Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Mempertahankan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Ayo duduk," ajak kenzo mengajak istrinya untuk duduk setelah melepas pelukan mereka. Pemuda itu tidak segan-segan menunjukan kemesraan nya dihadapan para sahabat dekat, maupun teman satu kampusnya.


"Duduk!" Salsa mengulangi perkataan Kenzo. Seakan lagi bertanya, dia akan duduk dimana? Karena tempat yang ia duduki sebelum menaiki panggung, sudah di tempati oleh Mia sahabat suaminya.


"Dasar lampir, dia pasti lagi sengaja ingin menjauhkan gue sama Ken, Ken! Awas Lo ya, mau main-main sama Princess rupanya. Kita lihat, apa yang akan Kenzo lakukan selanjutnya, nyuruh gue duduk disebelah Kak Andra, atau ngajak gue pindah mencari meja lain."


Gumam Salsa tersenyum penuh arti kearah sahabat suaminya itu, yang iya yakini Mia menyukai Kenzo kekasih halalnya. Belum lagi ia selesai bergumam, apa yang ia pikirkan sudah terjadi.


"Tidak perlu bingung, ada pahaku untuk tempat mu duduk," kata Kenzo kembali duduk pada kursinya seperti tadi. Lalu tanpa aba-aba ia menarik pelan tangan Salsa, sehingga istrinya duduk di atas pahanya. Perlakuan mendadak Kenzo tentu membuat Salsa mengalungkan tangannya pada leher sang suami, karena dirinya kaget.


"Buset! Ken, Lo benar-benar bikin panas ya," seru Eel dengan mata membola keluar. "Sepertinya Lo bucin akut deh sama Bila, ckckck, kok gue ingin segera macarin princess sih, agar bisa mesra-mesraan sama dia," kata Eel tersenyum kearah panggung karena mereka semua mengira, jika gadis yang bersama Arsya adalah adiknya.


"Tapi setahu gue, Salsa sudah punya kekasih, Kak." timpal Salsa tidak tahan ingin menggoda sahabat suaminya.


"Apa! Benarkah? Lo tahu dari mana?" tanya serentak Hengki, Eel dan Yogi. Mereka menatap kearah Salsa yang masih duduk di atas paha suaminya. Jangan lupakan, tangan Kenzo melingkar pada pinggang ramping istrinya.


"Iya benar, tanya aja sama Kak Ken, kalau tidak percaya." ujar Salsa tersenyum menyeringai. "Benar kan By, Salsa sudah punya pacar?" si princess memutar tubuhnya ke samping untuk melihat muka Kenzo yang dia ajak berbicara agar sahabat suaminya percaya dan menjadikan Kenzo yang menjawab semua pertanyaan selanjutnya.


"Iya, benar!" jawab Kenzo tersenyum gemas. Selama ini dia belum tahu jika selain pintar membuat orang merasa terbakar, ternyata Salsa juga jahil untuk mengerjai orang.


"Lo tahu dari mana, Ken? Kenapa tidak pernah memberi tahu kita?" akhirnya Kenzo dicecar pertanyaan oleh para sahabatnya. Sedangkan yang membuat masalah malah ingin kabur ke toilet.


"By, aku mau ke toilet, lepas dulu jangan dipeluk gini," kata Salsa dengan suara manjanya, karena dia tiba-tiba ingin pipis.


"Ayo, biar diantar!" bukannya menjawab pertanyaan para sahabatnya, tapi Kenzo malah ingin berdiri mengikuti istrinya ke kamar mandi.


"Kenzo, astaga! Bucin boleh bro, tapi bukan berarti Bila ke toilet Lo ikutin juga," cegah Andra menahan pergelangan tangan Kenzo.


"Ndra, ini bukan masalah bucin atau nggak nya, tapi gue emang nggak bisa membiarkan Sa---" Kenzo berhenti bicara, karena hampir saja menyebut nama salsa.


"Sa, apa, Ken?" tanya Yogi menyergit bingung.


"Maksudnya, gue nggak bisa membiarkan Bila pergi sendirian. Ini amanah dari orang tuanya, kalau sampai dia kenapa-kenapa, nyawa gue taruhannya." jawab Kenzo tidak berbohong, memang itulah kenyataannya. Jika sampai Salsa kenapa-kenapa, maka sudah pasti mertua dan kakak iparnya akan marah besar.


"Ken, Lo tunggu disini aja, kebetulan sekali gue juga mau ke toilet. Biar gue yang menemani Bila, lagian laki-laki dilarang ke toilet wanita, kan," sela Mia ikut berdiri dari tempat duduknya. Sedari tadi dia hanya diam saja dengan hati yang hancur menyaksikan kemesraan Kenzo dan istrinya.

__ADS_1


Namun, untuk menutupi semuanya, dia masih tetap bertahan di sana meskipun terpaksa.


"Tapi gue tetap nggak bisa, Mia. Gue harus mene---"


"By, sudah tidak apa-apa, biar sahabat mu yang menemaniku, karena dia tidak mungkin menyakiti aku, kan," sela Salsa yang mengetahui jika Mia sengaja ingin mengikutinya, bukan benar-benar mau ke kamar mandi seperti dirinya.


"Tapi sayang, ak---"


"Ken, biarin Mia yang menemani Bila, masa Lo nggak percaya pada sahabat Lo sendiri sih, dia pasti akan melindungi kekasih Lo, jika sampai terjadi sesuatu." sekarang dengan paksa Eel dan Andra menyuruh Kenzo untuk duduk. Mereka merasa sikap Kenzo benar-benar keterlaluan, masa ia pacarnya ke kamar mandi harus di ikuti juga.


"Tunggu sebentar ya, aku kekamar mandi sebentar," kata Salsa seraya tersenyum manis pada suaminya. Apapun yang dia lakukan malam ini, karena ingin membuat Mia semakin panas, setelah perbuatan Mia yang menyuruh dia naik ke atas panggung. Salsa semakin yakin, jika wanita tersebut bukanlah gadis baik-baik seperti yang dipikirkan oleh suaminya.


Setiba di dalam kamar mandi, Salsa yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil, langsung saja masuk ke toilet. Sedangkan Mia hanya diam di dalam ruangan luar saja. Sebab tadi dia memang hanya beralasan akan ke toilet.


Lima menit setelah itu, Salsa pun sudah keluar. Namun baru saja ia berbalik badan dan membuka pintu kamar mandi. Mia sudah menodong dia dengan pertanyaan.


"Bila, gue mau bicara sama, Lo." ucap Mia menarik kasar tangan Salsa keluar dari dalam toilet wanita. Si princess yang sudah menduganya, hanya diam saja karena ingin tahu apa yang akan Mia lakukan.


"Ada apa? Bukannya sedari tadi kita sudah berbicara, ya?" tanya Salsa seperti gadis polos dan menyentak tangannya kasar.


"Cih, Lo sengaja kan dari awal datang mau membuat gue cemburu?" Mia berdecak dan langsung menuduh Salsa.


"Bila, jangan sampai gue berbuat kasar pada Lo, ya! Gue tahu Lo hanya berpura-pura bodoh," sentak Mia kesal mendengar Salsa seperti lagi mempermainkannya.


"Oya, tapi menurut gue, lebih baik berpura-pura bodoh, daripada.... berpura-pura baik yang berkedok dengan persahabatan." Salsa sengaja menggantung ucapannya agar membuat Mia bertambah kesal.


"Brengsek! Jadi Lo tahu gue suka sama Kenzo?" Mia menatap Salsa seperti seekor burung Elang yang lagi mengincar buruannya.


"Ha... ha! Hanya orang bodoh yang tidak akan tahu jika Lo suka sama suami gue," tunjuk Salsa pada dada Mia. Sampai wanita itu mundur beberapa langkah dan menabrak dinding kamar mandi.


"Jadi benar Kenzo sudah menikah? Dan Lo wanita penggoda yang sudah menjebak sahabat gue? Dasar perempuan murahan!" Mia ikut melawan, Untung saja sana tidak ada orang lain, yang ada hanya mereka berdua, karena para pengawal Erlangga sudah mengamankan tempat tersebut agar tidak ada yang mendengar perdebatan nona muda mereka.


"Iya, Kenzo sudah menikah! Apa Lo tahu kenapa dia memberi tahu kalau dia sudah memiliki istri, itu semua karena dia ingin Lo sadar, tidak usah mengharapkan apa yang sudah menjadi milik orang lain." Salsa berjalan mendekati Mia dan dengan sengaja mendorong tubuh Mia agar semakin menempel pada dinding dengan cukup kasar.


Si Princess memang sudah lama merasa geram pada sahabat suaminya yang selalu mengirim pesan ataupun menelepon Kenzo tanpa tahu waktu. Makanya malam ini dia memberi pelajaran tidak tanggung-tanggung. Pikirnya, mau gila, gilalah sekalian.


"Aaagk!" jerit Mia mengepalkan tangannya karena menahan emosi untuk tidak berlaku kasar.


"Kenapa? Lo masih sehat, 'kan?" cibir Salsa semakin berani. Tanpa ia sadari jika Arsya sudah menahan diri agar tidak muncul sebagai kakaknya. Pemuda itu begitu khawatir jika Mia sampai menyakiti adiknya.


"Bila, gue nggak akan membiarkan Lo mendapatkan cinta Kenzo, karena gue yakin dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Lo, Bil." ucap Mia mengancam. Dia memang tidak berniat menjambak rambut Salsa ataupun menampar seperti di novel-novel, karena bila dia sampai berani melakukan hal tersebut, maka Kenzo pasti akan marah dan membenci dirinya.

__ADS_1


"Oh, takut!" jawab Salsa tersenyum mengejek. Dia benar-benar merasa puas sudah membuat Mia terbakar api cemburu dan juga memberinya peringatan. "Jika masih mau bersahabat sama suami gue, buang jauh-jauh perasaan Lo padanya, karena jika Lo masih nekad, gue akan membuat persahabatan kalian berakhir," ancam Salsa bersiap-siap akan keluar duluan. Namun, sebelum benar-benar pergi dia menoleh ke belakang dan berkata. "Oya, hampir lupa, sedari kecil gue nggak pernah dijadikan nomor dua dan berbagi apa yang gue sukai, Mia! Jadi Lo paham kan maksud gue," ungkap si princess langsung membuka pintu.


Braak!


Salsa dengan sengaja membanting pintu kamar mandinya cukup kasar. Lalu sambil memperbaiki topengnya, ia terkikik sendiri. Akan tetapi tidak lama, karena kakak laki-lakinya sudah berjalan mendekati Salsa sambil mengelengkan kepalanya.


"Huem!" Arsya berdehem, dia sejak tadi menunggu di luar pintu. "Mulai nakal ya," ucapnya seraya menarik tangan adiknya pergi mengarah ke lift.


"Kak! Sejak kapan kakak berada di sana?" tanya Salsa sambil mengikuti langkah sang kakak.


"Sejak adek berani mengerjai orang," jawab Arsya melepaskan tangan adiknya pelan, karena dia akan menekan tombol lift menuju lantai paling atas hotel tersebut.


"Ha... ha...! Kakak kok tahu, sih." tawa Salsa merangkul lengan sang kakak. "Apa tadi kakak sengaja mengikuti Salsa ke toilet?" tanyanya penasaran.


"Ngapain ngikutin kamu ke toilet, seperti tidak ada kerjaan saja." jawab Arsya sengaja dibuat cuek.


"Ih, kakak jawab yang jujur!" rengek Salsa tidak percaya. Dia sangat tahu jika kakaknya lagi berpura-pura.


"Tadi Ken yang chat kakak, katanya adek kekamar mandi dan dia tidak bisa menemani. Namun, kakak malah melihat kejadian tidak terduga, yaitu Putri Tuan Rian Erlangga dan Nyonya Ayla, yang takut pada hujan, sudah berani mengancam seseorang." jawab Arsya menarik gemas hidung adiknya.


"Apa Ken chat Kakak? Cie-cie... diam-diam kalian berdua sudah bertukar nomor ponsel, udah nggak musuhan lagi ya," Salsa malah balik menggoda kakaknya.


"Jangan ngeles! Kakak lagi marah nih," kata Arsya mengandeng Salsa keluar dari lift. Setibanya di depan kamar khusus adiknya, Arsya membuka pintu kamar tersebut dan mengajak Salsa masuk, karena malam ini mereka akan menginap seperti pesan yang baru dikirim oleh orang tua mereka.


"Duduk!" titah Arsya mulai serius. "Adek, lain kali tidak boleh seperti itu lagi, jangan menganggap sesuatu itu sepele seperti yang adek lakukan barusan." ucap Arsya menasehati sang adik.


Jika saja saat dia datang ke toilet tadi, tidak ada para pengawal Erlangga yang menjaga adiknya. Maka bisa jadi semuanya akan Arsya pecat masal, tanpa bertanya pada kakek dan papanya lebih dulu.


"Tapi Kak... iya, maaf Salsa berjanji tidak akan seperti itu lagi." ujar Salsa yang tadinya ingin membela diri dan menjelaskan pada kakaknya.


"Kakak tidak marah kamu memberi dia peringatan, tapi jangan terlalu menyepelekan seseorang. Bagaimana jika dia nekad untuk menyakitimu," jelas Arsya yang sudah diceritakan oleh Kenzo saat mereka mengobrol berdua saja. Adik iparnya itu telah menceritakan masalah pelik keluarga Mia, bahkan tentang Mia yang ingin melakukan percobaan bunuh diri, juga Kenzo ceritakan pada Arsya. Agar tidak lagi terjadi hal seperti saat kakak iparnya menghentikan mobilnya di tengah jalan.


"Iya, maaf!" Salsa yang tahu jika apa yang dikatakan kakaknya benar. Hanya mengucapkan kata maaf.


"Sudah tidak apa-apa, sebentar lagi Kenzo akan menyusul ke sini. Tadi papa mengirim pesan lagi, katanya kita tidak boleh pulang dan di suruh menginap saja." papar Arsya yang sudah selesai menasehati adiknya.


Dia senang Salsa berani mempertahankan apa yang menjadi haknya, apalagi ini suaminya sendiri. Tapi bukan berarti harus seberani yang Salsa lakukan tadi, karena menurut Arsya adiknya tidak memiliki perhitungan yang bisa saja menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Arsya memang sama seperti opa Heri dan juga Nando ayah angkatnya yang selalu berhati-hati saat bertindak. Malah bila dibandingkan Rian ayahnya, lebih baik dia.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2