
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Jam enam lewat tiga menit.
Kenzo sudah mandi dan lagi bersiap-siap untuk menyusul Salsa yang menginap di rumah orang tuanya. Hampir semalaman pemuda itu tidak bisa tidur karena selama seminggu ini sudah terbiasa tidur bersama sang istri.
Begitu melihat tampilannya sudah oke, Kenzo memakai jam tangan, jaket dan tidak lupa mengambil dompet beserta ponsel yang berada di atas meja samping tempat tidur. Sambil bersiul kecil Kenzo menuruni anak tangga satu persatu. Dia sudah seperti seorang gadis yang lagi jatuh cinta. Padahal hanya akan menyusul sang istri ke rumah mertuanya.
"Ken, kamu sudah bangun sayang? Tumben sekali, bukannya ini hari Minggu?" sapa Dela nenek Kenzo. Wanita itu kebetulan baru kembali dari luar.
"Iya, Nek. Ken mau ke rumah Salsa." jawab Kenzo memeluk neneknya sejenak.
"Oh, eh! Tapi kamu mau pergi sendiri? Salsa nya kemana?" si nenek merasa bingung karena hanya ada cucunya saja.
"Salsa sudah di sana, tadi malam pulang dari pertandingan, Ken ada acara bersama teman-teman. Jadinya Salsa dibawa pulang oleh Arsya." saat Kenzo pulang tadi malam nenek dan kakeknya memang tidak tahu, karena jam sudah pukul dua belas malam. Selesai pertandingan hanya jam sembilan, tapi waktu berkumpul bersama sahabatnya cukup lama.
"Pantas saja pagi-pagi seperti ini kamu sudah mau berangkat ke sana. Nenek kira Salsa pulang bersamamu." Nenek Dela hanya mengangguk mengerti.
"Oya apa kamu mau langsung berangkat sekarang? Apa tidak mau sarapan lebih dulu, biar nenek panggil kakek mu?" melihat penampilan cucunya dari atas sampai bawah.
"Nggak Nek, Ken akan sarapan di rumah Papa Rian aja, gak enak juga setiap hari Mama Ayla selalu menyiapkan masakannya karena mengira kami kembali ke sana." tolak Kenzo.
Apa yang dia katakan memang benar, bukan alasan pada neneknya saja. Meskipun dia dan Salsa tidak kembali ke kediaman Rian. Mertua perempuannya selalu memasakkan makanan kesukaan Salsa dan juga Kenzo. Nyonya Erlangga itu tidak pernah membeda-bedakan antara Arsya dan Kenzo. Ia menggap Kenzo seperti putranya sendiri, bukan sebagai menantu.
"Baiklah, kalau begitu pergilah sekarang. Jangan sampai mereka menunggu kedatangan mu." wanita paruh baya itu menepuk pundak sang cucu. "Titip salam untuk kedua mertua dan kakak ipar mu, ya." lanjutnya lagi.
"Iya, Nek. Kenzo berangkat sekarang. Kalau jadi nanti Ken sama Salsa akan ke Villa kita." kata Kenzo menyalami tangan sang nenek. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, si nenek kembali memangil namanya.
__ADS_1
"Ken... panggil Arsya kakak, jangan asal sebut nama saja. Walaupun umur mu lebih tua darinya. Dia tetaplah kakak ipar mu. Arsya kakak kandung istrimu, panggil seperti apa Salsa memangilnya." pesan Nenek Dela yang merasa tidak pantas mendengar Kenzo hanya menyebut Arsya, tidak ada embel-embel kakak atau sebagainya.
Apalagi beliau tahu begitu bagusnya bahasa dalam keluarga Tuan Heri maupun Ayah Ridwan. Kedua laki-laki paruh baya itu saja sangat jarang menyebut nama Arsya. Mereka selalu memangilnya kakak ataupun sayang.
Kenzo tidak menjawab, tapi ia hanya mengangguk mengiyakan. Lalu kembali lagi berjalan menuju garasi mobilnya.
Braak!
Suara pintu mobil yang ia tutup cukup keras. Setelah mesin mobilnya panas, Kenzo pun langsung menjalankan kendaraan mewahnya. Selama dalam perjalanan Kenzo kembali mengingat Salsa yang menangis tadi malam. Dia sedang menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi.
"Apa dia bersedih karena Arsya kalah? Atau ada hal lainnya?" terus bertanya-tanya karena penasaran. "Tapi jika gara-gara kakaknya kalah, kenapa saat Arsya menang dia hanya diam saja?" karena waktunya digunakan untuk memikirkan hal yang belum bisa ia pecahkan. Tidak terasa mobilnya sudah tiba di depan rumah mewah mertuanya.
Pak Satpam yang melihat suami Nona mudanya sudah datang padahal masih pagi, hanya bisa tersenyum dan mengelengkan kepalanya. Tadi malam lebih dari setengah jam Kenzo berada di depan pagar. Ingin masuk, tapi malu pada mertuanya. Mau pulang ke rumah kakeknya sendiri, berat untuk berpisah dengan sang istri.
"Pagi, Ma." sapa Kenzo pada mama mertuanya yang berada di ruang keluarga. Wanita itu sudah rapi dan cantik, sepertinya dia lagi menunggu anggota keluarganya yang lain untuk sarapan, karena biasanya juga seperti itu.
"Pagi juga, Nak. Wah kebetulan sekali kamu sudah datang. Tadi Mama sudah memasak makanan kesukaan mu." seru Ayla tersenyum hangat menyambut menantunya.
"Susul saja ke kamar kalian, lagian papa dan kakak juga belum berkumpul." sepertinya bila di dunia lain, sangat sulit mencari ibu mertua seperti Ayla. Sangat pengertian meskipun dia mengetahui jika tadi malam menantunya itu sudah membuat putrinya menangis.
Arsya memang tidak mengatakan apa-apa pada kedua orang tuanya. Tapi pengawal Rian sama seperti CCTV. Mereka selalu melapor, apa saja yang terjadi. Jadi sudah jelas Rian dan Ayla tahu bagaimana kegiatan putra-putrinya saat berada diluar rumah.
"Iya, Ma Terima kasih. Kalau begitu Kenzo akan keatas dulu," pamit Kenzo untuk pergi menemui istrinya.
Cek lek!
Kenzo membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. Lalu dia berjalan masuk, setelah menutup pintu kamarnya lebih dulu.
"Ken, Ken!" seru Salsa kaget. Dia baru saja keluar dari dalam ruang ganti pakaian.
"Sa... maaf, ya!" ucap Kenzo berjalan mendekat.
__ADS_1
"Maaf buat apa? Awas gue mau lewat!" jawab Salsa ingin berjalan ke meja rias.
"Maaf karena Lo harus pulang sama Arsya, dan maaf... mungkin gue sudah membuat Lo menangis," kata Kenzo tidak mau menyingkir, dia tetap berada di posisinya.
"Iya!" jawab Salsa singkat. "Ken! Awas gue mau lewat," sentak Salsa kesal karena kemana arah dia berjalan, maka Kenzo akan mengikuti langkah kakinya.
"Kenapa? Gue lagi pengen dekat istri gue, karena tadi malam kita sudah berjauhan." kata Kenzo tidak juga mau mengalah.
"Ciih! Dasar cowok Playboy Lo," Salsa menatap Kenzo dengan kesal.
"Playboy? Kapan gue banyak cewek, sehingga dari kemaren Lo bilang gue Playboy?" tanya pemuda itu menyerngit tidak paham kenapa dia selalu dibilang Playboy oleh istrinya. Padahal sudah jelas Kenzo jomblo sejak satu tahun lalu. Bukan tidak ada yang mau, tapi Kenzo nya yang ingin sendiri.
"Iya, Playboy!" gadis cantik itu kembali berkata dengan lantang.
"Lo cemburu?" bukannya mengklarifikasi masalah gelar Playboy. Tetapi Kenzo malah menanyakan hal lainnya sambil tersenyum tampan.
"Sa, Lo cemburu?" kembali bertanya karena Salsa belum menjawab pertanyaan nya. "Jangan bilang Lo cemburu sama Mia ya," semakin tersenyum tampan, meskipun Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi Kenzo menduga kalau istrinya menangis pasti ada hubungan dengan dirinya.
"Apaan sih, cemburu! Ngapain gue harus cemburu, Lo bukan pacar gue." jawab si princes sambil mencari celah untuk melewati dirinya yang terkurung di dekat pintu yang mengarah ke ruang ganti.
"Gue memang bukan pacar, tapi suami Lo," Kenzo berjalan semakin maju sehingga hanya menyisakan jarak sangat dekat. Dengan nafas naik turun Salsa mencoba menghalangi agar Kenzo tidak bertambah maju ke hadapan nya.
"Sa, jika benar Lo cemburu sama Mia, ngomong aja." ucap Kenzo meletakkan satu tangannya pada dinding. Dia sengaja mengurung Salsa agar tidak kemana-mana. "Tapi satu hal yang harus Lo tahu, Mia itu sahabat, bukan pacar gue." jelasnya yang tidak ingin Salsa salah paham pada hubungan dia dengan Mia.
Mendengar penjelasan Kenzo, dengan spontan Salsa mendongak ke atas sehingga pandangan mata mereka bertemu. Padahal sebelumnya tadi, gadis itu hanya menundukkan kepalanya, karena Salsa sambil berpikir. Mungkinkah apa yang Kenzo katakan benar? Apa betul dia cemburu suaminya dekat dengan gadis lain? Salsa mana tahu, dia tidak pernah pacaran.
Selain dekat dengan Arsya kakak kembarnya. Ia hanya dekat sama Ale dan Aditya, adik angkatnya. Jadi mana Salsa tahu kalau dia lagi cemburu atau tidak nya.
Dengan perlahan tapi pasti Kenzo menundukkan kepalanya. Tujuannya kini adalah bibir ranum Salsa, yang sedang gadis itu gigit sendiri, karena ia baru sadar, jika mungkin saja dirinya memang lagi cemburu.
Saat wajah Kenzo dan wajahnya semakin dekat, Salsa memejamkan matanya. Dia memang tidak pernah pacaran, tapi Salsa pengemar Drakor. Dia tahu apa yang akan Kenzo lakukan padanya. Meskipun dengan jantung berdebar-debar Salsa tetap berdiri di tempatnya dan pasrah saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG.. 🤣🤣🤭*