
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kenzo!" sapa seorang gadis cantik berdiri dibelakang pemuda itu.
Mendengar ada yang menyebut namanya. Kenzo pun menoleh kearah belakang. Untuk beberapa saat dia sempat kaget. Namun, setelah itu Kenzo terlihat biasa saja.
"Mia, Lo kok ada disini?" tanyanya merasa heran, karena rumah Mia cukup jauh dari sana.
"Gue kebetulan lewat, terus nggak sengaja lihat Lo masuk kesini. Jadi gue ikutin aja," jawab gadis yang sering disapa Mia, oleh para sahabatnya. Termasuk Kenzo sendiri.
"Oh gitu, kapan Lo kembali?" untuk berbasa-basi Kenzo menanyakan gadis itu, karena mereka berdua bersahabat sejak kecil.
"Baru dua hari sama sekarang. Rencananya gue mau pindah kuliah disini lagi, sama seperti Lo." jawabnya sembari tersenyum manis.
Akan tetapi senyuman itu tidak membuat Kenzo tertarik, sejak dulu sampai saat ini. Apalagi sekarang Kenzo sudah memiliki istri yang jauh dari kata cantik.
"Benarkah, Lo mau kuliah dimana? Kok nggak ngasih tahu gue?" Kenzo kembali bertanya sampai-sampai dia melupakan kalau niatnya datang ke sana untuk membeli pembalut buat istrinya.
"Iya benar, ponsel gue hilang, makanya nggak ngasih kabar. Kebetulan sekali pagi ini kita bertemu disini, sepertinya nanti siang gue datang ke kampus Bima Sakti. Buat daptarin kepindahan gue." papar gadis itu, masih tetap tersenyum manis.
"Wah, bagus dong! Biar kita satu sekolahan lagi seperti saat masih TK." seru Kenzo merasa senang.
Ya, Mia dan Kenzo pernah satu sekolahan dari TK sampai SD kelas dua, karena setelah itu Kenzo pindah sekolah keluar negeri bersama kedua orang tuanya.
Namun, hubungan mereka tetap terjalin baik. Setiap Kenzo liburan ke rumah kakeknya. Mereka selalu bertemu untuk menghabiskan waktu bersama.
Dulunya, Kenzo kecil sangatlah nakal. Seringkali membuat anak lainnya menangis, dan satu-satunya yang mau berteman dengannya hanya Mia.
"Eum, benar! Gue sengaja mau kuliah di Bima Sakti biar ada temannya. Lo kan tahu sendiri gue baru kembali, jadi belum punya teman yang baru."
"Tenang aja, disana nantikan ada gue. Gue sekarang punya banyak teman kok, nggak seperti dulu." saat mengatakan itu Kenzo ikut tersenyum.
Deg!
"Ken, Lo kok tambah tampan aja, sih. Bikin gue semakin suka sama Lo."
Gumam Mia didalam hatinya sambil menatap Kenzo dengan jantung berdebar-debar.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apa Anda jadi mau membeli pembalutnya?" tanya si pegawai yang sejak tadi menunggu Kenzo selesai bicara. Untung saja ada pembeli yang lain, jadi dia menunggu tidak terlalu lama.
"Astag, Saya lupa! Maaf Mbak." seru Kenzo merasa tidak enak.
"Mi, sory ya, gue tinggal dulu. soalnya gue kesini cuma buat beli pembalut." Agh, dasar Kenzo. Dia menyebut akan membeli pembalut pada seorang gadis. Anehnya dia tidak malu. Malah sebaliknya, pipi Mia tiba-tiba terasa panas karena malu.
"Ehum! Ke--Ken, gu--gue nggak lagi salah dengar, kan?" tanya Mia tergagap.
Meskipun dia malu untuk menanyakan hal tersebut. Tapi demi rasa ingin tahunya. Gadis itu memaksakan dirinya untuk bertanya. Sehingga membuat dia tergagap. Seperti sudah melakukan sesuatu.
"Nggaklah, gue emang mau beli pembalut buat is, si adek gue." hampir saja Kenzo keceplosan bicara. Sebetulnya kalau Kenzo sendiri tidak masalah bila orang lain tahu pernikahannya. Namun, semua yang dia lakukan karena istrinya masih duduk di bangku SMK.
"Kok adek, Lo berani sih nyuruh beliin pembalut? Emang dia ada disini juga?" tanya gadis itu menyergitkan keningnya.
Tidak habis pikir saja. ada pemuda yang mau membeli pembalut untuk adik perempuannya. Membuat Mia semakin menyukai Kenzo. Membeli pembalut untuk adiknya saja mau. Apalagi buat istrinya. Agh... Kenzo benar-benar suami idaman.
Gadis itu seakan-akan ingin berteriak kegirangan.
"Mi, gue kesana dulu, ya. Nanti bila Lo sudah di kampus, cari saja gue di gedung jurusan Manajemen." kata Kenzo mau meninggalkan sahabatnya.
Akan tetapi Mia kembali memangil nya. "Eh, Ken... minta nomor ponsel Lo. Mana tahu nanti gue sulit buat nemuin, Lo."
"Oh iya, gue lupa kalau ponsel Lo hilang. Sini biar gue simpan nomor gue." kata Kenzo mengambil ponsel Mia.
"Silahkan Tuan pilih mau membeli yang mana, Saya mau kembali meneruskan pekerjaan Saya." ucap si pegawai.
"Eh, tunggu dulu, Mbak. Ini semua pembalut untuk anak gadis?" Oh, Kenzo! Pertanyaan seperti apa itu? Jelas saja semuanya sama. Mau untuk anak gadis ataupun ibu-ibu.
"Semuanya sama saja, Tuan. Perbedaannya hanya jenis, harga dan merk nya saja." papar si pegawai menjelaskan satu persatu.
"Oh begitu. Eum... Kalau harga yang paling mahal dan terbaik yang mana?" tanya Kenzo sudah seperti ingin membeli ikan buat dimasak saja.
"Ini harga paling mahal Tuan, kalau yang terbaik yang ini." jelas pegawai itu lagi.
"Oke, oke! Tapi... yang jenisnya berbeda yang mana?" tidak malu Kenzo bertanya lagi karena takut salah membelikan barang terbaik untuk Princes Erlangga.
Istrinya itu putri konglomerat. Sudah pasti semuanya yang terbaik dan mahal. Itulah perkiraan Kenzo.
"Ini hanya beda ada yang bersayap dan ada juga yang tidak. Tapi kedua-duanya sama-sama bagus, karena dari produk yang sama." untuk saja pegawai yang melayani Kenzo adalah perempuan berumur tiga puluh lima tahunan. Bila dia seorang gadis entah seperti apa jadinya.
"Wah, ternyata ada yang pake sayap juga? Kira-kira gue beli yang mana, ya? Tapi... menurut gue, mending beli yang gak pake sayap, deh. Biar tu sawah diam pada tempatnya."
__ADS_1
Batin Kenzo mempertimbangkan pilihan mana yang mau dibeli, karena disini dia dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.
"Agh, beli yang biasa aja, Ken. Nanti Lo rugi kalau terbang beneran. Mana belum diapa-apain lagi."
Kembali bergumam di dalam hatinya. Setelah memikirkan beberapa menit. Akhirnya pemuda itupun membeli yang tidak ada sayapnya. Buat jaga-jaga biar lahan sawah tidak terbang kemana-mana.
"Saya beli yang ini. Cukup tiga saja." tunjuk Kenzo pada pembalut yang paling mahal dan terbaik. Jangan lupakan, yang tidak ada sayapnya juga.
"Baik Tuan, tunggu di meja kasir saja. Biar Saya yang membawa kesana." pegawai itu mengambil tiga pak pembalut sesuai pilihan Kenzo lalu diantar pada meja kasir.
Setelah membayar semuanya Kenzo pun kembali lagi mengendarai mobil mewahnya menuju rumah sang kakek. Bukannya orang tua Kenzo tidak mau membeli rumah sendiri. Akan tetapi, Tuan Fathan kakeknya yang melarang mereka.
Sebab orang tua Kenzo adalah anak tunggal. Jadi buat apa membeli rumah yang pastinya tidak akan pernah ditempati oleh pemiliknya.
"Salsa... Lo benar-benar, ya. Pagi-pagi gini sudah membuat gue pergi membeli pembalut." Kenzo tersenyum kecil sambil mengendarai kendaraannya.
*
*
Sementara itu Salsa yang menunggu sang suami. Tidak sengaja melirik satu buah pesan yang baru saja masuk pada ponsel Kenzo. Untung saja Kenzo telah merubah foto layar kuncinya. Kalau tidak, maka akan ketahuan oleh Salsa.
💌 0 : "Ken, Ini gue, Mia---"
Hanya tulisan sebatas itu yang dapat Salsa baca, karena ponsel Kenzo memiliki sandi. Jadi dia tidak bisa membukanya.
"Mia... siapanya Kenzo, ya? Tapi disini masih belum ada namanya," gumam Salsa bertanya-tanya.
"Lagian hanya ponsel, kenapa harus dikasih sandi segala,sih. Seperti tukang selingkuh aja. Awas ya, kalau Lo berani selingkuhin gue. Akan gue balas, Lo." seru Salsa penuh tekad.
Lalu dia menyimpan kembali ponsel Kenzo pada meja kaca yang ada dihadapannya.
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu bbg Kenzo update. Yuk baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.😘😘😘