Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Bukan berarti pacaran.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Habis ini adek mau apa lagi?" tanya Arsya setelah menghabiskan es krim miliknya.


"Kita langsung pulang saja, Kak. Nanti sore setelah Kenzo pulang bekerja, kami akan pulang ke rumah." jawab Salsa belum mengatakan kalau hari ini dia dan Kenzo akan menginap di rumah orang tuanya.


"Benarkah? Wah seru sekali!" Arsya tersenyum, karena sampai sekarang dihatinya paling dalam belum ikhlas melepaskan adiknya tinggal di rumah Kenzo. Namun, apa boleh buat dia tidak berhak lagi menahan adiknya agar tinggal bersama mereka.


"Ayo kita pulang sekarang," ajak Salsa setelah beberapa saat kemudian.


"Adek nggak mau nambah?" goda si tampan Arsya seperti hari-hari dimana ia dan adiknya sering mampir kesana hanya untuk memakan es krim kesukaan mereka.


"Nanti kakak fotoin, lalu dikirim ke mama." Salsa mencebikkan bibirnya. Sedangkan Arsya tertawa karena apa yang dikatakan prinses benar. Bila Salsa menghabiskan dua mangkuk es krim ukuran jumbo. Nanti Arsya lah yang melapor pada mama mereka.


Setelah membayar es-nya kedua saudara kembar tersebut berjalan ke luar sambil beriringan. Tiba di parkiran, Arsya membuka pintu mobilnya untuk sang adik. Namun, saat dia hendak menyusul masuk. Tiba-tiba Arsya merasa ingin buang air kecil. Lalu dengan sangat terpaksa Arsya meningalkan adiknya seorang diri, karena ia mau ke kamar mandi. Akan tetapi dia mengunci pintu mobilnya.


Saat sang kakak berada di dalam kamar mandi. Satu buah mobil berhenti tidak jauh dari mobil mereka. Salsa mengenali mobil Lamborghini tersebut. Itu adalah mobil milik suaminya.


"Gue nggak salah lihat, 'kan? Si Ken, Ken mau ngapain dia ke sini?" tanya Salsa pada dirinya sendiri. Namun, meskipun begitu Salsa tidak mau berburuk sangka karena mobil yang serupa dengan mobil suaminya tentu saja banyak.


Tidak lama berselang, pintu mobil arah kemudi terbuka lebar, dan keluarlah Kenzo. Lalu pemuda itu berjalan kearah pintu samping dan membuka pintu tersebut. Suami Salsa membukakan pintu mobil buat seorang gadis yang seumuran dengan sang suami.


Deg...


"Ken, Ken!" ucap Salsa tercekat di dalam tenggorokan nya. "Jadi dia tidak kuliah," merasa ada yang memperhatikan Kenzo menoleh kearah kiri dan kanan. Lalu matanya melihat mobil yang sama persis seperti milik Arsya kakak iparnya.


"Salsa! Nggak mungkin ada Salsa didalam, 'kan? Ini mobil Arsya, gue tahu platnya,"

__ADS_1


Gumam Kenzo melihat kearah mobil yang terparkir. Di dalam hatinya lagi merutuki kenapa pula mereka harus mampir di sana.


"Gimana bila Salsa beneran ada di sini, terus berpikiran buruk tentang gue. Aah tapi Salsa nggak mungkin ada di sini. Palingan Arsya doang, lagi sama pacar atau temennya."


Sambil berjalan masuk Kenzo kembali bergumam. Namun, pandangan matanya terus melihat-lihat mana tahu jika istrinya benar sedang berada di sana. Tidak tahu saja dia kalau Princes Erlangga berada di dalam mobil, bukan di dalam kedai es krim nya.


"Oh, jadi dia pacarannya nggak cuma malam, tapi juga siang," ucap Salsa sambil memperhatikan Kenzo dan wanita yang bersamanya masuk ke dalam. Ada rasa aneh yang Salsa rasakan, tapi ia tidak tahu kenapa bisa seperti itu.


Kleeek!


"Maaf ya, Kakak lama," kata Arsya begitu memasuki mobil. Tidak banyak bicara dia langsung memasang selt belt pada tubuh adiknya. Lalu setelah itu dia mengacak rambut sang adik sambil berkata.


"Mukanya jangan cemberut dong. Kapan-kapan kita pergi jalan-jalan pake motor. Tapi izin dulu sama suami kamu." ucap Arsya yang mengira jika adik perempuannya cemberut karena lama menunggu kedatangannya.


"Tadi adek sudah mengabari Kenzo kan kalau pulang bareng kakak?" tannya nya lagi yang sudah tahu ada batasan di antara dia dan adiknya. Arsya memiliki sifat sama seperti Opa Heri nya yang bawaanya tenang tapi tidak pernah meleset bila mengerjakan sesuatu.


Walaupun baru berumur delapan belas tahun. Akan tetapi Arsya mempunyai pikiran yang dewasa. Tidak asal-asalan, atau ceroboh seperti anak muda lainnya.


"Hei... adek kenapa? Jangan membuat kakak takut, apa ada yang sakit?" Arsya yang selalu siaga, mengetahui pasti terjadi sesuatu pada adik perempuannya.


"Kakak! Hu... hu... ayo kita pulang sekarang. Salsa nggak mau kita lama-lama di tempat ini," tangis Salsa pecah saat Arsya menghentikan mobil dan balas memeluknya.


"Iya, ini juga kita mau pulang. Adek kenapa huem? Jangan membuat kakak menebak sesuatu yang nantinya pasti akan salah." jawab Arsya langsung membuat adiknya tertawa sambil melepas pelukan mereka. Kakak nya selalu saja seperti itu, tahu saja cara mendiamkan Salsa.


"Nggak lucu," kata Salsa masih tertawa.


"Emang nggak lucu, kakak kan bukan lagi bikin lawakan." jawab Arsya sambil menghapus air mata di pipi adiknya.


"Jika ada apa-apa cerita sama kakak, ya. Jangan di tanggung sendiri. Sekarang ayo kita pulang." imbuh Arsya tersenyum pada sang adik. "Ini adek mau pulang ke mana? Rumah kita, atau rumah Kenzo?"


"Rumah kakek Fathan, soalnya Salsa belum berpamitan sama kakek dan nenek." meskipun Salsa gadis manja, tapi dia tahu adap dan sopan santun pada orang tua, karena seperti itulah ajaran dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Oke, kakak akan mengantar mu kesana." pemuda tampan itu pun kembali lagi menjalankan kendaraan mewahnya. Arsya memang tidak melihat kiri-kanan mobil mereka. Jadi tidak tahu jika di parkiran tadi ada mobil adik iparnya. Lagian mobil yang mirip tentu banyak, kecuali bila dia mengenal plat mobil Kenzo.


Selama dalam perjalanan pulang. Salsa hanya diam tidak banyak bicara seperti biasanya. Arsya pun tidak banyak bertanya karena dia sangat yakin, bila sudah tiba saatnya. Sang adik akan bercerita sendiri. Namun, bila yang membuat adiknya bersedih adalah Kenzo. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasanya tidak mungkin Arsya akan melepas Kenzo begitu saja.


Dua puluh menit kemudian.


"Kakak nggak masuk dulu?" tannya Salsa saat mereka sudah sampai di depan rumah mewah tuan Fathan.


"Nggak, lain kali saja. Salam dari Kakak buat kakek Fathan dan istrinya. Maaf Kakak belum bisa mampir, soalnya mau ngantar mama kerumah uncel Varo." jawab Arsya sudah selesai membuka selt belt pada tubuh adiknya.


"Eum... Kak!" ucap Salsa seperti ragu-ragu. "Salsa mau nanya," lanjutnya lagi.


"Apa, adek mau nannya apa?" Arsya yang tadinya mau turun untuk membuka pintu mobil langsung terhenti dan berbalik melihat kearah adiknya.


"Jika orang pacaran apakah mereka akan sering bertemu?" Salsa yang belum pernah pacaran harus bertanya dulu karena tidak mau juga, asal mengambil kesimpulan.


Mendengar pernyataan sang adik, Arsya menyergit sampai alisnya terangkat ke atas. "Sepertinya iya, tapi nggak semuanya pacaran. Bisa jadi hanya berteman biasa."


"Tapi bila berteman, terus ketemuannya sering. Eum... misalnya malam-malam masih sering bertemu atau antar jemput si cewek. Apakah itu sudah bisa dibilang pacaran?" Salsa kembali lagi bertanya karena hanya sang kakak tempat dia mengadu, setelah itu barulah kedua orang tuanya.


Arsya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan adiknya. "Ini bukan adek, 'kan?" jawabnya tersenyum tampan. "Dek... tidak semua kedekatan antara laki-laki dan perempuan itu bisa dibilang pacaran. Kakak sudah bilang, bisa jadi hanya berteman." pemuda itu menjeda ucapannya sambil melihat raut wajah sang adik. "Tapi... bila kita sudah memiliki pasangan pacar atau suami-istri, sebaiknya jangan terlalu dekat meskipun dengan teman kita sendiri. Kita memang mengangap nya hanya sahabat. Tapi bagaimana bila pasangan kita mengira yang bukan-bukan. Adek paham kan maksud Kakak,"


Salsa mengangukaan kepalanya, seraya menjawab. "Iya, Salsa paham, Kak."


"Ayo turun! Nanti saat di rumah papa, kita bisa membicarakan masalah ini lagi." ajak Arsya turun dari mobil. Bukan apa-apa dia tidak mau menjawab sekarang, bila terlalu lama berada di dalam mobil, pemuda itu takut nenek Kenzo berburuk sangka pada mereka. Sebab sudah seringkali orang salah paham gara-gara kedekatan dia dan adiknya.


"Terima kasih! Salsa masuk dulu, ya! Kakak hati-hati. Bila sudah tiba di rumah langsung telepon Salsa." ucap gadis itu masuk kedalam rumah mertuanya. Anggap saja rumah nenek Kenzo adalah rumah mertuanya.


Setelah adiknya masuk kedalam rumah. Barulah si tampan Arsya meninggalkan kediaman Tuan Fathan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2