Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Psikolog


__ADS_3

hari demi hari perkembangan fisik Joanna semakin membaik, berawal dari kaki yang bisa digerakkan menjadi kaki yang mulai bisa berjalan, Joanna sudah bisa duduk bahkan bangun dari tempat tidurnya sendiri, berjalan menggunakan tongkat pun sudah bisa ia lakukan sendiri.


"Syamil, Syamil" teriak Joanna memanggil-manggil anaknya.


Syamil terlihat sangat ketakutan saat Joanna mencarinya, ia bersembunyi di bawah meja makan karena takut Joanna akan menemukannya.


Zihan yang tak sengaja melihat Syamil masuk kedalam kolong meja langsung menghampir Syamil.


"sayang, kenapa kamu bersembunyi?" tanya Zihan yang bingung dengan tingkah anak sambungnya itu.


"shuuuut" Syamil memberi isyarat agar Zihan tidak berisik.


Zihan semakin bingung.


"syamiiil" terdengar suara Joanna memanggil Syamil lagi.


kali ini Zihan mengerti mengapa Syamil bersembunyi di bawah kolong meja makan.


Zihan mengulurkan tangannya kepada Syamil.


"sayang, sini sama Mhiu, Mhiu akan melindungi mu" kata Zihan.


Syamil pun meraih uluran tangan Zihan dan keluar dari kolong meja makan.


"Mhiu, aku takut"


"Mhiu akan menggendong Syamil dan membawa Syamil kekamar Mhiu dan Phiu, Syamil mau?"


Syamil menjawab tawaran Zihan dengan anggukan.


saat Zihan menggendong Syamil, ternyata Joanna sudah semakin dekat, Zihan langsung berjalan berputar arah agar tidak berpapasan dengan Joanna.


Zihan menaiki anak tangga sambil menggendong Syamil.


"sayang, kenapa?" tanya Ilham saat melihat Zihan masuk kekamar dengan terburu-buru sambil menggendong Syamil.


"Mas, Syamil sepertinya perlu kita bawa ke psikolog, kita tidak bisa membiarkan Syamil terus ketakutan seperti ini, tidak baik untuk perkembangan metalnya" saran Zihan kepada Ilham sambil terus memeluk Syamil.


Ilham terlihat seperti orang yang sedang berfikir keras.

__ADS_1


"aku akan membicarakannya dulu dengan Roy"


Zihan pun mengangguk menyetujui perkataan Ilham.


*******


Zihan tidak bisa meninggalkan Syamil saat ini karena kondisinya masih dalam keadaan ketakutan, Syamil terus memegangi tangan Zihan walaupun dalam kondisi tertidur.


"besok kita bawa Syamil ke psikolog yang disarankan oleh Roy, dia sudah membuatkan janji untuk kita" jelas Ilham.


"baik mas, tapi bukannya besok kamu ada pertemuan dengan pak Willy" Zihan mengingatkan Ilham tentang janjinya dengan Willy


"aku akan memintanya mengatur ulang jadwal" kata Ilham sambil mengelus rambut Syamil.


*****


"sudah siap?" tanya Ilham pada Zihan.


"sudah mas, ayo kita berangkat"


"Ilham, Zihan, kalian mau kemana membawa Syamil?" tanya Retno.


"Syamil, cucu Neli yang kuat, baik-baik ya sayang semoga kamu bisa kembali seperti dulu lagi" Retno begitu khawatir dengan keadaan Syamil sejak Joanna kembali pulih sedikit demi sedikit.


"kami pergi dulu Bu" ilahm berpamitan begitu pula dengan Zihan.


"hati-hati" Retno mengantar mereka sampai kedepan pintu rumah.


"Syamil...Syamil" Joanna kembali mencari Syamil.


"Syamil tidak ada dirumah" ketus Retno.


"Bu, kemana Syamil?" tanya Joanna.


"dia pergi bersama Ilham" Retno meninggalkan Joanna.


"Bu...Buu... kemana mereka pergi Bu?" Joanna terus berteriak.


*****

__ADS_1


Ilham memarkir mobilnya dan mereka bertiga turun dari mobil, diujung parkiran terlihat Roy sudah menunggu mereka.


"hai Roy" sapa Ilham sambil berjabat tangan khas mereka berdua.


"hai dok" sapa Zihan yang masih memanggil Roy dengan sebutan dokter seperti biasa.


"Om Roy" panggil Syamil.


"hallo jagoan om" Roy mengambil Syamil dari gendongan Zihan.


"sama Om Roy yuk masuknya" kata Roy penuh perhatian.


mereka berempat pun masuk kedalam sebuah klinik besar dan menemui seorang psikolog.


"hallo Syamil" sapa dokter wanita yang cantik dan tinggi semampai.


"kita masuk yuk, Tante punya hadiah untuk Syamil" bujuk nya pada Syamil.


Syamil melihat kearah Zihan dan Ilham bergantian.


"Syamil ayo masuk" kata Zihan.


Syamil pun mengikuti langkah dokter masuk kedalam ruangan bersama Ilham yang mendampinginya, sedangkan Zihan dan Roy menunggu diluar.


setengah jam Syamil dan Ilham berada diruangan yang tertutup rapat, rasanya Zihan ingin masuk kedalam dan melihat Syamil.


"tenang lah, hari ini masih proses tanya jawab, hanya satu orang yang bisa menemani Syamil didalam" jelas Roy


Zihan tidak bisa menemani Syamil didalam karena ia tak tahu kejadian persisnya, hanya tau lewat cerita Ilham.


ceklek pintu terbuka dan Syamil keluar seorang diri dari ruangan dokter.


"Syamil" teriak zihan


.


.


.nantikan kisah selanjutnya....

__ADS_1


__ADS_2