Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Ingin Pengalaman Baru. ( Arsya )


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Pa, apa yang terjadi?" tanya Ayla yang baru saja datang di saat anaknya sudah pergi keruang perawatan Kenzo, yang sudah lebih dulu dibawa oleh perawat. Sedangkan Rian harus menemui dokter untuk mendengarkan keterangan tentang keadaan menantunya.


"Ma, tenanglah! Ayo kita ke ruang perawatan lebih dulu. Kenzo sudah dipindahkan ke sana dan anak-anak kita juga lagi menemaninya," jawab Rian menenangkan sang istri.


Tidak banyak bicara Ayla mengikuti kemana suaminya merangkul dirinya. Gara-gara sangat mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya, ibu muda itu sampai meninggalkan Nando di parkiran. Dia berangkat memang bersama Nando, karena Sekertaris Aldi lagi mengurus Robert dan Mia yang langsung diterbangkan ke luar negeri. Rian tidak mau mereka semua di tahan di kota B.


"Salsa tidak apa-apa 'kan?" sambil berjalan Ayla kembali bertanya. Sebab tidak sabar untuk bertemu dengan putra-putrinya.


"Baik, ada kakak yang menenangkan nya. Tenang ya, Kenzo pasti akan baik-baik saja," Rian yang baru saja mendengar penjelasan dokter mulai tenang.


Ceklek!


"Ma," seru Salsa dan Arsya bersamaan. Keduanya langsung berdiri dan memeluk ibu mereka. "Mama, adek sangat takut," Salsa yang sudah diam kembali lagi menangis saat berada dalam pelukan sang mama.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Kita akan merawat Kenzo bersama-sama, Oke," meskipun belum tahu apa yang sudah terjadi pada menantunya. Ayla hanya bisa menyebarkan sang putri. Sebab dia tidak mungkin terlihat lemah disaat anak-anaknya membutuhkan mereka sebagai orang tua.


"Ayo duduklah! Papa sudah berbicara dengan dokter Erik, katanya Kenzo hanya tinggal siuman dan setelah itu perawatan yang baik. Maka dia akan sembuh seperti semula. Jadi jangan menangis lagi," ucap Rian sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Huh! Syukurlah!" Ayla menarik nafas lega. Dia sangat takut bila Salsa mengalami kesedihan seperti dirinya dulu. Saat hamil anaknya, Ayla harus menghadapi Rian yang koma gara-gara tertembak saat melindungi dirinya. Hari ini malah Kenzo yang berusaha melindungi putra sulungnya. Benar-benar sangat sulit untuk dilupakan.


"Adek, mandilah! Mama sudah membawa pakaian untuk kalian, biar Mama yang menjaga Kenzo," titah Ayla duduk di kursi samping tempat menantunya yang belum juga sadarkan diri.


"Benar apa kata Mama, gih mandi duluan. Setelah itu Kakak juga mau mandi," Arsya ikut menyuruh sang adik. Sebab bila dia yang berkata, maka biasanya Salsa akan mengiyakan perkataan kakaknya.


"Iya, baiklah!," jawab Salsa mengangguk sambil mengambil pakaian ganti dan dibawa masuk kedalam kamar mandi.


"Nak, terima kasih sudah melindungi kakak mu," lirih Ayla tidak tega melihat menantunya harus terbaring di ranjang rumah sakit. Padahal tadi pagi semuanya masih baik-baik saja.


"Mama tidak pernah menganggap mu sebagai menantu, kalian bertiga sama saja. Anak-anak Mama, semuanya" ucapannya lagi tak kuasa menahan air matanya. Rian sengaja membiarkan istrinya berbicara dengan Kenzo. Sebab dia tahu bahwa istrinya menyanyangi menantu mereka dengan tulus.


"Pa, apa ayah tidak jadi ke sini?" tanya Arsya duduk di samping papanya. Mereka berdua sama-sama belum mandi.


"Jadi, tadi dia ditinggal mama kalian di luar rumah sakit. Tapi barusan mengirim pesan, katanya lagi menunggu kedatangan kakek Fathan yang sudah di jalan," terang Rian melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.


"Lalu apakah Om Demian akan datang sore ini juga?"


"Iya, mungkin sekarang sudah berada di dalam pesawat. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Terima kasih sudah datang tepat waktu. Jika kamu terlambat, maka pasti gadis itu sudah menyakiti adikmu," sambil menunggu kedatangan kakek Kenzo dan juga yang lainnya. Rian mengobrol bersama sang putra.


"Sudah kewajiban Arsya melindungi mereka," jawab Arsya tertunduk sedih. Dia tidak menyangka adik iparnya malah melindungi dirinya.

__ADS_1


"Jangan jadikan beban, Kenzo mencintai adikmu, Kak. Makanya dia melindungi mu karena tidak ingin Salsa bersedih. Lagian semua ini bukan salah siapa-siapa, bila Papa tidak melakukan hal ini..Maka kita tidak bisa menjebak mereka sekaligus," Rian menepuk pelan pundak sang putra. Dia sangat paham bahwa Arsya merasa bersalah atas apa yang menimpa Kenzo.


"Jika kamu pergi kuliah di luar negeri, mereka berdua pasti akan merasa kehilanganmu, apalagi Ale sama Adit" sengaja mengalihkan pembicaraan. Agar Arsya melupakan apa yang telah terjadi.


Arsya yang mendengarnya hanya menyugikkan senyuman kecil. Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar, dia juga tahu jika adik-adiknya akan kehilangan dirinya. Saat tahu Arsya akan kuliah ke luar negeri, Aditya dan Alexander menangis seharian. Tidak ingin berpisah dengan sang kakak.


"Maafkan Arsya, Pa. Arsya hanya ingin mencari pengalaman baru,"


Gumam Arsya yang tidak pernah bercerita jika memiliki masalah, pada siapapun. Termasuk adik kembarnya.


Kleeek!


"Ayah, Kakek, Nenek" seru Arsya melihat pintu ruangan tersebut dibuka dari luar. Kebetulan sekali dia duduk dengan posisi menghadap kearah pintu.


"Iya, bagaimana keadaan Kenzo?" tanya mereka bertiga.


"Dia belum juga siuman, mungkin sebentar lagi, karena perkiraan dokter jam lima dia akan sadar," jelas Rian sambil menyalami Tuan Fathan dan istrinya.


"Nak," seru nenek Kenzo berpelukan dengan Ayla yang masih setia berada di samping menantunya.


"Tante, maaf, maafkan kami tidak bisa melindungi Kenzo," ucap Ayla merasa bersalah karena Kenzo seperti itu karena ingin melindungi Arsya anaknya.


"Tidak perlu minta maaf, ini sudah takdirnya. Yang terpenting Kenzo baik-baik saja," jawab wanita paruh baya itu sudah dijelaskan oleh Nando jika semua ini juga karena kesalahan Mia. Sahabat baik cucunya saat masih kecil.


"Terima kasih, Tante, apakah Demian dan Xiuan sudah berangkat?"


"Astaga, Tante jadi lupa, Nak," serunya sambil melihat di sekeliling mereka.


"Ada apa Tante?" Ayla yang tidak tahu ikut melihat sekeliling mereka.


"Salsa kemana? Dia baik-baik saja, 'kan?"


"Oh, Salsa lagi mandi, karena pakaian mereka semua kotor karena darah Kenzo tadi. Dia juga baik-baik saja," jawab Ayla tersenyum. Dia kira ada hal apa lagi.


Tidak lama setelah itu pintu kamar mandi sudah terbuka. Terlihat Salsa sudah berganti pakaian. Dia lebih segar, walaupun matanya masih sembab gara-gara habis menangis.


"Kakek, Ayah," dengan sopan si princess menyalami mereka satu-persatu, termasuk nenek Kenzo.


"Princess baik-baik saja, 'kan?" tanya Nando merentangkan kedua tangannya. Sebesar apapun Salsa dan Arsya, tetaplah dua anak kecil yang sudah menemani dia dan Sari hampir selama empat tahun kurang lebih.


"Huem, sudah lebih baik," Salsa tersenyum kecil. "Bunda mana? Apa Ayah hanya sendirian?"


"Bunda belum ke sini, dia lagi menemani adikmu," Nando melepaskan pelukannya dan tersenyum lega karena Salsa baik-baik saja.


Salsa hanya mengangguk mengerti dan setelah itu dia kembali mendekati suaminya. Sedangkan Arsya bergantian untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


"Nenek," Salsa yang sudah tenang harus menangis lagi karena nenek Kenzo merentangkan tangannya.


"Jangan menangis, Kenzo tidak apa-apa," ucap beliau mengelus rambut Salsa yang masih basah.


"Iya Nek, Salsa hanya takut terjadi sesuatu padanya," jawab Salsa jujur. Baru saja merasakan manisnya sebuah pernikahan dengan laki-laki yang ia cintai. Namun, sudah diberi ujian menyakitkan seperti hari ini.


"Sekarang duduklah di sini, jangan berdiri terus. Kamu pasti sangat lelah," seakan mengerti jika cucu menantunya ingin bersama sang cucu. Nenek Kenzo dan Ayla meninggalkan Salsa berduaan saja dengan suaminya.


Lagian melihat keadaan Kenzo baik-baik saja. Makanya mereka akan duduk di sofa sambil ngobrol.


"Ken, ayo bangunlah!" ucap Salsa menggenggam erat tangan Kenzo. "Jangan lama-lama pingsannya, aku takut," jujurnya tidak tahu bahwa Kenzo sudah sadar dari tadi. Namun, dia sengaja berpura-pura belum siuman.


"Aku... mencintaimu, jadi jangan tinggalkan aku sendirian. Memangnya kamu tidak takut jika aku di ambil sama orang?" bertanya sendiri karena ceritanya Salsa lagi berusaha mengembalikan kesadaran suaminya. Seperti cerita di novel-novel. Akan tetapi kali ini dia sudah dikerjai, karena disaat kedatangan kakeknya tadi. Pemuda itu sudah bagun.


"Aku akan membencimu bila sampai malam tidak bangun-bangun juga," tadi Salsa memohon. Tapi sekarang dia mengancam, sehingga Kenzo bersusah payah menahan dirinya untuk tidak bagun sekarang dan tertawa. Meskipun perutnya terasa nyeri karena bekas operasi. Dia tahan saja demi mengetahui perasaan sang istri padanya.


"Maaf ya, karena aku sebetulnya bisa mengendarai motor dan mobil. Hanya saja aku sembunyikan. Soalnya aku tidak pernah pergi sendirian. Tadi aku terpaksa karena tidak tahan pada si lampir yang selalu menganggu mu," tutur Salsa merebahkan kepalanya disamping tangan Kenzo. Bosan berbicara sendiri tidak ada tanggapan sejak tadi.


"Jadi hanya segitu cara membangunkan orang yang lagi pingsan?" tanya Kenzo tersenyum kecil. Meskipun tangannya terpasang infus, tapi ia paksakan untuk mengelus kepala istrinya.


"Ken, Ken!" seru Salsa mendongak kearah muka Kenzo. Untuk memastikan benarkah jika yang berbicara suaminya, atau orang lain.


"Huem, kenapa?" jawab Kenzo masih tetap tersenyum karena melihat pipi Salsa yang langsung memerah. Si princess baru menyadari jika pasti sejak tadi Kenzo sudah siuman dan mendengar semua ucapannya.


"Bu--bukan a--apa, apa!" mendengar suara Salsa yang menyebutkan nama suaminya. Semua yang ada di dalam ruangan tersebut berdiri untuk melihat keadaan Kenzo.


"Kenzo, kamu sudah sadar, Nak!" seru Ayla mendekati anak dan menantunya.


"Iya, Ma," jawab Kenzo dengan suara terbatas. Dia harus menahan sakit bekas jahitan. Sebab obat bius dari luka tersebut sudah habis.


"Agh syukurlah kamu baik-baik saja. Kakek hampir terkena seragan jantung bila terjadi sesuatu padamu," sambung Tuan Fathan mendekati cucunya juga.


"Kenzo, cepat sembuh ya. Ayah juga mengkhawatirkan keadaanmu," timpal Nando yang juga sama ikut mendekat.


" Terima kasih, Yah.bKenzo baik---"


📱 Arsya : "Apa?" suara Arsya yang berbicara saat menerima telepon membuat mereka semua kaget, dan melihat kearah putra sulung Rian dan Ayla. Sebab ponsel yang diangkat oleh pemuda itu adalah ponsel milik Kenzo. Bukan miliknya sendiri.


"Kakak ada apa?" tanya Rian terlihat khawatir. Begitu juga dengan yang lainnya.


Sebelum menjawabnya, Arsya berjalan mendekati Kenzo dengan perasaan tidak menentu. Sungguh dia tidak tega untuk menyampaikan berita tersebut pada adik iparnya yang baru saja siuman.


"Arsya ada apa?" seru Ayla menangkap wajah tegang putranya.


"Kak... ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu?" Salsa yang duduk di samping suaminya ikut berdiri mendekati sang kakak kesayangan.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2