
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Ar, kamu kenapa buru-buru seperti ini? Ziko baru saja sadar dan tindakan kamu sangat terlihat seperti anak kecil," ucap Jeni setelah mereka kembali masuk kedalam mobil Arsya.
"Aku... tidak apa-apa, hanya saja rasanya aku belum bisa untuk melupakan semuanya dan menganggap Aurel seakan tidak ada di sana," jawab Arsya jujur dan mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju pusat perbelanjaan seperti niat awalnya ingin menyuruh Jeni membantu dirinya berbelanja.
"Baiklah! Aku mengerti, mungkin bagiku biasa saja. Tapi tidak dengan dirimu, kamu yang merasakannya." gadis itu mengangguk dan tidak bertanya lagi. Agar Arsya bisa melupakan kesedihannya walaupun hanya sesaat.
Berbeda dengan di dalam rumah sakit. Setelah kepergian Arsya dan Jeni, Aurel akhirnya tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan. Dia benar-benar merasakan sakit teramat sakit harus melihat wajah kecewa Arsya.
"Aurel, kamu kenap, Nak?" tanya istri Tuan Pradipto mendekati Aurel yang terisak sedih di belakang tubuhnya.
"Tentu saja gara-gara Arsya, iya kan, Rel?" jawab Ziko menatap Aurel dengan tatapan tidak terbaca.
"Aurel, apa benar gara-gara pemuda tadi?" tanya wanita tersebut dengan suara lembutnya. Lalu dia menatap kearah suaminya yang hanya diam sambil memalingkan muka kearah samping. Sebab tidak ingin bertengkar karena hal yang sama lagi.
__ADS_1
"Apa Papa sudah puas membuat Aurel dan Ziko tersakiti? Apa ini yang namanya sayang? Apa Papa mau mereka tersiksa karena perjodohan ini?" sejumlah pertanyaan beruntun langsung ditujukan pada Tuan Paradipto.
"Ma, apa yang Papa lakukan demi putra ki---'
"Coba Papa lihat degan mata yang terbuka, apakah mereka bahagia. Apakah keadaan Ziko akan baik-baik saja?" sela wanita itu lagi dengan emosi. Sebab yang bersikeras mau menjodohkan Aurel dengan Ziko adalah Tuan Pradipto karena putranya memiliki kelainan pada darahnya.
"Tante, sudah! Tolong maafk---"
"Aurel diam lah! Om harus tahu bahwa kamu dan Ziko tidak seharusnya menikah." sudah terlanjur marah ternyata membuat mamanya Ziko marah tidak bisa dibujuk lagi.
"Ma, jangan bikin keributan. Ini rumah sakit," kata lelaki paruh baya itu menenangkan sang istri.
"Tapi Ziko, kamu---"
"Papa tenang saja, jika memang ada yang mencintai Ziko apa adanya. Maka pasti akan datang sendiri, tanpa harus menyakiti Arsya dan Aurel," sela Ziko tersenyum kecil.
Jauh di lubuk hatinya paling dalam memang hanya menganggap Aurel sebagai adik, tidak lebih. Dia menerima perjodohan tersebut hanya karena kasihan pada ayah dan ibunya yang takut sewaktu-waktu dia meninggal dan tidak memiliki keturunan lagi.
"Benar katamu, Nak. Jika sudah berjodoh, pasti akan ada gadis yang mau menjadi istrimu," ujar wanita itu lagi membenarkan perkataan anaknya.
__ADS_1
"Ma, Ziko sakit jadi---"
"Justru karena dia sakit, jangan kita sakiti lagi hatinya. Biarkan Ziko memilih jalan hidupnya sendiri, Pa. Sekarang ayo kita keluar, biarkan mereka menyelesaikan masalah ini sekarang," tanpa persetujuan suaminya. Wanita itu langsung menarik tangan Tuan Pradipto untuk meninggalkan Ziko dan Aurel.
"Ziko," lirih Aurel setelah hanya tinggal mereka berdua. Dia merasa bersalah sudah menyebabkan pertengkaran antara keluarga pemuda itu.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ziko menyugikkan senyum kecil. "Aurel, kemarilah!" titahnya disertai gerakan tangannya agar Aurel mendekat.
Meskipun ragu dan takut, tentu saja Aurel mendekati calon suaminya. Namun, dia hanya diam tidak berani bertanya apapun.
"Bawa sini tangan kirimu," lanjut pemuda itu yang sudah kembali duduk seperti orang sehat. Dia memang sering drob secara tiba-tiba. Jadi sudah tidak aneh lagi dengan keadaannya. Tidak membantah, Aurel pun mengulurkan tangan kirinya. Akan tetapi setelah itu Aurel begitu kaget karena Ziko melepas cincin pertunangan mereka.
"Zi--Ziko, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak boleh membatalkan pernikahan kita," seru gadis itu.
"Aurel, aku tidak ingin kita menikah karena aku juga tidak mencintaimu. Jadi maukah kamu menjadi adikku saja?" tanya Ziko ikut melepas cincin yang dia pakai.
Mendengar hal tersebut, Aurel tidak menjawabnya. Namun, dia langsung memeluk Ziko dan kembali lagi menangis.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1