
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kak, tidak terjadi sesuatu, 'kan?" tanya Rian juga merasa penasaran.
"Tidak, tapi... malam ini seharusnya Tim Kenzo yang main melawan anak-anak antar ibu kota, Pa," jawab Arsya merasa sangat bersalah, karena dirinya Kenzo tidak bisa bermain. Padahal pertandingan malam ini sangatlah penting untuk Tim Kenzo.
"Benarkah?" tanya nenek Kenzo dan Ayla secara bersamaan.
"Benar, Nek, Ma. Barusan yang menelepon adalah Tim dari cabang penyelenggara olahraga.. Seharusnya Kenzo menghubungi mereka sejak tadi. Namun, karena belum ada yang menginformasikan pada mereka bahwa Kenzo mengalami musibah. Jadinya mereka menghubungi Kenzo," papar Arsya sudah berdiri tepat disamping adik iparnya.
"Lalu masalahnya dimana? Kenapa muka Kakak menjadi tegang begitu?" tanya Kenzo tersenyum. Dia sudah menduganya sejak tadi. Sebab pertandingannya adalah malam ini. Saat pertama kali kena peluru saja, Kenzo sudah mengigat bahwa dia tidak bisa mengikuti pertandingan bergengsi tersebut.
"Masalahnya kamu tidak bisa ikut bermain," jawab Arsya sendu. Dia juga seorang pemain yang sangat diandalkan oleh Tim nya, jadi tahu betapa pentingnya pertandingan tersebut bagi adik iparnya juga.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Berarti Tim SMK Erlangga yang harus maju," Kenzo menjawab santai. Sebab sekarang bagi dirinya hanya ingin membahagiakan Salsa. Meskipun Timnya gugur tidak bisa bermain. Tapi masih ada Tim Arsya yang akan menang. Karena siapapun yang akan menang diantara dia dan kakak iparnya. Salsa tetap akan merasa bahagia.
"Nak," lirih Ayla merasa kasihan pada sang menantu.
"Tidak apa-apa, Ma. Biar Kak Arsya saja yang bermain," Kenzo tersenyum kecil kearah ibu mertuanya. Dia tahu jika Ayla menyayangi mereka tanpa pilih kasih.
"Ken, maaf ya! Semua ini gara-gara gue," ucap Asya memeluk tubuh Kenzo yang masih dengan posisi baring. Selama menjadi ipar, ini adalah pelukan kedua mereka setelah tadi siang saat Kenzo menjadi pelindung untuk sang kakak ipar.
"Sudah tidak apa-apa, lagian mau siapapun yang menang. Princess kita juga tetap akan bahagia," perkataan Kenzo tentu membuat mereka semua tersenyum. Termasuk Arsya sendiri. Dia benar-benar bahagia karena adik kesayangannya mendapatkan jodoh yang tepat.
"Kalian tidak perlu khawatir. Biarkan Om Aldi mengurus semuanya," imbuh Rian setelah terdiam beberapa saat sambil berpikir bagaimana caranya agar anak dan menantunya bisa sama-sama mengikuti pertandingan tersebut.
__ADS_1
"Om Aldi! Apa hubungannya Om Aldi sama pertandingan?" tanya Salsa, Arsya dan Kenzo secara bersamaan.
"Tentu saja ada hubungannya, Ayah sangat yakin jika papa kalian akan menyuruh Aldi menemui penyelenggaraan dan mengatur agar Tim Kalian bisa bermain bersama," yang dijawab oleh Nando. Pria itu tahu apa yang direncanakan oleh sahabatnya.
"Apa bisa?" seru Ayla dengan wajah berseri-seri. Wanita itu tidak ingin hanya salah satu dari putranya saja yang merasa bahagia.
"Tentu saja bisa, yang mensponsori pertandingan tersebut adalah Erlangga group. Jadi semuanya bisa di atur," ujar Rian seraya mengeluarkan ponselnya dan langsung mengirimi pesan pada seseorang.
"Sudah selesai!" ucapnya lagi tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya butuh waktu satu menit semuanya terselesaikan.
"Apanya yang sudah selesai? Apakah masalah pertandingan?" Ayla kembali bertanya. Sebab dia memang tidak tahu bahwa perusahaan Erlangga yang mensponsori liga olahraga tersebut.
"Iya, sekarang tinggal menunggu kedatangan Tim Kenzo dan Tim Arsya datang kemari,"
"Berarti Kenzo harus menghubungi mereka lebih dulu, Pa," ujar Kenzo ikut menyimak. Sebab dia paham maksud mertuanya. Begitu pula dengan Arsya.
"Wah, Papa memang hebat!" seru Salsa berdiri dan langsung memeluk ayahnya. "Berarti Tim kakak sama Tim Bima Sakti akan bergabung, iya kan, Pa?" lanjut Salsa merenggangkan pelukan mereka.
"Nah itu betul sekali," jawab Rian tersenyum seraya manarik hidung mancung sang putri yang hampir sama seperti dirinya.
"Tapi bagaimana jika Tim Kenzo menolaknya, Pa? Apakah tidak bisa diganti oleh pemain lainnya?" Arsya merasa ragu karena Andra sahabat Kenzo pernah ingin mencelakai dirinya. Apa mungkin mereka menjadi satu Tim.
"Tentu saja mereka harus mau, ini semuanya bagaikan pilihan bisnis, Nak. Pemerintah tidak akan mau mereka kalah dalam liga ini. Jadi sudah pasti akan mengatur agar kedua Tim terbaik di kota ini menjadi bersatu," jelas Rian mendekati Kenzo dan berkata. "Kamu benar, siapapun yang menang semuanya sama saja. Baik kamu ataupun Arsya, kalian tetap anak-anak Papa. Jadi cukup pikirkan kesehatan mu, huem!"
"Iya, Papa tenang saja, Kenzo juga hanya akan fokus pada Salsa dan kesembuhan Ken saja," jawab Kenzo tidak malu-malu lagi mengakui perasaannya pada si princess.
"Kak, cepatlah cari pacar, lihatlah Kenzo sama adek sudah parah banget bucin nya" tawa Nando sangat bahagia karena princess mereka begitu dinomor satukan.
"Ayah apa-apaan sih," jawab Arsya tersenyum dan pergi kearah sofa. Pemuda itu bila sudah membahas masalah pasangan selalu saja menghindar. Entah gadis seperti apa yang ia cari.
__ADS_1
"Agh, kakak selalu menghindar bila membahas pasangan," kata Salsa sangat ingin sang kakak dekat dengan gadis. Namun, keinginannya tak kunjung terpenuhi.
"Sudah tidak apa-apa, biarkan saja. Bila tiba pada waktunya nanti. Dia akan langsung membawanya pulang ke rumah," kata Rian tidak heran karena putranya itu selalu menghindari para gadis yang berusaha mendekatinya. Berbanding terbalik dengan dirinya saat SMA sudah memiliki begitu banyak mantan pacar.
"Ken, apa ada yang sakit, Nak? Biar dipanggilkan dokter," tanya Ayla baru ingat jika mereka sudah melupakan kesehatan menantunya.
"Tidak, Ma. Mama sama Nenek istirahat saja. Kenzo tidak apa-apa,"
"Baiklah!" Ayla mengangguk setuju, karena dia juga sudah lelah berdiri di sisi ranjang sejak tadi. "Tante, ayo kita duduk di sofa. Biarkan saja mereka berdua," ajaknya pada nenek Kenzo. Perempuan paruh baya yang masih tetap cantik itupun mengikuti Ayla kearah sofa, dan tinggallah Kenzo dan Salsa saja.
"By, beneran nih nggak apa-apa jika Kak Arsya yang gantiin kamu?" tanya Salsa sudah kembali duduk seperti tadi.
"By?" ulang Kenzo hanya fokus pada sebutan baru dari sang istri.
"Iya, Hubby, kenapa? Apa tidak boleh memangil Hubby?"
"Tentu saja boleh! Tapi aku ingin dicium dulu. Anggap saja sebagai obat penyembuh dari mine," Kenzo tersenyum karena sengaja mengambil kesempatan.
"A--apa, tapi ada mereka," jawab Salsa setengah berbisik.
"Jika hanya mencium pipi, tentu tidak jadi masalah. Bukannya tadi kamu meminta diriku untuk sembuh. Jadi cepat lakukan sekarang,"
"Tapi... bagaimana jika ada yang melihatnya?" si princess lagi mencoba mencari alasan. Bila disuruh mencium secara gemblang tentu dia akan malu.
"Tidak akan, ayo cepatlah! Aku akan memejamkan mata," kata Kenzo sudah menutup matanya sebelum mendapatkan persetujuan. Alhasil, mau tidak mau Salsa harus mencium pipi suaminya walaupun hanya sekilas.
Cup!
...BERSAMBUNG......
__ADS_1