Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Pikiran Traveloka.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Di SMK Erlangga.


Salsa bersama Ara sahabatnya lagi berada di kantin sambil menunggu kedatangan kakak tersayang yang masih belajar. Kebetulan sekali hari ini kelas Salsa keluar lebih dulu. Ia dan kakaknya memang berbeda kelas.


"Princes... ini buat Lo," Ara menyodorkan jus Alpukat kesukaan Salsa.


"Thanks ya," Salsa menerima minuman tersebut dan langsung menyeruputnya. "Ra, malam Minggu besok nonton nggak? Seru tahu, rugi kalau nggak datang." tanya Salsa pada Ara sahabatnya.


"Rencananya, sih. Tapi lihat besok aja deh." Ara juga ikut meminum jus miliknya. "O'ya, gue dengar dari anak-anak katanya kapten Basket lawan Kak Arsya tampan banget, apa betul?"


"Kapten yang mana, nih. Lawan kakak gue kan banyak?" balik bertanya karena Arsya kakaknya selalu bertanding dengan SMK ataupun SMA mana saja. Semuanya sudah mereka kalahkan. Jadi bila ditanya seperti itu tentu saja Salsa binggung.


"Anak-anak Universitas Bima Sakti. Banyak yang bilang Kapten mereka tampan hampir sama seperti Kak Arsya." Ara memang memangil Arsya kakak, sama seperti Salsa.


"Oh... gak tampan ah kalau menurut gue," mengerdikkan bahu karena baginya tidak penting.


"Siapa yang bilang dia tampan? Ketampanan Kakak gue nggak ada tandingannya, lah." jawab Salsa sambil mengingat-ingat ketampanan suaminya.


Di mulut berkata seperti itu. Akan tetapi didalam otaknya lagi membayangkan saat Kenzo keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, roti sobek dan dada bidangnya yang membuat betah saat berada dalam pelukannya.


Aaaghkk!


"Pergi, Lo!" Salsa berteriak seraya mengelengkan kepala. Sampai membuat siisi kantin melihat kearahnya.


"Sa, Lo kenapa? ngusir gue atau bagaimana, nih?" tanya Ara melihat kearah kiri kanan mereka mana tahu ada mahluk tak kasat mata yang tidak bisa dilihat olehnya.


"Agh, i--itu, itu gue lagi latihan drama sama kedua adek gue." menyengir sampai terlihat giginya yang putih.


"Drama? Sama Ale dan Aditya?" Ara memastikan. Sebab dia binggung sejak kapan Salsa menyukai drama. Setahu dirinya, sahabatnya itu sangat anti apapun yang berbaur dengan drama. Lalu apa mungkin sekarang sedang latihan drama? Dan buat apa? Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Ara.

__ADS_1


"Iya, drama buat ulang tahun opa gue. Kita mau buat drama sebagai hadiah." jawab Salsa menyakinkan.


"Salsa, Lo apa-apa, sih. Asal ngomong aja. Agh... semua ini gara-gara si Ken, Ken Playboy cap kapak. Npain dia tiba-tiba mencemari otak gue yang suci.


Rutuk Salsa didalam hatinya. Padahal semua itu bukanlah kesalahan Kenzo. Tapi salahkan saja otaknya yang Traveloka kemana-mana.


"Wah sepertinya seru. Kalau begi---"


"Adek!" sapa Arsya duduk di kursi sebelah adiknya. "Sudah pesan makanan apa belum?" tanyanya pemuda tampan tersebut karena dimeja tidak ada makanan apapun, yang ada hanyalah dua gelas jus.


"Belum, Kak. Pesanin, ya. Pengennya Kakak yang pesan biar lebih enak." jawab Salsa tersenyum manis. Begitulah, dia sangat manja pada kakaknya.


"Princes sekali-kali biar Kak Denis aja yang pesanin makanannya, ya." ucap Denis ikut duduk di bangku yang kosong. Di ikuti oleh sahabatnya yang lain.


"Terima kasih, Kak Denis. Tapi Salsa cuma mau di pesankan oleh kakak." secara tidak langsung Salsa menolak niat baik sahabat kakaknya.


"Rel, Lo kenapa diam aja," tanya Hengki melihat Farel hanya berdiri.


"Nggak kenapa-napa.' Sa, nomor Kakak di blok, ya?" tanya Farel yang begitu penasaran, karena sudah berulang kali menelepon Salsa. Akan tetapi tidak masuk-masuk.


Farel menyergitkan alisnya keatas. "Bukannya kemaren Princes balas, ya? Tapi saat Kakak telepon sudah nggak bisa," ungkapnya merasa ada yang aneh.


"Nggak ada nomor baru? Kalau Kak Farel bilang gue ada balas pesan darinya, berarti ada dong nomornya masuk. Tapi kenapa dipemberitahuan gak ada ya? Atau jangan-jangan HP gue ada di buka sama si Ken, Ken? Secara dari kemarin gue cuma sama dia?"


Gumam Salsa di dalam hatinya, sambil menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.


"Dek... kenapa malah diam?" Arsya menyentuh pundak adiknya.


"Nggak ada apa-apa, Kak." gadis cantik itu tersadar dari lamunannya. Setelah itu dia melihat kearah Farel yang masih berdiri, dan berkata.


"Coba Kak Farel simpan nomornya di ponsel Salsa, biar nanti disave." ucap Salsa menyerahkan ponselnya. Ia malas untuk menduga-duga. Dia akan memastikan sendiri saat sudah berada di rumah.


Lalu dengan senang hati Farel menyimpan nomornya di ponsel gadis yang sudah lama dia sukai. Boleh dikatakan dari pertama kali mereka bertemu. Pemuda tersebut sudah jatuh hati pada adik sahabatnya sendiri.


"Sa, nomor kakak simpan juga, ya." kata Denis dan Dito secara bersamaan.

__ADS_1


"Izin ya, Ar. Kita kan juga pengen punya nomor ponsel Princes." Dito menyengir pada Arsya yang mengelengkan kepala karena para sahabatnya selalu mencari kesempatan mendekati adiknya.


"Huem, simpan aja. Mana tahu suatu saat nanti Salsa butuh bantuan Kakak semua. Jika sudah punya nomor ponselnya kan tinggal ngubugin." ujar Salsa tidak keberatan. Sebab di ponselnya memang tidak ada nomor orang lain.


Setelah bertukar nomor ponsel. Mereka semua langsung melanjutkan memesan makanan untuk mengisi perut masing-masing. Sesudahnya mereka kembali ke kelas karena alaram waktu jam istirahat telah berbunyi.


Selama pelajaran berlangsung, pikiran Salsa masih memikirkan ucapan Farel yang mengatakan Salsa sudah membalas pesan darinya. Padahal dia bahkan tidak tahu jika apakah Farel sudah menghubunginya atau belum. Bisa jadi itu akal-akalan Farel buat mendapatkan nomor ponselnya.


Aagh Salsa semakin di buat binggung. Padahal meskipun benar itu hanya modus Farel untuk bertukar nomor dengannya. Kenapa juga Salsa harus memikirkan hal tersebut. Biarkan saja, toh hanya nomor ponsel.


"Sa, Lo kenapa gue perhatiin dari tadi melamun terus, lagi mikirin apa?" Ara menyengol tangan sahabatnya.


"Gu--gue... nggak kenapa-napa!" jawab Salsa tergagap. Saat mereka berdua masih berbisik-bisik guru yang mengajar pamit berdiri karena jam pelajaran yang terakhir telah usai.


"Ra, Lo duluan aja, gue masih nungguin Kak Arsya." sebelum sahabatnya mengajak pulang. Salsa sudah berkata lebih dulu.


"Eum... oke, gue duluan, ya. Soalnya sudah di jemput sama mama gue," ucap Ara sambil menyimpan ponselnya kedalam tas. "Tapi Lo nggak apa-apa kan di tinggal sendirian?" meskipun ini bukan kali pertama Salsa berkata ingin menunggu kakaknya. Tetap saja Ara masih ragu meninggalkan Salsa sendirian.


"Iya, gue nggak apa-apa. Sudah cepat pulang sana," usir Salsa tersenyum.


"Oke, gue pulang duluan, ya. Lo hati-hati. Nanti setelah pulang jangan lupa kabarin gue," setelah melepas pelukan mereka berdua. Ara yang sudah di tunggu oleh mamanya pulang lebih dulu.


"Sorry Ra, gue terpaksa berbohong untuk sementara waktu,"


Gumam Salsa berdiri untuk keluar kelas, karena Kenzo juga sudah menunggunya di depan pagar sekolahan Erlangga.


Seperti seorang maling Salsa keluar dari pagar, karena takut bila ada teman-teman sekolah yang melihatnya. Untung saja rombongan kelas Arsya belum ada yang keluar. Sebab jika sudah keluar, tentu saja akan mempersulit Salsa, karena Denis dan anak lainnya suka nongkrong di parkiran sampai beberapa puluh menit.


Braaak!


Salsa menutup pintu mobil Kenzo cukup keras. "Ayo cepat jalan!" titahnya dengan nafas terengah-engah karena dari parkiran sampai ke mobil Kenzo dia berlari.


"Ken... Lo mau apa?"


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2