
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Ar, Kenapa?" Jeni menyentuh pundak Arsya yang hanya diam saja. Setelah memutuskan sambungan telepon bersama Aurel. Dia tiba-tiba terasa membeku tidak bisa berbuat apa-apa. Arsya sudah bersusah payah untuk melupakan gadis itu. Akan tetapi takdir seakan mempertemukan mereka kembali.
"A--aku, aku tidak apa," jawabanya harus siap menghadapi kenyataan di mana dia akan melihat Aurel bersama dengan tunangannya. Bukan ini yang Arsya inginkan, dia tidak mau berinteraksi dengan Aurel lagi. Namun, sekarang Arsya dan Jeni mana mungkin pergi meninggalkan Ziko begitu saja.
"Apakah kamu kenal dengan gadis yang menelepon tadi?" Jeni kembali bertanya untuk memastikan, karena tadi di saat Arsya mengangkat telepon dari ponsel milik Ziko. Jeni juga mengangkat panggilan dari orang tuanya.
"Iya," menjawab singkat dan tidak menyebutkan nama si penelpon. Namun, dari raut wajah sahabatnya itu Jeni sudah bisa menebak bahwa gadis tersebut pasti adalah Aurel.
"Jadi laki-laki yang kita tolong tadi adalah Ziko, tunangannya Aurel?" tebak Jeni yang diangguki oleh Arsya.
"Heum, kamu benar! Dia adalah Ziko," si tampan Arsya menjawab sambil keluar dari mobil Ziko. Entah mengapa tiba-tiba dia menjadi bad mood mengetahui kenyataan tersebut. Namun, sayangnya pemuda itu bukanlah sosok orang jahat. Dia keturunan dari keluarga Erlangga dan Ridwan. Orang yang terkenal memiliki baik hati dan suka tolong menolong.
"Hei, sudahlah! Duniamu bukan berakhir hari ini. Jika kalian memang berjodoh, maka pasti ada jalan Tuhan untuk menyatukan kalian berdua," ujar Jeni menepuk bahu Arsya untuk kedua kalinya.
"Iya, kau benar, Jen. Aku tidak boleh seperti ini. Jadi kesannya seperti tidak ikhlas menolong pria tadi," Arsya pun menggangguk membenarkan. Setelahnya dua pasangan sahabat itu pun kembali masuk ke dalam rumah sakit. Untuk menemui dokter dan mengatakan bahwa mereka sudah menghubungi keluarga pasien.
__ADS_1
"Ar, sabar ya," ucap Jeni sedikit tersenyum. dia tahu apa yang dirasakan oleh si tampan Arsya.
"Thanks ya, Jen. kehadiranmu di sini benar-benar sudah banyak menolong diriku. Jika tidak ada dirimu, mungkin sudah sejak minggu lalu aku meninggalkan negara ini dan kembali pada orang tuaku," Arsya ikut membalas senyuman dari sahabatnya.
"Huem, sama-sama," gadis itu menjawab disertai anggukan kepalanya pelan. Tidak lama setelahnya pintu ruangan UGD pun terbuka lebar. Ternyata para dokter yang menolong Ziko sudah keluar beserta dengan pasiennya, karena pria tersebut akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Sebab keadaannya sudah mulai membaik daripada saat dibawa ke rumah sakit tersebut.
"Doctor how is it?" tanya Arsya pada dokter yang berbicara pada mereka tadi.
"Currenty he is fine, and Will be transferred to the treatment room," jawab si dokter tersebut sambil mengikuti rekannya ke ruang perawatan. Sebab Ziko akan dipindahkan ke sana.
Tidak banyak bicara setelah di jelaskan Arsya dan Jeni kembali mengikuti ke mana para dokter membawa Ziko pergi. Rencananya mereka akan pulang setelah kedatangan keluarga Zico ataupun Aurel.
"ok doc, thank you," jawab Arsya dan Jeni secara bersamaan.
Setelah kepergian para dokter bersama rekannya.
"Ar, ternyata orangnya sudah lumayan tua," bisik Jeni ketika hanya tinggal mereka berdua saja dalam ruangan tersebut.
"Tua juga banyak uangnya," balas Arsya juga ikut berbisik, karena takut sewaktu-waktu Ziko terbangun dan mendengar bahwa dirinya sedang dikatai sudah tua.
"Agh, kamu ini, bila masalah uang, keluargamu pun tidak akan kalah dari mereka. Bahkan sepuluh kali lipat lebih kaya darinya Hanya saja sepertinya pria ini lebih beruntung daripada dirimu," tawa Jeni karena merasa ada waktu untuk menggoda sang sahabat. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini lagi. Kira-kira seperti itulah pemikiran Jeni yang notabenya sangat senang mengejek Arsya. Pemuda yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Kamu berani mengejek ku," kata Arsya akhirnya tanpa sadar melupakan rasa kecewanya yang akan bertemu kembali dengan Aurel. Walaupun hanya sesaat, karena hanya lima belas menit setelahnya. Pintu ruangan tersebut di buka oleh suster dan dibelakangnya diikuti oleh Aurel dan pasangan paruh baya. Mereka bertiga terlihat begitu khawatir.
"Aurel, kalian sudah datang," sapa Jeni sedangkan Arsya hanya diam saja dan sedikit membuang arah pandangan matanya. Agar tidak bertatapan dengan mata gadis yang pernah dia sukai.
"Iya, terima kasih," Aurel menjawab sedikit tersenyum canggung. Bukan hanya Arsa saja yang tidak ingin bertemu. Namun, gadis itu pun juga merasakan hal yang sama.
"Nak, terima kasih kalian sudah menolong putra Tante, jika bukan bertemu orang baik seperti kalian. Entah apa yang akan terjadi pada Ziko," ucap wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Ziko.
"Sama-sama Tante, tapi yang menolongnya bukan Saya. Tapi... Arsya, sahabat Saya ini yang sudah menolongnya," jawab Jeni dengan sengaja menyebutkan nama sahabatanya.
Mendengar hal tersebut pasangan paruh baya itu pun menoleh melihat Arsya yang tidak ingin menatap muka mereka. Alangkah terkejutnya Tuan Pradipto setelah mengetahui bahwa pemuda tersebut adalah calon pewaris Erlangga group.
"Kamu putra dari Tuan Rian, 'kan?" tanya Tuan Pradipto menatap Arsya dengan intens. Takut apabila salah mengenali orang.
"Iya Om, benar. Eum... karena kalian sudah datang, kami permisi dulu. Soalnya kami berdua masih ada urusan lain," jawab Arsya seraya langsung berpamitan. Dia tidak ingin berlama-lama ada dalam satu ruangan bersama Aurel. Bukan karena dia membenci gadis itu, tapi Arsya hanya sedang menjaga hati mereka berdua.
"Kenapa buru-buru, Nak. Tunggulah---"
"Auh, Mama," lirih Ziko membuka matanya pelan.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1