Perawat Istriku Menjadi Istriku

Perawat Istriku Menjadi Istriku
Di mana kau Zihan?


__ADS_3

Ilham mengantar Joanna dan Syamil pulang kerumah, stelah itu dia langsung pergi lagi untuk mencari istrinya yang pergi entah kemana.


"lepaskan" pinta Syamil dan menghempaskan tangan Joanna.


"Syamil!" teriak Joanna


"Joanna! apa-apaan sih kamu ini, kenapa pakai berteriak segala! tidak bisakah kamu bicara lembut kepada putramu sendiri?" tegasnya.


"Syamil, sayang, maaf kan mommy sayang" Joanna melembutkan nada bicaranya.


Syamil tetap tidak mau bersama Joanna meski dia sudah bicara dengan sangat lembut.


"Neli, kita ke kamar saja" ajak Syamil.


Retno mengikuti Syamil menuju kamarnya, Syamil berhasil membuat Joanna kesal lagi, tapi dia sejujurnya takut dengan ancaman Joanna tadi di sekolah.


"Neli, bolehkan kita berbohong demi menyelamatkan seseorang?" tanya Syamil


"cucu Neli yang pintar, berbohong tetaplah buruk, Nak, tapi jika terpaksa boleh, hanya jika terpaksa dan hanya untuk kebaikan" kata Retno.


"baik Neli, Syamil mengerti" ujar Syamil.


Syamil mengganti pakaian sekolahnya sendiri, dia sudah sangat mandiri, bisa mengerjakan semuanya serba sendiri.


*****


ilham mencari Zihan kerumahnya.


"Zihan, Zihan" teriak Ilham.


"Zihan tidak ada pak" sahut seseorang yang merupakan tetangga sebelah Zihan.


"terima kasih informasinya" kata ilham


Ilham masuk kembali ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah sambil mencari-cari istrinya.


Ilham memberhentikan sejenak mobilnya, dia mencoba menghubungi Zihan kembali.


turut turut turut


nomor telepon Zihan tidak dapat dihubungi.

__ADS_1


"ya Tuhan Zihan, ada apalagi dengan mu? kenapa kamu pergi tanpa memberi kabar dulu" Ilham semakin cemas.


ilham mengerti kondisi istrinya yang selain usianya masih muda dia juga tidak memiliki tempat untuk bersandar.


"ah! aku tidak punya nomor kontak sahabat Zihan!" ilham memukul keras stir mobilnya.


"apa aku harus menuju rumah sakit? tapi jika ku kesana reaksi apa yabg akan ditunjukkan Roy kepadaku? terakhir kali dia sangat marah karena kelakuan Joanna yang menggodaku!" ilham semakin pusing.


pikirannya buntu, dia tidak tau lagi harus kemana, Zihan tidak pernah pergi kesuatu tempat yang spesial selama ini ketika suasana hatinya sedih atau senang.


****


"Syamil, malam ini mommy minta kamu bilang sama Daddy, oh maksud mommy sama Phiu untuk kita tidur bertiga dikamar mommy" bujuk Joanna dengan nama seperti orang memaksa.


"Iyah mommy" jawab Syamil.


anak berumur lima tahun itu menjadi sasar. Joanna kali ini, kecintaannya kepada ibu sambungnya, membuat Joanna mengendalikannya.


"Syamil tidak mau Mhiu menderita kan?" tanya Joanna


"tidak mommy, jangan buat Mhiu Syamil menangis lagi" mohon Syamil.


"Joanna! sedang apa kamu di kamar Syamil?" tanya Retno.


"a-aku hanya berusaha kembali dekat dengannya, apa ada yang salah?"


"jangan pernah membuat Syamil merasa tertekan lagi! jika hal itu terjadi, aku sendiri yang akan mengusirmu dari sini?" pekik Retno.


"tenanglah ibu, Syamil putraku, jadi dia pasti aman" Joanna menunjukkan setengah senyumannya, senyuman yang dipaksakan.


****


"Zi, kamu kenapa lagi?" peluk sahabat satu-satunya yang Zihan percaya.


"Zi, berhentilah menangis" mohon Ghina.


"Zi, apa aku salah telah menikahi pria yang sudah memiliki istri dan anak?" tanya Zihan kepada sahabatnya.


"Zi, semua orang akan bilang kamu tidak salah, karena memang posisimu saat itu bukan merebutnya!" tegas Ghina


"tapi mereka bilang aku adalah seorang pelakor, merebut suami orang dan mencuci otak seorang anak berusia lima tahun agar membenci ibu kandungnya sendiri" Zihan semakin menangis meraung-raung.

__ADS_1


Ghina melihat kondisi Zihan sangatlah tidak tega, dia marah, sedih, semua rasa bercampur aduk di dalam hatinya


"Zihan, kamu harus tau, kamu adalah penyelamat mereka berdua, bukan orang jahat!" Ghina kembali meyakinkan sahabatnya itu.


Ghina memeluk erat tubuh sahabat yang sedang begitu rapuh hatinya, saat ini pasti hati Zihan sangat hancur berkeping-keping, dia telah dituduh menjadi seorang pelakor.


"siapa yang tega bicara seperti itu kepada Zihan?" batin Ghina.


"apa pak Ilham tau kamu dirumah ku?" tanya Ghina.


Zihan menggeleng, dia memang tidak memberitahukan posisinya saat ini, Bahakan ponselnya pun dia nyalakan mode pesawat, dia tidak mau bicara dengan siapapun saat ini, kecuali dengan sahabat baiknya.


Zihan dibawa masuk ke dalam kamar oleh Ghina, dia meminta agar Zihan beristirahat.


"tenangkan lah pikiranmu dulu, aku siapkan teh hangat untuk mu" Ghina menutup pintu kamarnya rapat.


Ghina meraih ponselnya berusaha menghubungi seseorang.


setelah mereka berbicara ditelepon, ghina menyiapkan teh manis hangat untuk Zihan.


"minumlah"


Zihan meneguk sedikit demi sedikit teh manis hangat buatan Ghina.


"sudah agak tenang?" tanya Ghina.


"terima kasih Ghin, kamu memang sabahat yang Laing baik dan pengertian" Zihan memeluk Ghina.


tok tok tok


terdengar suara pintu rumah Ghina ada yang mengetuk.


"aku buka pintu dulu" kata Ghina.


Ghina melihat dari jendela rumahnya, memastikan orang yang datang adalah pria yang tadi dia hubungi.


"masuk" Ghina mempersilahkan pria itu masuk.


"dia ada di kamar ku!" kata Ghina mempersilahkan pria itu masuk ke dalam kamarnya.


"Zihan" pria itu lega melihat Zihan dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2