Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
KBDT. Kekerasan Dalam Berteman.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Tapi---"


Belum selesai Jeni berbicara si tampan Arsya sudah berlari keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam mobil yang berada tepat di sebelah mereka untungnya jendela kaca mobil tersebut tidak ditutup sepenuhnya jadi air sama masih bisa membuka pintu mobil tersebut.


"Jeni, kamu duluan tunjukkan padaku arah ke rumah sakit terdekat dari sini," seru Arsya setelah menyadari bahwa orang yang ada didalam mobil tersebut pingsan bukan tidur. Tidak banyak bicara, begitu lampu menjadi hijau Jeni pun langsung mengendarai mobil Arsya ke arah rumah sakit terdekat seperti perintah dari sahabatnya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, hanya sekitar dua belas menit dari tempat lampu merah. Mereka sudah tiba di rumah sakit terbesar di kota itu.


Begitu mobilnya berhenti Jeni memarkirkan asal. Lalu dia keluar dari sana dan setengah berlari, masuk menemui para Dokter dan perawat yang berjaga. Untuk meminta bantuan mereka membawa orang yang mereka tolong ke ruang UGD.


"Dokter please outside there are sick people," ucap Jeni meminta bantuan dengan menyebutkan orang sakit.


"Okay let's show Miss let us help," jawab si dokter mengunakan bahasa daerah mereka.


Tidak bertanya lagi, dua orang dokter dan perawat pun mengikuti Jeni dengan mendorong Brankar untuk membawa pasien mereka. Begitu tib di luar, ternyata Arsya memarkirkan mobil tersebut tepat di depan loby rumah sakit. Jadi mereka cukup mengeluarkan saja dan menidurkan diatas brankar. Lalu langsung dibawa masuk ke ruang UGD terlebih dahulu.


"Ar, apakah kamu mengenalnya?" tanya Jeni sambil menunggu di depan ruang UGD.


"Tidak, aku tidak kenal," jawab Arsya yang jantungnya seakan bergemuruh merasakan takut bila orang yang ia tolong tidak bisa diselamatkan.


"Ayo duduklah! Kamu tidak boleh secemas ini. Dia sudah berada di tangan dokter, semoga saja masih bisa diselamatkan."


"Jeni... aku sangat takut," tanpa aba-aba Arsya langsung memeluk sahabatnya. Guna menenangkan hatinya yang sedang merasakan ketakutan. Jiwa sosial keturunan Erlangga dan Ridwan sedang mengalir didalam tubuhnya.


"Tenanglah! Dia pasti akan baik-baik saja," Jeni balas memeluk. Meskipun di dalam hatinya terasa ingin tertawa melihat Arsya. Padahal sudah jelas mereka tidak mengenal laki-laki tersebut.


Saat mereka berdua masih berpelukan, pintu ruangan UGD pun terbuka cukup lebar. Salah satu dokter keluar dengan wajah cemasnya mendekati mereka berdua.


"Dokter," seru Arsya dan Jeni secara bersamaan.

__ADS_1


"Heum, soryy are you the patient's family?" tanya si dokter. Sebab antar Arsya dan Jeni tidak mirip dengan orang yang sedang mereka tolong. saat ini mereka membutuhkan keluarga pasien.


"Not a Dokter we don't know him. di something bad happen to him?" jawab Arsya dan balik bertanya.


"Yes, exactly," si dokter tersebut berhenti sesaat lalu kembali bicara lagi. "Please you contact his family, i wiil come back in," setelah itu dokter laki-laki itu kembali masuk kedalam ruang UGD. Entah apa yang terjadi sehingga dokter meminta agar Arsya dan Jeni segera menghubungi keluarga orang yang mereka tolong.


"Ar, gimana ini, kita harus menghubungi siapa?" tanya Jeni yang tangannya sudah ditarik oleh Arsya keluar dari rumah sakit.


"Kita mau kemana?" seru Jeni kaget ditarik tiba-tiba.


"Sudah diam saja, ikut saja dengan ku," jawab si tampan tetap berjalan.


"Arsya, jangan bilang kita mau kabur dan ninggalin orang itu di sini. Jika niat mau nolong jangan setengah-setengah." ucap gadis itu menahan pergelangan tangannya yang ditarik


Platak!


"Auuh! Kamu melakukan KDBT pada ku, Ar,"Jeni mengaduh kesakitan karena Arsya menyentil keningnya.


"KDBT? Apaan itu?" tanya Arsya bingung sambil berpikir keras kata singkat dari KDBT. Sampai satu alisnya terangkat keatas.


"Sebagai juara umum dari SD, Arsya merasa benar-benar bodoh bila tidak tahu arti singkatan KDBT. Makanya dia berusaha untuk berpikir sendiri.


"Huh!" pemuda itu menghela nafas panjang. Lalu diapun berkata. "Aku menyerah, sekarang bukan waktunya untuk berpikir. Ada orang yang lagi membutuhkan bantuan kita," si tampan akhirnya mengalah.


"Jadi kamu tidak tahu artinya?" Jeni tersenyum sumringah. Ketahuilah mereka berdua memang sudah sering main tebak-tebakan. Akan tetapi Jeni selalu kalah, karena Arsya sangat pintar. Selalu bisa menjawab pertanyaan yang di sodorkan padanya.


"Iya, aku menyerah. Anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan mu,"


"Ha... ha... akhirnya aku menang juga, ini hari keberuntunganku atau bukan, yang jelas aku berhasil mengalahkanmu. Wahai calon pewaris Erlangga grup," ucap gadis itu semakin tersenyum.


"Sudah, ayo cepat katakan. Jika tidak aku tidak akan bisa berpikir dengan benar," desak Arsya tidak sabar.


"Baiklah, baiklah! KDBT adalah... kekerasan dalam berteman," ucapan Jeni membuat Arsya yang lagi khawatir pada orang yang mereka tolong menjadi ikut tertawa. Sahabatnya itu sangat pandai membuat lelucon.


"Agh, semudah itu," Arsya mengelengkan kepalanya dan kembali menarik tangan Jeni menuju lobby rumah sakit. Untuk mengecek mobil pria yang mereka tolong. Mana tahu ada barang pribadi miliknya yang bisa membantu menghubungi keluarganya.

__ADS_1


"Arsya, apa kita akan memeriksa barang milik orang lain?" tanya Jeni ragu setelah Arsya menjelaskan apa tujuan mereka keluar.


"Tentu saja, jika tidak seperti ini dari mana kita mengetahui siapa keluarganya," jawab Arsya membuka mobil milik orang yang saat ini sedang terbaring tidak berdaya. Namun, baru saja dia akan mengeledah mencari tahu. Malah terdengar suara ponsel berdering cukup nyaring. Lalu Jeni melihat dan memegang benda pipih tersebut.


"Ar, ada yang menelepon, kita angkat atau bagaimana?" Jeni memperlihatkan pada Arsya.


"Sini biar aku angkat, kita bisa bilang pada orang yang menelpon agar segera menghubungi keluarnya," kata Arsya menerima ponsel dari tangan Jeni dan langsung menerima panggilan tersebut.


📱 Arsya : "Hallo, ini siapa? Bisa tolong hubungi keluarga pemilik ponsel ini," sapa Arsya begitu tersambung.


📱... "Iya, apakah kamu bukan Ziko? Apa yang terjadi padanya?" seru dari seberang sana.


📱 Arsya : "Aurel, kamu mengenal orang ini?" tanya Arsya langsung mengenal suara dari si penelepon.


📱... "Ka--kamu mengenal ku?" bukannya menjawab, tapi gadis tersebut kembali bertanya.


📱 Arsya : "Aurel, jika kamu mengenalnya. Tolong hubungi keluarga orang ini. Sekarang dia lagi berada dalam ruang UGD jika belum dipindahkan. Kami berada di rumah sakit Ixxs." jelas Arsya langsung memutuskan sambungan mereka. Aura wajahnya langsung berubah setelah mengigat jika waktu itu Aurel juga menyebutkan nama tunangannya adalah Ziko.


Meskipun entah Ziko yang mana. Namun, dari suara khawatir Aurel, pemuda itu bisa menduganya.


...BERSAMBUNG......


.


.


.


Assalamualaikum Kakak Raeder ku semuanya. Mohon maaf ya, beberapa hari ini Mak jarang update, karena lagi ada urusan RL. Mohon di maklumi.🙏🙏🙏 Terima kasih Mak Author ucapkan, karena kalian masih setia membaca karya receh Mak Author. Sayang dan peluk jauh buat Kalian semuanya.😘😘😘😘😘


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya.


Like.


Vote.

__ADS_1


Komentar.


Hadiah kopi, bunga dan bintang Lima nya.🥰🥰🥰


__ADS_2