Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Tidak Ingin Menjadi Duda.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Cup!


"Tidurnya kok pules banget," Kenzo tersenyum mengelus kepala Salsa. Setelah ia membaringkan istrinya di atas ranjang tempat tidur. Ya, si princess saat ini sudah tidur ketika mobil mereka baru beberapa menit meninggalkan kediaman Mia. Gadis tersebut apabila sudah mengantuk memang seperti itu, dia akan tidur dan tidak akan sadar walaupun sudah di gotong seperti karung beras sekalipun.


Untungnya si Princess memiliki beberapa jagoan yang selalu siap menggendong dia ke tempat kamarnya berada. Sejauh ini, sampai umurnya hampir menginjak genap delapan belas tahun. Belum pernah sekalipun Rian menganggu tidur putrinya. Dia dan Arsya akan bergiliran, untuk memindahkan sang putri.


Tadi saja begitu mendengar mobil Kenzo sudah datang. Rian dan Ayla langsung berjalan keluar menuju garasi, sebab pria yang belum genap empat puluh enam tahun itu, tahu pasti putri kesayangannya sudah tidur. Tadinya bila Kenzo akan membangunkan Salsa untuk diajak masuk, maka Rian akan mencegah sang menantu, karena ia sendiri yang akan menggendong putrinya seperti biasa.


Akan tetapi Kenzo masuk dalam kategori menantu yang akan dia pilih. Memang pria yang bisa memperlakukan putrinya dengan baiklah, yang Rian jadikan jodoh untuk Salsa. Jadi nasib baiklah malam ini Kenzo menggendong Salsa seperti biasanya, karena malam ini memang bukan pertama kalinya dia menggendong sang istri untuk dibawa ke kamar. Namun, jika Rian baru mengetahuinya sekarang. Sebab anak dan menantunya sangat jarang tinggal di rumah mereka makanya Rian tidak tahu.


Laporan dari para pengawal tentu saja berbeda dengan dia melihatnya sendiri, karena biasanya laporan dan fakta ada yang tidak sama.


Jauh hari sebelum Salsa menikah, Rian dan Arsya putra sulungnya sudah pernah membicarakan perihal jodoh untuk sang putri, karena ingin Princess mereka mendapatkan suami yang mengerti seperti apa mereka menjaga Salsa selama ini dan memperlakukannya.


Namun, ketika Rian dan Ayla tiba di luar, ternyata Kenzo sudah menggendong Salsa dalam pelukannya. Pemuda itu terlihat kesusahan saat Ingin menutup pintu mobil menggunakan kakinya. Alhasil Rian yang membantu sang menantu agar lebih mudah.


Tidak banyak bertanya Rian hanya memerintahkan agar Kenzo mengantar Salsa ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu menantunya disuruh turun lagi, karena Ayla sudah menyiapkan sup untuk anak dan menantunya.


Kleek!


Suara pintu kamar mandi yang Kenzo buka cukup pelan, karena takut istrinya terbangun. Sebelum turun ke bawah, seperti perkataan mertuanya, Kenzo memilih untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu.


Meskipun hanya bermain kurang lebih setengah jam lamanya. Tetap saja dia telah mengeluarkan keringat yang membasahi tubuhnya.


Setelah selesai memakai pakaian rumahan. Kenzo kembali mendekati ranjang.


"Tunggu ya, gue mau turun kebawah, kasihan mama Ayla sudah masak sup untuk kita," bisik Kenzo berdiri dari sisi ranjang. sebetulnya Kenzo tidaklah lapar apalagi ini sudah larut malam, hanya saja dia tidak enak pada mertua perempuannya yang sudah bersusah payah masak untuk dia dan Salsa.


Tap!


Tap!


Kenzo menuruni tangga dan langsung menuju ke ruang dapur bersih.


"Sayang, ayok duduk," kata Ayla yang menyiapkan sup yang ia buat. Demi untuk anak-anaknya tidak ada kata lelah dan malas. Begitu sosok wanita empat puluh satu tahun, bernama Mikhayla putri Ridwan, yang sekarang menjadi Erlangga, karena sudah menjadi menantu Tuan Heri Erlangga.


"Iya Ma, terima kasih!" jawab Kenzo menarik kursi dan duduk sambil menikmati masakan ibu mertuanya. "Papa dan Mama tidak ikut makan?" tanya Kenzo karena Rian dan Ayla hanya diam sambil melihat dirinya.


"Tidak, kami sudah selesai sebelum kalian datang," Rian yang menjawab, karena Ayla malah berdiri untuk menuangkan air putih buat menantu yang dianggap seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Nak, apa besok pagi kamu akan pergi menemani Ayah Nando bermain Golf?" tanya Ayla ketika melihat menantunya sudah selesai.


"Iya," jawab Kenzo singkat. "Besok pagi sepertinya Kenzo tidak akan sarapan di rumah. Soalnya ayah mengajak perginya pagi," paparnya karena ayah angkatnya mengajak pergi jam enam pagi. Agar jam sepuluh, mereka sudah tiba di rumah lagi.


"Apakah Aditya akan ikut?" sekarang Rian yang bertanya.


"Katanya cuma Ken sama ayah aja, Aditya biar istirahat." jawab Kenzo masih ingat perkataan Nando. Soalnya tadi malam keluarga Nando dan Andre baru pulang dari luar kota.


"Oh, yasudah, pergi saja," Rian hanya mengangguk. "Sekarang jika mau istirahat, kembalilah ke kamar kalian. Papa dan Mama juga mau istirahat," kata Rian berdiri dari kursinya.


Tadi dia dan Ayla memang hanya ingin menemani Kenzo. Agar menantunya bisa menikmati makanannya dengan tenang.


"Iya Pa, kalau begitu Kenzo duluan," pamit Kenzo pergi lebih dulu, karena jika Rian masih menunggu istrinya membereskan meja makan.


Setibanya di dalam kamar. Kenzo yang lelah dan sudah mengantuk, memilih langsung tidur sambil memeluk istrinya. Cara mudah untuk masuk ke alam mimpi lebih cepat.


Hari ini adalah hari yang begitu bersejarah didalam hidup pemuda yang sudah berumur hampir dua puluh dua tahun itu. Sudah beberapa kali menyatakan perasaan pada gadis yang ia sukai. Namun, baru malam ini Kenzo melakukannya di tempat yang tidak di sangka-sangka.


Akan tetapi Kenzo sudah merencanakan sesuatu untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara lebih romantis lagi, yang benar saja, dia menembak kata cinta untuk seorang Princes Erlangga di dekat parkiran gedung olahraga.


Namun, dia ingin mencari waktu yang tepat, dan besok pagi dia akan mulai menelusuri tempat yang akan menjadi saksi cintanya pada sang istri. Lagian Kenzo juga ingin mendengar jawaban dari istrinya. Tadi Salsa hanya mau saat dia peluk, belum menjawab jika mencintainya.


Jadi untuk hari ini cukup sampai di sini. Besok adalah awal baru buat Kenzo memperjuangkan cintanya. Apakah dia masih menjadikan istrinya nomor dua dari sahabatnya, atau akan dijadikan nomor satu, diantara istrinya seorang. Tidak ada kata nomor satu atau dua lagi. Intinya Kenzo hanya menjadikan princess segalanya, dan paling utama.


*


*


Disinilah mereka saat ini. Di lapangan yang masih terletak di area kompleks tempat tinggal mereka. Namun jika menaiki sepeda, akan menghabiskan waktu dua puluh menit untuk tiba ke tempat tersebut. Kebetulan sekali hari ini Nando mengajak Kenzo mengunakan sepeda, agar bisa menikmati pemandangan Taman-taman yang mereka lewati.


"Wah, sepagi ini ternyata sudah ada yang lebih dulu dari kita," ujar Nando setelah memarkirkan sepeda mereka. Memiliki harta cukup untuk tujuh keturunan, membuat Rian dan kedua sahabatnya menikmati hidup mereka yang sudah berkepala empat.


"Sepertinya mereka bukan dari daerah sini, Yah. Lihat saja di parkiran banyak mobil yang terparkir," timpal Kenzo ikut berjalan dibelakang Nando.


"Iya, mereka dari kompleks perumahan sebelah terkadang juga sering datang ke sini," Nando membenarkan. Lalu dia dan Kenzo mengambil bola dan stik untuk bermain. Olahraga sederhana, yang menguras tenaga.


Biasanya Nando sering ke tempat tersebut bersama Andre dan Rian. Namun, pagi ini dia malah mengajak Kenzo. Sudah hampir satu jam lebih mereka di sana, tapi Nando belum juga mengatakan sesuatu. Dia hanya memukul bola untuk menjajal kehebatannya.


Sampai pada saat mereka duduk di bangku Taman. Barulah Nando berdehem. "Heem!"


"Kenzo," panggilnya dengan suara begitu tenang, tapi mampu membuat bulu kuduk Kenzo merinding seketika.


"Iya Yah, ada apa?" Kenzo langsung saja bertanya. Tidak hanya Ayla yang curiga ada sesuatu. Akan tetapi Kenzo juga merasakan hal yang sama.


"Apa kamu benar-benar sudah siap menjadi duda?"

__ADS_1


"Du--duda bagai mana?" imbuh Kenzo tidak paham.


"Huem!" Nando kembali berdehem dan menghela nafas panjang, sebelum menjelaskan pada Kenzo. Sebetulnya sudah dari Minggu lalu dia ingin berbicara dengan menantu mereka itu. Hanya saja waktunya yang tidak ada.


"Apakah kamu menyukai putri Ayah?" tanya Nando kembali.


"Tentu saja, memangnya ada apa? Dan Kenzo tidak mau menjadi duda," tanya Kenzo semakin was-was. Belah duren saja dia belum pernah, masa sudah mau menjadi duda.


"Jika kamu benar-benar menyukai princess dan tidak ingin menjadi duda di usia mudamu, maka cepat rebut hatinya, karena ayah dengar Salsa akan dibawa ke new York setelah dia lulus nanti. Arsya juga akan kuliah disana," papar Nando menjelaskan.


"A--apa! Ta-tapi siapa yang bilang?" jantung Kenzo bergemuruh tidak menentu.


"Tentu saja istrimu yang bilang pada ayah. Dia berkata jika sudah kuliah di sana, maka pasti akan merindukan kami," tutur Nando menampakkan waja sedihnya. Dia dan keluarganya sangat menyayangi Arsya dan Salsa. Mana mungkin akan baik-baik saja, bila harus berpisah jauh. Dua hari tidak bertemu saja, Nando akan menemui si kembar.


Jelas mendengar cerita Salsa yang ingin meneruskan kuliahnya di luar negeri, seperti pukulan untuk Nando dan Sari. Itulah sebabnya dia mencoba berbicara dengan Kenzo. Mencoba mencari cara, agar putrinya tidak pergi ke Amerika.


"Benarkah Salsa bilang seperti itu pada Ayah?" tanya Kenzo mengusap wajahnya kasar.


"Iya, dia sendiri yang bilang! Jadi benar kamu belum tahu tentang hal ini?"


Kenzo mengelengkan kepalanya. Jika Nando ayah angkatnya tidak bercerita, mana mungkin dia akan tahu. Soalnya Salsa tidak berkata apapun perihal masalah kuliahnya.


"Ck, Demian papamu yang berada di luar negeri saja tahu, kenapa kamu malah mengelengkan kepala," decak Nando meluruskan kakinya di bangku Taman.


"Jadi papa Demian juga sudah tahu? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Kenzo?" kata pemuda itu tak habis pikir.


"Karena kamu terlalu sibuk mengurus orang lain daripada Salsa," tekan Nando tiba-tiba kesal mengigat alasan Salsa ingin kuliah diluar negeri.


"Tapi... Mia adalah sahabat Kenzo dari kecil, Salsa sudah tahu," bela Kenzo tidak percaya jika dialah penyebab Salsa akan pergi.


"Sekarang semuanya tergantung padamu, jika ingin memiliki Salsa, maka perjuangan dia sebelum semuanya terlambat. Ingatlah satu hal, baik untuk kita, tapi belum tentu baik untuk pasangan kita. Jangan sampai kamu menyesal seperti papa mertuamu. Paham!" Nando menepuk pundak Kenzo.


Sebab hanya itu yang bisa ia sampaikan, jika Kenzo benar-benar mencintai princess mereka. Biar pemuda itu memperjuangkannya sendiri, tapi bila tidak! Berarti Nando harus siap berpisah dengan si kembar.


"Tidak, Kenzo tidak akan membiarkan Salsa pergi," ungkap Kenzo langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Itu bagus! Perjuangankan dia," seru Nando ikut berdiri. "Hei, kamu mau kemana? Kita main setengah jam lagi," panggilannya menatap punggung Kenzo berjalan keluar dari lapangan.


"Maaf Yah, pagi ini Kenzo belum bisa melanjutkan permainan kita, soalnya Ken mau pulang menemui Salsa." ujar Kenzo berhenti di tempatnya berdiri.


"Tapi nanti saja setelah pula---" Nando tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena Kenzo sudah pulang mengunakan sepeda mertuanya.


"Agh, dasar anak muda," kata Nando yang mau tidak mau, menyusul pulang.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2