
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Saat bibir Kenzo akan menempel di bibir ranum Salsa. Suara ketukan pintu dari luar membuat keduanya tersadar yang hampir saja berciuman. Dengan muka memerah seperti cabe kriting. Salsa berusaha mendorong dada bidang Kenzo yang masih mengurung dirinya di antara dinding.
Tok!
Tok!
Suara pintu kembali lagi di ketuk untuk kesekian kalinya.
"Ken, minggir gue mau lewat!" ucap Salsa yang tangannya malah sial menempel sempurna pada dada suaminya.
"Mau kemana?" malah bertanya padahal sudah jelas Kenzo juga mendengar pintu kamar mereka di ketuk berulang kali.
"Bukain pintu lah, memangnya mau kemana lagi," Salsa sudah kembali pada mode jutek nya.
"Tinggal jawab dari sini, tanya ada apa."
"Lo nggak sopan banget sih, bagaimana jika itu mama." sungut Salsa kesal karena belum juga dibiarkan pergi.
"Bukan, itu pasti bibi Erna. Jam segini, mama nggak akan datang ke kamar kita, karena pasti lagi sibuk sama papa." satu Minggu mereka menikah, ternyata Kenzo sudah tahu banyak tentang keluarga istrinya.
Tok!
Tok!
"Iya Bik!" sahut Salsa asal karena kasihan yang mengetuk pintunya.
"Non, maaf menggangu. Saya di suruh Nyonya untuk memangil Nona, sama tuan muda." jawab Bibi Erna sesuai tebakan Kenzo.
"Oh, iya. Bibik duluan saja. Sebentar lagi kami akan turun," Salsa ikut berteriak. Jika tidak seperti itu, mana mungkin bisa terdengar oleh pelayannya.
Setelah tidak terdengar lagi suara yang mengetuk pintu. Salsa kembali lagi mendorong dada Kenzo agar menjauh darinya. Namun, bukannya menjauh, Kenzo dengan sengaja menarik pinggang Salsa agar benar-benar menempel dengan tubuhnya.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Jantung keduanya sama-sama berdegup cukup kencang. Salsa sampai berulang kali menelan ludahnya sendiri gara-gara menahan agar tidak tersedak liurnya
"Ken, Ken lepas! Kita sudah di tungguin untuk sarapan bersama." kata Salsa memaksakan dirinya untuk berbicara, meskipun lidahnya terasa kelu.
Kenzo tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk menyelipkan anak rambut Salsa. "Nanti kita akan pergi ke Villa kakek, ya." Kenzo berkata lain, tidak mengikuti jalur pembicaraan sang istri.
"Iya, tapi lepas dulu. Kita sudah di tunggu," kata Salsa setuju saja, karena tidak memiliki alasan buat menolak.
Cup!
Sekali sudah mencium kening Salsa tadi malam, ternyata pagi ini Kenzo mengulangi lagi mencium pipi istrinya yang masih memerah dan semakin terasa panas setelah dicium. "Ayo bersiap-siapa, gue tunggu di sofa." sebelum melepaskan kurungan nya, pemuda itu sempat mengelus pipi mulus Salsa sambil menyugikan senyum.
"Ayo siap-siap, kenapa malah bengong," suara Kenzo menyadarkan Salsa dari keterkejutannya atas tindakan suami yang sudah dia cap sebagai Playboy.
Salsa yang merasa malu melewati tubuh Kenzo begitu saja, karena pemuda itu sudah menjauhkan sedikit tubuh mereka. Tiba di depan meja rias, sambil menyisir rambutnya. Diam-diam Salsa meraba pipinya yang di kecup oleh Kenzo. Untung hanya pipi, bukan bibirnya yang masih perawan.
"Sa, kenapa lama? Ayo," Kenzo yang merasa tidak enak pada mertuanya, memangil sang istri.
Padahal apa yang dia lakukan percuma saja, karena Kenzo lebih tahu daripada dirinya. Namun, ia berpura-pura tidak tahu agar sang istri tidak salting. Sambil mengikuti Salsa dari belakang, Kenzo hanya tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya. Dia begitu gemas melihat istrinya salah tingkah.
"Ken, Adek, ayo duduk!" ucap Ayla pada putri dan menantunya. Keduanya hanya mengangguk lalu duduk di tempat masing-masing.
Salsa dengan sigap mengisi piring buat Kenzo dan dirinya sendiri. Sedangkan untuk Arsya kakaknya sudah diisi oleh mamanya.
"Ayo makan, setelah ini ada yang ingin Papa bicarakan pada kakak dan Kenzo." kata Rian sebelum mulai menghabiskan sarapannya. Berhubung hari ini weekend, jadi keluarga mereka bisa sarapan dengan santai.
"Iya, Pa!" jawab Arsya dan Kenzo secara bersamaan. Setelah itu keduanya saling tatap dan membuang pandangan matanya. Lalu sama-sama melihat kearah Salsa secara serempak pula.
"Kenapa? Salsa kan nggak di ajak bicara," jawab si princes menahan tawanya, karena melihat kakak dan suaminya saling salah tingkah seperti pasangan kekasih.
"Adek cukup bicara sama mama, ini urusan para laki-laki." yang di jawab oleh Rian. Dia sendiri juga ingin tertawa melihat putra sulung dan menantunya. Namun, ia tahan agar Salsa tidak tertawa. Rian tahu jika Arsya dan Kenzo menjadi lawan saat di lapangan Basket. Untuk itulah dia ingin berbicara dengan keduanya, karena sekarang baik Arsya maupun Kenzo. Sama-sama putranya.
"Sudah, sudah! Pa, adek, habiskan makanannya dulu," sela Ibu Negara. Ayla sangat tahu jika suami dan putrinya bila sudah tertawa akan seperti apa hebohnya.
__ADS_1
"Iya, Ma! " jawab Salsa.
"Eum, iya sayang," berbeda dengan putrinya, Rian masih tetap memangil istrinya dengan sebutan sayang. Tidak berubah meskipun sudah memiliki menantu. Lalu semuanya diam dan menghabiskan makanannya masing-masing.
Hampir dua puluh menit kemudian, semuanya sudah selesai sarapan.
Rian langsung mengajak Arsya dan Kenzo pergi keruang keluarga yang menghadap ke Taman. Sedangkan Ayla membereskan meja makan bersama putrinya.
"Ayo duduk!" kata Rian mempersilahkan, karena dia sudah duduk lebih dulu.
"Ada apa, Pa?" tanya Arsya duduk di sofa singel.
"Arsya, Kenzo... sekarang kalian sudah menjadi saudara ipar," kata Rian berhenti sambil melihat keduanya. "Papa dengar pertandingan Minggu lalu dan malam ini cukup sengit," ucapnya lagi.
"Dan Papa dengar Minggu depan lagi, kalian akan di adu dengan Club dari luar kota." saat Rian berbicara Arsya dan Kenzo hanya diam mendengarkan. "Kalian mengerti kan apa yang Papa maksud?" tanya Rian memang sengaja tidak menyebutkan dengan detail. Dia ingin tahu seperti apa tanggapan kedua putranya.
"Mengeti, Pa." Arsya dan Kenzo kembali menjawab serempak. Namun, kali ini mereka tidak saling pandang seperti tadi, saat di meja makan.
"Bagus jika kalian mengerti, jadi Papa tidak susah menjelaskan." Rian tersenyum kecil. "Saat di lapangan, kalian berdua boleh menjadi musuh, saling merebut Bola karena kalian dari Tim berbeda dan sebagai Kapten tentu kalian berdua di tuntut untuk memimpin Tim masing-masing." papar Rian memperjelas sedikit, meskipun keduanya sudah mengerti.
"Jadi Papa harap kalian bermainlah dengan sportif mengikuti peraturan. Apabila ada dari Tim kalian yang ingin bermain curang, maka kalian berdua memiliki pilihan untuk menolak, karena apa? Karena setelah selesai bermain, mau seperti apapun. Kalian berdua tetap saudara ipar." jelas Rian sambil memperbaiki cara duduknya.
Bukan tanpa sebab Rian berbicara seperti itu. Dia mengetahui kalau Tim Kenzo ingin mencelakai putranya. Saat pertandingan Minggu lalu, bukan mereka gagal mencelakai Arsya. Akan tetapi niat buruk mereka sudah digagalkan oleh pengawal Ayah Ridwan.
Untung saja, Kenzo menantunya tidak ikut-ikutan. Bila sampai ikut, sudah Rian pisahkan dengan putrinya. Setelah melakukan penyelidikan selama dua hari, ternyata menantunya bahkan tidak tahu kalau Tim nya melakukan kecurangan.
"Apa jadinya bila Salsa mengetahui kalau kakak dan suaminya saling menyakiti satu sama lain, hanya karena sebuah pertandingan." kata Rian mengakhiri nasehat nya.
"Iya Pa, kami berdua mengerti," jawab Arsya dan Kenzo, tetap serempak.
"Bagus, Papa hanya ingin membicarakan hal ini. Sekarang kalian berdua boleh pergi." Rian melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Eum... Pa, Kenzo mau minta izin membawa Salsa pergi ke Villa kakek Fathan." ucap Kenzo sekalian meminta izin.
"Iya, pergilah! Tapi ada pengawal yang akan mengikuti kalian. Bukan Papa tidak percaya padamu, Ken. Tapi ini untuk kebaikan kalian berdua." jawab Rian memberi izin.
__ADS_1
BERSAMBUNG...