Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Hanya Tinggal Pemulihan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Sudah kan, aku malu," ucap Salsa setelah mengecup sekilas pipi suaminya yang masih terlihat pucat.


"Huem, sudah!" Kenzo tersenyum kecil sambil mengelus sayang pipi istri cantiknya. "Mine," panggil Kenzo masih tetap dengan suara lemahnya. Sebetulnya pemuda itu lagi merasakan sakit bekas luka operasi. Namun, karena tidak ingin sang istri merasa khawatir, begitu pula dengan keluarganya yang lain. Kenzo mencoba menahan rasa sakit tersebut.


"Iya, ada apa By," Salsa yang belum terbiasa dengan panggilan barunya untuk sang suami, masih tersenyum kala menyebutkan, karena masih malu sendiri.


"Thanks," jawab Kenzo singkat.


"Terima kasih untuk? Justru aku yang berterima kasih karena kamu sudah melindungi kakak ku," ujar Salsa karena merasa sangat berhutang budi pada suaminya.


"Arsya juga Kakak ku," jawab Kenzo yang membuat Salsa semakin tersenyum bahagia. "Terima kasih karena sudah melindungi pernikahan kita, jika waktu itu kamu tidak meminta agar aku memilih antara sahabat, atau istri sendiri. Maka entah seperti apa hubungan kita untuk kedepannya," tutur Kenzo menggenggam erat tangan istrinya. Tidak lupa meskipun keadaannya masih lemah. Kenzo mengecup berulangkali tangan gadis yang ia cintai.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, karena aku bukan menolong dirimu. Akan tetapi menolong diriku sendiri, agar tidak menjadi janda di usiaku yang masih muda," goda Salsa, sehingga membuat Kenzo tersenyum dan melupakan rasa sakitnya.


Tidak lama setelah itu, pintu ruangan kamar rawat Kenzo terbuka dengan lebar. Dikira yang datang adalah para sahabat Kenzo dan Arsya. Namun ternyata yang datang adalah Demian bersama anak dan istrinya. Sehingga semuanya menyambut hangat kedatangan mereka bertiga, terutama Rian dan Ayla.


"Maaf, kami sedikit terlambat karena harus menunggu Keysa pulang dari sekolahannya," ucap Demian setelah melerai pelukan dengan besan laki-lakinya.


"Agh tidak apa-apa, namanya juga berjauhan. Lagian ada kami yang menjaga anak kita," jawab Rian tidak menyebutkan jika Kenzo adalah menantunya.


Hal itulah yang membuat Demian beserta istrinya, semakin malu pada keluarga besan mereka. Disaat mendengar bahwa Kenzo dekat dengan Mia. Demian sempat akan kembali ke negeri mereka sendiri untuk menemui sang putra. Namun, Ia dicegah oleh Rian, karena ingin Kenzo memutuskan sendiri hubungan tersebut. Sebab jika memang pemuda itu mencintai Salsa, maka sudah pasti akan mengambil pilihannya sendiri, tanpa harus dipaksakan oleh siapapun.

__ADS_1


"Xiuan, bagaimana kabarmu," tidak hanya para suami yang berpelukan hangat. para istri pun juga melakukan hal yang serupa apalagi sudah ada sekitar tiga minggu ini mereka tidak bertemu.


"Kabarku sangat baik, apalagi melihat hubungan anak-anak kita semakin membaik," jawab ibu Kenzo sudah mengetahui bahwa Rian membatalkan niatnya untuk memisahkan putra, dan Salsa.


"Lalu bagaimana dengan kabarmu sendiri? Terima kasih sudah menjaga Kenzo," ucap Xiuan dengan tulus.


"Kabarku juga sangat baik,'" Ayla merenggangkan pelukan mereka. "Ingat yang kita bicarakan waktu itu Kenzo juga putraku jadi jangan pernah merasa sungkan,"


"Huem, benar!" kedua wanita yang masih tetap cantik di usia tuanya berjalan mendekati anak-anak mereka.


"Sayang, maafkan Mama yang datangnya sedikit terlambat, karena harus menunggu adikmu terlebih dahulu," seru Xiuan memeluk anak dan menantunya secara bergantian. tidak berbeda jauh dari Rian dan Ayla orang tua Kenzo pun menganggap Salsa sama seperti putri mereka sendiri. Andai saja Rian memberi izin putrinya di bawa pindah ke luar negeri. Maka dari sejak awal menikah saja, Demian sudah membawa menantunya itu tinggal bersama mereka.


"Tidak apa-apa Ma! Lagian Kenzo juga baik-baik saja," ucap pemuda itu setelah sang Ibu melepaskan pelukan terhadap dirinya.


"Nak, bagaimana keadaanmu? Maaf ya, Papa terlambat," hal yang sama juga diucapkan oleh Demian. orang tua mana yang akan baik-baik saja setelah mendengar putra mereka mencoba menghadang peluru panas.


"Syukurlah jika baik-baik saja," Demian ikut merasa bahagia mendengar sang putra diperlakukan sangat baik.


"Ayo duduklah! Kalian pasti belum istrirhat, 'kan," ajak Rian kembali bergabung dengan keluarga yang lainnya.


"Agh benar sekali, tadi saat dirimu menelepon, aku lagi berada di perusahaan. Jadi belum ada istirahat sama sekali, karena setibanya di rumah langsung bersiap-siap sambil menunggu kedatangan Keysa," jawab Demian ikut berkumpul dengan ayah dan ibunya juga. Dia benar-benar sangat lelah. Apalagi tadi dia dirundung rasa khawatirnya pada keadaan sang putra.


"Maka dari itu istirahat saja di sini, nanti setelah lebih enakan baru pulang ke rumah untuk istirahat," lanjut Rian dia sesaat sebelum kembali berbicara.


"Sebentar lagi akan ada dokter yang memeriksa keadaannya, kalian berdua tidak perlu khawatir. Sebab tadi dokter yang mengoperasinya juga sudah menjelaskan kepadaku, bahwa setelah siuman Kenzo hanya perlu istirahat total, guna mempercepat kesembuhannya," jelas Rian baru menyebutkan sekarang tentang keadaan menantunya.


"Syukurlah jika seperti itu, tadinya aku kira dia sangat parah---"

__ADS_1


Belum juga selesai Demian berkata, pintu ruangan tersebut sudah kembali lagi terbuka dari luar. ternyata yang datang kali ini adalah dokter yang kata Rian akan memeriksa keadaan Kenzo. Dengan sopan, setelah menyapa semuanya yang ada di dalam ruangan VIP itu. Dokter tersebut mulai melakukan tugas mereka masing-masing.


"Selamat sore Nona, selamat sore Tuan Muda Kenzo. Maaf ya kami akan memeriksa keadaan anda sebentar saja," ucap si dokter tersenyum ramah pada pasangan yang hanya berdua saja.


"Iya, silahkan diperiksa, Dok," Salsa yang menjawab karena Kenzo hanya mengangguk kecil.


"Eum... sepertinya semuanya berjalan dengan sangat bagus. Keadaan Tuan Muda sudah jauh dari kata baik. Sekarang tinggal menunggu pemulihan lagi saja. Namun, tetap tidak boleh banyak bergerak walaupun hanya ke kamar mandi," jelas si dokter yang di catata oleh perawat dibelakangnya.


"Dok, bisa tolong dinaikkan sedikit bagian atas ranjangnya. Agar anak saya bisa nyaman walaupun dalam keadaan baring," pinta Rian yang berdiri di belakang putrinya untuk mendengarkan keadaan Kenzo.


"Tentu saja bisa tuan Erlangga, ini juga akan diperbaiki oleh perawat," jawab si dokter. Dikarenakan pemeriksaan sudah selesai, perawat pun melakukan tugas terakhirnya. Setelah itu barulah mereka pergi dari sana.


"Om, Tante, sebaiknya kalian pulang saja untuk beristirahat karena tidak baik juga terlalu lama berda dirumah sakit. Lagian ada kami yang akan menjaga Kenzo di sini kata Rian kembali mendekati kakek dan nenek menantunya.


"Iya benar sekali, Om, Tante. Kalian harus sehat. Biarkan yang muda-muda saja berjaga di sini," sahut Nando sambil melirik jam tangannya.


"Aku juga akan pulang dulu. Soalnya harus menjemput Sari dan Aditya. Jika ada apa-apa segera hubungi aku. Demian kau juga sebaiknya pulang saja untuk melepas penan, karena jika disini tidak akan bisa istirahat. Sebab sebentar lagi pasti teman-teman Arsya dan Kenzo akan datang," ucap Nando lagi.


"Astaga! Nando benar," seru Rian melupakan hal tersebut. "Demian, kamu pulang saja ajak anak dan istri mu pulang buat istirahat. Nanti kita bisa bergantian buat menjaga Kenzo. Aku belum bisa pergi, karena harus mengurus masalah pertandingan anak-anak kita," ujar Rian menepuk pelan keningnya.


"Tapi... biarkan kami yang menjaganya, selama ini selalu kalian. Aku semakin tidak enak padamu, Ri." tolak halus Demian. Sebab ia memang merasa malu harus merepotkan Rian terus-menerus. Apalagi ini, yang sakit adalah putranya.


"Sudah tidak apa-apa, ingat! Kita adalah keluarga. Jadi jangan merasa tidak enak," Rian menepuk pelan pundak besannya.


Pada saat bersamaan, para sahabat Kenzo sudah datang. Namun, baru sahabatnya saja. Belum sahabat Arsya. Jadi karena di rumah sakit ada peraturan juga. Mau tidak mau Demian pulang bersama orang tuanya, dan yang tersisa di sana hanyalah keluarga Rian saja.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2