
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Pukul dua belas lewat tujuh belas menit. Salsa sudah terbangun dan langsung melirik jam mewah pada pergelangan tangannya. Gadis itu belum sadar sepenuhnya kalau dirinya saat ini lagi menempel pada dada bidang Kenzo yang tidak memakai apapun, karena sebelum tidur pemuda tersebut memang melepas baju bagian atasnya.
"Eum! Kok gue sampai ketiduran selama ini, sih!" gumam Salsa yang langsung membuat suaminya ter-bagun. Meskipun lagi tidur nyenyak, bila mendengar ada suara meskipun pelan. Kenzo memang akan terbangun, dia paling anti sama suara-suara di sekitarnya.
"Gu--gue kok bisa meluk si Ken, Ken?" Salsa menjauhkan tangannya yang masih menempel. Matanya tadi yang mengantuk tiba-tiba langsung hilang rasa kantuknya.
Kenzo yang mendengar gumaman Salsa hanya tersenyum. Ingin rasanya ia dekap istri kecilnya. Namun, karena ingin tahu apa yang akan Salsa lakukan selanjutnya, Kenzo masih berpura-pura tidur.
"Ini juga, kenapa kakinya malah berada di atas paha gue," Salsa berusaha memindahkan kaki Kenzo yang berada di atas pahanya, karena suaminya itu sudah menganggap Salsa bak bantal guling hidup.
Namun, sampai beberapa menit kemudian bukannya terlepas tapi semakin dia terperangkap karena Kenzo hanya berpura-pura tidur dan dengan sengaja tangannya memeluk Salsa.
"Ken... Ken, Kenzo!" si cantik Salsa berusaha membangunkan Kenzo. Tidak ada pilihan lain. lagi. "Astaga! Dia tidur atau pingsan, sih?" gumam Salsa kembali lagi berbaring dengan tenang, untuk memikirkan cara biar dia bisa terlepas.
"Huh! Kenapa gue bisa terjebak tidur sama dia... Oh, ayolah Salsa keluarin tenaga Lo," ucapnya lagi kembali berusaha memindahkan tangan Kenzo lebih dulu. Salsa mana pernah mengangkat barang barat, jadi sudah pasti dia kesusahan memindahkan tangan maupun kaki suaminya. Apalagi pemilik tubuh tersebut sadar, tidak tidur. Si Princess saja terlalu fokus yang tidak tahu jika lagi di kerjai oleh suaminya.
"Ken, Kenzo! Bagun!" Salsa memangil dengan suara cukup keras. "Kenzo, gue mau bangun, pindahin kakinya."
"Eum, ada apa?" tanya Kenzo membuka mata layaknya seperti orang yang baru bangun tidur. Padahal di dalam hatinya ingin tertawa, karena sudah berhasil mengerjai sang istri.
Sebelum istrinya menjawab, Kenzo mengeratkan pelukannya.
"Ken, ih... lepas gue mau bangun! Lo ngapain meluk-meluk sih,"
"Jika gue nggak mau dan ingin meluk terus bagaimana?" dalam hitungan detik Kenzo sudah merubah posisinya. Saat ini wajahnya berada tepat di atas muka sang istri yang jantungnya kembali berdegup kencang. Sama seperti Kenzo, pemuda itu juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Ken, Lo nga--nga--ngapain?" Salsa tergagap. Namun, pandangan matanya terus menatap mata hitam pekat milik Kenzo.
"Gue nggak ngapa-ngapain. Kalau gue mau meluk terus bagaimana?" tanya Kenzo mengulangi pertanyaan dia sebelumya.
"Ya... meluk aja. Tapi... peluk guling, jangan gue."
"Gue meluk guling?" ulang Kenzo sengaja.
"Iya, peluk guling. Gue mau bangun." jawab Salsa mengiyakan.
"Tapi gue mau meluk Lo, bukan guling."
"Astaga Ken, kenapa kaca jendelanya bisa pecah?" seru Salsa melihat kearah jendela. Sontak Kenzo ikut melihat kearah jendela dan melepaskan pelukannya, lalu pada saat itu Salsa mendorong tubuh Kenzo. Dia berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Awas Lo, ya!" Kenzo hanya tersenyum karena ini adalah kali kedua dia di kibuli oleh Salsa.
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah Salsa keluar dari kamar mandi. Gadis itu hanya membasuh mukanya saja.
"Eum!" jawab Salsa yang berjalan untuk mengecek ponselnya.
"Kita belum makan siang, tunggu di sini gue ke kamar mandi sebentar," kata Kenzo sambil berlalu ke kamar mandi. Tidak lama! Hanya beberapa menit pemuda itu sudah keluar dalam keadaan segar, walaupun tidak mandi, tapi dengan mencuci muka dan sikat gigi nyatanya bisa menghilangkan rasa kantuk dan mengembalikan ketampanannya.
Daerah Villa tersebut adalah Pengunungan dan di kelilingi oleh desa yang masih asri. Tempatnya sangat indah, makanya Kenzo ingin membawa Salsa ke sana, karena tahu pasti istrinya tidak pernah jalan-jalan pada tempat seperti itu.
"Gitu aja?" tanya Salsa melihat Kenzo hanya mengelap mukanya mengunakan handuk kecil.
"Iya, memangnya mau seperti apa lagi. Ayo kita makan siang, ini sudah lewat waktunya. Gue nggak mau Lo sampai sakit, gara-gara telat makan." sambil berjalan menarik tangan sang istri Kenzo terus saja berbicara. Salsa hanya diam sambil memperhatikan tangan mereka yang saling ditautkan. Desiran aneh langsung menyeruak di dalam hatinya.
"Selamat siang Tuan, Nona. Silahkan di nikmat." sambut si Ibu penjaga Villa. Berbagai jenis lauk pauk sudah memenuhi meja makan. Padahal hanya untuk dua orang, karena para pengawal sudah diberikan sejak setengah jam yang lalu.
"Iya, selamat siang juga, Buk. Terima kasih!" Salsa menjawab ramah, sampai membuat Kenzo terus menatap kearahnya. Tidak disangka-sangka gadis yang terlahir dari keluarga kaya raya dan sempurna seperti Salsa bisa bicara ramah pada orang yang baru dikenalnya. Apalagi orang tersebut hanyalah seorang pelayan.
__ADS_1
"Apa para pengawal yang bersama kami, sudah makan?" tanya Salsa mengisi piring untuk Kenzo lebih dulu, setelah itu barulah untuk dirinya sendiri.
"Sudah, Non. Mereka telah makan siang semuanya sejak tadi," si ibu tersebut menjawab sopan. Dia masih berdiri di sana karena takut kedua majikannya masih membutuhkan sesuatu.
"Oh, baiklah! Kalau begitu Ibu panggil bapaknya, agar kita bisa makan bersama." kata Salsa yang sudah kembali duduk.
"Terima kasih, Non. Kami semua yang ada di sini sudah makan siang. Silahkan Non dan Tuan Muda lanjutkan, bila membutuhkan sesuatu panggil saja, ibu ada di belakang." wanita paruh baya itu cepat-cepat meningal kan ruangan tersebut, karena tidak ingin menganggu keduanya.
"Ini," kata Salsa memberikan piring yang sudah di isinya pada sang suami.
"Eum, terima kasih!" jawab Kenzo masih terus mencuri-curi pandang.
"Nggak nyangka secepat ini gue jatuh cinta padanya. Padahal baru kenal satu bulan kurang lebih. Gue harus nembak Salsa nih, sebelum keduluan sama orang lain,"
Gumam Kenzo tersenyum di sudut bibir atasnya. Tanpa ia sadari jika Salsa memperhatikan dirinya sejak tadi.
"Ken, Lo kenapa? Nggak lagi sakit, 'kan?" gara-gara terpana pada sang istri. Kenzo sampai tidak sadar bahwa Salsa melihat dia melamun.
"Agh, gue baik-baik aja. Nanti bila Lo sudah nggak capek kita jalan-jalan sekita Villa ya," kata Kenzo tersadar dari lamunan dan mulai menyuapi makanannya.
"Iya, setelah ini juga nggak apa-apa. Masa jauh-jauh datang ke sini cuma mau tidur." jawab Salsa sambil matanya melihat kearah dinding kaca yang mengarah ke Taman samping Villa tersebut.
Baiklah, gue juga sependapat. Ayo habiskan makanannya." dengan semangat empat lima Kenzo menghabiskan makan siangnya, karena pemuda itu ingin menembak Salsa menjadi kekasihnya.
Kekasih? Iya, kekasih karena tidak mungkin kan bila Kenzo langsung mengatakan jika dia mencintai Salsa. Mana mungkin gadis itu percaya begitu saja. Mereka tidak dekat dan baru saling kenal. Apa mungkin kenyamanan yang Kenzo rasakan adalah karena dia menyukai Salsa?
Terjadinya pernikahan tersebut hanya karena jebakan musuh Tuan Heri dan Ayah Ridwan, yang membuat mereka berdua harus menerima pernikahan tanpa cinta. Mereka sama-sama terpaksa, demi menjaga nama baik keluarga masing-masing.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1