
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Hampir dua puluh menit perjalanan Kenzo sudah tiba di rumah. Setelah mematikan mesin mobilnya diapun berjalan masuk.
"Kek," seru Kenzo saat melihat kakeknya yang baru saja keluar dari ruang kerja.
"Apa kamu baru tiba?" Tuan Fathan melihat penampilan Kenzo dari atas sampai bawah.
"iya, Ken baru tiba." jawab Kenzo membenarkan.
"Kata Sekertaris kakek, kamu sudah pulang dari jam empat?" Tuan Fathan menyergit bingung.
"Benar, tapi tadi sepulang dari perusahaan Ken kerumah Mia dul---"
Pemuda itu tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena begitu dia menyebut nama Mia. Istrinya kebetulan lewat dan mendengar perkataannya.
"Sa," seru Kenzo menatap Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eum, sudah pulang!" jawab Salsa tersenyum kecil. Senyum yang memendam luka didalam hatinya. Sudah beberapa Minggu ini gadis cantik kesayangan kedua keluarga besarnya itu, hanya bisa menanggung masalahnya sendiri. Meskipun mamanya sudah bertanya berulang kali, tapi Salsa tetap tidak mengatakan jika pernikahannya lagi ada masalah. Semua yang Salsa lakukan tentunya ada alasannya tersendiri.
"Iya, maaf soalnya tadi---"
"Mandilah, sebentar lagi malam." sela Salsa tidak ingin mendengar penjelasan Kenzo. Bagi Salsa mau Kenzo kemanapun itu bukanlah urusannya lagi. Dia tidak ingin ambil pusing karena sudah lelah harus berpura-pura jika dia baik-baik saja. Tanpa Kenzo jelas dan beri tahu, Salsa sudah menduga kemana saja pergi suaminya.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Tuan Fathan pada cucu menantunya. Sehingga Kenzo tidak berbicara lagi, dia hanya menatap istrinya saja.
"Dari Taman, Kek. Kalau begitu Salsa permisi mau ke kamar." Salsa menjawab sopan dan langsung berpamitan meninggalkan Kenzo yang masih termangu di tempatnya berdiri.
"Huh! Salsa, Lo harus kuat. Biarkan semuanya kembali seperti semula. Pada dasarnya, kalian ditakdirkan sebagai musuh, bukan pasangan."
Gumam Salsa di dalam hatinya, dengan helaan nafas panjang. Andai saja dia tidak ingin mencoba menjalin kekasih dengan Kenzo. Mungkin Salsa tidak akan pernah merasakan yang namanya sakit hati, karena dijadikan nomor dua dari wanita lain. Itulah yang gadis itu sesalkan.
"Ken, kembalilah ke kamar, dan mandi. Sebentar lagi kita akan makan malam." titah Tuan Fathan tidak mengetahui jika kedua cucunya lagi berperang dingin.
"Agh... iya, Kek." Kenzo pun akhirnya menyusul Salsa kembali ke kamar mereka, karena memang itu yang dia inginkan.
__ADS_1
Ceklek!
Kenzo membuka pintu kamar dan langsung menutupnya lagi. Ia lihat Salsa lagi duduk di sofa sambil memegang buku yang pemuda itu duga istrinya lagi belajar. Padahal Salsa sengaja melakukannya karena malas untuk berbicara dengannya.
Tidak ingin menggangu, Kenzo memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Hampir lima belas menit kemudian dia sudah keluar dalam keadaan segar. Kali ini dia mengambil pakaian gantinya sendiri. Entah Salsa yang tidak mau menyiapkan lagi baju untuk ia pakai. Atau memang gadis itu sedang lupa.
"Sa, setelah makan malam, kita pergi, ya." ajak Kenzo ikut duduk di sebelah Salsa dan merebut buku yang dipegang oleh sang istri.
"Kemana?"
"Jalan-jalan!" jawab Kenzo singkat. Lalu setelah itu dia berbicara lagi. "Semenjak kita pacaran, gue belum pernah membawa Lo pergi jalan-jalan." lanjutnya lagi.
"Ken, stop! Mari kita akhirnya hubungan kita. Gue nggak mau pacaran sama, Lo." sentak Salsa yang bukannya senang mendengar kata pacaran. Justru membuatnya bertambah bete.
"Maksud Lo apa, sih?" Kenzo langsung memegang kedua pundak Salsa. Tentu saja dia merasa kaget dan tidak percaya dengan keinginan istrinya.
"Maksud gue, ayo kita bubaran, nggak usah pacar-pacaran. Gue mau kita putus malam ini juga," pinta Salsa. Sudah beberapa hari ini dia memikirkan hal tersebut. Jalan satu-satunya adalah dia harus putus dan tidak usah pacaran dengan suaminya lagi.
Aneh memang, tapi itu sudah kesepakatan mereka bersama untuk memulai hubungan dari pacaran. Namun, semuanya tidak berjalan sesuai rencana, karena semenjak mereka menjalin kasih, Kenzo selalu sibuk di perusahaan dan pada masalah keluarga Mia, sehingga mengabaikan istrinya sendiri.
"Kenapa? Gue nggak mau kita putus. Bukannya kita sudah sepakat untuk memulai semuanya dari pacaran dulu?"
"Siapa yang Playboy? Gue nggak pernah pacaran sama siapapun," bela Kenzo karena semua tuduhan istrinya tidak benar.
"Lo memang nggak pernah pacaran sama orang lain, tapi Lo punya hubungan sama Mia. " tekan Salsa mengungkapkan apa yang tidak disukainya. "Dan gue nggak suka, apa yang menjadi miliki gue, tiba-tiba harus berbagi dengan orang lain." begitu Salsa selesai berbicara, dan tanpa ia duga, Kenzo malah menarik dan langsung memeluknya cukup erat.
"Percayalah! Gue nggak ada hubungan apapun sama Mia, dia cuma sahabat gue, nggak lebih." ucap Kenzo mencium pucuk kepala Salsa berulang kali. Dia sangat senang, secara tidak langsung Kenzo sudah mengetahui bahwa Salsa benar-benar menyukainya.
"Lepas!" Salsa yang tidak percaya memberontak untuk dilepaskan. "Kenzo, lepas! Gue mau turun kebawah" ulang gadis itu lagi.
"Nggak, gue gak akan membiarkan Lo pergi dari sini, tolong dengerin gue dulu, gue mohon! Huem!" Kenzo melonggar pelukannya dan menatap mata merah Salsa. Gadis itu sudah hampir menangis kerena sudah sangat jengkel pada suaminya.
"Maaf, maaf sudah menyakiti perasaan Lo, gue nggak tahu dan gak sadar jika Lo terluka karena kedekatan gue sama Mia," Kenzo diam sebentar untuk melihat reaksi istri cantiknya.
"Gue mohon, percayalah!" kata Kenzo penuh harap. "Gue tadi memang kerumah Mia, tapi bukan untuk bersamanya. Melainkan menemui Om Perdi," tuturnya lagi.
Cup!
Kenzo mengecup kening Salsa dan kembali memeluk istrinya. "Gue nggak mungkin mengkhianati pernikahan kita, Sa. Kedekatan gue sama Mia sudah dari dulu. Untuk saat ini gue benar-benar gak bisa meningalkan dia begitu saja. Gue butuh waktu, apalagi sekarang kedua orang tuanya lagi ada masalah." ungkap Kenzo sambil tangannya mengelus rambut panjang sang istri.
__ADS_1
"Ma--maksudnya?" Salsa menjauhkan tubuh mereka. Agar bisa melihat muka Kenzo.
"Maaf, gue sebetulnya mau cerita dari waktu itu. Tapi selain benar-benar sibuk, gue nggak ngomong karena Lo selalu bersikap jutek." tangan Kenzo menyapu air mata istrinya. Dia benar-benar merasa bersalah tidak menceritakan sejak awal, bahwa saat ini keluarga Mia lagi ada masalah.
"Ayo kesini lagi, gue akan menceritakan semuanya. Agar Lo nggak salah paham dengan kedekatan kami," pemuda itu kembali menarik Salsa agar masuk kedalam pelukannya. Lalu ia pun mulai menceritakan dari awal Mia menelepon pada waktu itu.
Tidak ada cerita yang ia lewatkan, Kenzo menyadari kesalahannya setelah mendapat ancaman dari si kakak ipar, yang umurnya berbeda hampir empat tahun lebih muda dari Kenzo. Arsya mengatakan jangan pernah menyakiti perasaan adiknya, jika tidak ingin berurusan dengannya.
Makanya selama dua hari ini Kenzo tidak ada menghubungi Mia, bila sahabatnya tidak menelepon lebih dulu. Bukan dia takut pada ancaman Arsya, tapi membuat hati istrinya terluka. Itu yang ia takutkan.
"Lo serius?" tannya Salsa memastikan. Sunguh setelah mendengar cerita Kenzo, yang mengatakan Mia sampai mau bunuh diri gara-gara masalah kedua orang tuanya. Hati Salsa juga menjadi tidak tega dan kasihan pada nasip sahabatnya suaminya.
Cup!
"Tentu gue serius, buat apa juga berbohong." Kenzo tersenyum setelah kembali mengecup pipi Salsa yang ia usap karena masih ada tersisa air mata.
"Gue mohon, percayalah! Setelah masalahnya selesai, gue akan menjauhinya." kata Kenzo penuh keyakinan. Lalu dia kembali lagi berkata. "Lo mau kan memberi gue kesempatan? Dan tolong percaya, gue bukan cowok Playboy seperti yang Lo katakan," Salsa tidak menjawab. Tapi dia mengangukan kepalanya. Pertanda bahwa dirinya akan memberi Kenzo kesempatan.
"Thanks!" ucap Kenzo yang dengan perlahan mendekatkan wajahnya dan.
Cup!
Kali ini bukan kecupan pada kening ataupun pipi istrinya. Melainkan bibir ranum sang istri. Kenzo sudah mengambil ciuman pertama Si Princess Erlangga. Jangankan berciuman dengan Salsa, bisa mendapatkan nomor ponsel gadis itu saja sudah menjadi anugrah terbesar bagi pemuda yang menyukai Salsa, termasuk para sahabat Kenzo sendiri.
Jadi sudah tahu kan seberapa beruntungnya Kenzo. Bisa mencium dan tidur dengan Salsa, kapanpun ia mau.
Tok!
Tok!
Mendengar suara pintu yang di ketuk dari luar. Kenzo pun menjauhkan kembali bibirnya, dan tangannya terangkat untuk menyapu bibir Salsa yang basah karena ciuman mereka.
Meskipun istrinya tidak membalas ciuman tersebut. Tapi Kenzo sangat menikmatinya, karena tahu bahwa itu adalah First kiss Salsa.
"Ken... it--itu si--siapa?" Salsa tergagap karena merasa begitu malu. Tanpa sadar tadi dia membiarkan Kenzo mencium bibirnya. Meskipun tidak terlalu lama, tetap saja mereka sudah melakukannya.
"Itu pasti Bi ijah, ayo kita turun untuk makan malam. Setelah itu kita pergi jalan-jalan." Kenzo tersenyum tampan, sambil berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri. Meskipun masih merasa malu, Salsa menerima uluran tangan sang suami.
Setelah mendengar cerita Kenzo. Gadis itu merasa lega, dan tenang. Apalagi Kenzo mengatakan tidak akan pernah mengkhianati pernikahan mereka.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...