
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Selamat datang Tuan Muda, Nona Muda." sambut seorang wanita yang masih berumur sekitar dua puluh lima tahun.
"Iya, terima kasih! Apakah kakek ada?" tannya Kenzo, karena Salsa hanya diam saja. Dia kan hanya menemani suaminya.
"Ada, beliau sudah menunggu dalam ruangannya." jawab wanita tersebut dengan hormat. Sebab semua karyawan tahu jika Kenzo adalah cucu sulung Tuan Fathan.
"Huem, kalau begitu kami akan menemui kakek. Terima kasih!" ucap Kenzo kembali lagi mengucapkan kata terima kasih.
Lalu mereka berdua pun berjalan menuju lift khusus bagi petinggi perusahaan. Salsa yang merasa menjadi pusat perhatian mengeratkan gengaman tanggan mereka. Kenzo yang menyadari hal tersebut hanya diam karena tahu pasti istrinya merasa tidak nyaman.
"Ken, perasaan semua karyawan kakek memperhatikan gue deh," kata Salsa merasa risih.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam lift menunju lantai tempat kantor Tuan Fathan berada. Tidak ada orang lain disana selain mereka berdua.
"Nggak usah pake perasaan ke mereka. Kalau mau pake perasaan cukup ke gue aja." jawab Kenzo tersenyum yang nyaris tak terlihat.
"Apaan sih, gue lagi serius juga,"
"Gue juga lagi serius, Sa. Emang kapan gue bercanda."
"Lo emang nggak pernah bercanda, tapi pernah bohongin gue." cibir Salsa yang masih ingat Kenzo membohonginya saat pertama kali mereka bertemu.
Mendengar ucapan Salsa, Kenzo melepas pautan tanggan mereka. Lalu ia masukan tangganya ke dalam saku celana sambil bersandar pada dinding lift.
"Malam Itu gue cuma iseng aja, bukannya sengaja." jawab Kenzo santai. "Lagian gue penasaran kira-kira putri kolongmerat bisa dibohongi apa nggak," setelah berucap seperti Kenzo berjalan ke luar lebih dulu karena pintu lift sudah terbuka.
"Apa? Ken, Ken Lo---"
"Selamat datang Tuan Muda." Salsa langsung menghentikan ucapannya karena mereka berpapasan dengan karyawan yang mau masuk ke dalam lift.
"Iya!" jawab Kenzo singkat. Lalu ia berhenti agar Salsa bisa sejar dengan langkahnya.
__ADS_1
"Ayo, jangan ngedumel seperti ibu-ibu rebahan aja. Nanti cepat tua." ajak Kenzo menuju ruangan kakeknya.
"Selamat datang Tuan Muda. Silahkan masuk, Tuan Fathan sudah menunggu di dalam." sambutan Sekertaris yang menelepon Kenzo.
Padahal Salsa baru saja ingin membalas ucapan Kenzo. Akan tetapi pemuda itu seakan dilindungi, karena ada saja yang menyepa. Walaupun hanya kebetulan saja.
"Iya, terima kasih!" jawab Kenzo langsung membawa Salsa masuk ke kantor sang kakek.
"Wah, kalian berdua sudah datang," Tuan Fathan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Lalu duduk bersama cucu menantunya.
"Apa kalian berdua sudah makan siang?" tannya beliau sebelum membahas masalah pekerjaan.
"Sudah Kek, kami sudah makan siang." jawab mereka serempak. Kakek Fathan yang mendengarnya hanya tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kita bahas saja masalah pekerjaan." ujar beliau berdiri dari sofa, dia berjalan untuk mengambil satu buah dokumen. Lalu diserahkan pada Kenzo. "Ini, kamu baca dulu. Bila setuju tinggal ditandatangani dan besok kamu sudah boleh bekerja."
"Kenzo periksa dulu." kata pemuda itu langsung membaca poin-poin yang tertulis. Meskipun di perusahaan kakeknya sendiri, tentunya Kenzo harus tahu dulu dia bekerja sebagai apa."
Beberapa menit kemudian. Kenzo menutup dokumen tersebut. "Jadi Kenzo akan menjadi wakil Kakek?"
"Tentu saja mau. Tapi Kenzo masih kuliah, dan jam sigi baru pulang. Memangnya bisa seperti itu? " Kenzo bertanya seakan-akan dia bukanlah calon pewaris harta sang kakek.
"Kenapa tidak boleh. Kakek adalah bos-nya sampai kamu benar-benar bisa. Maka Kakek akan menyerahkan perusaan ini untukmu," papar Tuan Fathan merasa gemas dengan pertanyaan cucunya.
"Oke, kalau begitu Kenzo sanggup. Besok siang setelah selesai mengantar Salsa pulang dari sekolah. Ken akan berangkat ke perusahaan." dengan semagat empat lima Kenzo menjabat tanggan kakeknya.
"Semoga kita bisa menjalin kerjasama yang bagus." Tuan Fathan tersenyum bahagia, karena sudah lama ia menantikan agar sang cucu mau bekerja di perusahaannya. Disaat dia sudah bosan mengajak, malah Kenzo datang sendiri. Tentu saja beliau tidak akan membuang kesempatan emas seperti itu.
"Baiklah, berarti tungas Ken hanya seperti yang tertulis saja, 'kan?"
"Iy, seperti yang sudah Kakek buat. Bila sibuk di kampus, maka kamu boleh tidak masuk. Tapi tetap saja kamu harus bekerja meskipun dari rumah. Kamu akan mendapatkan gaji disetiap akhir bulan seperti karyawan Kakek yang lainnya." jelas si kakek lagi. Apa yang dia lakukan sekarang tentu saja atas ucapan Kenzo sendiri.
Cucunya itu ingin memiliki uang sendiri kerena dia tidak mau hanya mengandalkan orang tua dan mertuanya. Walaupun tanpa bekerja dia tinggal menyebutkan mau membeli apa. Akan tetapi sebagai laki-laki Kenzo ingin bertanggung jawab pada kewajibannya sebagai seorang suami.
"Oke, kalau begitu sekarang kami akan pulang. Besok baru ke sini lagi untuk mulai bekerja." ucap Kenzo karena bila harus berlama-lama dia takut Salsa yang tidak betah.
"Baiklah, kalian hati-hati. Katakan pada nenek jika satu jam lagi kakek juga akan pulang." pesan Tuan Fathan yang terpakasa masih bekerja karena tidak ada yang menjalankan perusahaannya. Itulah selama ini dia selalu meminta Kenzo untuk bekerja di perusahaan. Agar bila sudah saatnya nanti, dia akan resign dan Kenzo yang akan meneruskan.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada sang kakek. Kenzo pun membawa istrinya pulang, dan saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Tidak banyak bicara Kenzo memasang kembali selt belt pada tubuh istrinya.
"Apa Lo sering pergi sama orang lain, selain Arsya sama papa?" tanya Kenzo yang mulia menjalankan kendaraannya.
Saat dia memasang selt belt barusan. Tidak ada drama tutup mata, karena Salsa sudah tahu kenapa Kenzo mendekatinya.
"Nngak! Memangnya kenapa?" Salsa balik bertanya.
"Pantaesan! Sudah gue duga," jawab Kenzo menyugikan senyum di sudut bibirnya yang tidak nampak oleh Salsa.
"Pantesan bagaimana? Emangnya Lo menduga apa?"
"Pantesan Lo harus selalu diingatin masang sabuk pengaman. Jadi gue menduga jika selama ini Lo nggak pernah memakai sabuk pengaman sendiri." itulah alasan Kenzo memasang sabuk pengaman Salsa. Tadi Saat mau menjemput istrinya, Kenzo baru terpikirkan hal tersebut.
"Huem! Tebakannya hampir benar," Salsa tersenyum karena dia memang sangat jarang memasang selt belt sendiri. Ralat, bukan jarang. Tapi belum pernah.
"Ck, manja banget Lo," ejek Kenzo.
Salsa yang merasa jika apa yang dikatakan Kenzo benar tidak membantahnya. Ia malah menanyakan hal lain "Ken... Lo serius mau kerja?"
"Menurut Lo?" bukannya menjawab, tapi Kenzo malah balik bertanya.
"Ya... gue percaya, sih. Tapi bila sambil kuliah gue jadi ragu kalau Lo bisa. "
"Gue serius, Sa. Makanya besok setelah ngantar Lo pulang ke rumah. Gue mau langsung ke perusahaan. Kan tadi Lo sudah mendengarnya sendiri." sepanjang perjalanan pulang ke rumah, mereka terus saja mengobrol yang entah sebagai apa? Teman, suami-istri atau apalah.
"Kalau begitu Lo nggak usah jemput gue lagi. Biar gue sama Kak Arsya aja." tawar Salsa yang memiliki celah agar mereka tidak berangkat bersama.
"Nggak, Lo tetap berangkat sama gue."
"Tapi Ken... bagaimana kalau gara-gara antar jemput gue. Lo jadi telat ke perusahaan. Kan nggak etis! Saat gajian di bayarnya sama. Tapi Lo datangnya pas Karyawan lain sudah mau pulang." kembali menyakinkan. Berharap Kenzo akan setuju.
"Lo nggak usah mikirin tentang itu. Gue wakil direktur, bukan karyawan biasa." Kenzo mematikan mesin mobilnya, karena mereka telah sampai.
"Mau seperti apapun nanti, Lo tetap berangkat bareng gue," putus Kenzo yang tidak bisa di ganggu gugat. Lalu dia langsung turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat istrinya.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1