
Zihan mulai merasa hatinya kini lemah karena cinta, selama ini dia selalu kuat jika diterpa angin badai sekencang apapun didalam kehidupannya, namun kali ini menahan rasa sakit dihatinya saja dia tidak bisa, mengendalikan hatinya agar bisa lebih tenang saja dia tak mampu.
"ya Tuhan, ini kah yang namanya cinta, membuat lemah hati, fikiran, bahkan tubuhpun menjadi tak berdaya dibuatnya hanya karena rasa cemburu ini"
"Zihan, sayang, kamu kenapa kok bengong begitu? kamu nangis?" Ilham melihat mata istrinya mulai mengalir air mata.
Ilham kembali memeluk Zihan dan perasaan bersalah itu kembali menerpanya.
"Zihan aku berjanji akan menyelesaikan semuanya, jadi mohon jangan menangis lagi" kata Ilham sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut kelopak mata istrinya.
Zihan menggenggam tangan Ilham dengan tangan yang bergetar.
"Mas, izinkan aku untuk tinggal sementara disini, sepertinya tidak memungkinkan aku untuk pulang kerumah mu, aku takut mba Joanna akan tau kalau kita bukan sekedar atasan dan bawahan seperti yang dia tahu saat ini" ujar Zihan dengan bibir yang mulai bergetar juga.
"sayang, apa yang harus mas katakan jika Syamil mencari mu dan apa yang harus mas bilang keibu saat kamu tidak kembali kerumah kita?" tanya Ilham dengan putus asa.
"Kita akan pulang, aku akan bilang kepada Joanna tentang status mu sebagai istri ku" lanjut Ilham.
"Mas, aku tidak mau nanti ya mba Joanna menjadi shock dan ia kembali jatuh sakit" kata Zihan mencoba membuat suaminya setuju dengan rencananya.
"Enggak, kamu enggak boleh tinggal disini sendirian, kalo kamu mau disini, aku akan tinggal disini juga" desak Ilham.
Jawaban Ilham benar-benar membuat Zihan tak percaya kalau suaminya akan mengikutinya tinggal dirumah sepetak ini.
"Mas, kamu punya Syamil yang harus kamu berikan perhatian juga"
"Syamil juga butuh kamu sayang, kamu ibunya Syamil" Ilham mencoba meyakinkan istrinya bahwa ia tidak mau Zihan pergi dari sisinya meski hanya sementara.
"Zihan, tolong jawab aku Zihan, janga. diam seperti ini" Ilham berlinang air mata melihat istrinya hanya diam mematung.
******
Ilham pulang kerumahnya tanpa membawa Zihan bersamanya.
"Ilham" panggil ibunya.
"Maafkan Ilham Bu! Ilham baik dulu kekamar, besok baru kita akan bicara" Ilham melangkah dengan gontai menaiki tangga yang menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar Ilham duduk ditepi kasur dan menangis menyesali semua perbuatannya yang membuat Zihan tak mau kembali kerumah.
"Joannaaaa" jerit kecil Ilham sambil menarik rambutnya.
Ilham merasa dirinya terlalu lemah karena sudah tergoyahkan dengan rayuan Joanna, jika dia terus tergoda dengan Joanna mungkin dia akan mengalami sakit hati yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah lagi tergoda Joanna! aku yakin kau akan kembali mengkhianati ku suatu hari nanti" tutur Ilham.
******
Zihan yang berada didalam kamarnya hanya bisa terdiam merenungi nasib nya.
Tok Tok Tok
suara pintu rumah Zihan terketuk.
Zihan yang sedang merenung di sadarkan dengan bunyi ketukan pintu rumahnya, Zihan beranjak dari atas tempat tidurnya berjalan menuju pintu.
Ceklek
Zihan membuka pintu ...
"Zihan" peluk sahabatnya.
Zihan menangis seketika saat dipeluk oleh sabahat baiknya.
"Zi, kamu kenapa?" tanya Ghina.
Ghina adalah seorang perawat dirumah sakit harapan sekaligus sahabat baik Zihan sejak ia kuliah jurusan akademi keperawatan.
"Duduk dulu, sebentar aku ambilkan air agar kamu lebih tenang" Ghina mengambil air mineral didalam kardus lalu memberikannya kepada sahabat yang sedang bersedih.
"Minum dulu, terus abis itu tarik nafas yang panjang, relaks" kata Ghina dengan mempraktekan tarik nafas dan buang nafas.
Zihan mengikuti saran sahabatnya itu dan mulai terasa sedikit lega dihatinya yang sejak tadi terasa sesak.
Zihan mulai menceritakan semua kisah ya kepada Ghina secara detail.
"Jadi sekarang kamu udah jadi istri kedua dari pak Ilham yang istrinya kamu rawat?" tanya Ghina untuk memastikan apa yang diucapkan Zihan adalah kebenaran bukan sebuah candaan.
Zihan mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya.
Ghina sangat iba dengan takdir yang dijalankan oleh Zihan.
Zihan adalah seorang anak yatim piatu dan dititipkan disebuah panti asuhan, dia berjuang sendirian belajar untuk mendapatkan beasiswa sampai tamat kuliah.
Kedua sahabat itu saling berpelukan dan Ghina menguatkan Zihan.
"Zi, aku enggak tahu harus memberikan solusi apa, karena aku sendiri pun belum pernah menikah" tutur Ghina.
__ADS_1
"Tidak apa Ghin, dengan adanya kehadiran mu saat ini membuat ku bisa bercerita dan berkeluh kesah" Zihan tersenyum kaku.
"jangan bersedih lagi, pasti disetiap masalah ada sebuah solusi, saat ini mungkin solusi itu belum didapatkan, tapi yakin lah dan berdoa" pesan Ghina.
******
Matahari menunjukkan sinarnya.
Zihan perlahan membuka matanya yang terkena silau sinar mata hari pagi yang masuk kedalam kamarnya melalui jendela.
Zihan terasa lebih tenang hari ini dan iya berencana untuk kembali masuk bekerja, dia tidak tega jika Ilham harus bekerja sendirian tanpa seorang sekertaris.
Zihan berjalan menuju kamar mandi yang berada disebelah kamarnya.
Diraihnya handuk yang tergantung di jemuran kecil dan dia langsung masuk kekamar mandi dan menguncinya.
Dua puluh menit berlalu, Zihan selesai dengan ritual mandinya dan keluar dari keluar kamar mandi mengenakan handuk saja.
saat Zihan melangkah lebih lanjut ia terkejut melihat Ilham sudah berada di sofa ruang tamu, kemarin saat Ilham datang memang meminta satu kunci cadangan rumah Zihan namun Zihan tak menyangka suaminya akan datang sepagi ini kerumahnya.
"sudah selesai mandi ternyata" tutur Ilham sambil bangun dari duduknya dan menghampiri Zihan.
Ilham memeluk Zihan dan langsung menggendongnya dikala istrinya terlihat sedang lengah.
Ilham membawa Zihan masuk kedalam kamar.
"mas, turunkan aku, mas jangan begini nanti aku jatuh" jerit Zihan sambil meronta.
"jika kau diam, maka tidak akan jatuh" Ilham memegang erat tubuh istrinya dan menurunkannya tepat diatas tempat tidur.
Ilham langsung menyerbu istrinya yang sudah dua malam ia rindukan.
setelah Zihan mulai merespon permainannya, Ilham mulai membuka satu persatu pakaiannya.
kini mereka tak terhalang sehelai benang pun, Zihan juga terlihat sudah sangat santai, sepertinya sudah tidak ada kemarah lagi dihati Zihan sehingga dengan lihai melayani suaminya diatas ranjang.
dua malam Ilham tidur kesepian tanpa Zihan disisinya, ia tak bisa lagi berlama-lama berjauhan dengan Zihan.
Ilham tersenyum sambil melihat istri tercintanya yang begitu cantik tanpa makeup.
*****
"mandilah, ini handuk bersihnya, habis ini kita berangkat kekantor" Zihan memberikan senyuman pertamanya setelah kemarahannya selama dua hari kemarin.
__ADS_1
"baiklah, aku akan lebih semangat bekerja saat kau berada disamping ku" Ilham langsung bersemangat seketika.