
Zihan menjadi sekertaris pribadi Ilham menggantikan posisi Riska, setiap kali Ilham melihat kearah jam dinding dan kearah meja kerja Zihan yang berada di depan ruang kerjanya.
jam menunjukkan jam 7.30 sedangkan kantor masuk jam 8.00 masih ada tiga puluh menit lagi.
tap tap tap suara sepatu berhak berjalan diatas lantai.
"siapa kamu?" tanya Riska yang hari ini masuk kerja
"aku Zihan sekertaris pak Ilham" kata Zihan.
"hmm tidak mungkin pak Ilham mempekerjakan sekertaris cupu sepertimu" ejek Riska.
penampilan Zihan yang memakai celana panjang dan kemeja panjang dengan rambut yang dikuncir kuda memang terlihat sangat biasa saja dibandingkan dengan Riska yang memakai rok diatas dengkul dan blazer yang ketat sehingga menonjolkan sisi kewanitaannya.
"hmmm hmmm" ilham keluar dari ruang kerjanya
"Riska masuk keruangan ku" perintah Ilham.
Riska pun masuk keruangan Ilham dengan berlenggang layaknya seorang foto model yang sedang berjalan di catwalk.
"Riska karena kamu kemarin sudah tidak masuk tiga hari tanpa kabar jadi saya memutuskan untuk tidak mempekerjakan mu lagi, HRD nanti akan memberikan gaji mu yang sisa dua bulan kerja lagi akan dibayarkan" kata Ilham
Riska yang mendengar kata-kata Ilham sangatlah marah, memang ia hanya pengganti dari sekertaris Ilham yang sedang cuti tapi tak seharusnya Ilham memberhentikannya secara sepihak.
"tapi pak, saya kan hari ini sudah masuk kerja lagi" kata Riska yang menolak di keluarkan dari pekerjaannya.
"Riska kamu silahkan ke HRD dan urus pengunduran diri mu" Ilham berbicara dengan nada tegas.
Riska keluar dari ruangan kerja Ilham, sesampainya dimeja yang dulu adalah meja kerjanya, ia melihat ke arah Zihan yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
"dasar wanita jahat" bisik Riska
samar-samar Zihan mendengar ucapan Riska sehingga membuatnya menoleh kearah Riska berdiri
"maaf tadi kamu bicara apa?" tanya Zihan
"aku bilang kamu wanita jahat" Riska menekankan nada bicaranya pada kata jahat untuk membuat Zihan terusik.
"terimakasih atas pujiannya" kata Zihan dengan santai untuk menghindari pertikaian.
Riska yang mendengar kata-kata Zihan tersenyum sinis karena tak menyangka wanita yang dihadapannya mampu bersikap tenang.
"lihat saja mungkin kau menggantikan ku disini, tapi aku tidak akan berhenti untuk menggoda boss Ilham agar menjadikan aku istrinya" Riska berbisik pada hatinya dengan sangat percaya diri bahwa Ilham pasti akan meminangnya.
Riska kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang HRD untuk mengambil sisa gajinya.
"mba Riska resign ya?" tanya HRD.
"bukan resign tapi posisi ku dicuri oleh wanita jahat itu" kata Riska penuh kekesalan
"wanita jahat? siapa?" tanya HRD.
"itu wanita yang baru saja menjadi sekertaris pak Ilham" kata Riska dengan memandang kearah lorong yang menjadi jalan menuju ruang kerja Zihan.
"ooh ibu Zihan, dia itu kaya jimat keberuntungan buat pak Ilham kayaknya soalnya tender besar didapatkan pak Ilham saat membawanya iku meeting makanya dia langsung dijadikan sebagai sekertaris oleh pak Ilham" cerita HRD sambil mempersiapkan dana untuk Riska
__ADS_1
"hmmm kita lihat sampai kapan ia akan membawa keberuntungan itu" sinis Riska yang iri mendengar cerita dari staff HRD tentang Zihan, karena selama ia bekerja belum bisa mendapatkan tender besar bahkan mereka sempat kehilangan sebuah tender karena ulah Riska yang terlalu sexy dalam berpakaian.
Ilham sejak tadi bekerja sangat tidak fokus, arah pandangannya terus tertuju ke meja kerja Zihan, dan ia terus melihat kearah jam dinding seakan waktu terasa sangat lama baginya hari ini.
"kenapa jam dinding itu berputar sangat lambat sekali" gumam Ilham sambil terus memandangi jam dinding yang menggantung di ruang kerjanya.
jam menunjukkan pukul 11.30.
"biasanya jam segini dia sudah datang dan memberiku makan siang kenapa hari ini ia tidak memberi ku makan siang?" tanya Ilham pada dirinya sendiri.
terasa sepi kali ini untuk Ilham bekerja di ruang kerjanya sendirian, padahal dulu ia tak pernah mengizinkan siapapun termasuk istrinya untuk menemaninya bekerja.
"baru kali ini aku merasa sepi didalam ruang kerja sendirian, aaah ada apa dengan ku ini" Ilham memijat mijat kepalanya yang tak sakit.
tok tok tok
"masuk" Ilham berpura-pura sedang sibuk bekerja.
"pak Ilham" panggil Zihan
"hmm" jawab Ilham sambil terus melihat ke arah laptop miliknya.
"pak mau makan apa ya? karena hari ini kan aku tidak masak jadi tidak membawa bekal makan siang" jelas Zihan
"oh iya ya kan sekarang dia masuk kerja jadi tidak mungkin memasak" Ilham berkata dalam hatinya.
"terserah saja mau makan apa kata Ilham pada Zihan.
"baiklah saya akan pesan via aplikasi" kata Zihan lalu menutup pintu ruangan Ilham.
Ilham merasa ada sesuatu yang salah padanya saat Zihan berada didekatnya.
saat zihan berjalan kembali kemeja kerjanya seseorang menghampirinya.
"pak Willy" sapa Zihan pada Willy yang saat ini berada dihadapannya.
"ada pak Ilham?" tanya Willy
"ada pak diruangannya, mari saya antar" kata Zihan penuh pelayanan.
tok tok tok Zihan kembali mengetuk pintu ruangan Ilham.
"masuk"
"pak ada pak Willy" kata Zihan
"silahkan masuk pak Willy" kata Ilham.
Ilham berjabatan tangan dengan Willy.
"pak Ilham sebenarnya saya kemari ingin bertemu dengan Zihan sekertaris bapak" Willy menyampaikan niatnya tanpa basa basi.
"ada apa ya pak?" tanya Ilham yang bingung.
"saya serasa familiar dengan sekertaris bapak boleh saya berbicara sebentar dengannya?" tanya Willy.
__ADS_1
"silahkan jika Zihan berkenan" kata Ilham.
Willy dan Ilham keluar ruangan dan menghampiri Zihan.
"Zihan, pak Willy ingin berbicara dengan mu" kata Ilham pada Zihan.
"ada apa pak Willy?" tanya Zihan.
"bisa kita berbicara dikantin Zihan?" tanya Willy
Zihan melihat kearah Ilham seakan bertanya "bolehkah aku pergi dengannya?".
Ilham pun melakukan hal yang sama melihat kearah Zihan dan mengangguk memberikan izinnya.
Willy berjalan dan Zihan mengikutinya dari belakang.
melihat pemandangan itu membuat Ilham merasa hatinya sesak seakan tak terima istrinya berjalan dengan pria lain.
"apa aku mulai menyukainya? apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini? Ilham berbisik pada dirinya sendiri.
Zihan dan Willy duduk berhadapan dan Willy terus memandanginya.
"bapak mau bicara apa dengan saya?" tanya Zihan
"apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanya Willy
"apa bapak mengenal saya?" Zihan bertanya balik kepada Willy.
"dulu kamu bekerja dimana?" tanya Willy lagi
"saya dulu seorang perawat di rumah sakit harapan" jawab Zihan
"apa dia perawat yang sedang aku cari?" gumam Willy.
"baiklah terimakasih atas waktunya" Willy pergi meninggalkan Zihan tanpa memberikan penjelasan apapun.
.
.
.
.
.
.
.
hai mampir di novel ku juga yaa judulnya
"pesona Istri yang terabaikan"
__ADS_1
Seorang istri yang selalu diabaikan tak pernah disapa apalagi disentuh oleh suaminya dan suatu malam saat suaminya mabuk mereka berdua melakukan sentuhan untuk pertama kalinya dan disaat itu lah kisah cinta mereka dimulai.