Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Rindu yang terbayar


__ADS_3

Zihan dan Ilham sedang berbahagia saat ini meski dirumah Zihan yang seukuran kontrakan tapi mereka merasa hati tenang.


"mas nanti kita jadi ke sekolahan Syamil kan?" tanya Zihan sambil menyiapkan menu makan siang.


"sepertinya kita tidak bisa pergi kesekolahan Syamil sayang" kata Ilham dengan santai.


Zihan tiba-tiba cemberut dan meletakkan pisau di atas meja.


"mas kenapa kita enggak bisa kesana?" tanya Zihan sambil menghampiri Ilham yang asyik menonton Televisi.


"sudah kamu sabar ya, akan ada kesempatan lain kok" Ilham menenangkan Zihan yang sudah mulai merajuk.


"kemaren kamu bilang Iyah sekarang enggak bisa, gimana sih mas? aku kangen sama Syamil!" Zihan mencibirkan bibirnya dan mata sudah mulai berkaca-kaca.


"duh, katanya mereka sampai sebentar lagi, tapi kenapa belum juga sampai, gimana kalo Zihan benar-benar menangis?" kata Ilham membatin.


*****


"Neli, memang kita mau kemana? kok sepertinya Syamil baru kedaerah sini?" Syamil memperhatikan sepanjang jalan yang dia lewati.


"benar sayang, Syamil memang baru pertama kali kesini tapi nanti mungkin bisa Syamil kesini beberapa kali" kata Retno


"emangnya ini kita mau kerumah siapa Neli?"


"nanti Syamil juga akan tau" kata Retno sambil mengelus rambut cucunya.


Retno kembali memperhatikan jalan agar tidak terlewat.


"stop disini pak" kata Retno saat melihat rumah Zihan.

__ADS_1


"baik Bu" sopir taksi menghentikan laju mobilnya.


Retno dan Syamil turun beserta barang bawan yang mereka bawa untuk Ilham dan Zihan.


"assalamualaikum" Retno memberi salam.


"sebentar ya sayang" kata Ilham dan Zihan hanya mengangguk tanpa menyadari ada yang datang.


"Waalaikumsalam" jawab Ilham sambil membuka pintu rumah.


saat ilham.embuka pintu dan Syamil langsung mengenali ayahnya.


"Phiu" teriak Syamil senang.


"shuuut jangan berisik, kita kasih kejutan untuk Mhiu, okeh?" tanya Ilham.


"hahaha anak pintar" puji Retno.


Retno, Syamil dan Ilham masuk kedalam rumah dan dilihatnya oleh mereka Zihan sedang murung sehingga menundukkan wajahnya.


Syamil yang sangat merindukan Zihan langsung berlarian kearah Zihan.


"Mhiu" teriak Syamil sambil berlari"


Zihan yang mendengar suara yang begitu dikenalinya langsung memutar lehernya dan dia terkejut Syamil sedang berlari kearahnya.


"Syamil" teriak Zihan dan langsung merentangkan tangannya siap untuk memeluk tubuh mungil anak sambungnya.


Syamil langsung berhamburan kedalam pelukan Zihan, Syamil sangat merindukan ibunya. Zihan langsung menciumi wajah Syamil karena sangat merindukannya.

__ADS_1


"Syamil, Mhiu kangen banget sama Syamil"


"Syamil juga kangen sama Mhiu" senyum Syamil.


"ibu" panggil Zihan saat melihat ibu mertuanya masih berdiri bersama Ilham sambil melihat momen haru diantara dia dan Syamil.


"duduk Bu, maaf rumah Zihan sangat kecil" kata Zihan mempersilahkan duduk mertuanya.


"rumah yang nyaman, rasanya sangat menenangkan" ujar Retno seraya menarik nafas menghirup udara sejuk yang ada di rumah kecil itu.


"kalian ngobrol dulu, aku selesaikan masuknya dan kita makan siang sama-sama" kata Zihan.


"aku bantu biar lebih cepat" kata Ilham mengajukan diri membantu Zihan memasak.


Retno yang melihat pemandangan itu menjadi sangat senang, karena terlihat jelas diraut wajah Ilham kebahagiaan itu.


Zihan dan Ilham melanjutkan memasak.


"air sayang" kata Zihan.


"sayang kamu siapkan piring-piring, ini sayur dan lauknya sudah hampir siap" kata Zihan sambil terus mengaduk sayur yang sedang dia masak.


Ilham langsung menata piring diatas meja makan mereka.


"sudah sayang, apa lagi?" tanya Ilham


"sudah, aku tinggal menatanya, panggil saja ibu dan Syamil kita makan bersama"


Zihan memang menantu yang sempurna, sebagai seorang wanita dia mandiri dan pandai mengurus rumah.

__ADS_1


__ADS_2