Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Masalalu


__ADS_3

zihan mulai iba dengan willy. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada willy saat ini, pada kenyataannya memang ibu willy yang saat ini adalah ibunya.


"maafkan aku, tapi aku rasa disini kita mengalami kesalahan, ibu kita sepertinya tertukar, jika memang dia adalah ibuku, berarti yang selama ini aku tangisi adalah ibumu, memang saat itu wajahnya tidak dapat lagi di kenali, akibat kecelakaan itu seluruh wajahnya terbakar dan saat diidentifikasi tidak dapat diketahui"


Zihan merasa dia harus mengakatakan semua kebenaran yang sebenar-benarnya, zihan merasa willy pasti akan sangat kecewa, dan dia juga tidak bisa memastikan kepada ibunya tentang kebenaran ini, karena ibunya tidak mengingat apapun.


"aku akan segera mengetahuinya, tapi..." willy kemudian terdiam.


"kenapa?" tanya zihan


"aku akan tetap membiarkanmu menjadi anaknya meski semua kebenaran itu muncul, kamu yang memberikan kehidupan untuknya, meski dia tidak dapat mengingat aku lagi, setidaknya dia tau jika dia memiliki anak yang baik yaitu kamu, asalkan aku tetap bisa berada di sampingnya aku tetap bahagia" kata zihan.


Willy yang mendengar semua yang dikatakan oleh zihan menjadi semakin percaya bahwa selama ini dia telah dibohongi oleh keluarga besarnya, willy yakin mereka semua tau bahwa itu bukanlah ibu kandung willy.


"aku akan memastikan semuanya, tenanglah, jika dia benar ibumu, aku akan berusaha agar dia bisa mengingat masa lalunya, agar kita bisa mengetahui kebenarannya" kata willy sambil menepuk pundak zihan


Willy pergi meninggalkan zihan, willy harus memastikan lagi semuanya, dia kini akan pergi menemui seseorang lagi.


Willy menuruni tangga teras rumahnya dan dia langsung mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.


"aku harus menemui orang ini, aku yakin dia akan berkata jujur, dia adalah wanita yang paling jujur di dalam keluarga besar ku" kata willy dengan terus melajukan mobilnya.


Hujan mengguyur seiring perjalanan, willy tetap terus mengendarai mobilnya dengan cepat.

__ADS_1


"pak willy" kata para penjaga rumah besar keluarga willy.


Willy kini sudah berada di rumah keluarga ibunya, willy ingin bertemu dengan kakak dari ibunya, willy tidak mau masalah ini terus berlarut-larut. Dia ingin segera mengetahui kebenarannya, ini sangat tidak adil untuknya apalagi untuk zihan yang menganggap ibunya telah tiada sejak tujuh tahun lalu, willy merasa mungkin zihan selama ini merindukan ibunya dan saat masalah datang pasti dia ingin memeluk dan menangis bersama ibunya.


"mah" panggil willy kepada tantenya yang dia sebut mama.


"wil, kamu kemari?" tanya livia


"iyah mah, ini aku" kata willy sambil mendekat kearah livia.


"ada apa?" tanya livia, wanita yang sangat penyayang dan mengaggap willy adalah putranya, karena dia tidak pernah diberi kesempatan untuk memiliki seorang anak.


"aku ingin bertanya sesuatu"kata willy.


"apa?"


"rubby? a-apa maksudmu?" tanya livia dengan suara terbata-bata.


"ibuku, ibu kandungku, dia sudah meninggal bukan?"tanya willy dengan sedikit mendesak.


"wil, memang ada apa? Kenapa kamu bicara begitu?"livia mulai ketakutan.


"seorang wanita yang aku cintai dan dia bertemu dengan ibu, dia bilang kalau itu adalah ibunya, dia yakin itu adalah ibunya, sampai aku melihat foto keluarga mereka" jelas willy.

__ADS_1


Livia mulai merasa bersalah, karena ternyata selama ini dia dan keluarga besarnya telah memisahkan putri kandung dari ibu kandungnya, sungguh livia tidak menyangka hal itu, karena memang selama ini mereka selalu memberikan obat pelemah ingatan, agar wanita itu tidak mengingat kembali masa lalunya.


Livia mulai menangis, dia menatap lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya, laki-laki yang merupakan anak dari adik yang sangat dia sayangi, dia tidak tega mengatakan hal sebenarnya, tapi, dia berusaha mengatakan semua kebenaran yang selama ini mereka semua tutupi.


"wil, apa ini sudah waktunya aku bicara?" kata livia bertanya kepada willy dan willy mengangguk, dia sudah pasrah dan dia sudah siap menghadapi semua kenyataan pahit ini.


"dulu, kami tidak pernah setuju dengan keputusan ayahmu, tapi kami melihaymu sangat cemas, kau terus menangisi ibumu, kau terus bilang selamatkan ibuku dokter, selamatkan ibuku paman, rasanya sesak sekali di dada ku mendengarmu berkata seperti itu, rasanya aku ingin sekali menggantikan posisi adikku saat itu yang terbaring tak bernyawa lagi" kata livia penuh derai air mata.


Willy dengan seksama mendengarkan semua cerita livia, dia tak sanggup lagi menahan air mata, dadanya terasa sangat sakit, dia terasa tak bisa bernafas ketika tantenya bilang " tak bernyawa lagi", willy menangis sesenggukan, sesekali dia mengusap air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.


"ketika aku melihatmu, sungguh aku tak bisa berfikir solusi terbaik selain jalan ini, tapi aku juga iba melihat wanita itu, suaminya meninggal dunia, dan dia bilang tidak memiliki keluarga, dia juga tidak mengingat apapun, jadi kami putuskan untuk menjadikan dia pengganti ibumu sementara, hingga kondisi mu stabil, namun sayang tahun pertama setelah terjadi kecelakaan, ayahmu meninggal dunia sehingga tidak bisa menjelaskan apapun, akhirnya kami memutuskan untuk menutupi ini untuk selamanya"" papar livia dengan pandangan kosong.


Livia selama ini memang jarang sekali berkunjung ketempat willy setelah kejadian tujuh tahun lalu, kini semua teka-teki mengapa keluarganya jarang sekali berkunjung kerumahnya terungkap, semua karena mereka tidak benar-benar setuju dengan keputusan yang diabuat oleh ayah willy, dan karena wanita yang ada di rumahnya, yang selama ini dia panggil ibu bukanlah ibu kandungnya, bukan saudara kandung tante livia.


"aku akan mengembalikan ingatannya, dan aku akan menebus semua dosaku kepada mereka berdua, aku tidak pernah menaruh curiga, aku hanya merasa ada yang berubah dari sikap ibuku, tapi ayah selalu menutupinya, bilang kalau ibu masih beradaptasi, ibu punya luka di tubuhnya sehingga ibu tidak pernah lagi memakai baju terbuka, dan ternyata sekarang aku faham semuanya" kata willy.


Nampak kekecewaan willy, livia bisa melihat itu, laki-laki yang sudah dianggap anak olehnya pasti hatinya saat ini terluka, pasti dia akan menangis sendirian seperti dulu saat ibunya tidak mengingat hal kecil tentangnya setelah kecelakaan itu.


Willy pergi dari rumah livia, livia tak tega membiarkan dia pergi seperti ini, livia khawatir keponakannya tidak bisa mengendarai mobil dengan baik dan mengalami hal yang tidak diinginkan.


"pak, tolong antar willy pulang, kamu bawa mobil willy saja, nanti pulangnya naik taksi saja" kata livia meminta tolong kepada supir pribadinya.


"baik bu" supir itu langsung menghampiri willi dan meminta kunci mobilnya.

__ADS_1


Willi menengok kearah livia dan livia mengangguk kecil sambil tersenyum, livia lega willy mengerti maksudnya dan mau mengikuti kemauan livia.


Willy kembali ke rumahnya diantar oleh supir pribadi livia, selama perjalanan pulang, willy hanya bisa terdiam seribu bahasa, dia hanya bisa merenungi nasib naas yang menimpa dirinya.


__ADS_2