
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Satu Minggu kemudian.
Dari semenjak hari dimana Kenzo memutus persahabatan dia dan Mia. Hubungan Kenzo dan Salsa semakin dekat. Tidak ada lagi yang namanya pertengkaran kecil, maupun besar. Kenzo yang jauh lebih dewasa dari umur dan juga pikiran, membuat hubungan mereka menjadi seimbang.
Meskipun Mia terus berusaha buat mendekatinya, tapi Kenzo tidak pernah menanggapi. Sebab pemuda itu sangat takut bila sampai Salsa mengetahui hal tersebut.
Besok malam adalah pertandingan Basket yang kembali diadakan setelah break selama satu Minggu. Kali ini yang bertanding hanya Tim Kenzo melawan, anak-anak dari luar ibukota B. Akan tetapi meskipun kakaknya tidak ikut bermain, Salsa akan tetap menonton sebagai Tim dari Universitas Bima Sakti. Di sini dia akan hadir sebagai istri dari Kenzo, bukan seperti biasanya yang menjadi suporter dari Tim SMK milik keluarganya sendiri.
Sedangkan Tim Arsya tidak bisa mengikuti pertandingan selama keadaan Farel belum pulih seratus persen. sebetulnya apabila Arsya mau, bisa saja menggantikan Farel dengan Tim cadangan yang lainnya. Namun, Arsya sendiri yang menolak karena dia merasa semakin tidak enak. Setelah sahabat baiknya itu mengetahui jika Salsa adiknya telah menikah dengan Kenzo yang merupakan musuh mereka saat di lapangan.
Ya, pernikahan Salsa dan Kenzo tidak disembunyikan lagi, bagi orang yang mengetahui hal tersebut tidaklah heran, karena biasanya jika dari keluarga kaya raya, sudah hal biasa melakukan perjodohan untuk mencari menantu yang terbaik. jadi mereka berpikiran seperti itu, sejauh ini tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Kenzo dan Salsa menikah bukan karena dijodohkan. Akan tetapi mereka terpaksa harus menikah gara-gara jebakan dari musuh Tuan Heri Erlangga.
Tidak sampai tiga bulan lagi, Salsa sudah lulus dari kelas dua belas. Bukanlah hal besar jika masyarakat mengetahui bahwa putri dari orang nomor satu di ibu kota B telah menikah. Apalagi Salsa sekolah di SMK milik keluarganya sendiri. Siapa juga yang berani mengusiknya.
"Nanti kita akan kembali kemana?" tanya Salsa yang lagi mengenakan jaket pada tubuhnya. Dia akan ikut melihat Kenzo latihan ditempat biasanya Tim dari Universitas Bima Sakti latihan. Ini adalah kali kedua, Salsa mengikuti suaminya berlatih, karena Kenzo harus bisa membuat Timnya menang.
"Belum tahu, lihat saja nanti," jawab Kenzo merangkul istrinya keluar dari kamar mereka. Saat ini Kenzo dan Salsa lagi berada di kediaman Rian. Sudah dua malam ini mereka menginap di sana.
Tidak diperbolehkan tinggal di rumah sendiri, membuat Salsa dan Kenzo harus bisa membagi waktu. Antara kembali ke rumah orang tua Salsa dan ke rumah kakek Fathan. Agar semuanya bisa merasa adil. Sebab semua orang tua tentu ingin anak-anak mereka tinggal bersamanya.
"Kenapa? apa masih mau menginap di sini jika iya kita akan pulang kemari?" sekarang bergantian Kenzo yang bertanya sambil menuruni anak tangga satu persatu.
"Tidak, aku hanya bertanya," jawab Salsa semakin merangkul erat pergelangan suaminya.
Ketahuilah pasangan pengantin muda ini, sudah dijuluki bucin akut oleh Ale dan juga Aditya. Kedua adik angkat Salsa selalu menggoda kakaknya, karena baik itu si Princess ataupun Kenzo, tidak ada yang mau menjauh. Ke mana-mana mereka selalu bersama, terkecuali apabila Kenzo ke perusahaan dan berangkat kuliah. Mungkin bila mereka memiliki tempat sekolah yang sama, maka bisa-bisa selalu menempel seperti perangko.
Rian yang mengetahui jika Kenzo sudah tidak lagi berhubungan dengan Mia, wanita yang merupakan sahabat baik menantunya, semakin memperketat keamanan pada ke tiga anaknya.
"Baiklah, jika begitu kita lihat saja nanti. Mau pulang ke rumah, atau ke hotel," jawab Kenzo tersenyum dengan tangan mengacak rambut Salsa.
"Wah, sepertinya ada yang mau pacaran lagi," ujar Arsya begitu melihat adik dan adik iparnya. Sekarang si tampan Arsya lagi baring diatas sofa di ruang keluarga.
"Iya dong! Punya pasangan itu harus dimanfaatin, princess di anggurin, rugi lah gue," jawab Kenzo yang akhir-akhir ini seringkali menggoda Arsya.
"Ck, gue mau fokus sekolah, nanti juga kalau sudah jodohnya akan ketemu, atau dia akan datang sendiri." decak Arsya yang belum juga menemukan gadis yang bisa mengetatkan hatinya.
"Kak, Mama mana?" tanya Salsa melepas rangkulan tangan Kenzo dan duduk disebelah sang kakak. Padahal mereka sudah mau berangkat.
"Biasa, ke rumah sesepuh," jawab Arsya asal. Sebab tidak perlu dia jelaskan, karena Salsa dan Kenzo pasti sudah tahu pergi kemana orang tua mereka. Selain ke rumah Tuan Heri dan Ayah Ridwan, kakek mereka.
Sudah hampir dua satu bulan belakangan ini, kondisi kesehatan Ayah Ridwan terus menurun. Makanya Rian dan Ayla selalu pergi ke sana.
"Kakak sendirian berarti?"
"Mau sama siapa lagi, tapi ini lagi nungguin Ale sama Adit, tapi mereka belum juga datang," jawab Arsya yang telah memiliki janji dengan kedua adik angkatnya.
"Oh, yasudah jika mereka akan datang ke sini, Salsa takutnya Kakak nggak punya teman. Jadi tidak tega, meninggalkan kakak sendirian," imbuh si princess.
Meskipun sekarang sudah ada Kenzo yang menjaganya. Salsa tetap masih suka bermanja pada sang kakak. Ikatan persaudaraan mereka tidak bisa dipisahkan meskipun Salsa sudah memiliki tambatan hatinya.
"Sudah pergi saja, lihat Kenzo sudah merenggut dari tadi," kata Arsya hanya tersenyum kecil, karena Kenzo harus benar-benar bersabar menghadapi adiknya. "Adek harus terbiasa jauh dari Kakak, karena sebentar lagi Kakak akan kuliah di luar negeri, adek di sini saja, agar ada menemani mama sama papa," ucap Arsya yang juga berat harus meninggalkan keluarga besarnya. Namun, demi mendapatkan cita-citanya yang ingin menjadi Arsitek seperti Tuan Heri sang kakek. Si tampan Arsya harus rela berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi.
"Kakak!" seru Salsa memeluk sang kakak. "Tapi kakak akan sering pulang, kan?"
"Entahlah, soal itu Kakak belum tahu, karena kata opa sama kakek, jika sekolah nya jauh. Maka Kakak harus menahan agar tidak selalu kembali ke sini. Sebab takutnya nanti malah menganggu pendidikan Kakak," dengan sabar Arsya menjelaskan.
__ADS_1
Sampai saat ini, dia memang tumbuh menjadi putra mahkota yang sangat membanggakan keluarnya. Arsya sangat pintar dan begitu tenang saat memiliki masalah. Maka dari itu, ketika dia mengatakan ingin menjadi Arsitek. Kedua kakeknya langsung memberikan dukungan mereka. Sebab sebagai penerus mereka yang juga sebagai Arsitek.
"Sayang, ayo! Nanti kemalaman," Kenzo mengulurkan tangannya agar Salsa berdiri. Bila dibiarkan, bisa-bisa mereka tidak jadi pergi.
"Kak, Salsa pergi dulu, ya!" pamit princess menerima uluran tangan suaminya.
"Pergilah, hati-hati di jalan." jawab Arsya mengangguk, karena semenjak adiknya menikah. Dia sudah terbiasa tinggal di rumah sendirian. "Ken, bawa mobilnya pelan-pelan saja, jangan terlalu kencang," pesannya pada si adik ipar.
"Iya, tenang aja, gue akan menjaga princess dengan baik," Kenzo tersenyum sambil menggenggam tangan Salsa berjalan keluar rumah menuju garasi mobil.
Selama dalam perjalanan mereka tidak banyak mengobrol, karena Salsa hanya diam memikirkan waktunya bersama sang kakak tinggal menghitung bulan.
Kenzo yang mengerti juga tidak ingin berkomentar apapun. Sebab sebelum dia menikahi Salsa, istrinya sudah dekat dengan Arsya. Mereka berdua saudara kembar. Jadi pasti sangat sulit untuk menerima begitu saja.
Cup!
"Agh! Ken, Ken!" seru Salsa kaget karena tiba-tiba Kenzo mengecup pipinya.
"Kita sudah sampai, ayo turun! Atau mau kembali lagi, gue nggak usah latihan?" tanya Kenzo tidak mau memaksa keinginan dirinya.
"Eh, enggak! Ayo cepat turun!" ujar Salsa cepat. Gadis itu jika sudah merasa baikan, akan kembali seperti semula lagi.
"Yakin? Jika kamu lagi malas, kita cari hiburan lainnya?" kembali memastikan.
"Gue baik-baik aja, By!" jawab Salsa tersenyum semanis mungkin agar Kenzo percaya padanya.
"Baiklah, tapi jika mau pulang, kasih tahu ya," kata Kenzo ikut tersenyum dan mengelus pipi Salsa. Pacaran setelah menikah ternyata membuat keduanya bebas ingin melakukan apapun.
Contoh nya seperti sekarang, sebelum turun dari mobil. Mereka berdua masih juga bermesraan. Padahal saat di rumah juga seperti itu.
Ttttddd!
Ttttddd!
"Hengki," jawab Kenzo sambil melepas sabuk pengaman pada tubuh istrinya. "Ayo kita turun, biar cepat selesai," ajaknya turun lebih dulu untuk membuka pintu mobil buat pujaan hati. Saat memasuki gedung, mereka kembali bergandengan tangan.
"Parah banget Elo, Ken!" ucap Eel begitu melihat orang yang mereka tunggu sejak tadi baru saja datang. Padahal mereka sudah latihan dari setengah jam yang lalu. Saat dihubungi tidak diangkat-angkat, karena Kenzo menonaktifkan nada ponselnya. Jadi tidak tahu jika para sahabatnya sudah menelepon sejak tadi.
"Biasa penganten baru, Men" ujar Yogi tetap santai. Sebab yang perlu latihan adalah mereka, karena jika Kenzo hanya tinggal mengatur cara menyusun permainan saja.
"Apa sudah mulai dari tadi?" tanya Kenzo mengabaikan celotehan Eel. Dia memperhatikan sahabatnya yang sudah dimandi oleh keringat.
"Iya, sudah dari tadi," yang dijawab oleh Hengki. Pemuda yang sudah kalah memperjuangkan cintanya sebelum berperang. "Tapi Elo tetap harus ikut latihan, kita sudah tidak memiliki waktu," lanjut Hengki setelah meneguk minuman nya.
"Iya, tidak masalah," jawab Kenzo melepas baju bagian luarnya. Lalu ia titipkan pakainya pada sang istri yang sudah duduk ditempatkannya berdiri.
"Ayo kita latihan sekarang, kalau kemalaman istri gue pasti mengantuk," ajak Kenzo melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya Salsa saja yang perempuan, sisanya hanya laki-laki sahabat Kenzo saja.
"Ya," satu persatu mereka mulai kembali masuk ke lapangan.
"Tunggu sebentar ya, tidak akan lama," pamit Kenzo setelah memberikan ciuman di kening istrinya. Salsa hanya mengangguk karena tiba-tiba dia merasa takut, sebab hanya duduk seorang diri.
Selama Kenzo berlatih, ponsel pemuda itu pada istrinya. Namun, baru beberapa menit dia memegang nya. Satu buah pesan masuk di benda tersebut.
"Mia,"
Gumam Salsa langsung membaca pesannya, karena sekarang dia sudah mengetahui password ponsel Kenzo, yang ternyata adalah tanggal pernikahan mereka. Namun, ada yang berbeda, Mia mengirim pesan mengunakan nomor ponsel baru.
💌 Mia : "Ken, ini gue, Mia. Please! Tolong temui gue di Kafe Vegetarian jam setengah lima sore. Ada yang ingin gue katakan, tapi tidak bisa lewat telepon. Kita harus bertemu, sebelum gue kembali ke Korea, karena gue ikut pindah ke sana," bunyi pesan Mia, yang langsung dibalas oleh Salsa.
💌 Salsa : "Oke, gue akan datang," balasnya yang langsung dihapus dan nomornya juga di blokir. Agar Kenzo tidak tahu.
__ADS_1
"Gue pengen tahu, kira-kira si Mie rebus mau ngomong apa, ya?" tanya Salsa begitu penasaran. Besok sore dia akan pergi menemui Mia seorang diri. Sebab permasalahan diantara mereka memang belum selesai, karena Mia sudah beberapa kali meneror Salsa dengan bingkisan yang dilumuri darah segar. Entah apa maksudnya, karena Salsa sendiri tidak pernah mengusik Mia.
"Semagat!" teriak Salsa saat Kenzo melihat kearahnya.
Lalu Kenzo yang diberi semagat oleh wanita yang dicintainya, langsung memberi Salsa sebuah tanda dari tangan yang menunjukkan kata I love you sehingga membuat ruangan yang tadinya sepi, menjadi heboh seketika.
"Gue juga cinta sama Elo, Ken," gumam Salsa yang hanya tersenyum. Sampai saat ini gadis itu memang belum mengatakan jika dia juga mencintai Kenzo. Tapi setidaknya dia tidak pernah menolak saat mereka berciuman saja, tentunya Kenzo sudah tahu, jika Salsa juga mencarinya.
"Huh!" capek banget, sudah saja latihannya. Gue capek," kata Eel langsung baring di atas lantai semen.
"Iya, benar! Kenzo enak dia baru datang," sahut teman satu Tim mereka. "Ayo kita pulang, gue benar-benar nggak kuat lagi, Ken," ujarnya melihat kearah Kenzo yang melempar Bola pada ring Basket.
"Emang sudah jam berapa?" jawab Kenzo menanyakan jam pada teman-teman satu Timnya yang duduk di pinggir lapangan.
"Jam setengah sembilan, sudah ajalah! Besok kita harus istrirhat total," ucap pemuda itu berdiri karena sudah lelah setiap malam harus berlatih.
"Baiklah, kita pulang," putus Kenzo. "Ki, Dra, sudah kita pulang aja, anak-anak sudah kelelahan. Lagian istri gue nggak ada temannya,"
"Huem, gue mah ikut gimana bagusnya," sahut Andra.
"Oke, kita pulang aja, Dra. Istri Kenzo kasihan. Anak-anak nggak nonton malam ini karena ada acara di Taman kita," ucap Hengki langsung keluar lapangan di ikuti teman-temannya yang lain.
Termasuk Kenzo, pemuda itu berjalan mendekati istrinya dan di bawa pulang ke Apartemen. Bukan pulang ke rumah orang tua mereka. Semenjak Salsa mengetahui tempat itu, Kenzo sudah sering ke sana bersama istrinya.
"Ken, mandi dulu," titah Salsa begitu mereka masuk ke dalam Apartemen. "Tapi tunggu aku mengganti baju tidur dulu, ya." ujarnya lagi.
"Iya," jawab Kenzo juga tidak mungkin tidur dengan badan lengket oleh keringat.
Tidak lama, hanya tujuh menit kurang lebih. Salsa sudah selesai, karena dia hanya menyikat gigi dan menganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah dia keluar, baru bergantian Kenzo yang membersihkan tubuhnya.
Selama menunggu Kenzo mandi, Salsa menyiapkan baju suaminya. Hal yang bisa ia kerjakan sebagai seorang istri. Sebab, jika memasak dia sangat jarang melakukannya. Selain Kenzo yang tidak boleh, mereka juga tempat tinggalnya tidak menentu.
Duuuar!
Duuuar!
Suara petir menggelegar, silih berganti. Sehingga membuat Salsa ketakutan dan langsung meringkuk diatas tempat tidur. Untungnya Kenzo sudah selesai, jadi dia buru-buru keluar, karena menghawatirkan istrinya.
"Sayang," ucapannya memeluk Salsa agar tenang. "Sudah jangan takut, itu hanya suara petir, bukan pesawat tempur," ujarnya menenangkan.
"Tapi, tapi aku takut," lirih Salsa yang takutnya bukan hanya berpura-pura.
"Jangan takut, ada aku yang akan melindungi mu," Kenzo merenggangkan pelukan mereka dan mengapit kedua pipi Salsa mengunakan tangannya. Lalu ia kecup bibir yang kebetulan lagi menganga. Niat hati agar Salsa tenang. Namun, si adik kecilnya justru berontak bagun.
"Ke--Ken," seru Salsa mendengar nafas Kenzo tidak beraturan. Seperti lagi menahan sesuatu.
"Eum," jawab Kenzo hanya bergumam kecil.
"Kamu, baik-baik saja, Ka---"
Cup!
"Aku, baik! Cuma ini sedang memberontak," bisik Kenzo setelah mengecup bibir Salsa, yang terasa semakin manis.
"Apa boleh?" Kenzo menatap Salsa dengan mata penuh harap. Salsa diam, bingung harus menjawab apa. Dia bukanlah anak kecil, jadi sudah tahu apa maksud suaminya.
Akan tetapi setelah ia kembali mengingat perkataan Mia, yang mengejeknya. "percuma saja cantik jika belum pernah disentuh oleh Kenzo,"
Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Mia, saat mereka berada di dalam toilet.
__ADS_1
"Boleh!" jawab Salsa dengan sangat jelas dan yakin. Tidak ada keraguan saat didalam hatinya. Mendapat lampu hijau dari sang istri, tentu Kenzo tidak tinggal diam. Dia langsung menyambar bibir ranum Salsa.
BERSAMBUNG...🏃🏃🏃