
Joanna, Ilham dan Syamil sampai ditempat berkemah, mereka menyiapkan tenda untuk menjadi tempat berteduh dan tempat tinggal sementara di dalam hutan.
mereka semua sedang sibuk mendirikan tenda masing-masing, suasana hutan yang menyajikan pemandangan indah membuat Syamil menyukai tempat ini.
"kau suka sayang?" tanya Ilham setelah selesai mendirikan tendanya.
"suka Phiu, andai Mhiu di sini, pasti menyenangkan!" Syamil menundukkan wajahnya dan berbicara dengan lesu seakan kesedihan merenggut seketika kebahagiannya tadi.
"nanti, kita ajak Mhiu kemari, kita berkemah bersama" senyum Ilham.
"mungkin kesempatan itu tidak akan pernah terjadi!" batin Joanna ketika mendengar perbincangan anak dan suaminya.
"anak-anak sekarang waktunya makan siang bersama, kita akan makan siang di aula, Miss mohon kita semua tertib, untuk para orang tua bisa mendampingi putra atau putrinya untuk makan siang bersama" kata Bu guru memberikan pengarahan.
mereka semua menuju tempat yang disebut aula, di sana sudah disediakan berbagai jenis makanan dan juga nasi, Ilham membantu Syamil menyendok makanannya.
"selamat makan" ujar mereka semua serentak ketika sudah berada dimeja makan.
******
"ambil posisi yang bagus, agar tidak terlihat sebuah setingan, dan jangan lupa kirimkan semua gambarnya kerumah mereka!"
sebuah gambar dengan pemandangan yang cukup biasa namun mungkin bisa menghancurkan sedang diambil oleh beberapa orang.
"setelah ini, akupun tidak akan pernah melepaskan mu!" gumamnya sambil memainkan jari-jarinya.
"segera selesaikan dengan cepat, aku tidak mau mereka bangun di sini! kirimkan mereka ke taksi dan berikan alamat rumah mereka!" kata Carlos.
"pak, untuk personal asistennya masih ada di cafe" kata asisten Carlos
"biarkan saja dia, dia bukan prioritas kita!" Carlos meninggalkan ruangan di mana dia merencanakan hal yang sangat kejam.
*****
"kemana Zihan? dia sudah cukup lama pergi!" kata Retno sambil mencemaskan menantunya.
__ADS_1
tak lama setelah Retno mencemaskan menantunya, kedua satpam rumahnya masuk bersama Zihan yang tak sadarkan diri.
"ya Tuhan, ada apa dengan Zihan?!" Retno menjadi semakin cemas.
"letakkan dia di sini..." Retno mengendus bau alkohol dari baju Zihan.
"kenapa dia seperti ini?" tanya Retno.
kedua satpam itu menjadi gugup untuk menceritakan apa yang tadi diberitahukan oleh supir taksi kepada mereka berdua.
"i..ini, tadi ada seorang supir taksi yang mengantarnya, katanya Bu Zihan tadi mabuk dan keluar dari dalam hotel bersama seorang pria, pria itu memberikan alamat rumah ini agar supir taksi bisa mengantarnya pulang"
"seorang pria?" Retno terkejut mendengar cerita kedua satpamnya.
"Iyah, kata pria itu bilang kepada supir taksi untuk menjaga kekasihnya!" satpam itu dengan ragu mengucapkan kalimat terakhir yang diberitahukan oleh supir taksi kepada mereka.
"ke-kekasih?" Retno menjadi semakin merasa takut, takut kejadian yang menimpa pernikahan Joanna dan Ilham terulang lagi.
Retno berusaha membangunkan Zihan dari tidurnya, dia ingin mengetahui cerita sepenuhnya, dia tidak ingin mengambil kesimpulan lebih dulu sebelum mendengar pengakuan dari Zihan.
Zihan perlahan membuka matanya dan dia sadarkan diri.
"Zihan" panggil Retno.
"ibu" Zihan langsung bangun dan dia terkejut sudah ada dirumah ini.
"ba-bagaimana aku bisa ada di sini?" kata Zihan sambil memandang rumahnya.
"tadi supir taksi mengantarmu pulang" kata Retno.
"supir taksi? bagaimana bisa? bukannya tadi aku...," Zihan terdiam sejenak memikirkan kejadian di toko kue.
"aah" Zihan mengaduh kesakitan.
"ada apa Zihan?" tanya Retno yang melihat Zihan seperti kesakitan. Zihan memegang tengkuknya dan menggerak-gerakkan lehernya yang terasa sakit.
__ADS_1
"tengkukku terasa sakit" kata Zihan sambil sedikit mengiris.
"ada apa sebenarnya Zihan!" tegas Retno yang semakin tidak mengerti ada apa sebenarnya
"tadi aku pergi setelah mendapat panggilan telepon, kata manager toko kue yang kemarin aku membeli roti untuk Syamil, dia ingin memastikan sesuatu denganku, aku kesana tapi tiba-tiba setelah itu aku tidak tau lagi, dan setelah aku sadar aku ada di sini" papar Zihan.
Zihan masih terus mengingat kejadian setelah dia duduk menunggu manager toko kue.
"tadi satpam bilang, supir taksi mengantarmu pulang setelah keluar dari dalam hotel bersama seorang pria, mereka bilang kamu mabuk sehingga pria itu meminta supir taksi mengantarmu pulang!"
"supir taksi?" Zihan memiringkan kepalanya ke kanan sambil mengingat lagi kenapa dia bisa berada di taksi bukan di toko kue.
"kenapa aku bisa di taksi? bukan di toko kue? dan kenapa aku keluar dari dalam hotel bersama pria? siapa dia? dan kenapa aku bisa ada di hotel?" Zihan bergumam dalam hatinya.
"pria itu bilang kamu adalah kekasihnya!" Retno menitikkan air matanya, tak sanggup mengatakan apa yang dia dengar.
" tunggu! kekasih? siapa maksudnya? mas Ilham? tidak mungkin dia sedang berkemah" Zihan semakin gila mendengar kata-kata kekasih.
"ibu tidak tahu Zihan, ibu harus percaya denganmu atau pernyataan supir taksi itu?! dulu ibu pernah melakukan satu kesalahan, ketika mendengar cerita tentang Joanna, dan aku baru mengetahui kebenarannya setelah dua tahun Ilham menyembunyikan keburukan Joanna. aku tidak mau hal serupa terjadi! jadi buktikanlah kalau kamu tidak seperti dugaanku!" Retno bangun dari duduknya dan melangkah dengan gontai menuju kamarnya, dia benar-benar tidak tau harus percaya kepada siapa, dia tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
"ibu.." Zihan bangun dari duduknya dan hendak menghampiri Retno yang sempat terhuyung.
"tidak perlu! aku bisa berjalan sendiri!" kata Retno sambil membenarkan kembali langkahnya.
Zihan melihat bahwa ibu mertuanya kecewa dengan apa yang didengarnya namun dia juga tidak ingin mempercayainya, kenangan masalalu yang pernah di lakukan Joanna mungkin akan membuatnya semakin bingung menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
"aku akan membuktikannya ibu, aku tidak ingin kehilangan kalian semua, terutama aku tidak mau kehilangan cinta dan kepercayaan dari suamiku!" kata Zihan sambil berlinang air mata.
Zihan terus memandangi Retno hingga wanita paruh baya itu masuk kedalam kamarnya, Zihan semakin menangis ketika dia harus menghadapi keraguan yang ada di hati ibu mertuanya.
"aku tidak bisa seperti ini, aku tidak mau kalian meragukan ku! tapi dari mana aku harus memulai mencari tahunya?" Zihan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Zihan masuk ke dalam kamarnya dan kembali menangis, dia seperti kehilangan arah, dia tidak bisa memikirkan satu solusi apapun yang bisa membuatnya terbukti tidak bersalah.
Zihan mengeluarkan satu kartu nama dari laci meja riasnya, dia memandangi kartu nama itu sambil berfikir panjang.
__ADS_1
"apa aku haru menghubunginya? apa aku harus meminta bantuannya? apa dia mau membantuku?" Zihan terus bergumam seorang diri.