
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Princess!" seru Ara begitu melihat kedatangan sahabat baiknya. Dia sudah datang lebih awal dari Salsa karena tidak ingin terkena macet di jalan. Para muda-mudi malam ini dari berbagai sekolah ternama dan universitas ikut menyaksikan pertandingan bergengsi Antar ibu kota dan juga SMK Erlangga. Sekolah yang bertaraf internasional.
"Hai... hai.. Ara sayang ku! Tumben banget datang paling duluan," Salsa yang gemas menarik kedua pipi sahabatnya.
"Kan gue sudah bilang, mau berangkat bareng Kak Denis," jawab Ara tersenyum bahagia, karena sekarang dia sudah berpacaran dengan Denis gara-gara pertemuan tidak sengaja waktu itu.
"Cie, Cie! Yang sudah punya pacar?" Salsa ikut tertawa menggoda Ara.
"Kan Lo juga sudah jadian sama Kak Farel," Ara balas menggoda, karena semenjak Salsa dan Farel sering pergi dan pulang sekolah bersama. Anak-anak SMK Erlangga mengira mereka berdua sudah pacaran.
"Siapa yang bilang kita pacaran? Gue sama Kak Farel belum jadian, ya." jawab Salsa yang saat ini sudah duduk di samping Ara. Mereka berdua menempati bangku barisan nomor tiga seperti biasanya.
"Iya belum, tapi sudah hampir, 'kan!" ujar Ara begitu senang membuat Salsa susah menjawab setiap pertanyaan darinya.
"Mending diiyain aja, biar kelar masalahnya," imbuh si Princess melambaikan tangannya pada Arsya dan juga Farel yang kebetulan tersenyum kearah dia dan Ara. Sebab waktu untuk pertandingan masih ada dua puluh menit kurang lebih.
Mereka harus menunggu anak-anak dari luar kota yang masih dalam perjalanan, menuju tempat acara diadakan.
Hal tersebut tentu mengundang kehebohan dari siswa-siswi yang melihat kelakuan Farel . Termasuk Kenzo dan para sahabatnya.
Cuiit!
Cuiit!
"Farel sudah mulai berani ni," teriak anak-anak SMK.
"Wah enak banget ya, bisa bermain dengan calon ipar." ada juga yang berkata seperti itu.
"Nggak nyangka gue, kalau Farel pemenang nya," berhubungan para pemain belum memasuki lapangan. Penonton yang merupakan adalah pelajar semuanya, sibuk membicarakan Salsa dan Farel.
Apalagi ketika Salsa melambaikan tangannya meskipun bukan buat Farel saja, karena ada kakak kesayangannya. Tetap saja mereka mengira lambaian tangan tersebut buat Farel. Sebab pemuda itu selain tersenyum dia juga membentuk jari tangannya seperti lambang Love you.
"Farel selain tampan juga keren, woi," puji mereka yang menjadi fans Salsa dan juga Farel.
Praak!
Tanpa sadar Kenzo meremas botol air minum yang ia pegang sampai pecah, karena dia mengunakan tenaga dalamnya. Sehingga Kenzo pun menjadi sorotan para sahabatnya dan juga Mia.
"Kenzo, Elo kenapa?" tanya mereka serempak.
"Gue nggak kenapa-kenapa," jawabnya singkat dan cuek.
"Ken," ujar Mia menggenggam tangan Kenzo. Namun, baru saja tangannya mendarat, Kenzo sudah menepisnya kasar.
"Gue mau ke ruang ganti," ucap Kenzo karena dia memang belum menganti kostumnya. Pada putaran pertama, Tim Kenzo akan bermain di babak kedua. Nanti babak keduanya baru mereka memasuki lapangan dan kembali berhadapan dengan Tim Arsya.
"Kenzo, Kenzo!" panggil Mia yang tidak dihiraukan oleh empunya.
"Tuh anak kenapa sih, perasaan dari luar tadi dia bawaannya seperti orang lagi cemburu gitu," kata Hengki menatap kepergian Kenzo yang tidak seperti biasanya.
"Mungkin dia cemburu melihat kedekatan Princess sama Farel," imbuh Eel yang merasa Kenzo berubah seperti itu setelah kedatangan Salsa dan Farel.
"Cemburu? Sepertinya nggak mungkin lah, memangnya dia pacarnya princess. Kenal juga enggak sama si cantik," sahut Yogi karena mereka lagi berkumpul di tempat Tim nya.
"Tapi kenapa dia seperti lagi cemburu berat? Gue lihat juga sejak tadi matanya melihat princess terus," tanya Eel masih menduga-duga.
"Bukannya pacar Kenzo si Bila? Eh, tunggu-tunggu! Kenapa cewek Kenzo nggak datang? Atau jangan-jangan dia marah karena ceweknya nggak datang," tebak Andra juga merasa keanehan pada sikap Kenzo.
"Nah, itu baru betul. Kenzo uring-uringan gara- Bila nggak nonton pertandingan nya," seru Yogi merasa tebakannya paling benar. Padahal Kenzo seperti itu karena cemburu melihat istrinya malah tersenyum ke arah pria lain. Sedangkan pada dirinya malah membuang muka.
"Brengsek!" Kenzo mengumpat kasar begitu masuk ke ruang ganti.
"Salsa!" mengeram kesal. Jika pertandingan malam ini tidak penting. Maka Kenzo akan menarik tangan Salsa pulang dari sana. "Elo sengaja kan ingin membuat gue marah," ucapnya seraya menelepon Salsa, karena dia ingin bicara.
__ADS_1
Ttttddd!
Tttttddd!
Berulangkali dia menelepon, tapi Salsa tidak mengangkat panggilan darinya. "Sa, ayo angkat," berbicara melihat layar ponsel.
Kleeek!
Saat Kenzo masih berusaha menelepon Salsa. Farel laki-laki yang sudah membuat dia cemburu membuka pintu ruangan tersebut, karena dia ingin mengganti bajunya juga.
"Kebetulan sekali Elo datang ke sini," ujar Kenzo menyimpan ponselnya kembali. Lalu dia berjalan mendekati Farel yang menyergit sampai satu alisnya terangkat ke atas. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh rivalnya itu.
Meskipun dia sudah tahu Kenzo mantan pacar Salsa. Ada urusan apa juga dengan dirinya. Itulah yang Farel pikirkan.
"Ada apa? Gue nggak punya urusan sama Elo," jawab Farel sambil membuka kaosnya.
"Jelas ada urusannya, karena Elo sudah berani deketin Salsa," Kenzo tidak berbasa-basi lagi. Dia langsung tutup poin pada inti permasalahannya saja.
"Memangnya kenapa kalau gue deketin Salsa? Arsya kakaknya aja nggak ngelarang gue," Farel menjawab santai dan melihat pantulan dirinya dari cerminan besar yang ada dihadapan mereka berdua.
"Farel, gue ngomong serius, Elo jauhi Salsa atau gue akan patahkan tangan Elo di lapangan?" hardik Kenzo yang amarahnya tengah meluap-luap.
"Gue juga serius, gue nggak akan mau menjauhi Salsa hanya karena permintaan orang yang bukan siapa-siapanya." kata Farel sudah selesai dan akan bersiap keluar dari sana. Namun, pergelangan tangannya di cekal oleh Kenzo lalu tangan Kenzo yang satunya lagi mencengkram kuat kaos Farel.
"Gue peringatkan, jauhi Salsa atau Elo berurusan sama gue." ancam Kenzo yang tangannya langsung ditepis oleh Farel. Pemuda yang masih seumuran dengan Salsa itu melawan balik, menarik kaos Kenzo.
"Apa hak Elo melarang gue dekat sama princess. Hanya mantan pacar aja bangga." cibir Farel mengejek.
"Ck, Elo tahu apa tentang gue sama Salsa. Jika Elo nggak tahu, cukup jauhi dia. Jangan sampai gue berbuat kasar sama Elo," decak Kenzo semakin kesal.
"Sorry gue nggak bisa, Salsa terlalu berharga bila di tukar dengan ancaman murahan dari Elo." jawab Farel tersenyum miring.
Bug!
Bug!
"Sampai kapanpun gue nggak akan menjauhi Salsa, dan Elo apa-apaan sih, bukannya sudah punya cewek, kenapa malah melarang cowok lain yang mau mendekati princess? Jangan egois Lo jadi laki-laki. Wanita itu butuh bukti bukan janji," ucap Farel menyeka pinggir bibir yang mengeluarkan darah segar. Bukan hanya dia, tapi bibir Kenzo juga mengeluarkan darah.
Tadi Kenzo yang memukul Farel lebih dulu, tepat di pinggir bibir bawah Farel. Alhasil diapun juga terkena pukulan di bagian yang sama. Sebab Farel sengaja melakukannya.
"Kita lihat, tangan siapa yang akan patah. Gue atau tangan Elo," setelah mengatakan hal tersebut. Farel mendorong tubuh Kenzo agar menjauhi dirinya, karena dia langsung pergi dari sana.
"Agak! Brengsek! Berani banget anak kecil sepertinya mengancam gue." seru Kenzo menendang angin ke udara.
Setelah itu dia pun keluar dari ruang ganti. Di dalam hatinya benar-benar sangat marah pada Farel yang tidak mau menuruti permintaan nya buat menjauhi Salsa.
Pruiiit
Suara peluit yang di tiup kan oleh wasit. Sebagai tanda permainan akan segera di mulai.
Tim Arsya dengan gagahnya mulai berlari dan menyerang. Sejauh ini belum ada yang menang. Namun, Bola basket selalu berada di pihak Arsya. Farel yang biasanya bermain masih jauh di bawah Arsya. Malam ini terlihat sangat baik.
"Farel malam ini mainnya bagus banget ya?" kata Andra yang menjadi penonton.
"Gimana nggak bagus, si princess terus menyemangati dia." sahut Hengki.
Saat mereka masih memuji kehebatan Farel. Pemuda itupun sudah memasukan bola ke dalam ring Basket. Setelah itu dia berjalan di pinggir lapangan dan tersenyum tampan kearah gadis yang dia sukai.
"Kak Farel, ayo semagat!" teriak Salsa dengan gerakan tangannya ke atas.
"Wah, wah! Nampaknya Farel semakin semangat," ujar para penonton dar Universitas Bima sakti.
"Gue juga kalau ada penyemangat seperti princess juga akan berusaha untuk menang," para sahabat Kenzo terus saja memuji Farel dan tanpa mereka sadari jika Kenzo benar-benar terbakar emosi mendengarnya.
"Kenzo, Elo mau kemana?" tanya Mia yang langsung pergi mengikuti Kenzo. Sejak tadi gadis itu tidak menonton, dia hanya memperhatikan gerak-gerik Farel.
"Eh Mia, kalian mau kemana?" cegah Eel melihat kepergian Kenzo dan Mia.
__ADS_1
"Sudah biarin aja, gue yakin Kenzo lagi ada masalah sama ceweknya," kata Andra menyuruh Eel untuk kembali duduk.
"Tapi Dra...ah yasudah lah, lagian giliran kita main masih lama," kata Eel akhirnya duduk dengan pikiran lagi menebak-nebak apa sebenarnya yang membuat Kenzo bisa seperti saat ini. Mereka ingin bertanya perihal bibir Kenzo yang terlihat memerah. Namun, karena waktunya tidak tepat, akhirnya memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Sementara itu Salsa yang melihat Kenzo dan Mia pergi bersama hanya tersenyum di sudut bibirnya. Ia berulangkali menarik nafas dalam-dalam dan dia hembuskan dengan pelan. Guna menguatkan hatinya yang sudah terlanjur disakiti oleh Kenzo.
"Gue bisa, gue pasti bisa melewati ini semua. Hanya beberapa bulan lagi, gue harus kuat."
Gumamnya kembali lagi menyemangati Farel dan juga kakak kesayangannya.
"Sa, Elo kenapa? Kok mukanya sedih banget?" tanya Ara melihat Salsa cuma diam tidak seperti tadi sibuk menyemangati Arsya dan Farel.
"Gue lagi kangen Ale sama Aditya, biasanya mereka berdua selalu nemenin kemana kami pergi," jawab Salsa jujur, karena dia juga lagi bersedih karena kedua adik angkatnya tidak ikut menonton.
"Sabar, bukannya besok mereka sudah pulang," Ara mengelus bahu sahabatnya. Dia memang sudah tahu jika Ale dan Aditya pergi ke luar kota bersama orang tua mereka.
"Iya, Elo benar." Salsa sudah tersenyum lagi, dan mulai memberikan semangat untuk Tim kakaknya.
Sementara itu, di luar gedung Kenzo berjalan ke Taman yang ada di sekitar tempat tersebut. Sebab memang sengaja di buat agar para pemain bisa bersantai sampai menunggu giliran mereka tiba. Contohnya seperti Kenzo saat ini. Di sekitar tempat tersebut juga ramai penjual makanan dari berbagai macam parian rasa dan jenisnya.
Selain menikmati pemandangan Taman, mereka juga bisa menikmati kuliner yang bisa mengganjal perut yang lapar.
"Ken, Kenzo!" teriak Mia mulai kesal karena Kenzo mengabaikan panggilan darinya.
"Apa sih, Mi, ngapain Elo malah mengikuti gue, kenapa nggak nonton sana," sahut Kenzo yang sudah duduk di bangku Taman.
"Seharusnya yang nanya itu gue, kenapa Elo uring-uringan seperti ini? Ada apa, cerita dong sama gue." kata Mia ikut duduk disebelah Kenzo. Dulu awal-awal mereka bisa berteman juga seperti itu, Kenzo selalu sendiri apabila sudah menjahili teman-temannya.
Satu-satunya yang mau berteman dengannya hanya Mia, karena gadis itu keras kepala. Meskipun sudah diusir oleh Kenzo, Mia tetap bertahan ditempatnya.
"Ada apa? Ayo cerita," Mia kembali bertanya karena Kenzo malah menunduk sambil mengusap wajahnya kasar.
"Gue baik-baik aja, pergilah gue lagi pengen sendiri." kata Kenzo mengusir agar Mia pergi dari sana.
"Ken, ayo cerita sebetulnya Elo ada masalah apa? Gue tahu pasti ada sesuatu, kita sudah berteman sejak kecil." imbuh Mia tidak mau menyerah.
"Ck, terserah Elo deh," decak Kenzo membiarkan Mia di sana. Namun, dia tetap tidak bicara apa-apa. Entah apa yang sedang dia pikirkan, yang jelas semua itu ada hubungannya dengan Salsa.
"Ken, apa Elo cemburu sama gadis SMK yang selalu di bilang Hengki dan yang lainnya?" tebak Mia berhati-hati takut jika Kenzo marah. Dia bertanya seperti itu karena sewaktu di dalam mata Kenzo terus mencuri-curi pandang kearah Salsa.
"Lo ngomong apa sih, gue mana mungkin cemburu sama cewek yang nggak gue kenal," elak Kenzo dengan jantung berdegup kencang, karena dia tidak menyangka Mia sahabatnya bisa berpikiran seperti itu.
"Tapi dia cantik banget, masa sih Elo nggak tertarik sama princess seperti itu? Elo normal, 'kan?" tanya Mia memastikan, dia ragu jika Kenzo tidak suka pada gadis secantik Salsa. Meskipun Mia belum melihat muka asli Bila, gadis yang Kenzo kenalkan sebagai pacarnya.Tapi Mia melihat jika ada kesamaan pada Salsa dan Bila yang ia kenal.
Satu-satunya yang membuat dia kurang yakin adalah, Bila pacar Kenzo sekolah SMA, bukan SMK seperti Salsa.
"Ya normal lah, menurut gue cantik itu bonus, Gue lebih suka cewek sederhana," jawab Kenzo tidak mengakui. Tapi cewek sederhana yang dia maksud adalah seperti Salsa istrinya.
Gadis yang saat ini berdiri di hadapan Kenzo dan Mia, karena dia ingin membeli sesuatu. Sebab pertandingan babak pertama telah usai, semua pemain memiliki waktu istirahat, sebelum kembali dilanjutkan babak kedua.
"Mia," seru Kenzo kaget karena tiba-tiba Mia memeluk tubuhnya. Saat ini Kenzo belum menyadari kalau ada Salsa disana.
"Ken, biarin gue meluk Elo sebentar aja, gue lagi kangen orang tua gue," jawab Mia yang sengaja melakukan hal tersebut karena dia melihat kedatangan Salsa dan satu gadis bersamanya.
Mia hanya ingin memamerkan pada cewek secantik Salsa. Bahwa ia memiliki kekasih setampan Kenzo. Tanpa Mia ketahui jika Salsa adalah istri sah pria yang dia peluk.
"Elo kenapa jadi seperti anak kecil sih," Kenzo yang jarang sekali mendapati sifat manja Mia tentunya menjadi tersenyum. Sebelum dia mendengar panggilan yang tidak asing di telingga nya, lalu dia menoleh ke samping dengan posisi masih berpelukan dengan Mia.
Deg!
"Salsa... sial! Kenapa bisa ke geep gini, sih,"
Umpat Kenzo di dalam hatinya. Dia langsung menegang karena Salsa melihat ia lagi berpelukan dengan Mia sahabatnya. Kalau sudah seperti ini tentunya Salsa akan semakin marah padanya.
"Princess, Elo mau beli makanan yang mana?" Ara menyenggol lengan Salsa untuk kesekian kalinya.
"Agh, iya Ra," seru Salsa cepat-cepat membalikan tubuhnya kearah penjual. Tadi dia tidak sengaja melihat Kenzo dan Mia.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1