
malam ini seperti biasa Zihan tidur bersama Ilham satu ranjang dengan sekat sebuah guling diantara mereka.
ingin rasanya Ilham memeluk Zihan namun ia tak mau karena belum tahu apakah Zihan juga menyimpan rasa seperti dirinya.
Ilham terus memandangi Zihan yang sudah tertidur pulas, wajah tanpa makeup terlihat sangat cantik dan membuat Ilham semakin terpesona.
Ilham mendekatkan wajahnya agar bisa melihat Zihan lebih dekat lagi, semakin jelas wajah cantik milik istri keduanya itu.
semakin Ilham melihat wajah cantik Zihan semakin dadanya berdebar sangat kencang, dulu ia pernah merasakan hal yang sama saat bersama dengan Joanna dan kini rasa itu mulai ada lagi.
"apa aku mulai menyukainya?" Ilham mulai bertanya-tanya lagi.
Ilham pun memejamkan matanya agar hatinya bisa berdetak dengan normal kembali karena jika matanya terus terbuka dada nya akan semakin berdebar tak karuan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"selamat pagi Daddy dan ibu Zihan" sapa Syamil
"dad hari ini antar Syamil kesekolah ya" pinta Syamil dengan wajah lucunya.
"okeh siap jagoan Daddy" Ilham menggendong Syamil dan membawanya ke ruang makan.
mereka sarapan bersama di ruang makan, sedikit canda membuat semakin berwarna suasana pagi hari ini.
"dad kapan Syamil dapat adik?" tanya Syamil.
sebelumnya Syamil pernah menanyakan hal yang sama ketika mereka berada didalam mobil dan hari ini Syamil kembali bertanya.
"Syamil emangnya mau Dede cewek atau cowok?" tanya Ilham menanggapi permintaan anaknya itu
"cewek ajah dad, karena kalau cowok nanti kaya beny yang suka berantem sama adiknya" cerita Syamil.
"Syamil, mau adik cowok atau cewek enggak boleh berantem dan harus Syamil sayangi" kata Retno.
"begitu ya Neli, ya udah terserah Daddy dan ibu Zihan ajah mau punya Dede cewek atau cowok pasti Syamil senang yang penting punya adik" Syamil tersenyum kearah Ilham dan Zihan.
Zihan kembali menatap kearah Ilham yang sedang tersenyum kepada Syamil.
"mas, apa kamu akan memberikan adik kecil untuk Syamil dari pernikahan kita?" Zihan bertanya dalam hatinya.
mereka menyelesaikan sarapan pagi dan bersiap pergi mengantar Syamil sebelum berangkat kekantor.
"Bu, Zihan pamit" Zihan berpamitan kepada mertuanya.
"kalian hati-hati ya, Syamil sekolah yang baik ya, pulang nanti Neli yang jemput" kata Retno dengan sedikit berteriak.
Ilham dan Zihan mengantar anak mereka pergi sekolah.
"selamat pagi Syamil" sapa guru yang sedang piket menyambut anak-anak dipintu gerbang sekolah.
__ADS_1
"pagi Miss" sapa Syamil.
"waah Syamil hari ini pasti seneng karena dianter sama ayah dan ibu ya" kata guru Syamil yang melihat muridnya diantar oleh kedua orang tua
"Iyah mis, ini Daddy dan ibu Zihan" Syamil memperkenalkan kedua orang tuanya.
Ilham memang tidak pernah pergi kesekolah Syamil saat ada acara atau rapat orang tua murid selalu diwakilkan oleh ibunya, sehingga gurunya baru pertama kali ini melihat orang tua Syamil.
"pagi Bu guru" sapa Zihan.
"ini ibunya Syamil?" guru itu berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Syamil.
"Iyah Miss, ibu Zihan adalah ibu Syamil" Syamil sangat bangga memperkenalkan Zihan kepada gurunya.
"kalo begitu Syamil hari ini belajar nya harus semakin semangat karena sudah diantar oleh kedua orang tua kesekolah" kata gurunya lagi
"siap mis, dad, ibu, Syamil masuk kelas dulu ya, dadah" Syamil melambaikan tangannya dan masuk keruang kelasnya
"kami pamit Miss" kata Zihan dengan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada guru anaknya.
Ilham menggandeng tangan Zihan sampai ke mobil nya.
"maaf aku terus menggandeng tangan mu, aku melakukannya untuk sedikit pencitraan di hadapan orang-orang" kata Ilham.
Zihan hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya dan alasan yang membuatnya sedikit bersedih.
"akan kah suatu hari genggaman tangan itu karena cinta bukan pencitraan?" Zihan mulai berharap pada Ilham.
sesampainya di kantor Ilham memarkir mobilnya di baseman, ia dan Zihan turun dari mobil dan berjalan menuju ruang kerja.
Zihan melihat sosok laki-laki sedang duduk di loby kantor ditemani oleh asistennya.
"mas bukannya itu pak Willy? apa kalian membuat janji temu?" tanya Zihan tanpa melepaskan pandangannya dari Willy.
"hmm" Ilham menegur Zihan dengan isyarat dan Zihan pun langsung tersadarkan.
"ingat walau kamu dikantor sekertaris ku tapi kamu tetap istriku, jaga pandangan mu" kata Ilham.
"baik mas" Zihan mematuhi perkataan Ilham.
"selamat pagi pak Willy" Ilham menyapa rekan bisnisnya.
"pagi pak Ilham" sapa Willy dengan bersemangat.
"wah sepertinya kalian datang bersama?" tanya Willy yang melihat Zihan dan Ilham menghampirinya bersamaan.
"Iyah ada urusan sebentar jadi saya membawa Zihan" kata Ilham.
"ada apa pak Willy pagi-pagi sudah ada dikantor saya?" tanya Ilham
__ADS_1
"saya ingin pak Ilham mempercepat proses kontrak kerjasama kita, jika boleh siang ini kita bertemu untuk penandatanganan kontrak kerjasama" kata Willy dengan santainya
"kenapa harus terburu-buru? bukannya rencana pembangunan masih satu bulan atau dua bulan lagi pak?" tanya Ilham.
"saya ingin mempercepat saja" kata Willy
"baik saya tunggu di Rich Resto siang ini" Willy langsung pergi tanpa menghiraukan Ilham dan Zihan yang masih bingung.
"segera siapkan kontrak kerjasamanya" kata Ilham pada Zihan.
Zihan pun langsung membuka file yang ada di komputernya dan menyelesaikan butir-bitur pasal dalam perjanjian kerjasama.
Ilham yang berada didalam ruangannya terus berfikir kenapa Willy tiba-tiba mempercepat kerjasama mereka.
"ada yang aneh" kata Ilham
tok tok tok
Zihan masuk keruang kerja Ilham dan menyerahkan dokumen perjanjian kerjasama.
"ini dokumennya pak" kata Zihan.
"jika tidak ada orang lain panggil mas saja tidak perlu terlalu formal" Ilham membuka lembaran dokumen.
Zihan menunggu sambil berdiri didepan meja kerja Ilham sampai Ilham selesai memeriksa dokumen perjanjian.
"sudah benar buat dua rangkap dan siapkan stempel perusahaan untuk dibubuhkan di dokumen perjanjian ini" Ilham memberikan perintah.
Zihan keluar dari ruang kerja ilham dan mempersiapkan semua keperluan untuk proses kerjasama.
jam sudah menunjukkan jam 12.00 Ilham dan Zihan bergegas ke Rich Resto untuk menemui Willy.
Zihan dan Ilham sampai di resto dan dilihat Willy sudah duduk diantara meja restoran, langkah kaki langsung menuju meja yang ditempati oleh Willy.
"selamat siang" sapa Ilham.
"siang, silahkan duduk pak Ilham, Zihan" Willy mempersilahkan Ilham dan Zihan duduk.
"ini dokumen perjanjian kerjasamanya" Zihan memberikan dokumen kepada Willy.
mereka pun berdiskusi dan tanda tangan dari masing-masing pemilik perusahaan pun sudah tertera di dokumen perjanjian.
.
.
.tetap setia ya para pembacaku tersayang, ada kisah menarik yang belum terbongkar disini,,, nantikan terus kisah Ilham dan Zihan...
baca juga novel ku yang lainnya jangan lupa di tap like, favorit dan kasih bunga yang bertaburan..
__ADS_1