
Ilham dan Zihan sampai dirumah setelah seharian bekerja di kantor, Ilham melihat ibunya duduk di teras sendirian sambil tatapan yang menerawang jauh.
"Bu" panggil Ilham seraya menepuk bahu Retno
"eh Ham, kamu sudah pulang?" kata Retno sambil membalikkan tubuhnya sedikit untuk melihat wajah lelah putranya sepulang bekerja.
"sudah Bu, ibu kenapa diteras sendirian?" tanya Ilham yang bersimpuh di kaki ibunya dan menatap wajah ibunya.
"nak, ada berita baik tapi ibu tidak tahu ini akan menjadi berita baik untuk mu atau tidak" Retno menyentuh wajah putranya dah bersimpuh di kakinya.
"ada apa Bu?" Ilham meraih tangan ibunya dan sedikit mengecupnya.
"Joanna, sudah bisa menggerakkan kakinya sedikit" kata Retno memberikan kabar untuk Ilham.
Ilham yang mendengarnya langsung lemas dan terduduk dengan bola mata yang berputar seakan mencari sesuatu.
"nak, tenangkan lah dirimu" ujar Retno saat melihat putranya terduduk lemas.
"Bu, bagaimana jika kondisi Joanna semakin pulih? apa yang akan terjadi pada Zihan?" Ilham menangis sambil terus memegangi tangan ibunya.
*******
Ilham tidur dengan memunggungi Zihan sehingga membuat Zihan merasa aneh.
"mas, kamu kenapa? kok tumben tidurnya enggak meluk aku?" tanya Zihan
Ilham membalikkan badannya dan melihat Zihan.
"mas kamu sakit?" Zihan memegang dahi Ilham memastikan kondisi suaminya.
"aku enggak sakit"
"ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" Ilham duduk.
Zihan memperhatikan suaminya yang bilang kalau mau bicara dengannya namun sudah sepuluh menit Ilham masih terdiam.
"mas, kamu mau ngomong apa?" tanya Zihan
"Joanna"
"mba Joanna? kenapa? mba Joanna keadaannya memburuk?" kata Zihan.
"bukan, justru sebaliknya, Joanna mengalami kemajuan, dia bisa menggerakkan kakinya" cerita Ilham.
Zihan menaruh tangan ke bibirnya yang lentik, ia terkejut dengan cerita Ilham namun juga bingung kenapa Ilham terlihat tidak senang.
"mas, bukankah itu kabar baik untuk mu?" kata Zihan
__ADS_1
Ilham menggeleng memberi isyarat bahwa itu bukan berita baik.
"awalnya mungkin ini akan menjadi berita baik, namun sekarang aku justru takut, aku takut Joanna akan pulih lebih cepat" Ilham bicara dengan mulut bergetar.
"mas, sebenarnya ada apa Antara kamu dengan mba Joanna? tanya Zihan semakin penasaran.
"Jo...Joana" Ilham berusaha menceritakan semua kejadian pahit dimasa lalu namun ternyata sulit.
"mas, jika kamu belum bisa menceritakannya sekarang, aku akan menunggunya" Zihan memeluk Ilham.
Ilham masih terdiam dan fikirannya melayang entah kemana sejak tahu kondisi Joanna membaik.
*******
Ilham menemui Roy dirumah sakit.
"Roy, apa benar Joanna mengalami kemajuan?" tanya Ilham
"benar, selamat ya, setelah ini kau bisa menceraikannya, memutus tali masalalu yang pahit itu" kata Roy.
"mungkin dulu berharap Joanna segera pulih agar aku bisa menceraikannya, tapi sekarang ada Zihan disampingku, pasti sulit membuat Joanna menyetujui perceraian" kata Ilham.
"Ham, seharusnya kau memikirkan ini sejak awal sebelum memutuskan menikahi Zihan, jadi sekarang kau harus bisa mengatur semuanya agar Zihan tidak disakiti oleh Joanna dan tidak tersakiti oleh mu"
perkataan terakhir Roy membuat Ilham terkejut, karena baru pertama kali ia mendengar Roy memperhatikan rekan kerjanya seperti ini.
Ilham duduk di sebuah taman yang pernah ia datangi bersama Zihan dan Syamil, ia kenang semua masa indah itu, tak ingin ia kehilangan masa indah bersama Zihan dan Syamil putranya.
Ilham menangisi semua nya, andai dulu ia tak terburu-buru untuk menikahi Joanna dan ikut mencari keberadaan Zihan putri dari sahabat orang tuanya.
kriiing kriiing suara ponsel Ilham berdering.
"Mhiu" kata Ilham
Ilham menamai kontak Zihan dengan nama Mhiu atau ibu dalam bahasa Jepang sesuai keinginan Syamil.
"hallo sayang"
"mas, kamu dimana?"
"aku ditaman, aku butuh waktu sendiri" Ilham menutup teleponnya.
Zihan merasa ada yang aneh, suara Ilham yang terdengar parau membuatnya khawatir.
******
"mas" Zihan menepuk pundak Ilham yang masih duduk di bangku taman.
__ADS_1
"sayang, kamu kok tau aku di taman ini?"
"taman ini tempat indah untuk kita, jadi aku menebak mas ada disini, ternyata benar" Zihan tersenyum.
Ilham terharu dan mulai menangis sambil memeluk Zihan erat, Zihan menepuk-nepuk punggung Ilham agar bisa sedikit lebih tenang.
"mas, jika berat berbagilah dengan ku, siapa tahu aku bisa meringankannya"
"Zihan, maaf kan aku" kata Ilham dengan tangisan yang semakin jadi.
"mas tidak ada yang perlu dimaafkan, aku tahu kau pasti memikirkan kemajuan mba Joanna dan memikirkan nasib pernikahan kita" Zihan wanita yang pengertian sehingga dia bisa membaca situasi.
"Zihan, aku tidak mau kehilangan mu, aku tidak tahu dulu mungkin akan mudah menggugat cerai Joanna, tapi sekarang mungkin ia tak bisa menerimanya, mungkin dia juga akan memutar balikkan fakta" kata Ilham.
"maksud nya memutar balikkan fakta?"
"dulu saat Joanna berhenti bekerja sebagai sekertaris pribadi disebuah perusahaan besar, aku fikir dia akan bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik, suatu hari dia membawa Syamil pergi dengan alasan ingin mengajak Syamil jalan-jalan ternyata dia pergi membawa Syamil kesebuah hotel..." Ilham menjeda ceritanya karena hatinya terlalu sakit.
"pelan-pelan saja mas, aku akan menunggu" Zihan memeluk Ilham sejenak.
"hari itu dia mengurung Syamil didalam ruang kecil, beruntungnya Syamil memakai jam tangannya dan dia menghubungi ku, aku langsung mencari Syamil dan meminta pelayan hotel membukakan pintu kamar yang disewa Joanna, saat pintu terbuka, ku lihat Joanna sedang bermesraan bahkan melakukan hal tidak senonoh didalam kamar hotel bersama mantan boss nya, disana aku langsung membawa Syamil pulang, entah mungkin Joanna panik dan dia menyusulku namun kecelakaan itu terjadi"
"mas, maafkan aku yang memaksamu bercerita tentang masa lalu yang menyakitinya itu"
"sejak saat itu, Syamil merasa ketakutan saat pintu kamarnya tertutup bahkan saat masuk kekamar mandi dengan Dina pun Syamil tidak mau selalu minta ditemani ibu, dari itu ibu memutuskan untuk tinggal bersama kami" sambung Ilham.
"jadi itu alasan Syamil terkadang mengalami ketakutan" kata Zihan mulai mengerti kondisi Syamil.
Zihan tak menyangka bahwa seorang ibu bisa tega mengurung anaknya demi kesenangan sesaat.
"itulah alasan mengapa aku tidak mau masuk kekamar Joanna, karena kamar itu memiliki kenangan bersamanya aku tidak sanggup mengenangnya karena pengkhianatan yang dilakukan joanna" Ilham semakin terisak sambil memukul dadanya yang mungkin terasa sesak menceritakan semua kenangan pilunya.
Zihan yang mendengarnya ikut larut dalam kesedihan Ilham, ia tak menyangka Joanna akan seperti itu.
.
.
.
.hai akak baca juga novel ku yang lainnya.
masih cover lama untuk judul wanita pantai pujaan hati CEO Kaisal nantikan cover terbarunya yang akan segera terbit...
__ADS_1
.