
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kenzo, tolong jangan seperti ini," ucap Eel yang begitu merasa bersalah pada Kenzo maupun pada para sahabatnya. Semua ini karena dia yang asal bicara. Sehingga Kenzo mengetahui rahasia yang mereka simpan sebaik mungkin. Namun, sore ini semuanya sudah berakhir. Mereka bukan hanya tidak bisa mengikuti pertandingan bergengsi antar ibu kota. Akan tetapi sahabat baik mereka yang menjadi Kapten Basket selama dua tahun ini, mengundurkan diri. Bagaikan sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.
"Maaf, gue nggak bisa," jawab Kenzo dengan suara sendu. Bohong bila dia tidak sedih dan terpukul dengan keputusan dirinya. Namun, Kenzo harus melakukan semuanya. Bukan demi menjaga persahabatan mereka saja. Akan tetapi untuk menjaga hubungan antara dia bersama istrinya. Kenzo akan hidup berumah tangga bersama Salsa bukan untuk satu Minggu ataupun satu bulan. Suatu saat pasti Salsa akan mengetahui hal tersebut dan akan kecewa pada dirinya. Kenzo sudah berjanji pada sang istri, bahwa tidak akan mengecewakan princess lagi.
Bila dia jujur sekarang dan menjelaskan semuanya pada Salsa. Pasti akan menjadi masalah juga, karena Kenzo masih menjadi Kapten dari Timnya. Maka dari itu Kenzo mengambil keputusan tersebut. Meskipun mengecewakan sahabat dan juga dirinya sendiri. Merasa tidak berguna sebagai Kapten, sehingga para Timnya berbuat curang.
"Ken, gue mohon, jangan keluar. Biar gue aja yang meninggalkan Tim kita dan gue akan meminta maaf sama Arsya, karena semua ini murni kesalahan gue," kata Andra kembali memohon.
"Andra, ini bukan salah Elo sendiri. Tapi kita semua salah. Seharusnya kami nasehatin Elo, karena kita semua tahu bahwa bermain curang itu salah. Tapi apa, gue dan yang lainnya langsung setuju. Tidak seperti Kenzo yang selalu menantang bila kita melakukan kesalahan," ujar Yogi tidak ingin Andra keluar dari Tim mereka. Benar-benar pilihan yang sulit. Baik Kenzo maupun Andra semuanya sahabat mereka.
Ceklek!
Disaat mereka sedang berdebat. Pintu kamar tempat Ayla menemani putrinya yang istirahat, terbuka sedikit. Ayla keluar setelah Salsa tidur dan mendengar jika perdebatan menantunya semakin panjang.
"Ma, Salsa mana?" tanya Kenzo sengaja mengalihkan pembicaraan. Sebab dia tidak ingin ibu mertuanya mengetahui masalah mereka. Begitupula dengan sahabatnya yang lain.
"Salsa lagi tidur, sepertinya dia sangat kelelahan." jawab Ayla berjalan kearah sofa kosong lalu duduk dihadapan mereka semua.
"Ini kenapa makanan dan minumannya hanya dilihat saja? Tante tadi sengaja membelinya karena tahu jika sahabat anak Tante akan datang kesini," ucap Ayla menatap mereka satu persatu. Muka anak-anak muda itu terlihat sangat gelisah, karena masalah mereka dengan Kenzo belum selesai. Namun, Ayla sudah keluar dari kamar.
"Terima kasih Tante, maaf kami jadi merepotkan," jawab mereka serempak.
"Sudah tidak apa-apa, sekarang ayo dimakan makanannya dan sambil nikmati minumannya juga, karena untuk berdebat kalian butuh tenaga, 'kan." cibir Ayla merasa gemas dengan semuanya.
"Ma--maksudnya, Tan?" tanya Eel tergagap, karena takut bila wanita paruh baya itu mendengar percakapan mereka yang pernah ingin mencelakai Arsya.
"Maksudnya, kalian lagi membahas masalah siapa yang akan menjadi Kapten Basket, 'kan?" jawab Ayla langsung saja menjelaskan.
"Ma, a--apakah Mama mendengarnya?" Kenzo ikut tergagap. Ketahuilah jika saat ini jantung mereka semua berdegup cukup kencang, termasuk Kenzo sendiri.
"Tentu saja mendengar semuanya, kalian berdebat cukup lama, jadi mana mungkin Mama tidak mendengarnya," rasanya Ayla ingin tertawa terbahak-bahak melihat muka menantunya yang nampak gelisah. "Jangan heran, kamarnya tidak kedap suara. Jadi Mama bisa mendengar percakapan kalian," jawab ibu muda itu tersenyum.
"Ta--tan, Saya---"
Kleeek!
Suara pintu ruangan tersebut terbuka lebar. Ternyata yang masuk adalah Rian dan Arsya putranya.
Deg!
"Mati gue, nyokap nya Arsya pasti akan ngomong sama bokap nya,"
Gumam mereka didalam hatinya masing-masing. Tidak tahu saja jika Ayla telah mengirimkan pesan pada Rian agar segar datang.
"Pa," ucap Ayla kembali tersenyum manis kearah suami tampannya.
"Kenapa sayang? Katanya ada masalah, masalah apa?" tanya Rian duduk disebelah Kenzo yang kebetulan kosong. Sebab ingin duduk disamping sang istri. Sudah keduluan oleh putranya yang suka sekali mencari gara-gara.
"Ini, Mama dengar Kenzo akan berhenti dari Timnya," papar Ayla membuat mereka sport jantung secara berjamaah.
"Kenapa, Nak? Apa kamu tidak mau Papa suruh istirahat selama satu tahun?" tanya Rian dengan suara tenang. Dia memang belum mengetahui bahwa Kenzo, lagi ada masalah dengan sahabatnya. Tadi Ayla hanya mengirim pesan, dia disuruh masuk kedalam kamar perawatan tempat menantunya dirawat.
"Bukan Pa, tapi... ada hal lain yang membuat Kenzo ingin berhenti. Lagian sekarang pekerjaan di perusahaan juga semakin banyak. Kenzo takut tidak bisa membagi waktunya," jawab Kenzo mencoba mencari alasan lain, agar sahabatnya tetap aman.
__ADS_1
"Ken, jika masalahnya adalah perusahaan, Elo nggak usah berhenti. Tinggal bilang ke Om Aldi, semua masalahnya akan beres," sahut Arsya tidak setuju juga adik iparnya berhenti total.
"Iya, tapi---"
"Ini semua karena kesalahan Saya, Om. Setelah mengetahui jika kami pernah ingin bermain curang tanpa sepengetahuan dia. Makanya Kenzo ingin mengundurkan dirinya dari Tim," sela Andra dengan berani mengakui kesalahannya.
"Apa benar begitu, Nak?" Rian menoleh kearah menantunya.
"Eum... itu, itu Pa, Ken---"
"Iya Pa, kerena masalah teman-temannya pernah ingin bermain curang sama kakak," sela Ayla tidak sabaran menunggu menantunya menjawab.
"Bermain curang sama kakak, Ma?" seru Arsya.
"Iya, jadi adikmu ingin mengundurkan diri dari Timnya karena merasa kecewa sama teman-temannya. Coba Kakak sama Papa tanyakan pada mereka semua," kata Ayla benar-benar membuat mereka bagaikan es batu yang disiram oleh air panas.
"Iya Ar, Tante benar, semua ini karena gue yang ngajak mereka melakukannya. Gue yang salah, bukan mereka," jawab Andra sudah pasrah apapun yang terjadi. Berani berbuat, maka ia harus berani untuk tangung jawab.
"Bukannya kalian tidak berhasil ya?" tanya Rian pada Andra.
"Kok Papa tahu? Jangan bilang cecuguk-cecuguk Papa yang menggagalkan nya?" Ayla menatap suaminya penuh selidik. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum seraya menarik Kenzo kedalam pelukannya.
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan mereka," laki-laki paruh baya tersebut tersenyum kearah sang istri yang mengelengkan kepala, karena Rian tidak ada menceraikan pada dirinya.
"Sudahlah, jangan berhenti dari Tim Basket. Perjuanganmu untuk sampai ke titik ini sangatlah panjang," kata Rian lagi mengelus punggung Kenzo seperti pada putranya sendiri.
"Papa tidak mungkin juga melarang kamu selama satu tahun. Setelah keadaanmu pulih, kita akan pergi ke luar negeri untuk menemui dokter yang merupakan sahabat Papa. Katanya, dia bisa membuat luka bekas operasi sembuh lebih cepat. Tadi Om Aldi sudah menghubungi beliau," papar Rian yang mengetahui ketakutan menantunya.
"A--apakah Papa tidak masalah de---"
"Tentu saja tidak, semuanya sudah terjadi. Lagian kakak juga tidak apa-apa, yang penting untuk kedepannya kalian semua harus berpikir lebih dulu, sebelum melakukan sesuatu," sela laki-laki paruh baya itu lagi sambil melepas pelukannya. Namun, sebelum benar-benar terlepas, Kenzo sudah memeluk ayah mertuanya cukup erat.
"Papa terima kasih, Kenzo berjanji akan menjadi menantu yang lebih baik lagi," ucap Kenzo yang membuat ia diejek oleh kakak iparnya.
"Tidak apa-apa, wajar kalau dia takut. Dulu saat Papa masih muda juga takut dipecat oleh kakek Ridwan. Untungnya mertua Papa orangnya baik," jawab Rian juga ikut tertawa. Di masa tuanya Rian hanya ingin anak dan menantunya merasakan kebahagiaan. Bukannya memperbesar masalah sepele, tapi berimbas cukup besar.
"Jadi bagaimana keputusan kalian?" setelah melepaskan pelukan bersama sang menantu, Rian kembali membicarakan masalah pertandingan yang belum juga selesai.
"Kita akan main, jika Kenzo tidak jadi keluar Om, tapi kalau dia mengundurkan diri maka Tim kami juga akan bubar semuanya. Biar adil, karena semua ini kesalahan kami," jawab Hengki mengambil keputusan yang menurutnya tepat.
"Iya benar Om, lebih baik kami membubarkan Tim Universitas Bima Sakti. Daripada Kenzo keluar begitu saja," timpal Yogi, Eel dan juga Andra secara bersamaan.
"Kalian apa-apaan sih, kenapa malah bubar. Gue berhenti karena ada alasannya," seru Kenzo menatap tajam sahabatnya.
"Kenzo tidak akan berhenti, hanya saja dia lagi disuruh istirahat. Sekarang kalian tahu sendiri keadaannya,"
"Maksudnya Om? Kenzo tidak akan mengundurkan diri dari Tim kami, 'kan?" tanya Andra mastikan.
"Tidak, dia akan tetap menjadi Tim kalian. Jika dia menolak, maka ancamannya---"
"Di pecat jadi menantu, iya kan, Pa?" si tampan Arsya kembali menyela.
"Apa! Enak aja," Kenzo menatap kakak iparnya yang malah tertawa, karena dia senang sekali melihat wajah takut Kenzo.
"Kakak," Ayla menarik telinga putranya. Tidak hanya hari ini saja Arsya menggoda iparnya. Tapi saat di rumah pun dia juga seperti itu.
"Kak, kemana tema---"
Kleeek!
__ADS_1
Baru saja Rian hendak bertanya. Tapi para sahabat putranya sudah datang.
"Selamat sore semuanya, selamat sore Om, selamat sore juga Tante cantik," begitu masuk suara Denis dan Dito sudah membuat heboh ruangan tersebut.
"Sore juga, ayo silahkan duduk," titah Ayla menyambut hangat para pemuda itu, yang sudah biasa datang ke rumahnya.
"Princess mana? Kok nggak ada?" tanya Denis melihat di sekeliling mereka tidak adanya Salsa.
"Ada suaminya tuh, tanya aja sendiri," Dito menyenggol lengan Denis karena Kenzo langsung menatap tajam mereka berdua.
"Ha... haaaa... gue males nanya sama Kenzo. Diakan rival kita," tawa Denis diikuti oleh Arsya.
"Sudah, sudah! Kak diam dulu, Papa lagi serius ini," sela Rian karena waktu mereka semakin mepet. Hanya tinggal menghitung jam saja.
"Iya Pa, Kakak diam ini," jawab Arsya diam sambil memeluk lengan sang mama. Dia memang seperti itu, bermanja pada mamanya. Jika Salsa lebih sering ke papa mereka.
"Denis, kalian kenapa hanya bertiga, kemana Farel?" Rian yang tak nampak ada Farel baru bertanya.
"Dia, nggak ikut Om, soalnya keadaan Farel gara-gara pertandingan waktu itu, juga belum stabil. Mamanya belum boleh dia bermain, takutnya kambuh," jawab Denis karena hal itulah mereka lama. Harus ke rumah Farel lebih dulu.
"Oh, yasudah, tidak apa-apa. Jika begitu kalian saja. Kalian sudah tahu kan alasannya kenapa harus bergabung?" laki-laki paruh baya itu kembali bertanya.
"Iya, kami sudah tahu Om, tadi Om Aldi dan Tim penyelenggara sudah menjelaskan pada kami,"
"Sekarang mau bagaimana, kalian akan bergabung dua Tim menjadi satu," jelas Rian menatap mereka menunggu jawaban.
"Iya, kami setuju. Lagian pertandingan ini antar ibu kota. Siapapun yang menang tetap saja kota B yang akan bangga. Apalagi bila kita bersatu, tentu tidak ada masalah apapun," sahut Andra dan diiyakan oleh mereka semua.
"Itu yang Om tunggu jawaban dari kalian. Bermainlah dengan sportif, kalah menang dalam pertandingan itu sudah biasa. Jadi jangan merasa tersaingi bila kalian kalah," nasehatnya sebagai orang tua.
"Huem! Sebagai Ketua Timnya, akan tetap Arsya, kita akan mengikuti dia," Hengki berdehem terlebih dahulu.
"Apa! Kenapa harus gue? Elo ajalah, gue jadi pengiring Bola ke Zone-marking aja," timpal Arsya.
"Wah, tidak bisa. Elo harus menjadi Kapten seperti biasanya. Lagian Kenzo kan adek, Elo, jadi sudah kewajiban seorang kakak buat bertanggung jawab mengantikan dia," ujar Eel membuat yang lain kembali berkata setuju.
"Nah kalau itu gue setuju, sebagai kakak harus bersedia mengantikan adiknya," Kenzo yang sejak tadi diam ikut menimpali.
"Karena masalahnya sudah selesai, ayo kalian minum minuman sama cemilan ini. Soalnya kalian harus bersiap-siap juga untuk mempersiapkan diri masing-masing," ucap Ayla melirik jam pada pergelangan tangannya.
"Iya, Mama benar," jawab Arsya berdiri kearah meja yang ada dalam ruangan itu untuk mengambil kunci mobilnya.
"Kakak mau kemana?" tanya Rian melihat anaknya sudah bersiap-siap.
"Pulang, Pa. Soalnya Arsya mau ke rumah Oma dulu, sepatunya ada di sana,"
"Nggak mau serempak sama mereka?" tanya Ayla melihat yang lainnya lagi duduk.
"Nggak, Kakak duluan, mereka nanti aja biar menyusul. Mama kayak nggak tahu opa sama oma aja. Kalau sudah ke sana pasti tidak boleh pulang jika belum makan," Arsya tersenyum sebelum memberikan ciuman pada sang mama dan mendapatkan pelukan hangat dari papanya.
"Kalian semua duduk aja, gue duluan. Soalnya mau ke rumah utama dulu," pamit Arsya pada sahabatnya dan juga teman-teman Kenzo.
"Ken, jangan banyak bergerak, jaga kesehatan. Kalau terlalu lama di rumah sakit nanti nggak ada yang nemenin Ayah Nando bermain," kata Arsya sambil berlalu keluar dari sana.
"Nak, ayo istirahatlah di tempat tidur, ini nanti dokternya akan marah," titah Ayla juga ikut berdiri untuk memperbaiki ranjang tempat menantunya dirawat.
Kenzo yang sudah lelah duduk yang setengah bersandar akhirnya pindah mengikuti perkataan ibu mertuanya.
"Nggak nyangka gue, ternyata Tuan Rian Erlangga orangnya sehangat ini. Dia sama istrinya sama-sama baik semua. Tidak ada perbedaan dia memperlakukan anak dan menantunya. Ya Tuhan, tolong pertemukan gue, mertua sebaik mereka,"
__ADS_1
Do'a Yogi didalam hatinya, yang memperhatikan saja sejak tadi, seperti apa keluarga Rian memperlakukan Kenzo. Semua sahabat Kenzo benar-benar kagum pada Rian yang memaafkan kesalahan mereka.
...BERSAMBUNG...