
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Sesuai niat Kenzo tadi siang yang ingin menembak Salsa untuk menjadi pacarnya. Disinilah mereka saat ini, di balkon lantai atas Villa. Aturannya tadi siang saat mereka pergi jalan disekitar Villa, pemuda itu ingin menyampaikan niat baiknya. Namun, karena tidak mau merusak suasana ataupun kebahagiaan sang istri. Kenzo mengurungkan niat tersebut.
Soalnya belum tentu istrinya itu mau menerima cintanya. Kenzo memang incaran para gadis di luaran sana. Tapi bagi Salsa belum tentu, sebab bila dibandingkan dengan ketampanan Arsya kakaknya, Ale dan Aditya tentu hampir sama. Intinya si princess sudah biasa melihat pria tampan di sekelilingnya. Otomatis tidak akan mudah terpana begitu saja pada ketampanan Kenzo.
"Apa Lo mau jadi pacar gue?" Kenzo mengulangi pertanyaannya untuk kedua kali. "Bila Lo nggak mau tidak apa-apa," sebelum Salsa menjawab, Kenzo menyimpulkan sendiri karena istrinya hanya diam membisu.
"Sa..," menyentuh tangan Salsa yang berada di atas meja. "Jika Lo nggak mau, ya gak apa-apa, jangan merasa terpaksa gitu." berkata lagi untuk menyakinkan Salsa bahwa dia tidak masalah bila cintanya ditolak.
"Gu--gu---gue, gu--gue, gue... belum pernah pacaran," Salsa menjawab diluar dugaan Kenzo. Pemuda tersebut mengira kalau istrinya akan berkata tidak mau menjadi pacaran nya. Namun, Salsa malah mengatakan kalau belum pernah pacaran. Tanpa gadis itu jelaskan, tentu Kenzo sudah tahu hal itu.
Kakak iparnya begitu menjaga Salsa, jadi sudah pasti jika untuk mendekati princess Erlangga harus mikir tiga kali. Berbeda dengan dirinya mendapatkan keberuntungan dari musibah penjebakan mereka.
"Gue tahu Lo pasti belum pernah pacaran." kata Kenzo masih menggenggam tangan sang istri. "Jadi jawabannya bagaimana? Apa Lo mau pacaran sama gue?" jika gadis diluar sana bukan Kenzo yang mengajak pacaran. Tapi merekalah, para gadis dari adik kelas maupun teman berbeda jurusannya.
"Gue serius Sa, Gue suka sama Lo dari awal kita bertemu. Tapi gue nggak berani deketin, karena selain Lo jutek, ada bodyguard Arsya, Ale sama si Aditya yang ngikutin Lo kemana-mana. Sampai-sampai ke kamar mandi mereka juga ikut." ungkapan Kenzo akhirnya mengakui perasaan yang dia rasakan.
Ketakutan di tikung oleh pria lain atau bisa jadi para sahabatnya sendiri. Kenzo akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Salsa berpacaran.
"Itu cara mereka menjaga gue." jawab Salsa tersenyum kecil mengingat ke-tiga saudara laki-lakinya.
"Jadi jawabannya bagaimana? Lo mau atau tidak?" dengan jantung berdebar-debar Kenzo rasakan. Ia begitu gugup untuk mendengar jawaban Salsa selanjutnya
Aneh memang, seorang suami mengajak istrinya sendiri berpacaran. Padahal sudah jelas mereka telah menikah.
Apa yang pemuda itu lakukan saat ini, karena ingin hubungan dia dan Salsa tidak ada rasa keterpaksaan. Cepat atau lambat bila mereka masih sah sebagai suami-istri. Maka sudah pasti dia dan istrinya akan melakukan hubungan layaknya pasangan pada umumnya. Kenzo ingin, pada saat itu tiba, dia dan Salsa saling mencintai.
__ADS_1
"I want to be your boyfriend," jawab Salsa sambil mengigit bibir bawahnya. Seumur-umur mana pernah Salsa mengucapakan kata-kata seperti itu.
Bagi Salsabila Erlangga dan Arsyaka Ardian Erlangga kakak kembarnya, pacaran merupakan hal sakral. Mereka berdua belum pernah berpacaran seperti muda-mudi yang seumuran dengan mereka.
"Lo serius? Nggak lagi Prank gue, 'kan?" seru Kenzo langsung berdiri dari tempat duduknya, dan mendekati Salsa. Tangan istrinya yang dia genggaman malah tidak dilepaskan. Akan tetapi semakin ia genggam erat, tidak mau melepaskan. Apalagi jawaban Salsa yang mau menerima dirinya.
"Iya, gue serius. Lagian gue nggak ada pilihan buat menolak, karena mau menerima pria lain juga tidak akan bisa." terdengar Salsa menghela nafas, lalu ia tiup kan ke atas.
Untuk saat ini Salsa tidak tahu kalau dia sebetulnya menyukai Kenzo atau tidak. Satu hal yang dia sadari, tidak suka suaminya itu berhubungan dengan Mia sahabatnya.
Dari keterangan Kenzo, dia lagi cemburu, dan bila memang benar Salsa cemburu, berarti dia menyukai suaminya, itu saja yang dapat Salsa simpulkan.
"Thanks!" seru Kenzo langsung memeluk Salsa. "Gue berjanji nggak akan ngecewain Lo." janji Kenzo masih memeluk tubuh istrinya.
Sudah berulang kali Kenzo berpacaran. Tapi baru kali ini dia begitu merasa bahagia. Apakah karena gadis yang dia ajak pacaran saat ini adalah istrinya sendiri? Mungkin saja iya!
"Lo nggak usah berjanji, cukup buktikan, dan gue harap ini menjadi awal yang lebih baik untuk kita berdua," kata Salsa yang tidak ingin berharap lebih, yang nanti akan membuat dia kecewa.
"Benar, semoga ini awal baik, untuk pernikahan kita." pemuda itu melongarkan pelukan mereka. Lalu ia menatap wajah cantik kekasih halalnya. Gadis yang selalu dibicarakan anak-anak dari Universitas Bima Sakti. Sekarang bukan hanya menjadi istrinya saja, tapi Kenzo sudah resmi berpacaran dan mengungkapkan perasaan yang ia miliki.
"Lo kenapa bertambah cantik, sih?" Kenzo tersenyum menggoda sang istri. Padahal Salsa sudah cantik dari lahir, bukan sekarang saja.
"Aaduh!" teriak Kenzo kesakitan karena Salsa mencubit pinggang nya. "Baru juga berpacaran, tapi kenapa Lo jadi galak?" ucap Kenzo mengecup tangan Salsa, bukannya balas mencubit.
"Apa di luar sana Lo hobi ngegombal seperti ini?" tanya Salsa penuh selidik. Tiba-tiba ingatan tentang Mia melintas di dalam benaknya.
"Eh, mana ada!" jawab Kenzo cepat. "Gue nggak pernah yang namanya merayu cewek, kalau dirayu iya," Kenzo cepat-cepat memegang tangan istrinya, karena takut dicubit lagi.
Cup!
Kenzo mengecup tangan Salsa untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Jangan marah! Percayalah, gue belum pernah merayu siapapun, walaupun mantan gue banyak." jujurnya tidak mau menutupi jika sudah berpacaran berulang kali.
"Beruntung banget Lo ya, dapatin gue yang belum pernah pacaran." cibir Salsa saat ini kembali duduk dengan benar.
"Baget! Gue beruntung bisa menikahi Princess Erlangga." kata Kenzo sambil melihat kearah langit malam yang tiba-tiba saja menjadi mendung. "Sa, ayo kita masuk, itu sepertinya mau turun hujan." ajak Kenzo mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri dari kursi yang mereka duduki.
"Eum...! Salsa mengangguk dan ikut melihat kearah langit yang sudah ada gumpalan hitam. Pertanda hujan akan segera turun.
Tiba di dalam kamar. Salsa masuk kedalam kamar mandi lebih dulu, untuk menganti pakaiannya dengan baju tidur. Begitu ada rencana akan membawa istrinya ke Villa sang kakek. Ternyata kenzo sudah menyiapkan pakaian dan kebutuhan Salsa yang lainnya juga. Jadi gadis itu tidak bingung walaupun tidak membawa barang apapun.
Ceklek!
Salsa sudah keluar dengan mengenakan baju tidur panjang. Dia berjalan kearah sofa, karena Kenzo masih duduk di sana. Pemuda tampan itu lagi bermain ponselnya yang sudah dikembalikan oleh Salsa sejak tadi sore.
Namun, meskipun sudah dikembalikan. Kenzo mengaktifkan mode pesawat, jadi tidak ada yang bisa menghubunginya.
"Lo nggak mau sikat gigi sama mengant---"
Jedeeaar!
Suara petir yang tiba-tiba langsung membuat Salsa ketakutan, sehingga dia berlari memeluk tubuh Kenzo dari samping.
"Jangan takut, itu hanya suara petir," ucap Kenzo membalikan tubuhnya untuk menghadap ke arah Salsa. Sekarang berganti dia yang memeluk istrinya.
"Gue takut," jawab Salsa gemetaran. Entah mengapa dari bayi sampai saat ini Salsa begitu ketakutan.
"Ada gue, jadi jangan takut." Kenzo mengelus rambut panjang sang istri. "Kita pindah ke atas ranjang ya, takut hujannya lama. Nggak mungkin kan, kita tidur di sofa." jelasnya melongarkan pelukan mereka. Lalu Kenzo berdiri dan langsung mengendong Salsa, untuk pindah ke atas ranjang tempat tidur.
Walaupun Salsa sudah berteriak minta diturunkan. Tapi percuma saja, karena Kenzo tidak menghiraukan nya.
"Nah, jika di sini. Lo bisa langsung tidur." kata Kenzo sudah menurunkan istrinya. Lalu ia menutupi kaki Salsa dengan selimut.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Lo mau kemana?" cegah Salsa tidak mau ditinggal sendirian.
BERSAMBUNG