
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Selepas kepergian Kenzo. Salsa masih berbalas pesan dengan Ara sahabat baiknya. Gadis tersebut mengajaknya ke pusat perbelanjaan, karena sudah lama sekali mereka berdua tidak menghabiskan waktu bersenang-senang mengelilingi Mall terbesar yang milik keluarga Ridwan. Kakek daris si kembar Arsya dan Salsa.
💌 Ara : "Jadi bagaimana nih, mau jalan nggak? Kalau iya kita berangkat setengah jam lagi." tanya Ara masih melalui chatting.
💌 Salsa : "Jadi dong, ya udah gue juga akan bersiap-siap, Elo tunggu di rumah aja, nanti gue yang jemput. Tapi... gue cuma jemput di depan gapura yang mengarah kompleks," balas Salsa sekalian menjahili temannya.
💌 Ara : "Oke, nggak apa-apa gak sampai rumah, asalkan kita bisa jalan berdua," Ara pun tak kalah menggoda si princess.
💌 Salsa : "Ha... ha... Ara, Lo apa-apaan ngomongnya sudah seperti pasangan aja," Salsa tertawa sendiri membaca pesan dari sang sahabat baik. Meskipun mereka jarang pergi menghabiskan waktu berdua seperti para gadis lainnya. Tapi Salsa dan Ara selalu bersama melewati sosial media.
💌 Ara : "Ogah gue punya pasangan seperti Elo, yang takut sama hujan, nanti gue repot nggak bisa kemana-mana gara-gara jagain Lo," Ara terkikik karena dia memang sudah biasa mengejek Salsa, tujuannya agar si sahabat tidak takut lagi, dan berani melawan rasa takut yang ia rasakan. Namun, mau bagaimana pun Salsa tetap tidak ingin mencobanya.
💌 Salsa : "Eh, mulai nih ngajak war 😎 gue mau ditantang, jelas nggak beranilah." kembali tertawa, ternyata ada untungnya Salsa bermain ponsel, karena ia bisa melupakan masalahnya dengan Kenzo.
💌Ara : "Ha...ha... sudah tahu juga jawabannya. Sudah ah, kapan berangkatnya kalau gini teru. Oya Sa, kita mau berangkat sama Kak Arsya atau sama sopir?"
💌 Salsa : "Sama sopir, soalnya Kak Arsya lagi pergi sama Om Aldi. Sudah siap-siap sana, dandan yang cantik mana tahu nanti ketemu sama Kak Farel." ucap Salsa langsung saja berdiri dari sofa, karena dia akan bersiap-siap sekarang.
Tidak sampai lima belas menit, Salsa sudah selesai. Dia hanya memilih pakaian yang pas saja, karena bila wajah dia selalu alami sangat jarang berdandan seperti gadis seusianya.
"Perfect! Gue tu cantik, gue princess nya Erlangga, masa ia mau di dua-in. Oh ayolah princess, tunjukan pesona mu!" Salsa berputar-putar di depan cermin sambil berbicara pada pantulan dirinya yang cantik begitu sempurna.
"Oke, let's go, waktunya kita bersenang-senang," ajaknya pada diri sendiri. Setelah memasukan ponsel dan dompet ke dalam tas yang ia bawa. Salsa pun keluar dari kamar.
Saat ini dia masih berada di rumah utama, karena tadi Ayla sang mama menelepon, dan berkata tidak boleh pulang dulu, karena nanti dia dan Rian akan menyusul ke rumah utama. Sebab ibu dua anak itu dari dulu sampai sekarang, selalu mengutamakan orang tua sendiri dan juga mertuanya.
Tidak bisa sarapan bersama, bukan berarti mereka akan melewatkan waktu bersama opa dan oma anak-anaknya. Jadi malam ini, mereka akan makan malam di rumah utama. Setelah itu terserah mau pulang ke mana saja.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki si princess yang setengah berlari menuruni tangga, seperti kebiasaan dirinya. Apalagi di rumah sang kakak lagi tidak ada, jadi dia bebas tidak ada yang melarang.
"Wah, sudah rapi! Mau kemana princess?" tanya Opa Heri yang duduk di ruang tengah sambil menonton film Doraemon, karena setelah tua ternyata pria sepuh tersebut mencari hiburan dengan menonton Film anak-anak.
"Opa, adek mau pergi jalan-jalan ke Mall bersama Ara. Tadi adek sudah minta izin pada papa dan kakak." ucap Salsa duduk di samping sang kakek dengan bergelayut manja.
"Kok izinnya hanya sama papa dan kakak, apa adek tidak izin sama Kenzo?" Opa Heri menaruh remote televisi di atas meja, lalu ia genggam tangan sang cucu sambil berkata.
"Sayang, sekarang dirimu tidak seperti dulu lagi, mau kemanapun minta izinlah pada suamimu lebih dulu, bukan pada papa dan kakakmu. Apa princess sudah minta izin pada Kenzo?" Opa Heri memang orang yang sangat bijak, jadi dia tidak pernah membela yang salah. Meskipun menyayangi Salsa, bukan berarti membiarkan cucunya berbuat salah.
"Be--belum ngomong, tadi Salsa nggak ada niat mau pergi jalan-jalan," jawab Salsa tersenyum sambil mengangkat kedua jari tangannya ke atas sebatas telinga. Sebagi tanda, bahwa dia minta maaf dan mengakui kesalahannya.
__ADS_1
"Mana ponselnya, telepon suamimu sekarang juga, Opa ingin mendengarnya." ucap Opa Heri mengelus sayang bahu Salsa.
"Iya, Opa. Tapi jika Kak Kenzo nggak mengangkat teleponnya bagaimana? Apa adek nggak boleh pergi?" tanya Salsa takut gagal semua yang rancangan tempat-tempat yang akan mereka datangi.
"Di coba dulu, bila sampai tiga kali tidak di angkat juga. Maka princess boleh pergi, karena sudah menelepon nya." jawab Opa Heri tersenyum karena dia tahu ketakutan sang cucu.
Ttttttddd!
Ttttttddd!
Panggilan kedua barulah di angkat oleh Kenzo.
📱Kenzo : "Iya, kenapa, sayang?" jawab Kenzo setelah mengangkat telepon dari istrinya.
"Ayo katakan!" Opa Heri mengangguk menyuruh Salsa menjawab pertanyaan Kenzo. Tidak lucu kan, dia yang menelepon malah tidak menyampaikan maksudnya.
📱 Salsa: "Eum... gu, heum! Aku mau izin pergi jalan-jalan ke Mall bersama Ara," ucap Salsa hampir salah berbicara mengunakan bahasa mereka di saat tidak dihadapan para orang tuanya.
📱 Kenzo : "Oh yasudah! Hati-hati, ya. Nanti setelah semua urusannya selesai, aku akan menyusul ke rumah opa." jawab Kenzo karena dia memang belum bertemu dengan papinya Mia, karena orangnya lagi pergi keluar.
📱 Salsa : "Yasudah, kamu juga hati-hati. Semoga pekerjaannya lancar," kata Salsa langsung mematikan sambungan telepon dan menyimpan kembali ponselnya.
"Sudah beres, 'kan! Jadi lain kali jangan seperti ini lagi, ya. "
"Iya Opa, sekarang adek pergi dulu, ya. Tapi... oma kemana?" Salsa melihat sekeliling mereka tidak ada siapapun.
"Oma mu lagi menonton di ruang sebelah, dia tidak mau Opa ajak menonton film Doraemon, karena dia punya Film Favoritnya sendiri. Tapi princess langsung pergi saja, nanti Opa yang akan bilang ke oma, biar cepat pergi dan cepat lagi pulangnya."
Sementara itu, di rumah Mia setelah menerima telepon dari sang istri. Kenzo kembali lagi masuk ke dalam rumah, karena tadi dia memang pergi dari ruang tamu agar bisa berbicara dengan leluasa. Namun, ternyata Salsa hanya ingin berpamitan saja.
"Ken, apa sudah selesai!" tanya Mia yang melihat Kenzo sudah kembali.
"Sudah," jawab Kenzo singkat.
"Apa tadi Bila istri, Elo?" ucap Mia memastikan.
"Iya, kok Lo tahu kalau Bila istri gue?" pemuda tersebut balik bertanya.
"Iya dong, bukannya tadi malam kalian membicarakan tidur di Villa. Tidak mungkin kan Elo membawa gadis tidur bersama,"
"Huem, benar! Bila memang istri gue. Tapi Lo jangan bilang ke anak-anak, gue nggak mau mereka mengetahui pernikahan gue, untuk saat ini." jawab Kenzo tersenyum kecil saat mengigat istri cantiknya yang sudah ia berikan stempel kepemilikan pagi ini.
"Kenapa? Kan mereka semua sahabat kita, apa salahnya jika mengetahui Lo sudah menikah, malah lebih bagus anak-anak kampus mengetahui fakta yang sebenarnya?"
"Iya sih, tapi jika Bila sudah lulus, lah sekarang dia masih kelas dua belas. Masih tujuh bulan lagi baru lulus," jawab Kenzo akhirnya bercerita pada sahabat baiknya.
"A--apa! Elo serius si BIla masih kelas dua belas?" seru Mia kaget tidak percaya.
"Elo lebih kenal gue dari siapapun, memangnya gue pernah ngarang-ngarang cerita seperti para author novel." ujar Kenzo tanpa sengaja membawa-bawa para penulis.
"Eh, iya, Lo mana pernah gitu." Mia menyenggir kuda. "Oya, itu bagaimana masalahnya sih, Ken? Kok Lo tiba-tiba sudah menikah? Bahkan kurang ajar banget, gue nya nggak di undang," cibir Mia sambil bertanya, sebab dia memang sangat penasaran sosok si Bila yang ia ketahui adalah istri sahabatnya.
__ADS_1
Akhirnya karena sudah biasa curhat dengan Mia setiap memiliki masalah. Kenzo menceritakan bagaimana ia dan Salsa bisa menikah. Namun, dia masih menyembunyikan siapa gadis yang dia nikahi. Begitu pula dengan nama asli Salsa dan latar belakang keluarga sang istri.
"Ha... ha...! Apes banget sih nasib Lo, Ken." Mia tertawa setelah mendengar cerita sahabatnya. Dia benar-benar merasa bahagia karena masih memiliki harapan untuk merebut Kenzo dari Bila.
"Siapa bilang nasib gue apes! Gue justru beruntung bisa menikahi Bila, dia sangat berbeda dari mantan-mantan pacar gue, Mia. Gue nyaman banget sama dia," ungkap Kenzo tidak membenarkan perkataan Mia yang mengira dia tidak bahagia.
"Syukurlah! Gue ikut bahagia, jika Lo bahagia. Tapi kenapa tadi malam Lo bilang belum pernah ngapa-ngapain dia? maksudnya gimana, gue belum paham tentang omongan Elo yang itu. Sorry gue cuma penasaran, Lo lagi ngerjain anak-anak. Atau memang lagi serius?" Mia kembali lagi bertanya selagi mereka curhat, karena sebelum Kenzo mengangkat telepon dari Salsa istrinya. Mia yang curhat lebih dulu kenapa kedua orang tuanya mau kembali lagi ke Korea.
"Itu memang serius, sampai saat ini gue memang belum pernah berbuat lebih dari ciuman, karena selain dia masih SMA, gue ingin kami berdua sudah benar-benar saling mencintai satu sama lain. " Kenzo kembali membeberkan masalah rumah tangganya tanpa bertanya pada sang istri lebih dulu. Walaupun Mia sahabat baiknya, bukan berarti masalah ranjang harus ia ceritakan juga.
"Jadi Elo belum ada menyatakan perasaan padanya?"
"Gue sudah ngomong suka sama Bila, tapi gue belum mengatakan cinta, karena ingin mencari moments yang tepat. Masa iya, buat nembak pacar aja gue ngeluarin uang puluhan, bahkan ratusan juta agar bisa Perfect. Giliran nembak istri yang akan menjadi bagian hidup gue cuma modal bakso doang," Kenzo tergelak memikirkan hal tersebut. Apalagi istrinya itu bukanlah sembarangan gadis seperti para mantan pacarnya yang sudah-sudah.
"Iya juga sih, sebaiknya Lo cari moments yang tepat. Oya, ayo di makan dulu kuenya, ini susah banget tahu, gue bikinnya dari pagi," ucap Mia yang merasa sudah cukup mengetahui masalah rumah tangga sahabatnya. Sekarang tinggal dia menyusun rencana untuk merebut Kenzo.
"Heum! Jawab Kenzo mengangguk. Lalu ia melihat jam pada pergelangan tangannya. "Mi, papi Lo kemana? Kok lama banget?" Tanya Kenzo sudah lama menunggu.
"Tunggulah sebentar lagi, tadi papi sudah menunggu dari pagi. Malah Elo nya, lama banget datangnya." Mia ikut melirik jam tangannya. Namun, kebetulan sekali hanya sebentar menunggu. Mobil orang tua Mia sudah datang.
"Ken, apa sudah lama?" tanya papi Mia menyalami Kenzo. Lalu ia duduk di sofa.
"Lumayan, mungkin sudah satu jam setengah." jawab Kenzo memperbaiki tempat duduknya.
"Huem! Begini Ken, sore ini Om akan kembali ke Korea. Jadi Om mau menitipkan Mia, sampai kami menyelesaikan masalah perusahaan dan juga hubungan dengan Tante mu," ucap pria paruh baya itu langsung saja pada pokok permasalah, kenapa dia memanggil Kenzo ke rumahnya.
"Tapi tidak akan lama, intinya Om hanya ingin memperbaiki rumah tangga kami yang lagi ada masalah," lanjutnya lagi.
"Tapi Kenzo tidak bisa, Om. Karena sekarang selain mengurus pekerjaan di perusahaan, Saya juga memiliki istri yang harus di antar jemput sekolah, karena kami tidak sekolah di satu tempat." jawab Kenzo langsung menolak, karena dia memang tidak bisa.
"Tunggu dulu, maksud Om menitipkan Mia, bukan berarti kamu harus antar jemput putri Om," sela pria paruh baya tersebut. Lalu ia kembali lagi berbicara. "Om menitipkan Mia, hanya untuk di pantau saja keadaannya, karena takut dia sakit atau kenapa-kenapa. Kamu tahu sendiri kan, kalau Mia di sini tidak memiliki keluarga. Dia hanya dekat dengan mu," papar papi Mia menjelaskan secara detail.
"Kamu bisa kan membantu, Om?" kembali lagi bertanya. Sebab Kenzo hanya diam tidak berkata apa-apa.
"Apa yang harus gue lakukan, jika gue menolak, gue nggak tega. Mia sahabat gue, lagian kan gue hanya di mintai mengawasi saja."
Gumam Kenzo di dalam hatinya, sebelum menjawab pertanyaan yang sangat sulit untuk ia putuskan begitu saja. Di sisi lain ingin menjaga perasaan Salsa. Namun, dilain sisi tidak tega pada Mia yang keluarganya lagi terombang-ambing.
"Ken, jika Elo nggak bisa, nggak usah di paksain. Gue bisa kik mengawasi diri gue sendiri." ucap Mia yang tahu jika Kenzo bingung mengambil keputusan.
"Eum... tidak apa-apa, gue bisa jika hanya buat mengawasi aja, soalnya jika lebih dari itu gue nggak bisa. Elo tahu sendiri sekarang gue sudah punya tanggung jawab pada Bila, istri gue " jawab Kenzo menatap Mia karena ia tahu jika sahabatnya pasti mengerti posisi nya saat ini.
"Oke, terima kasih. Om bisa pergi dengan tenang jika ada yang mengawasi Mia." kata Papi Mia menjabat tangan Kenzo, sebagai ucapan terima kasihnya.
"Sama-sama, Om. Mia sahabat Saya, jadi tidak perlu sungkan." kata Kenzo tersenyum kecil. Lalu setelahnya mereka membahas masalah perusahaan.
"Ken, temani gue berbelanja buat keperluan gue, yuk? Selagi libur." ajak Mia baru ingat jika ada keperluan yang harus ia beli.
Sebelum menjawabnya. Kenzo terdiam dulu. "Ya sudah, ayo gue antar, soalnya ada yang mau gue beli juga." putusannya menyetujui. Dia berani mengambilan keputusan seperti itu, karena Salsa juga lagi tidak ada di rumah.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1