
Ilham dan zihan kembali ke rumah baru mereka, ditemani oleh Syamil dan juga ibunya Retno, kini Retno kembali tinggal bersama mereka, karena Retno tidak mau lengah, dia harus menjaga cucu keduanya, dia tidak mau terjadi hal yang buruk kepada zihan dan dia juga harus mengurus Syamil, karena kemungkinan besar kehamilan pertama itu akan sangat rewel, karena dia seorang wanita yang juga pernah mengandung, jadi dia tau berdasarkan pengalamannya, Maka dari itu, dia ingin menjaga menantunya yang sedang mengandung, dia ingin memperhatikan agar asupan makanan yang dimakan oleh zihan adalah yang terbaik untuk janinnya.
"kamu istirahat zihan, Nanti ibu akan membawakan makanan," kata Retno dan zihan pun hanya bisa mengangguk menuruti apa semua perkataan Ibu mertuanya yang begitu menyayanginya.
"Mas Kenapa kita pindah rumah? Memangnya rumahmu yang lama kenapa? kata zihan bertanya.
"Sayang aku tidak mau kita tinggal di sana, begitu banyak kenangan burukku dengan Joanna, Aku tidak mau lagi mengenang dia Sedikitpun, aku tidak mau lagi teringat tentangnya, meski dia adalah ibu dari anakku, tapi dia tidak pantas dianggap sebagai seorang ibu untuk Syamil," jelas Ilham
"rumah ini sebenarnya adalah peninggalan dari ayahku, namun saat aku dan Yohana menikah, dia tidak mau tinggal di sini, jadi aku membeli rumah yang dulu kita tempati, Joanna suka dengan nuansa modern, dan sebenarnya aku juga tidak tahu apakah kamu suka tinggal di sini atau tidak, Tapi menurutku rumah ini adalah yang terbaik, karena rumah ini hanya ada lantai dasar saja, jadi kamu tidak perlu turun naik tangga, itu yang aku pikirkan saat ini untukmu dan juga buah hati kita," Ilham menjelaskan panjang lebar tentang niatnya tinggal di rumah peninggalan mendiang ayahnya.
"di manapun Aku tinggal, di manapun aku berpijak dan dimanapun Aku memejamkan mata, hanya satu hal yang sangat penting untukku Dan satu hal yang sangat berharga untukku, yaitu bersamamu, bersama anak-anak kita dan orang tua kita," ujar zihan sambil menyentuh tangan Ilham.
mendengar perkataan istrinya membuat Ilham lega, karena zihan memang wanita yang tidak pernah banyak menuntut apapun Dari Dirinya, zihan adalah wanita yang sangat pengertian, dia bahkan tidak pernah meminta apapun dari Ilham, bahkan apa yang Ilham berikan juga dia terima tanpa ada protes sedikitpun, itulah yang membuat Ilham begitu kagum terhadap zihan.
"aku ke dapur dulu ya, mau lihat ibu dan aku juga mau lihat Syamil, karena dia harus beradaptasi dengan kamar barunya," kata Ilham dan Ilham meninggalkan zihan untuk beristirahat di kamar mereka berdua.
__ADS_1
kamar yang dulu adalah kamar kedua orang tuanya dan kini dipakai sebagai kamar mereka berdua, sedangkan Retno tidur di kamar yang dulu Ilham tempati, sedangkan Syamil tidur di kamar yang Ilham buat saat renovasi rumah sebelum dia menikah dengan Joanna.
dulu Ilham Sempat ingin tinggal di rumah ini bersama Joanna, membangun rumah tangga mereka, sehingga Ilham berinisiatif untuk sedikit merenovasi rumah ayahnya, dia membuat kamar tambahan yaitu kamar tamu dan juga kamar untuk anak pertama mereka, Namun sayang Joanna tidak ingin tinggal di sana, karena rumah peninggalan mendiang ayahnya, merupakan rumah besar megah namun desainnya adalah desain rumah lama, sehingga Joanna tidak bersedia untuk tinggal di sana.
*****
"Bu apa ada yang perlu aku bantu?" tanya Ilham.
"tidak perlu, sudah ada Mbok Min yang membantu ibu, kamu jaga saja zihan dan coba temani Syamil," kata retno.
"Syamil Wah ... sepertinya Syamil sangat menikmati kamar barunya, Apakah Syamil suka dengan kamar barunya?" tanya Ilham kepada anaknya.
"Aku suka Phiu! Phiu dan Mhiu pas banget bikinin kamar buat Syamil, aku sangat suka," kata Syamil dengan begitu senang.
melihat wajah anaknya yang senang, membuat Ilham juga ikut merasa senang, ternyata takdirnya menikah dengan zihan, membawa kebahagiaan untuk keluarga mereka, Ilham sangat bersyukur memiliki seorang Putra yang juga sangat pengertian, dia bersyukur suami menuruni sifatnya, bukan sifat Joanna.
__ADS_1
****
"pak polisi, Izinkan saya untuk menelpon seseorang, Saya ingin menghubunginya dan bicara dengannya," teriak Joanna dari sel penjaranya.
"tidak! tidak ada orang yang perlu kamu hubungi! tidak ada yang boleh kamu hubungi!" bentak polisi itu kepada Joanna.
Joanna menjadi berkecil hati, dia sudah yakin bahwa Kini dia harus mendekam dibalik jeruji besi yang dingin, yang kotor, bahkan udara segar pun jarang bisa ia hirup selama di sel penjara ini, Joanna merenungi semua sifatnya, tapi apa yang dia renungkan Hanya untuk diri dia sendiri dan dia tetap menyalahkan Jihan dengan mengklaim adalah zihan seorang pelakor yang merebut suaminya, dia tidak ingin disalahkan sebagai seorang istri yang sudah berkhianat terhadap suaminya, Joanna tetap bersikukuh dengan pendiriannya bahwa dia lah korban dari semua ini, dia bukanlah seorang tersangka, Namun semua kicauannya tidak ada yang mendengar, bahkan tidak ada yang peduli satu pun dan merasa iba terhadapnya.
Joanna di dalam sel penjara tidaklah sendirian, dia bersama tiga orang rekannya dan terkadang tiga orang rekannya itu membullynya, menghinanya, bahkan terkadang memukulnya, sehingga tubuh Joanna ada tanda-tanda peninggalan jejak kekerasan mereka, itulah penjara tidak bisa diprediksi apa yang terjadi, itulah penjara begitu banyak Penjahat di dalamnya dan belum tentu mereka merasa iba dengan teman satu selnya yang senasib.
"Hei berisik! jangan teriak-teriak! aku mau tidur!" teriak salah seorang penghuni sel.
Joanna terkejut mendengar dirinya membentaknya, Joanna takut terhadap wanita itu, karena yang dia tahu wanita itu membunuh dengan sadis, beberapa rekan kerjanya, bahkan salah satu temannya mencuri juga membunuh pemilik dari barang yang ia curi dan satu lagi temannya meski Dia seorang yang kurus tapi ternyata dia juga membunuh seseorang ketika terjadi keributan.
Joanna sering takut, ketika memejamkan matanya, dia takut tiba-tiba diserang oleh ketiga kawannya, Joanna terkadang merasa diri dia akan dicelakai, Joanna juga merasa bahwa nyawanya akan terancam di dalam sel penjara ini, tapi Siapalah yang akan peduli tentang nyawanya, Apakah dia masih hidup atau dia sudah mati pun pria yang selalu menjadi teman satu ranjangnya, tidak pernah mengunjunginya bahkan tidak pernah membelanya.
__ADS_1
Carlos seakan-akan tenggelam, seakan-akan lenyap dari dunia ini, hingga meninggalkan Joanna sendiri, tidak punya teman untuk berbagi dan teman untuk membantunya, melepaskan diri dari dalam penjara, Joanna menangis namun di dalam tangisannya, tetap saja dia menyalahkan zihan, kembali zihan selalu menjadi bahan di mana dia menjadi menderita.