
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Ki--kita mau kemana, Ar?" tanya Aurel begitu mobil mereka tiba di tepi pantai yang tidak terlalu jauh dari Apartemen milik Arsya.
"Ayo turunlah!" bukannya menjawab Arsya keluar dari mobil lebih dulu. Lalu dia duduk di kursi yang mengarah kearah pantai. Arsya sengaja mencari tempat yang sepi karena dia tidak ingin ada yang menggangu waktunya bersama Aurel. Mereka berdua bukannya mau berpacaran. Namun, ingin membahas masalah kenapa Aurel menjauhinya.
"Huh!" Aurel menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan pelan. Guna menenangkan hatinya. Lagian sekarang dia sudah ke bertemu dengan Arsya. Tidak ada gunanya juga untuk lari. Sebab takdir tetap akan mempertemukan mereka berdua.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Aurel merubah panggilan mereka yang sering mengunakan bahasa anak muda menjadi kata biasa.
Mendengar panggilan tersebut tentunya Arsya langsung menoleh dan menatap Aurel dengan lekat. Akan tetapi dia tidak berbicara apa-apa. Arsya ingin Aurel menceritakan lebih dulu sebelum dia bertanya. Sebab gadis itu sangat paham bagaimana sifat Arsya.
"Ar... maaf," ucap Aurel dengan menatap lautan yang terbentang luas dihadapan mereka berdua. Namun, Arsya masih tetap diam. Tapi dari cara bicara sahabatnya meminta maaf dan berat saat mengeluarkan satu kata saja. Arsya sangat yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Maaf karena aku menghilang tanpa kabar," kata Aurel kembali berhenti sejenak. Setelah itu dia kembali lagi berbicara. "Tapi... semua itu bukan kemauan ku. Aku tidak memiliki pilihan lain, selain pindah dari rumah lamaku," lanjutnya lagi. Sedikit saja si tampan Arsya tidak ada menyela ucapnya.
"Saat aku pulang dari jalan-jalan bersama kalian. Tiba di rumah aku dikagetkan oleh pertengkaran kedua orang tuaku." saat menyebutkan hal itu terdengar suara Aurel semakin berat. Gadis cantik itu seperti menahan tangisnya.
"Aurel, ada apa? Tolong ceritakan pada gu, tolong ceritakan padaku," saat mengucapkan kata aku. Arsya masih terlihat kaku. Sebab tidak biasa mengunakan kata tersebut.
"Ar, sebenarnya aku pindah rumah, karena dijodohkan dengan orang yang sudah menolong keluargaku," lirih Aurel akhirnya meneteskan air matanya juga.
"Apa! Apaaksudmu? Aurel kamu jangan bercanda," seru Arsya memegang kedua pundak gadis yang dia rindukan selama ini. Aurel pun akhirnya menceritakan kepada Arsya apa yang membuat dia selalu menghindar selama ini.
Flashback on...
"Ar, Princess, gue pulang dulu ya?" ucap gadis berkacamata yaitu Aurelia.
"Oke, hati-hati ya, terima kasih untuk hari ini," jawab Salsa memberikan pelukan hangat pada sahabatnya. Sebab dia dan sang kakak juga mau pulang bersama Roby. Sopir pribadi keluarganya.
"Huem," Aurel mengangguk disertai senyuman manisnya. Sebab Aurel memang gadis yang cantik. Hanya saja dia menutupi kecantikan yang ia miliki dengan kacamata.
"Ar, kenapa hanya diam saja?" tanyanya gadis tersebut pada Arsya yang tidak menjawab ucapannya.
"Agh... iya, hati-hati. Gue sama Salsa juga mau pulang sekarang. Sampai bertemu hari Rabu, atau Minggu depan lagi," jawab Arsya sambil melambaikan tangannya. Saat ini mereka bertiga lagi berdiri di dekat pagar rumah mewah Kakek Ridwan.
"Kalian juga hati-hati," setelah saling berpamitan. Aurel pun kembali ke rumahnya sendiri dengan bersenandung kecil. Namun, baru saja dia melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya. Aurel mendengar ayah dan ibunya saling berteriak hal yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.
"Kenapa kamu melakukan ini semua, kenapa?" teriak mamanya Aurel sambil menangis.
"Karena aku tidak mungkin membiarkan perusahaan kita bangkrut," jawab Alan Tanuwijaya dengan balas berteriak.
"Tapi bukan berarti kamu menjual putrimu sendiri. Ayah seperti apa dirimu, kenapa kamu tega menjual Aurel hanya karena perusahaan," seru mamanya Aurel yang bernama Neta.
Deg!
Air mata Aurel jatuh membasahi pipi cantiknya. Jantungnya bagaikan dipukul cukup kencang, sehingga untuk bernapas saja terasa begitu susah.
Ya, yang membuat kedua pasangan suami istri itu bertengkar adalah, karena Alan Tanuwijaya, ayah kandung Aurel. Sudah menjodohkan Aurel dengan anak dari rekan kerjanya. Sebagai bentuk rasa terima kasih, karena sudah menolong perusahaannya yang bangkrut dalam satu malam. Gara-gara tertipu oleh sahabat dari Alan sendiri.
Tidak mungkin hidup susah, lalu tanpa bertanya pada istri dan anaknya. Alan pun langsung melakukan persetujuan untuk menerima perjodohan antara putrinya dengan laki-laki yang berumur delapan tahun lebih tua dari Aurel.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Alan!" Neta ibunya Aurel merosot kebawa sambil memukul dadanya yang terasa sesak dan setelah itu langsung hilang kesadarannya.
__ADS_1
Sehingga membuat Aurel berlari ke arah sang Ibu dan memangku kepalanya sambil menangis memanggil mamanya.
"Ma, Mama! Ma... ayo bangun," teriak Aurel panik. Begitu juga dengan Alan sang ayah. dengan Alan pun membopong tubuh istrinya untuk dipindahkan ke atas sofa yang berada di belakang mereka. Berbagai macam cara Aurel membantu mengoleskan minyak pada bagian kaki tangan dan hidung mamanya agar wanita paruh baya itu segera sadar.
Semua upaya tersebut, akhirnya membuahkan hasil. Tidak sampai setengah jam setelahnya. Ibu Aurel pun sudah kembali membuka mata seperti sedia kala.
"Ma... Mama tidak apa-apa, 'kan?" tanya Aurel dengan suara bergetar menahan tangisnya. Sejak tadi karena terlalu mengkhawatirkan keadaan sang Ibu. Aurel pun melupakan masalah bahwa dirinya sudah dijodohkan dengan pria lain.
Namun, ketika ibunya sudah kembali siuman. Gadis itu pun baru mengingat hal tersebut.
"Mama tidak apa-apa, Nak. Tapi... tapi," wanita paruh baya itu tidak melanjutkan lagi ucapannya. Sebab tidak kuasa untuk mengatakan pada Aurel. Bahwa putrinya itu sudah dijodohkan oleh ayahnya. Sebagai bentuk bayaran atas bantuan yang diterima oleh mereka.
"Ja--jadi benar? Jadi Aurel tadi tidak lagi salah dengarkan?" walaupun sudah tahu jawabannya. Aurel masih memastikan benar atau tidak apa yang sudah dia dengar sebelum ibunya pingsan.
Akan tetapi bukannya menjawab pertanyaan Aurel. Justru ibunya semakin menangis tersedu-sedu. Sedangkan Alan sang ayah, hanya menunduk di sofa sambil memijit pelipisnya sendiri. Mungkin saja beliau menyesali atas tindakan dirinya yang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya pada istri dan putrinya terlebih dahulu.
"Pa, apakah benar?" tanya Aurel menatap sang ayah. Benar-benar sulit untuk dipercaya bahwa ayahnya tega melakukan hal tersebut.
Bagaimana mungkin ada seorang ayah yang menukar anaknya, dengan bantuan uang pada perusahaan mereka.
"Aurel, maafkan Papa, Nak. Papa tidak memiliki pilihan lain," jawab Alan tidak menyangkal pertanyaan putrinya.
"Apa! Ja--jadi benar, Papa sudah menjual Aurel pada rekan bisnis Papa?" Aurel semakin terisak. Baru hari ini gadis yang belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun itu berandai-andai sendiri. Apabila dia bisa mendapatkan cinta dari Arsa sahabatnya.
Sebab setiap perhatian yang diberikan Arsya padanya. Sama seperti perhatian seorang kekasih pada wanita yang ia cintai. Hal itulah yang membuat Aurel berani memiliki pikiran seperti itu.
Namun, kenyataan pahit sudah menjatuhkan dia dari mimpi indah bisa bersanding bersama pewaris Erlangga group.
"Aurel! Papa tidak menjual mu," bentak Alan tidak terima dengan tuduhan istri dan sang putri. Padahal semua itu memang benar apa adanya.
"Jika tidak menjual putriku, lalu apa namanya? Apa kamu menganggap Aurel adalah barang yang bisa ditukar dengan uang? Ayo jawab Alan, ayo jawab aku!" sela mamanya Aurel tetap tidak bisa menerima kenyataan tersebut. kenyataan bahwa Putri semata wayang mereka harus menikah dengan cara terpaksa.
"Tapi bukan berarti harus menjual Aurel," Neta yang merasa lebih baik kembali lagi bertengkar. Wanita itu benar-benar tidak bisa menerima bahwa sang suami sudah menghancurkan masa depan anaknya.
"Bagaimana mungkin kamu mengambil keputusan sebesar ini tanpa bertanya padaku lebih dulu? Aku adalah ibunya, Alan. aku yang mengandungnya selama sembilan bulan. Aku yang melahirkan dan mengurusnya. Lalu atas hak apa kamu mengambil keputusan sendiri?" teriak wanita itu menahan sesak dan rasa kecewa pada suaminya.
"Bila aku tidak menerima bantuan ini, apa kalian berdua sanggup hidup di jalanan. Lalu aku pun akan dipenjara karena hutang pada bank dan beberapa pemegang saham di perusahaan kita? Apa itu yang kamu inginkan," Aurel yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya hanya bisa menangis.
"Itu semua karena kebodohanmu Alan, karena kamu terlalu percaya pada sahabatmu itu. Sehingga kamu tertipu dan akhirnya harus mengorbankan masa depan putriku,"
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, maka aku bisa saja membatalkan semuanya saat ini juga," ancam laki-laki itu agar istrinya bisa mempertimbangkan semuanya. Namun, Alan salah besar, karena Neta lebih baik hidup susah daripada masa depan putrinya harus dihancurkan. Menikah dengan laki-laki yang tidak dikenal oleh mereka sendiri. Belum lagi umur pria tersebut lebih tua delapan tahun dari anaknya.
"Lakukan! Ayo cepat telepon dia, katakan pada rekanmu itu bahwa ambil saja semuanya. Aku tidak membutuhkan harta Alan. Bila kamu dipenjara juga karena kesalahanmu sendiri. Jadi tanggung saja resikonya, jangan membawa-bahwa putriku," imbuh Neta tidak perlu berpikir lebih dulu.
"Oke, jika itu yang kamu inginkan. aku akan menghubungi Tuan Pradipto sekarang juga, dan kamu lihat apa yang akan terjadi nanti sore. aku pasti akan dipenjara karena dianggap sudah melakukan korupsi secara besar-besaran," setelah mengatakan hal tersebut Alan berjalan mendekati bufet tv untuk mengambil ponselnya yang ia taruh di sana.
Namun, baru saja pria paruh baya itu ingin menekan tombol Tuan Pradipto. Yaitu orang yang telah menolong perusahaannya. Langsung dicegah oleh Aurel yang masih menangis.
"Pa, hentikan! Papa tidak perlu membatalkan semuanya. Aurel bersedia menikah dengan siapapun. Asalkan keluarga kita akan baik-baik saja," cegah gadis itu tidak memiliki pilihan lain. Selain mengorbankan masa depannya untuk bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai.
"Aurel, Apa yang kamu lakukan, Nak? Biarkan saja papamu menanggung semuanya, karena ini kesalahan dia sendiri. Akibat terlalu percaya pada sahabatnya itu. Padahal Mama sudah berulang kali mengingatkan untuk lebih berhati-hati." seru Neta mencegah sang putri.
"Tidak, Ma. Aurel tidak mau papa sampai di penjara karena hal ini. Jika kita hidup susah, Aurel tidak masalah. Namun, bila harus melihat papa tinggal di penjara. Aurel tidak bisa menerimanya, Ma. Jadi tolong hargai keputusan yang Aurel ambil," jawab Aurel malah kembali memohon pada ibunya.
"Tapi Nak, kita cari solusi jalan lain. Mama akan menemui Tuan Ridwan untuk meminta bantuan padanya. Tidak mungkin beliau menolak buat membantu perusahaan kita," ujar Neta baru mengigat hal tersebut. bahwa mereka memiliki tetangga yang kaya raya. Sungguh sangat tidak mungkin, apabila Tuan Ridwan tidak mau menolong mereka.
"Neta sudahlah! Aurel saja menerima semuanya. Kenapa kamu sebagai istriku tidak bisa memberi dukungan, bukannya malah menyalahkan diriku. Apalagi yang aku lakukan ini adalah untuk kalian semua." kata Alan merasa bahagia karena putrinya menerima keputusan yang sudah diambil.
__ADS_1
"Alan, apa kamu tidak melihat wajah keterpaksaan anakmu sendiri. Aurel melakukan semua ini karena terpaksa. Sebab dia begitu menyayangimu. Lalu bagaimana mungkin kamu bisa berbicara dengan entengnya," akhirnya karena Neta tetap tidak menerima anaknya dijodohkan. Pasangan suami istri itu kembali bertengkar hebat.
"Jika begitu biarkan aku membatalkan semua sekarang juga. Agar kamu merasa puas melihat aku mati di penjara ucap Alan mengambil pensilnya lagi untuk menelepon Tuan Pradipto.
"Iya, lakukanlah! Ayo cepat kamu telepon dia dan batalkan semuanya. Aku lebih baik melihatmu mati di penjara, daripada harus menghancurkan masa depan anakku," jawab wanita itu lagi.
Sungguh Neta adalah ibu yang begitu menyayangi anaknya. Dia rela bertengkar hebat dengan sang suami, hanya demi membela masa depan yang akan menjadi kebahagiaan anaknya kelak.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Net. Menyesal aku menikah dengan mu. Wanit---"
"Sudah, sudah! Hentikan! Apa Papa dan Mama tidak malu bertengkar di depanku seperti ini? Apa kalian tidak malu jika para tetangga kita mendengar semuanya?" Teriak Aurel melerai pertengkaran kedua orang tuanya. Sebab apabila dia tidak menyala sudah pasti kedua orang tuanya akan terus berdebat karena sama-sama merasa benar.
"Mama, sudahlah! Aurel akan menerima perjodohan ini, yang penting jangan sampai kalian bertengkar. Apalagi sampai papa dipenjara. Aurel tidak mau hal seperti itu sampai terjadi. Anggap saja semua ini sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya." ucap Aurel mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon agar mamanya bisa mengerti dan memberi izin atas keputusan yang sudah dibuat oleh sang ayah.
"Aurel! Maafkan Mama, sayang," seru Neta memeluk sang putri sambil menangis tersedu-sedu. "Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama," wanita itu terus saja melafalkan kata maaf, merasa bersalah tidak bisa menolong putrinya.
"Tidak, Mama tidak bersalah. ini bukan salah Mama dan juga bukan salah papa, mungkin memang sudah takdir hidup Aurel seperti ini," kata Aurel mengelengkan kepalanya. Agar sang mama tidak perlu merasa bersalah.
Bohong apabila gadis itu tidak hancur dengan keputusan yang ia buat. Hari ini Aurel harus mengakhiri semua kebahagiaan yang sudah terbentang luas. Demi rasa berbaktinya kepada kedua orang tuanya.
"Aurel, Maafkan Papa juga, Nak. Jika saja ada pilihan lain, maka Papa tidak mungkin melakukan ini kepadamu," ucap Alan mendekati anak dan istrinya. Lalu ia peluk keduanya dengan sangat erat. Sebab jika tidak karena ia tertekan, Alan adalah sosok ayah yang sangat baik dan penyayang. Namun, karena keadaan. Pria itu harus mengorbankan sang Putri.
"Tidak apa-apa. Aurel ikhlas melakukan semuanya. Jadi Papa dan Mama tidak perlu merasa bersalah," jawab Aurel sambil menyapu air matanya sendiri menggunakan punggung tangannya sendiri. Setelah itu barulah dia kembali berkata.
"Tapi... Aurel punya satu permintaan, Yaitu kita harus pindah dari sini dan mencari tempat tinggal baru, yang tidak bisa bertemu dengan Arsya dan Salsa lagi. Sebab Aurel malu apabila mereka berdua mengetahui hal ini." pintanya yang langsung membuat kedua orang tuanya melepaskan pelukan mereka.
"Apa maksudnya pindah, Nak. Apabila kita menerima bantuan Tuan Pradipto, rumah ini masih menjadi hak kita. Jadi buat apa kita pindah?" tanya Alan tidak mengerti.
"Aurel tidak bisa menjelaskannya secara langsung. Namun, Aurel hanya ingin kita pindah dari sini, meskipun rumah ini masih menjadi milik kita," putus gadis itu tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, besok pagi kita akan pindah dari sini dan mencari tempat yang jauh agar kamu tidak bertemu lagi dengan Arsya maupun Salsa sahabatmu itu," jawab Alan menyanggupi.
"Terima kasih Nak, terima kasih kamu sudah menolong Papa," Alan yang sebetulnya merasa bersalah kembali menarik Aurel untuk ia peluk dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tidak perlu khawatir, walaupun anak Tuan Pradipto sudah lebih tua dari mu delapan tahun. Tapi dia akan sabar menunggu dirimu menyelesaikan sekolah. Bahkan sampai kamu menyelesaikan sekolah perguruan tinggi sekalipun. Sebab sebelum Papa mengambil keputusan ini. Tuan Pradipto sudah menjelaskan semuanya. Makanya Papa tidak bertanya lebih dulu pada mamamu," tutur laki-laki paruh baya itu.
"Baguslah jika memang begitu. Aurel ingin mengajukan agar teman Papa mau memberi waktu sampai Aurel bisa menyelesaikan kuliah," kata Aurel menambah satu permintaan lagi.
"Tentu Nak, tentu! Tanpa kamu minta saja. Papa memang akan mengajukan hal itu pada Tuan paradipto agar memberi kamu waktu sampai lulus kuliah," ujar Alan menghapus air mata pada pipi putrinya.
"Aurel, jangan kamu paksakan, Nak. Apabila akan menyakiti perasaanmu, sebab Mama tahu kamu menyukai Arsya, 'kan?" naluri seorang ibu ternyata tidak bisa dibohongi. Neta tahu bahwa Putri semata wayangnya menyukai sang calon pewaris Erlangga group.
Bukan masalah harta kekayaan yang menjadi prioritas utama Neta. Akan tapi adalah kebahagiaan putrinya. Apalagi Aurel memiliki permintaan agar mereka pindah dari rumah mereka saat ini. Sudah sangat jelas bahwa anaknya itu ingin menghindar agar tidak semakin menyakiti perasaannya yang tidak bisa bersama dengan Arsya.
"Tidak Ma, Aurel tidak menyukai Arsya dia adalah sahabat Aurel sama seperti Salsa," dusta gadis itu tidak ingin membuat orang tuanya kembali bertengkar dan merasa bersalah.
Flashback off...
"Kenapa kamu menerimanya, Rel? Kenapa? apakah kamu meragukan bahwa keluargaku pasti bisa membantu kalian?" seru Arsya setelah mendengar cerita Aurel yang pindah gara-gara dia sudah dijodohkan dengan orang lain.
Namun, gadis itu tidak mengatakan bahwa dirinya menyukai sahabatnya. Aurel hanya menceritakan sebagian yang penting-penting saja.
"Maaf, bukan aku tidak percaya pada keluargamu. Tapi saat itu semuanya terjadi dengan mendadak. Papaku baru mengetahui bahwa dia terlilit hutang dan ditipu oleh sahabatnya pada hari itu juga. Tidak punya pilihan lain, akhirnya papaku mengambil keputusan tersebut," papar Aurel merasa lega sudah menceritakan hal itu, meskipun hatinya sangat tersakiti.
"Lalu apakah setelah lulus kuliah nanti, kamu akan menikah dengan laki-laki yang sudah menolong keluarga kalian?" tanya si tampan Arsya mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan rasa kecewanya.
Satu tahun ini Arsya mengharapkan agar bisa menemukan Aurel dan kembali bersama seperti dulu lagi. Namun, ternyata gadis itu telah menjadi milik orang lain. Walaupun janur kuning belum melengkung, tetap saja Aurel sudah ada yang punya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......