sehingga membuatnya hampir terpeleset di tangga, untung saja ilham dengan cepat menangkapnya. Tatapan mereka kini saling bertemu, kerinduan yang teramat dalam kini terpancar dari sorot bola mata keduanya.


Tanpa basa basi dan tanpa bicara sepatah katapun, ilham langsung ******* bibir zihan, dan zihan membalas ciuman suaminya, kini mereka saling menjelajahi seisi penjuru sambil terus berciuman, ilham mengangkat tubuh zihan dan langsung dengan cepat berlari manaiki anak tangga, mereka berdua masuk kedalam kamar dan kembali berciuman sambil membuka satu persatu baju mereka dan melakukan pemanasan sebelum masuk kedalam inti permainan yang sangat panas setelah berpisah cukup lamanya.

__ADS_1


__ADS_2