
Zihan mendapat perlakuan kasar dari Joanna, hingga dia merasa ingin menenangkan diri, Zihan sangat terpukul dengan semua perkataan Joanna yang menyerangnya di sekolah.
Zihan tidak tau mengapa Joanna bisa memfitnahnya di depan wali murid, beruntungnya Syamil tidak menyaksikan kejadian itu semua, jika Syamil sampai melihatnya mungkin dia akan merasa sangat terpukul dan semakin membenci Joanna.
"laksanakan tugasmu" kata Joanna.
******
kriiing kriiing kriiing
ponsel Willy berdering, dia mendapat panggilan dari nomor telepon yang tak dikenalnya.
"hallo" jawab Willy saat mengangkat panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.
seseorang berbicara dengan Willy Daris seberang telepon, Willy mendengarkan dengan sangat seksama apa yang orang itu sampaikan kepadanya.
"kau serius? kau sedang tidak menjebakku, kan?" teriak Willy sambil mengebrak meja kerjanya dengan keras.
Willy menutup teleponnya dan dia mulai menunjukkan ekspresi marah dan kesalnya.
"awas saja kau Joanna! kau memang wanita ular!" makinya sambil menggemeretakkan giginya sangking murkanya.
*****
Zihan terduduk disebuah taman yang menjadi tempat di mana dia biasa merenung, taman yang biasa di datangi olehnya, Syamil dan juga Ilham.
Zihan kembali mengingat apa yang dialaminya tadi di sekolah, hal yang sangat menyakitkan hatinya.
flashback on.
Zihan yang sedang duduk di kantin sekolah Syamil sambil menunggu putranya pulang sekolah, tiba-tiba Joanna menghampirinya, awalnya joanna hanya duduk biasa saja namun tiba-tiba dia terjatuh dan meringis kesakitan, Zihan yang melihatnya langsung bangun dan ingin membantu Joanna duduk kembali di kursinya. namun...
"Zihan, Zihan, aku mohon, jangan sakiti aku Zihan, aku berjanji akan memberikan semua harta mas Ilham untukmu!" kata Joanna yang membuat Zihan tak mengerti
"mba, mba joanna kenapa?" Zihan mencoba menenangkan Joanna namun tangannya ditepis oleh Joanna.
"tidak, jangan mendekat kepadaku Zihan! aku janji tidak akan memberitahukan siapa-siapa tentang kelakuanmu ini" kata Joanna sambil memohon dan ketakutan.
__ADS_1
"mba aku tidak akan menyakitimu" kata Zihan.
kedua orang tua murid yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Zihan dan Joanna, mereka mulai mengatai Zihan.
"dasar madu enggak tau diri! mending kalau bodinya okeh, wajahnya Ayu! ini wajah pas-pasan dan body kurus saja belagu!" ejek salah seorang wali murid.
Zihan yang mendengarnya merasa tersinggung, dilain sisi Joanna terus meringis kesakitan hingga membuat mereka memperhatikan Joanna.
"dasar pelakor! gini nih kelakuan pelakor kalo udah terlalu lama dikasih hati kelamaan minta jantung" kata seorang wanita yang kata-katanya cukup menohok.
Zihan yang mendengarnya tidak cukup kuat menahan tangisannya, Zihan berlari meninggalkan Joanna yang sedang tersenyum puas karena kali ini rencananya berjalan dengan mulus.
Zihan keluar dari sekolah dan pergi ke sebuah taman yang biasa dia datangi bersama Ilham dan Syamil, tempat yang tak jauh dari kantor Ilham bahkan taman yang bisa dilihat oleh Ilham dari atas gedung kantornya.
flashback off
*******
Willy segera pergi menggunakan mobilnya.
Willy mengendarai mobilnya tanpa ditemani oleh Rey, dia menginjak pedal gas agar mobilnya melesat dengan cepat.
"yah, aku fikir diammu adalah jawaban untukku boss!" kata Rey sambil memutar balik tubuhnya kembali ke dalam kantor.
*****
Zihan terus menangis, dia benar-benar tidak tau harus berkata apa lagi, harus bagaimana, harus seperti apa, dia sangat terluka, dia merasa semua tak adil, apa yang dia lakukan selama ini untuk kebaikan tapi kenapa, hal-hal buruk terus mendatanginya bahkan menyakitinya.
"aku tidak pernah berbuat jahat, tapi kenapa mereka dengan sangat mudahnya menghujat? apa mereka tau semua kenyataan yang sesungguhnya? kenapa mereka senang sekali menghakimi tanpa menyelidiki!" Zihan semakin terisak, matanya sudah membengkak akibat terus menangis.
Zihan menopang wajahnya di kedua tangannya sambil terus menangisi nasibnya.
tiba-tiba seseorang memeluknya dengan erat. Zihan merasa seperti sedang berkhayal karena terlalu larut dalam kesedihan sehingga dia terus melekat di dalam pelukan.
setelah dia sadarkan diri, dia melihat sosok Willy yang berada di sampingnya dan melepaskan pelukan erat itu.
Zihan terkejut, dia tak menyangka bahwa dia ternyata tidak sedang berkhayal dipeluk seseorang.
__ADS_1
"pak Willy?" ujar Zihan sambil menghapus air matanya.
"maaf aku kemari setelah mendapat panggilan telepon!" kata Willy
"panggilan telepon? dari siapa?" tanya Zihan sambil berusaha menyadarkan diri sepenuhnya.
"aku tidak tau, tapi dia memberitahuku kalau kamu berada di taman" kata Willy menjelaskan.
"pak, maaf, tapi saya sedang ingin sendirian saat ini! saya harap bapak tidak perlu ikut campur dengan semua yang saya alami saat ini! saya tidak mau ada yang melihat kita dan membuat kesalah pahaman lagi" kata Zihan berusaha menghindar dari Willy.
dia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, meski suaminya sudah tau kebenarannya tapi dia tidak mau berurusan dengan Willy yang memang secara terang-terangan mengakui menyukainya.
"Zihan, aku sudah bilang kepadamu, jika ada sesuatu bicaralah, aku akan menolong mu" kata Willy.
"pak, kita tidak punya hubungan apapun, dulu hubungan kita sebatas hubungan kerja dan sekarang aku bukan lagi sekertaris kantor jadi kita jelas tidak ada hubungan apapun!" tegas Zihan.
"tapi Zihan! aku tidak suka kamu diperlakukan seperti itu?" kata Willy.
"seperti apa? apa kamu tau apa yang telah aku alami hari ini? apa kamu tau apa yang aku rasakan saat ini? kalian semua sama saja selalu melihat orang dari casing saja, ketika orang menangis kalian hanya berfikir dia sedang ada masalah dan menghiburnya! aku tidak butuh itu! dan lagi pula aku masih punya suami yang akan mendengarkan semua ceritaku!" Zihan kembali menangis saat dia terus bicara sampai suaranya tak terdengar jelas ditelinga orang yang menjadi lawan bicaranya.
Willy menarik tangan Zihan dan kembali memeluknya erat, Zihan menangis tersedu didalam dekapan Willy untuk kedua kalinya, Zihan memukul dada bidang Willy sekuat tenaga agar dia melepaskan pelukannya, tapi ternyata usahanya sia-sia, Willy tetap terus mempertahankan posisinya saat ini, dia benar-benar ingin menghibur Zihan.
******
dikantor Ilham sedang sibuk bekerja, dan dia merasa lelah.
"aku ingin menghirup udara segar di taman sepertinya" kata Ilham sambil berjalan kearah jendela ruangannya.
ilham menatap keluar ruangan yang langsung terlihat taman yang luas, taman yang memang dulu dia buat khusus untuk bermain bersama Syamil dan Joanna namun sayang harapan itu pupus.
saat Ilham melihat keluar, dia melihat sosok sepasang manusia sedang berpelukan.
"waaah, zaman sekarang orang suka memamerkan kemesraan mereka meski sedang berada di luar ruangan" kata Ilham sambil terus melihat mereka.
"aku bahkan masih merasa canggung untuk memeluk Zihan diluar saat banyak mata memandang" sambung Ilham sambil terus memperhatikan.
"
__ADS_1